
Belum lama berbicara gadis yang bernama Camila datang karena mereka akan segera meninggalkan gunung awan, jadi ia ingin bertemu dengan aleandro yang akhirnya ia ketahui adalah seorang pangeran dari pembicaraan mereka barusan yang ia dengar dari sisi lain tempat ini.
"Tuan aleandro... kita akan berpisah setelah turun gunung, apakah kita bisa bertemu lagi, aku mengundang anda untuk datang kenegaraku sebagai tamu negara kami dan memberi anda papan giok ini sebagai tanda pengenal untuk memasuki istana kediaman kami" ujar camila memberi tanda pengenal yang hanya dimiliki keluarga bangsawan dinegaranya.
Aleandro menerimanya dengan senang hati dan melihat situasinya yang memang terasa menyenangkan berada diluar istana dan menjadi orang yang terkenal setelah mendapatkan senjata pusaka yang bertuah.
"Terimakasih atas undangan anda nona Camila, bila kita bisa berjumpa lagi sungguh menyenangkan" ujar aleandro.
"Tuan aleandro bagaimana bila sekarang kita pergi bersama - sama dan pergi jalan - jalan kenegri asalku untuk memperat hubungan persahabatan kita" ajak Camila.
"Tidak bisa... tuan aleandro akan pergi bersamaku" sela meysi tegas.
Camila tidak ingin melayani ucapan meysi ia hanya berbicara dengan sopan pada aleandro dan seperti memberi syarat kalau dirinya menyukai aleandro.
Meysi gadis bangsawan yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dan sangat manja, egois tak berperasaan untuk dapat mengalah, merasa Camila selangkah lebih berani darinya, karena itu ia sangat kesal.
"Tuan aleandro... bila sekarang kita tak bisa bersama, aku akan pergi sekarang tapi aku akan mencari anda suatu saat nanti, bila Anda tak juga datang berkunjung, selamat tinggal" ucap Camila dengan berat hati berlalu dari hadapan aleandro.
Sementara aleandro hanya menatap sekilas papan giok yang terlihat berharga itu lalu memberikannya pada bunga yang selalu berada dibelakangnya.
Meysi tak bergeming dari hadapan aleandro ia terlihat bersikeras mengikuti aleandro, bunga mengingatkan tuannya untuk segera pergi dari gunung awan karena mereka sudah berpamitan pada ketua sekte untuk pergi hari ini juga.
"Tuan aleandro aku akan pergi bersama denganmu" kata meysi bertekad.
"Nona meysi... aku masih ada urusan penting yang harus dikerjakan dan tak ingin ada pengikut yang akan bersama kami, jadi mohon pengertiannya" ujar aleandro dingin dan tegas.
Terlihat meysi kaget dengan sikap aleandro yang berubah memancar aura dingin dan seakan mengintimidasi, ia tiba - tiba merasa tak mampu berkata - kata lagi dan mengangguk saat aleandro mengucapkan selamat tinggal padanya.
Aleandro,buge dan Larry segera pergi dan mulai setengah berlari dengan ilmu meringankan tubuh mereka hampir tak terlihat menyentuh tanah hanya ujung jari kaki yang setiap berapa detik menyentuh tanah untuk melambungkan tubuh bergerak gesit kearah yang dituju.
__ADS_1
"istriku sayang,apa kau berlari dariku?" terdengar suara dari sisi aleandro alias putri alea saat ia berlarian.
Putri alea tidak meresponnya ia tak mengurangi kecepatan berlarinya, begitupun dengan kedua pengawal setianya yang tak merasa terganggu dengan kehadiran pangeran mereka.
"Jangan mengabaikan ku!" ujar pangeran Yun lie mulai tak suka dengan sikap acuh istrinya, ia lebih senang dimarahi atau diomeli ketimbang didiami seperti ini.
Tiba - tiba tangannya meraih tubuh putri alea dan berhenti lalu memegang dagu istrinya itu menatap bola mata wanita cantik itu.
"Sayang... apa kau begitu marah kepadaku... aku harus berbuat apa untuk mendapat maafmu, jangan mengabaikan ku, jangan tinggalkan aku, aku tersiksa dengan tak bertemu dirimu, katakan sesuatu agar aku bisa merasa ketidak senanganmu, kumohon" pinta pangeran dengan suara yang menghiba.
Bunga dan Laras segera ikut berhenti, saat melihat pangeran begitu intim dengan junjungan mereka segera menyingkir memberi waktu pada kedua pasangan yang sudah hampir dua pekan tak bertemu itu.
Putri alea hanya diam menatap bola mata yang hitam memantulkan bayangan wajahnya yang terlihat kaku itu dirinya, didalam bola mata pria tampan yang selalu bersikap dingin dengan setiap orang bahkan kepada saudara - saudaranya juga para wanita yang mendambanya, kecuali dengan wanita yang berada dihadapannya saat ini, membuatnya tak berdaya, ia rela melakukan apapun demi mendapat perhatian wanita ini kembali.
