Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
40.Kedatangan Pendekar Seribu Lengan


__ADS_3

Wanita yang bercadar di belakangnyapun hanya tertawa kecil, melihat tingkah keduanya, tapi karena tertutup cadar teetawa kecilnya itu tak terlihat siapapun.


"Ini memang aku Nyi apa kamu lupa dengan wajahku yang tampan ini berpuluh puluh tahun yang lalu, hhhhiiii,,,,, jangan pernah kamu berfikir yang macam macam nyi, hhhhaaaa,,," ucap Eyang Raga Runting yang berdiri di depan Kedua wanita bercadar itu.


"Cihhhh,,,,, kita itu sudah sama sama peot, sudah semestinya kita malu dengan murid murid kita kakang peot,,, hhhhhiiii,,,, ku kira kamu belum sampai di lereng tempat tinggalmu kakang, dengan wajahmu yang lebih muda kirain akan mencari pendamping hidup kakang peot, hhhhaaa," jawab wanita bercadar dengan terkekeh.


"Aku sudah sampai di tempat ini barusan saja menjemput cucuku satu satunya yang tak kalah tampan denganku dari air terjun grojokan sewu ini nyi,,, hhhhheeee,,,, tumben kamu sudi menemuiku setelah beberapa purnama lalu kita bertemu, ada sesuatu yang pentingkah kamu sudi datang ke gubuk reotku ini nyi," ucap Eyang Raga Runting yang masih berdiri di depat kedua wanita bercadar itu.


"Apa kamu sudah pikun kakang,,,, kamu sendirikan yang dulu bilang kalau ada waktu untuk datang ke gubukmu ini, ada hal penting yang harus kita bicarakan kakang, ini tentang murid murid kita, apa kamu membiarkan kami berdua berdiri seperti patung yang bisa bicara,hhhhhiiiii," balas salah satu wanita bercadar sambil terkekeh di depan Eyang Raga Runting.


"Aaaaiihhhh,,,,,.mengapa aku jadi tambah pikun setelah wajahku bertambah muda ini nyi,,, hhhhhiiii,,,, kalau begitu kita bicara di dalam gubuku," ucap Eyang Raga Runting dengan senyum sambil terkekeh.

__ADS_1


Merekapun akhirnya berjalan ke gubuk tempat tinggal Eyang Raga Runting dengan santai tanpa menunggu lama merekapun sudah berada di dalam gubuk, begitu juga dengan Badar Geni sudah duduk bersila bersama dengan mereka semua.


"Kakang ada hal yang selalu mengganjal dalam pikiranku selama ini, ini tentang murid murid kita, aaahhh,,,, aku juga sudah pikun dan sudah begitu tua,,,, ternyata muridmu sudah setampan kamu kakang hhhhhiiii,,,, apa kamu tak mau memperkenalkan aku dan muridku ini pada muridmu kakek peot,hhhheeeee,,," ucap salah satu wanita bercadar itu pada Eyang Raga Runting yang juga sudah duduk bersila di depan kedua orang yang sudah di kenalnya itu.


"Badar,,,, kamu tentu tidak ingat dengan mereka bukan, karena kamu bertemu sekali saja itupun selagi kamu masih kecil, ku perkenalkan ia Nyi Gandasari yang sudah malang melintang di dunia persilatan dengan julukan Pendekar Seribu Lengan, adik seperguruanku dan yang sebelahnya Kinasih murid satu satunya, sama seperti kamu muridku satu satunya," ucap Eyang Raga Runting pada Badar Geni di sebelahnya.


"Badar memberi hormat pada Nenek Gandasari dan kinasih, maafkan Badar yang tak ingat akan nenek dan kinasih, badar bemar benar tidak ingat, hhhheeee," ucap Badar geni yang mengepalkan kedua tanganya di dadanya,


"Kakang munkin ini memang sudah waktunya kita harus berkata jujur kepada murid kita ini, dan aku rasa mereka sudah siap untuk menggantikan kita untuk menegakan keadilan demi ketentraman umat manusia, dan kita sudah terlalu tua, dan mereka bisa mencari jati diri siapa mereka sebenarnya," ucap Nyi Gandasari dengan sedikit serius.


"Hhhheeee,,,,, memang kadang kadang kamu ini sangat pintar nyi, hhhhhiiiii,,,, aku rasa apa yang kamu katakan barusan banyak benarnya, lebih baik soal menegakan keadilan memang diteruskan saja pada yang muda muda hhhhheeee,,,, kita sudah terlalu tua, bagaimanapun begitu kita tetap mengawasi murid murid kita nyi," balas Eyang Raga Runting yang melirik Badar Geni dan Kinasih.

__ADS_1


"Hhhhhiiii,,,,, dari dulu otaku ini masih waras kakek peot, tidak dengan otakmu yang sedikit miring itu, hhhhhiiii,,,, walaupun nanti mereka mencari pengalaman di luar kita tetap selalu mengawasi, karena muridku ini murid satu satunya yang mewarisi kecantikan dariku hhhheeeee," ucap nyi Gandasari atau yang di sebut Pendekar Seribu lengan.


Badar Genipun mengerutkan dahinya untuk memahami apa yang mereka ucapkan, tapi ia belum bisa mengerti apa yang mereka katakan.


"Baiklah kalau begitu biar aku saja yang memberitahukannya nyi, Badar,,,, Kinasih ketahuilah sebenarnya kalian berdua ini adalah Kakak dan adik, ceritanya sangat panjang ngger, kami berdua menemukan kalian di hutan, maafkan kami kalau kami terlambat untuk menyelamatkan kedua orang tua kalian, saat kami tiba hanya kalian yang kami temukan, akhirnya kami menguburkan kedua orang tua kalian di hutan, dan kami membesarkan kalian sampai saat ini, kami tidak tahu siapa orang tua kalian dan mengapa mereka membantai orang tua kalian dan rombonganya." ucap Eyang Raga Runting sambil berkaca kaca saat menceritakan kejadian waktu menemukan Kinasih dan Badar.


Sontak saja Badar dan Kinasih langsung kaget dan setelah tahu apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya Badar geni maupun Kinasih terlihat meneteskan air mata.


Author sudah bilang kalau author hanya penulis Pemula yang lagi belajar, maaf kalau cerita ini tak menarik para pembaca, author cuma berusaha update, tapi entah kenapa dari pihak noveltoon sendiri lama, munkin memang baru sibuk di sistem noveltoon sendiri.


Semoga masih ada yang setia menunggu kelanjutan cerita ini jangan lupa vote like atau komen yang membuat lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2