
Kakek senang saat melihat alea yang begitu gembira tidak terlihat sedih dan begitu dingin seperti biasanya.
"Alea kakek mendukungmu untuk semua yang ingin kamu capai".
"Terima kasih kakek memang yang terbaik... kek alea pamit dulu ya" sambil mencium punggung tangan kakek.
Alea mengambil jalan memutar dari samping lain rumah kakek untuk menghindari Rendy dan alysia ia tak ingin Rendy mengantarnya pulang apa lagi ada alysia yang terus terusan mencemburuinya saat akan menelpon tadi.
"Al kamu mau pulang sekarang?" tanya Almira yang ternyata juga bersiap pulang.
"Iya kak Mira"
"Kamu bawa mobil?".
"Al akan telpon taxi".
"Ikut kakak saja Al..." tawar Almira .
"Baik kak Mira" segera mereka berdua menuju mobil.
Saat didalam mobil alea hanya diam, Almira sudah tau dengan kondisi adiknya ini dia tidak akan berbicara apapun kecuali menjawab pertanyaan dan tak perduli dalam situasi apapun.
"Al... sepertinya Rendy menyukaimu".
Tiada reaksi dari alea wajahnya terlihat dingin, selama ini alea tak pernah mengobrol dengan kakak pertamanya ini, kesannya tak ada hal baik yang pernah ia rasakan saat bersama selain pukulan atau caci maki yang ia terima.
"Kak Mira... Al akan turun dicafe depan itu".
"Al... itu kafe milikmu ya?".
"iya kak Mira"jawab Al singkat ia sungguh tak akan basa basi pada saudara tuanya yang dulu suka memukulnya hanya karena masalah sepele.
"Kafe milikmu ada berapa Al".
"Dalam kota dan daerah pinggiran ada tiga puluh delapan dan dua puluh delapan restoran" jawab alea jujur.
"Wah... Al kamu sukses ya". kata almira kagum.
"Terima kasih kak mira, al turun dulu, hati hati kak".
Tanpa menoleh lagi alea segera keluar dari mobil dan menuju kekafe miliknya, Mira memandang punggung adiknya sampai menghilang didalam
kafe itu ada perasaan yang tak bisa ia gambarkan dengan sikap dingin alea ia terlihat sangat bemartabat dan penyendiri tak seperti alysia yang manja dan sangat bergantung padanya dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Dirumah kakek...
Rendy tak melihat alea dan segera ketempat kakek berada.
"Kekek... dimana alea?" tanya rendy sambil menyapu keseluruh penjuru kebun dengan pandangannya dan diikuti alysia.
"Alea sudah pulang" jawab kakek sambil melirik kearah alysia karena dia tau alea tak ingin membuat alysia cemburu atau kesal padanya.
"Baik kek... rendy pamit dulu".
"Alysia juga pulang ya kek" pamitnya.
"Ia kalian hati hatilah dijalan".
Rendy buru buru kehalaman depan dan mengira alea masih menunggunya disana saat melihat paman amat ia bertanya.
"Paman... apa paman melihat alea".
"Iya den rendy... non alea sudah pulang dengan non Almira".
"Oke paman...aku permisi".
"Baik den rendy hati hati dijalan" jawabnya seraya melihat kearah alysia yang menuju mobil rendy.
"Turunlah" perintah rendy.
Alysia tak mengira rendy membawanya pulang kerumahnya ia pikir akan ikut rendy kepertemuan dengan kliennya rendy, karena tadi ia tak memperhatikan jalannya.
"Tapi rend..." belum selesai ia bicara rendy segera turun dan membuka pintu mobilnya dan dengan tampang dinginnya menyuruhnya turun.
Dengan berat hati alysia turun dari mobil dan Rendy buru buru naik kemobil dan melaju segera sambil mengeluarkan ponselnya menelpon alea.
Rendy merasa kesal karena alysia merusak rencananya dengan alea.
"Al... kamu dimana?" begitu tersambung Rendy langsung bicara.
"Dikafe cakrawala" jawab alea memberitahukan keberadaannya disalah satu kafenya yang berada ditengah kota.
