Si Sinting Pewaris Pedang Kembar

Si Sinting Pewaris Pedang Kembar
46. Meninggalkan Desa


__ADS_3

Malam semakin larut, para penduduk desa sebagian sudah berkumpul di tempat jaga malam, memang sebelumnya Badar Geni sudah memberitahukan jangan mendekati karena sangat berbahaya saat ia dan adiknya sedang bertarung dengan sepasang manusia harimau yang kini sudah tewas.


Melihat Badar Geni dan Kinasih berjalan ke arah para penduduk yang sudah di selamatkan dan di sembuhkan siang tadi hati mereka terlihat begitu cerah, karena dengan kehadiran Badar Geni dan Kinasih para penduduk dapat memastikan kalau mereka sudah dapat memusnahkan manusia harimau itu.


"Mengapa kalian masih berkumpul di sini, sebaiknya kalian semua kembali ke rumah masing masing, dan untuk manusia harimau itu tak usah di pikirkan lagi hhhheee, dan jangan takut karena mereka sudah berada di neraka," ucap Badar Geni setelah berada di antara para penduduk desa.


"Apa benar yang Kisanak katakan, apa benar kedua manusia harimau itu sudah tewas, kalau begitu kisanak sudah menyelamatkan penduduk desa ini, kami tidak dapat membalas apa apa tuan kisanak dan nisanak, terima kasih semoga desa ini menjadi lebih baik setelah kejadian ini, se kali lagi terima kasih kisanak," ucap salah satu warga desa dengan peneteskan air mata dan menunduk penuh hormat.


"Hhheeee,,,, paman jangan terlalu sungkan begitulah, berdirilah paman, sekarang desa kalian sudah tak ada lagi teror ataupun korban lagi, dan sebaiknya kalian kembali ke tempat masing masing, dan kami akan tetap berjaga di sini, kalau tidak ada teror lagi besuk kami akan melanjutkan perjalan lagi paman paman sekalian," balas Badar Geni pada para penduduk desa dengan senyum.


"Sekali lagi kami mewakili para penduduk sangat berterimakasih pada kisanak dan nisanak yang tak mempercayai atas perkataan kalian berdua, untuk itu biarlah kami yang akan berjaga malam memastikan tidak ada teror dan korban lagi tuan kisanak, lebih baik kisanak dan nisanak beristirahatlah, tuan pendekar pasti sangat lelah, kami sudah mempersiapkan tempat untuk tuan pendekar untuk melepas lelah," ucap salah satu warga pada Badar Geni dan Kinasih dengan senyum.


Badar Geni dan Kinasih pun di antar ke sebuah rumah untuk beristirahat karena hari semakin larut, ada dua kamar yang sudah tertata dengan rapi, merekapun menuju kamar masing masing.


Tanpa terasa hari sudah menjelang pagi walaupun sang mentari belum terlihat sinar indahnya.


Badar dan Kinasih juga sudah terbangun karena mereka sudah terbiasa bangun lebih pagi walaupun jarang tidur.

__ADS_1


Hari semakin pagi suasana desa itu kembali seperti biasa, lalu lalang para penduduk dengan kesibuknya sendiri sendiri,


Badar Geni sudah rapi dengan pakainya setelah membersihkan tubuhnya, begitu juga dengan Kinasih ia tetap menggunakan cadarnya, kini ia melangkah menemuai warga yang telah di obatinya beberapa hari yang lalu, ia hendak berpamitan untuk meneruskan perjalanan lagi, kini ia sudah berada di rumah salah satu warga.


Ternyata di tempat itu sudah berkumpul para warga, mereka menyambut kedatangan Badar dan Kinasih dengan sangat ramah, karena mereka tahu kalau orang yang sudah menolong desanya akan melanjutkan perjalan lagi.


"Selamat pagi paman bibi sekalian, mengapa kalian semua malah berkumpul di sini, apa kalian memang menyambut kami berdua, aihhhh,,,, jangan formal seperti ini paman paman dan bibi sekalian, kami jadi merasa tidak enak," ucap Badar Geni dengan senyum canggung dan mengaruk kepalanya yang tak gatal.


