
Saatnya melenggang dijalan kota... ya itulah yang terlintas dipikiran putri alea, hanya ia agak sedikit merasa tidak leluasa dengan penampilan pria cantik yang ia tampilkan membuatnya agak terganggu dengan gadis - gadis manja yang tak menghiraukan reputasi bila sudah kepincut wajah tampannya.
Ia hanya ingin berjalan - jalan dikota ini melihat suasana kota, situasinya dan tentu berburu barang bagus dan langka yang akan ia kirim kekota pulau bahari untuk koleksi langkanya.
"Sayang masih ingin kemana lagi jalan - jalannya, apa tidak lelah" tanya pangeran Yun lie yang sudah seharian mengikuti istri cantiknya yang dalam balutan penampilan pria itu, tapi masih sangat menawan hatinya.
"Yayang mulia... apa tak punya tempat misteri yang bisa kita datangi untuk mendapatkan benda langka?".
"Ada tempat bagus cukup berbahaya tapi banyak barang bagus disana untuk diambil bawa pulang" ujar pangeran yun lie.
"Yayang mulia mari pergi kesana".
"Bukan perkara mudah sampai disana, ada banyak bahaya yang mengintai dibalik benda - benda bagus itu berada".
"Ayolah... kita coba kesana".
"Tapi janji setelah dari tempat ini kita harus pulang keistana dan tidak akan bertualang lagi".
"Baiklah setelah dari sana, kita akan pulang segera".
Maka mereka mulai menuju jalan yang semakin sepi tak akan dilalui atau akan didatangi oleh orang biasa.
Saat pergi kearah tujuan hari sudah mulai sore,sepanjang jalan hanya ada hutan tak ada rumah warga, ketika hari semakin gelap mereka menemukan bangunan dari batu berbentuk rumah yang tak begitu besar, namun cukup baik dijadikan tempat istirahat.
"Yang mulia pangeran dan tuan putri, hari semakin gelap, sebaiknya kami memeriksa bangunan ini untuk menjaga keamanan anda berdua,silahkan tunggu disini". ujar bunga dan segera mengajak Laras pergi untuk memeriksa tempat menginap para junjungannya.
Ruang batu ini sebelumnya memang seperti sengaja dibuat untuk beristirahat dari perjalanan jauh yang melelahkan dan hanya orang - orang tertentu yang bisa menemukannya.
__ADS_1
Malam ini mereka akan beristirahat dibangunan batu tua yang menyatu dengan ruang bawah tanah dan atas yang semua dari batu yang menyatu dengan batu gunung.
Lumayan hangat didalam ruangan batu yang hanya berupa ruang kosong yang bersekat terbagi beberapa ruang bawah dan atas.
Saat pertengahan malam bulan bersinar dengan terang terdengar lolongan anjing hutan yang mendirikan bulu kuduk, semakin didengarkan semakin membuat suasana mencekam, lolongan terasa begitu dekat dan sepertinya saling bersahutan.
" yayank mulia,mengapa suara lolongan anjing hutan terasa aneh begitu?" tanya putri alea pada pangeran.
"Sepertinya kawanan anjing hutan mencium bau keberadaan manusia, itu kita, dan memberi tahukan kepada kawanan lainnya untuk berburu" sahut pangeran yang mendengar pertanyaan istrinya yang seperti terbangun dari tidurnya.
Sementara Bunga dan Laras yang bergantian siaga dari sore juga sudah waspada bunga baru saja tertidur menggantikan Laras untuk berjaga tapi sekarang sudah terjaga kembali karena suara lolongan yang tidak biasa itu.
Laras ingin keluar melihat situasi, ia menuju ruang batu bagian atas dan keluar pada puncak bangunan batu yang paling atas.
Diseberang bangunan ada bukit batu yang hanya terlihat dari ketinggian disini, tak terlihat dari bawah karena terhalang pepohonan dan disana ada beberapa ekor anjing hutang yang melolong itu.
Laras bergegas menuruni ruang bawah ingin memberitahukan situasi ini, diruang bawah bertemu dengan bunga, Laras segera memberitahukan pada bunga.
