
Perlombaan perahu dayung berlangsung sangat meriah, setiap pesertanya, dilarang memakai ilmu kedikdayaan yang mereka miliki, jadi mereka harus murni hanya menggunakan tenaga biasa.
Tiap negara memiliki perwakilan untuk perahu yang ikut serta dalam perlombaan ini, masing - masing negara, punya tim pembela yang tiada hentinya memberi semangat dan meneriakkan yel - yel untuk tim mereka.
Para selir yang hadir juga saling memberi dukungan, diantara mereka ada yang begitu tertarik dengan alea, dan berusaha mencari kesempatan mendekatinya, karena masih penasaran dengan cara alea menari dan pakaian yang alea kenakan tak seperti yang biasa mereka lihat.
Tapi pangeran mahkota tetap waspada, dengan wajah - wajah yang menampilkan keramahan palsu.
Sejak awal para tamu hanya tertarik untuk melihat permaisuri pangeran mahkota negara bahari ini saja dan saat sudah melihatnya semua malah jadi tertarik.
Bagi pangeran dan raja - raja dari negara sahabat timbul keinginan untuk merebut putri mahkota ini, tapi melihat betapa sulitnya ia didekati tentu saja mereka memikirkan cara untuk berhasil.
Para perahu lomba untuk regu pertama sudah melaju di atas sungai, gemuruh sorak - Sorai penonton memenuhi udara bumi sekitarnya.
Putri alea terlihat antusias mengikuti jalan perlombaan ini, karena ia mendukung tim dari negara suaminya ini.
Tanpa sadar ia berdiri melangkah kearah tepian sungai, karena area tempat duduk para bangsawan ini tidak berdesakan dan lebih lengang, dengan mudahnya ia sudah tiba ditepi sungai.
Suaminya hanya mengawasinya, terlihat Laras mendekatinya, karena merasakan ada aura yang mengisyaratkan adanya bahaya yang mengancam.
Bunga hanya memantau sekitaran tempat putrinya berada dia melihat para pangeran dari luar maupun dalam negri tidak fokus pada perlombaan perahu ini, mereka selalu melihat gerak gerik putri mahkota.
"Apa kau suka melihat balapan perahu ini?" tanya suaminya yang tiba - tiba sudah berada disampingnya.
"Eh... yayang mulia, iya mereka sangat bersemangat, apa hadiahnya begitu besar?".
"Iya hadiah yang disiapkan cukup besar".
"Syukurlah kalau begitu, karena akan sesuai dengan jerih payah mereka".
"Tentu saja... semua kegembiraan ini untukmu".
"Benarkah?... terimakasih yayang mulia ku".
Perlombaan hari ini berakhir dan berlanjut dengan jamuan malam yang meriah.
__ADS_1
Sejak pulang dari acara pesta malam, pangeran mahkota sudah membawa putri alea keistananya dan dalam tiga hari mendatang ia berencana membuat istrinya tinggal diistana matahari.
"Laporkan apa yang kau ketahui?!" kata selir Riana yang merencanakan sesuatu jebakan untuk putri alea.
"Hamba tidak bisa mengundang putri alea keluar, karena yang mulia pangeran mahkota membawanya keistana matahari" jelas dayang yang diperintahkan olehnya ini.
"Sialan! perempuan asing ini, begitu beruntung, diperlakukan dengan baik oleh yang mulia pangeran" geram selir Riana.
"Tapi hamba tetap mencari kesempatan untuk memancingnya keluar jika ada kesempatan" kata dayang ini.
"Iya... kau harus memperhatikan, bila ada kesempatan, katakan aku mengundangnya untuk mengunjungi ibu suri, karena ia pasti takkan menolak!".
"Saya siap menjalankan perintah anda selir".
"Kau sudah taukan apa saja yang harus kau lakukan bila ada kesempatan, sebaiknya saat masih ada para tamu undangan disini kita bisa melaksanakan rencana ini sebaik mungkin"ujar selir Riana.
"Saya mengerti selir".
"Sekarang kembalilah sekalian kerahkan yang lain untuk mengawasi istana rembulan".