"Selamat pagi juga tuan pendekar, kami memang menunggu kedatangan tuan pendekar sekalian, karena hanya ini yang bisa kami lakukan untuk tuan pendekar,sebaiknya tuan pendekar sekalian masuklah dulu untuk sarapan pagi bersama sama" balas salah satu warga yang menyambut mereka berdua.


"Maka dari itu kami mempersiapkan ini semua tuan, kami sungguh bersukur dan hanya ini yang bisa lakukan dan kami tahu karena kemarin malam tuan sudah mengatakan kalau pagi ini akan melanjutkan perjalan lagi, sekarang silahkan tuan menikmati hidangan ala kadarnya di dalam rumah ini," jawab salah satu warga yang menyambut dan mempersilahkan masuk.


Badar Geni dan Kinasih kini berjalan ke sebuah rumah di hadapanya, di iringi dengan para warga yang mengekornya dari belakang, di dalam rumah sudah di sambut dengan berbagi bentuk hidangan, setelah itu mereka duduk bersila dan setelah tuan rumah mempersilahkan untuk menyantap hidangan Badar Geni dan Kinasihpun mengambil beberapa hidangan secukupnya begitu juga dengan para warga yang ikut menikmati sarapan pagi bersama sama.


Susana desa itu begitu ramai di dalam rumah maupun di luar rumah, setelah selesai dan berbincang bincang sebentar Badar Geni dan Kinasihpun berpamitan pada para warga desa.


"Paman paman dan bibi sekalian, terima kasih atas hidangan pagi ini yang begitu enaknya hhhheee, sekarang sudah waktunya kami melanjutkan perjalanan lagi, masih banyak yang harus kami lakukan di perjalan kami nanti, sekali lagi terima kasih atas semuanya yang telah tuan lakukan kepada kami, kami akan mengingat kebaikan para warga desa disini, paman dan para warga kami pamit," ucap Badar Geni pada para warga setelah berada di luar rumah.

__ADS_1


"Tuan pendekar, terus terang kami juga sangat berterima kasih, entah apa yang akan terjadi dengan para penduduk kalau tuan pendekar sekalian tak ada di sini, munkin kami akan kehilangan para penduduk dan akan menjadi korban, semoga tuan pendekar selalu sehat dalam perjalan nanti dan menemukan apa yang tuan pendekar cari, hanya doa yang bisa kami berikan untuk tuan pendekar sekalian," balas tuan rumah dengan senyum pada Badar dan Kinasih.


Setelah itu para warga membungkuk dan mengepalkan tanganya di dada untuk memberikan hormatnya pada mereka berdua, begitu juga dengan Badar dan Kinasih membalas dengan membungkuk dan mengepalkan kedua tanganya di dada.


"Paman semua kami pergi dulu, suatu hari nanti kami pasti akan datang lagi," ucap badar geni yang sudah melangkah pergi peninggalkan para penduduk desa.


"Tuan desa ini akan selalu terbuka untuk tuan pendekar, hati hati tuan," balas salah satu penduduk desa.


Badar dan Kinasih kini sudah melangkah meninggalkan desa itu dengan perasaan yang begitu bahagia, karena ini peetama kalinya mereka membantu para penduduk yang sedang dalam masalah.


Hari masih pagi mereka berdua tetap berjalan santai menelusuri indahnya pepohonan yang menjulang tinggi apalagi udara masih begitu sejuk, sang mentaripun sudah menyinari dedahunan.


Mereka sudah berjalan jauh dari desa, kini yang mereka temui hanya pepohonan dan semak belukar,


Saat baru melihat keindahan hutan belantara terdengar suara pertarungan yang sangat memekik telinga, suara senjata terdengar sedang beradu.


"Jangan lupa vote, like, comen biar author tetap semangat karena ini sangat berarti bagi author, biar menambah semangat, dan semoga Cersil ini bisa di nikmati untuk para readers semuanya"

__ADS_1


__ADS_2