"Al... kapan kita bertemu lagi?" tanya rendy karena ia tau alea takkan punya waktu luang setiap harinya, alea selalu sibuk mericek laporan dan pembukuan pengeluaran pemasukan semua kafe dan restoran.
"Maaf kak rendy al sibuk sebelum berangkat" jawab alea karena tak ingin bertemu dengan rendy lagi karena alysia.
"Al...kamu akan berangkat dengan pangeran itu?" tanya rendy dengan nada kecewa.
__ADS_1
"Kak rendy baik baiklah dengan kak cia, semoga kalian bahagia".
"Jangan menguji kesabaran ku al" kata rendy dengan nada dingin,alea tak mengerti dengan maksud perkataan rendy dia segera memutus telponnya dengan rasa galau.
Alea bertemu dengan dewi dan akan mempercayakan semua masalah tanggung jawab perusahaan kepada dewi dan dewi sangat bertanggung jawab alea menjadikannya manager dan merekrut dua asisten yang menangani semua situasi perusahaan.
"Semua akan baik baik saja pergilah bersenang senang untuk mengendurkan syaraf syaraf tegangmu" celoteh Dewi.
Alea hanya acuh tak acuh seperti tak bersemangat dengan persiapan perjalanannya.
Sampai tiba waktu jadwal keberangkatannya alea membawa satu asistennya yang yang wanita, ia tak sekedar memilih yang pintar tapi juga yang memiliki keahlian bela diri dan yang sangat solid.
Bunga itu nama wanita yang menemaninya sekarang semua keperluan alea ia yang mengurusnya.
Saat ini diatas kapal pesiar termewah hanya orang orang tertentu dunia yang bisa berada diatasnya dan ternyata bos mafia kelas kaliber dunia hitam yang sangat ditakuti dikalangan pengusaha, pejabat dan dunia mafia itu sendiri ada disini dia sudah seperti raja akherat yang akan melempar setiap orang yang tidak membuatnya senang kedalam api neraka dunia yang sadis.
Namanya Adrian Alfaro umur tiga puluh lima dengan penampilan yang dingin cuek dan tak berperasaan tujuannya diatas kapal ini untuk keperluan bisnis dengan pengusaha yang punya reputasi tak kalah sadisnya dengan dirinya hanya saja bedanya bila Adrian Alfaro tidak suka dengan wanita tapi yang akan jadi rekannya ini bernama Devan Ronald dan penggila wanita cantik tak masalah tua atau muda yang penting cantik.
Alea bertemu dengan pangeran Halid dikapal pesiar megah ini adalah hadiah untuk kelas bisnis kaliber yang beruntung yang akan berkeliling dunia diatas lautan dan menyinggahi benua benua bersejarah dan exotis..
Saat makan siang alea makan bersama pangeran Halid, pangeran yang begitu tampan ini begitu menikmati perjalanan ini karena adalah wanita dengan kecantikan yang langka yang menjadi pasangan wanita dalam perjalanan ini.
Bahkan bila sebulan berada dikapal ini ia merasa kekurangan waktu bila bersama alea sicantik yang misterius.
"Alea aku akan memanggilmu alea saja" kata pangeran agar terlihat akrab dengan alea.
"Terserah anda saja pangeran Halid" jawab alea.
"Alea panggil saja namaku Halid, Idak usah pangerannya!"titah pangeran.
"Itu tidak akan mungkin pangeran"jawab alea sungkan.
"Panggil namaku saja oke" pinta pangeran Halid dengan lembut".
Alea tak ingin beradu argumentasi lagi ia hanya tersenyum mengangguk dan pangeran begitu senang apa lagi setiap alea tersenyum seakan ia akan menghentikan waktu agar bisa melihat senyum alea untuknya.
"Alea aku ingin memberi hadiah padamu sebagai tanda pertemanan kita" kata pangeran lagi.
"Sepertinya tak perlu pangeran".
"Panggil namaku saja!" suaranya agak keras hingga alea agak kaget dengan suaranya yang meninggi biasanya hanya suara yang merdu dan lembut.
_______________
__ADS_1
Mohon dukungannya pembacaku yang budiman terima kasih dan salam kenal.