
Setelah mereka berdiri lagi setelah berlutut memberi hormat pada Badar Geni dan Kinasih, ketua tetua dan mereka berempat, menjenguk Sanjaya.
Wajah mereka semua begitu kaget dan mulutnya begong membentuk huruf O setelah mengetahui keadaan Sanjaya, karena kini Sanjaya sudah kembali pada awalnya lagi, kulitnyapun sudah terlihat tak menampakan keriput malah bertambah putih bersih, hanya tubuhnya saja yang sedikit kurus.
"Hhhheeee,,,, mengapa kalian begong begitu, apa tak takut kalau nanti mulut kalian kemasukan siluman lalat, hhhhheeee,,,, sudahlah,,,, sebentar lagi saudara sanjaya pasti akan sadar," ucap Badar Geni yang menatap satu persatu yang berada di tempat itu.
"Benarkah yang saudara Badar katakan kalau kakang Sanjaya akan sadar, harus dengan cara apa aku membalas budimu saudara Badar dan saudari Kinasih, aku dan adiku sangat bersyukur bisa bertemu dan menyelamatakan kami, budimu atas kesembuhan kakangku akan aku ingat selalu saudara Badar dan saudari Kinasih," ucap Bagus Sajiwo yang duduk di depan kakaknya yang masih terbaring.
"Kita di pertemukan munkin sudah di gariskan yang di atas, sudah jadi kehendak takdir kalau kami memang harus sampai di sini, sudahlah jangan berkata balas budi saudara Bagus, semua pasti ada jalan keluar dari masalah ini bukan, kalau tidak bertemu dengan kalian kami juga tidak akan melihat sendiri kemegahan padepokan ini,hhhheeee,,,, mulai sekarang kalian rawat kakakmu dengan baik, jangan memberitahukan kalau wadah tenaga dalamya terluka, nanti akan menghambat kesembuhanya, pulihkann dulu fisiknya setelah itu beritahu dikit demi sedikit biar kakakmu tidak merasa minder," ucap Badar Geni pada Bagus sajiwo dengan menjelaskanya.
Tak sadar mata Sanjaya mulai terbuka, ia hanya bisa diam karena semua indranya belum begitu normal kembali, mulutnyapun masih kelu dan belum bisa bicara, baru indra penciuman dan indra penglihatan yang sudah normal,
"Kakang Sanjaya,,,, kamu sudah sadar kakang, syukurlah kami semua sangat mengawatirkanmu,"ucap Bagus sajiwo yang menatap kakaknya itu dengan meneteskan air mata kebahagiaan.
Sanjaya masih sidikit linglung, dan masih belum bisa bicara ataupun mendengar apa yang dikatakan Bagus Sajiwo.
__ADS_1
Arum Saripun juga sudah meneteskan air mata dan memeluk kakaknya yang baru siuman yang panjang itu
Kini terlihat tangisan mereka di antara senyuman kebahgian, melihat itu Badar Geni dan Kinasih juga ikut senang, dan mereka berdua berpamitan keluar dari kamar Sanjaya karena hari juga sudah sangat malam.
Ketua dan Tetua pun juga terlihat sangat senang, sebenarnya Ketua dan para tabib yang ada di padepokan itu juga bisa untuk mengobati muridnya itu, tapi akan sangat lama membutuhkan hampir satu purnama, dan itu saja ada resikonya, yaitu kematian terhadap sanjaya, karena ramuan itu harus sempurna dan tidak di simpan untuk waktu yang lama.
Ketua dan tetuapun sangat kagum terhadap Badar Geni dan Kinasih, di usia yang muda sudah mempunyai kemampuan untuk membuat ramuan yang sempurna,
Melihat Badar Geni dan Kinasih keluar ketua Brajamusti menyuruh tetua Wiratama untuk mengantarkan kedua pemuda pemudi itu ke tempat yang telah tersedia.
"Ahh,,,, Tetua bisa saja, ilmu pengobatan saya hanya seberapa, tetua terlalu berlebihan berkata seperti itu, sudah saya katakan saya hanya tahu sedikit ilmu pengobatan tetua,hhhheeee, mungkin serba kebetulan," balas Badar Geni yang berhenti di pintu kamar yang telah di sediakan.
"Jangan terlalu merendah anak muda, aku masih sedikit penasaran, lebih baik besuk saja kita bicarakan lagi sebaiknya kalian istirahat, hari semakin larut, ini kamar di depanmu khusus murid laki laki dan di sebelahmu khusus untuk murid wanita, sekarang aku akan undur diri anak muda, selamat beristirahat, dan terima kasih untuk pengobatan Sanjaya," ucap Tetua Wiratama yang sudah melangkah pergi dari hadapan Badar Geni dan Kinasih.
Merekpun ke kamar masing masing, Badar Geni langsung merebahkan tubuhnya di kamar itu,
__ADS_1
Pagi itu suasana Padepokan Singa Emas begitu ramainya, para murid sudah mulai beraktifitas seperti biasa ada yang bersih bersih ada yang mengangkat air, semua murid pada sibuk dengan urusanya sendiri sendiri.
Badar Genipun sudah membuka matanya, ia sudah terbiasa bangun pagi sebelum matahari menampakan sinarnya.
Iapun keluar dari kamarnya, saat keluar ada tatapan dari beberapa murid yang sedang berjalan ke arahnya, tatapan itu seperti mengejek Badar Geni.
"Heee,,,,, mengapa kau berani menghalangi jalanku, dan siapa kau, apa kamu salah satu murid baru, sebaiknya kau minggir atau kau ingin cari masalah dengan kami," ucap pemuda yang sedikit terlihat arogan.
"Maaf saudara saya tak bermaksud untuk menghalangi jalan, apa terlihat kalau jalan ini terlalu sempit, kan sebelah saudara saudara jalan masih terlihat lebar," balas Badar Geni sedikit sopan.
"Masih tidak minggir malah berani menjawab kau bocah, kau hanya murid baru saja sudah banyak omong apa kau tau kalau di padepokan ini kelompok kami yang berkuasa, apa kau ingin aku beri pelajaran," ucap pemuda itu dengan sedikit geram pasa Badar Geni.
"Siapa pemuda itu apa dia murid baru, sialnya nasibmu anak muda, baru masuk saja sudah bertemu dengan kelompok dari yang pempelajari beebagai senjata, dengan satu serangan saja kamu akan babak belur, sungguh apesnya dirimu anak baru," bisik salah satu murid yang juga baru melintas di tempat itu pada teman sebelahnya.
"Iya apes betul anak baru itu, nasibnya sungguh tak mujur, ah sudahlah sebaiknya kita tak ikut campur dengan kelompok dari berbagai senjata bisa bisa kita yang kena masalah," jawab pemuda disampingnya yang melangkah pergi.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like atau sekedar comen, dan maaf kalau comen jarang author balas satu persatu, walaupun begitu kalian yang terbaik,