"Sebaiknya kita berdua keluar menyambut kawanan ini, apa kau siap?!" tanya bunga.
"Siap,mari kita tanya apa maunya kawanan ini!" sahut Laras dengan tegas.
Saat akan keluar pangeran dan putri juga sedang menuju keluar ruangan yang mereka tempati, bunga segera menghentikan langkah dan memberi hormat untuk memberitahu situasi diluar.
"Melaporkan pada pangeran dan putri, situasi diluar ada segerombolan anjing hutan yang mendekat kearah bangunan, sepertinya mengetahui keberadaan kita".
"Sebaiknya kita tunggu didalam saja, karena bila kawanan menyerbu masuk tidak akan bisa bersamaan" ujar pangeran Yun lie.
__ADS_1
Bangunan tidak memiliki pintu tapi untuk mencapai ruang batu ini harus menaiki tangga batu yang lumayan tinggi, jadi bila ada yang ingin masuk maka harus menaiki tangga dulu, sementara tangga hanya sebesar tapak kaki yang harus dilalui perorangan.
Bunga dan Laras mematuhi kata - kata pangeran, dan diluar tidak ada suara maupun pergerakan, pangeran mendekati pintu dan melihat keluar.
Sinar bulan yang terang tidak mampu menerangi halaman sekitar bangunan karena terlindung dedaunan pepohonan yang begitu rindang dan lebat, disana hanya terlihat kegelapan yang tidak bisa ditembus mata biasa.
Tapi pangeran Yun lie dapat merasakan keberadaan kawanan hewan buas ini sedang mengintai dihalaman bangunan dan siap menerkam sewaktu - waktu.
Sepertinya kawanan ini juga menunggu untuk menyerang, dalam kegelapan seekor anjing besar dengan mata merah berjalan kearah gerombolan, sepertinya dia adalah sang pimpinan dari kawanan hewan ini.
Kemudian terdengar suara lebih mirip kuku tajam yang menghentak ditangga batu, itu suara dari kaki hewan buas yang menaiki tangga dan sepertinya ada beberapa suara yang sama menandakan beberapa ekor hewan ini telah menaiki tangga.
"Yayank mulia... bulu mereka sangat lebat dan tebal tak akan mudah tembus dengan tebasan pedang".
"Tidak perlu dengan pedang menghalau kawanan hewan buas ini!".
Bersamaan dengan kalimat dari bibir pangeran berakhir, sesosok bayangan hitam menerjang masuk, pangeran sudah menyiapkan pukulan telak dan mematikan langsung mengayunkan tangannya.
Gelombang udara penuh kekuatan keluar dari tangan dan menghantam kearah kepala hewan itu langsung terpental menimpa kawanan yang berada ditangga bawahnya.
Dan suara erangan serta geraman dari mulut hewan itu sangat mengerikan, sepertinya tenaga pukulan tangan pangeran akan meremukkan tulang belulang hewan itu.
Dihalaman depan terdengar raungan dan lolongan yang memecah keheningan malam ini, dan tak berhenti disitu saja, beberapa ekor dari kawanan coba menaiki tangga lagi dengan cepat melompati setiap tangga untuk menyerbu masuk tapi kejadian terulang, anjing besar kali ini dengan patah tulang leher mencelat jatuh kebawah dan hewan berikut mengalami hal serupa, tapi dasar hewan tak punya strategi berburu dengan cara yang baik dengan pimpinan yang sok jagoan hebat malah memberi kesan sadis dan kejam pada kelompoknya dengan resiko yang ditanggung anggota kelompok masing - masing mati dengan tragis.
Melihat kawanannya terkapar dengan mengenaskan terkena pukulan dan yang dianggapnya mangsa malah membuat kawanan peyerbu berakhir dengan tulang remuk dan patah tulang leher juga terbakar gosong dibagian yang terkena pukulan yang mematikan.
Hewan besar buas itu terlihat sangat marah tapi hanya bisa mengeram menarik posisi moncongnya dengan serigai menyeramkan dan seakan ingin menerkam dengan dendam membara.
__ADS_1