Selir Riana ingin melaksanakan siasat kotornya, ia sangat cemburu dengan situasi putri alea, sejak dia datang kekediaman pangeran mahkota tak pernah menyentuhnya, walau dulu pangeran pernah mengunjunginya karena ia sakit, itupun karena desakan perdana Mentri tinggi, ayah dari selir Riana.
"Sayang kita berendam diair rempah yang hangat untuk merelaksasi tubuh biar terasa nyaman saat tidur nanti" ujar pangeran yang sudah meminta pelayan menyiapkan air hangat rempah bunga untuk terapi.
"Iya... mari berendam sebentar" kata putri alea.
Pangeran segera menghampiri istrinya mendekapnya dari belakang lalu membuka pakaiannya satu persatu hingga tak tersisa sehelai kain pun ditubuh istrinya.
Lalu membopongnya ke bak mandi air hangat yang beraroma wangi kekayuan dan bebungaan.
Ia sendiri lalu membuka pakaiannya hingga tak ada lagi yang menempel ditubuhnya, lalu masuk ke bak mandi.
Memandangi tubuh polos sang istri yang menutup matanya berendam dengan posisi berbaring telentang.
Membuat napasnya memburu lebih cepat karena pemandangan yang indah memabukan ini.
__ADS_1
Kamar mandi dan bak mandi yang ada diistana matahari ini sudah disesuaikan dengan yang biasa mereka gunakan saat dihotel dikota asal alea, dan bak mandi ini terbuat dari batu pualam yang dipahat halus oleh pengrajin ahli.
Alea merasa ada hawa murni dari batu pualam ini dan air hangat rempah ini sungguh membuat tubuh terasa hangat menyegarkan.
Ditambah pijatan lembut dari jemari suaminya kesekujur tubuhnya, rasa yang begitu nyaman melemaskan otot - otot tubuhnya.
"Emh... ahh..." desahnya.
Melihat geliat tubuh dan ******* istrinya, seluruh urat syaraf sensitif pangeran bereaksi tak terkontrol lagi.
Alea merasakan pijatan lembut ditubuhnya berubah menjadi sentuhan yang menggairahkan.
Ia membuka matanya, dan melihat posisi sang suami sudah mengambang diatas tubuhnya dan siap melahap bibirnya ya.
"Sayang aku sangat ingin menyatu denganmu" ucap sang suami sambil meremas lembut tubuh bagian atas istrinya.
Rasa nikmat yang tiada Tara ia rasakan saat bersama istrinya membuatnya tergila gila dan kecanduan.
Sehingga keberadaan para selir yang cantik - cantik, genit, manja yang menggoda tak membuatnya lebih bergairah.
Dipikirannya hanya terlintas tubuh indah dan wajah cantik istrinya ini saja, membuatnya bersemangat setiap waktu menyelesaikan semua pekerjaannya dan ingin secepatnya kembali mendekap tubuh wangi yang hangat nan lembut itu.
Suasana kamar mandi penuh eraman dan ******* yang membuat suasana romantis terasa menggelitik Sukma.
Jiwa - jiwa muda yang penuh asmara membara membakar gairah pesona cinta sejati.
Pengawal yang berada diluar kamar sedang berjaga sangat konsentrasi tingkat tinggi tak terpengaruh dengan suara - suara yang membuat orang yang mendengarnya meleleh.
Pelayan wanita dua orang memasuki kamar untuk memungut pakaian yang berserakan dan membawa pakaian tidur untuk permaisuri dan pangeran mahkota.
Setelah selesai mandi dan olah raga penyatuan tubuh, segera pangeran membilas tubuhnya dan istri dengan air bersih, lalu mengendong istrinya keperaduan ia hanya membelikan handuk ditubuhnya dan istri.
Setelah mengelap kering tubuh keduanya, ia lalu menyelimuti tubuh istrinya dan melepaskan handuknya lalu membaringkan tubuhnya disamping sang istri dan memeluknya.
"Selamat tidur yayang ku, emuach" ujar istrinya sambil mencium bibirnya lalu memejamkan mata merasa lelah.
__ADS_1
"Sayangku tidurlah aku menjagamu dengan segenap jiwa ragaku" bisik sang suami sambil menempelkan bibirnya dipipi istrinya.
Dan malam pun mulai merangkak sepi, semua yang mengikuti perjamuan sudah tertidur pulas karena banyak minum anggur yang wangi dan memabukan.