Karena melihat istrinya hanya diam menatapnya ia merasa sungguh menderita perasaannya, apa lagi saat ini aura istrinya terlihat berbeda, ia memiliki aura yang bisa menekan orang hanya dengan pandangan matanya, dan dengan suaranya bahkan bisa membuat orang tak berdaya atau menurutinya dengan patuh, seperti yang ia saksikan tadi saat ia berkata dengan tegas dan dingin, gadis bernama meysi itu langsung patuh, sungguh aura yang menakutkan, ia berpikir apa itu juga adalah berkat ketujuh senjata pusaka yang berdiam dibagian tubuhnya yang tak terlihat.
"Kalau saja dihari penyambutan ku, pangeran membagi kemesraan diri pada wanita lain didepan tamu undangan, maka aku tidak merasa itu hari penyambutan yang membahagiakan, tapi hari memalukan untukku yang tak penting dimatamu, aku tak ingin lagi bersamamu, aku akan mencari portal untuk meninggalkan duniamu ini, aku takkan kembali, bila pangeran memaksa juga maka hanya mendapatkan tubuhku tapi tidak dengan jiwaku".
Pangeran Yun lie sangat terpukul dengan pernyataan wanita yang ia cintai ini, ia tak menyangka sikap tak perdulinya saat selir Riana bersikap manja melayaninya itu menyakiti perasaannya dan membuatnya ingin pergi meninggalkannya, tidak ia tak rela dan tidak akan bisa hidup dengan tenang tanpa kehadiran wanita ini dan hanya akan mendapat tubuhnya tidak jiwanya itu lebih menyakitkan lagi.
Karena itu ia ingin menjelaskan semua itu tak seperti yang orang lihat dan apa yang dikatakan mereka tidak tau hal yang dirasakan pangeran Yun lie saat itu adalah ketidak nyamanan antara ia dengan Mentri agung dan hanya tidak ingin terlihat begitu meremehkannya disaat itu.
Tapi ternyata ia salah sudah bersikap membiarkan selir Riana memanfaatkan situasinya menjadi salah paham dengan penilaian pandangan orang.
Hatinya juga sakit mengapa hal yang tak ia sukai justru membuat sakit perasaan wanita yang begitu ia sayangi.
Pangeran Yun lie bersimpuh memeluk kedua kaki putri alea, dan menjelaskan apa yang ia rasakan dan ia perbuat saat itu adalah tidak seperti yang orang sangkakan, ada hal - hal yang tak mungkin bisa dimengerti atau dipahami orang lain, kecuali perasaannya hanya untuk putri alea.
"Aku sudah melenyapkan penyebab kekecewaan hatimu, apa kau ingin aku juga membutakan mataku agar tak bisa melihatmu yang begitu tersiksa bila bersamaku lagi karena peristiwa yang tak kulakukan dengan sengaja" ujar pangeran Yun lie dengan putus asa.
__ADS_1
Putri alea terkejut dengan yang ia dengar, ia tak mengetahui lagi peristiwa itu setelahnya, dan saat ini pangeran akan melukai dirinya yang paling penting dari hidupnya.
"Tak perlu lakukan itu, aku hanya wanita yang terpilih untuk kelangsungan penerusmu maka aku sudah berpikiran picik dengan egois".
"Tidak... tidak benar dirimu begitu, aku hanya ingin hidup bersamamu dan membahagiakanmu, bila kau tak bahagia bersamaku lebih baik aku tidak bahagia juga".
"Apa maksud pangeran?".
"Aku lebih baik kehilangan penglihatan agar tak melihatmu yang begitu tak bahagia bersamaku lagi, sekarang biarkan aku membawamu kembali setelah itu, aku akan membinasakan jiwaku juga".
"Jangan jadi orang yang tak berperasaan begitu!".
"Aku tak bisa membahagiakanmu, lalu apa menurutmu aku bisa hidup senang?!".
"Aku tidak tau sebenarnya saat itu, kau pria yang angkuh atau tak masuk akal, tapi sudahlah, aku berusaha mengerti dan belajar memahami untuk bisa lebih berbesar hati".
"Tidak perlu begitu, kedepannya aku tidak akan bersikap masa bodoh lagi atau tak perduli, aku hanya ingin membuatmu bahagia dan mencintaiku".
"Hm... apa benar begitu?!".
"Apapun yang kau katakan selama berhubungan dengan perasaanmu aku akan menurutinya".
"Baiklah kita mulai lagi dengan tak mengecewakan satu sama lainnya berdua".
"Apa kau memaafkanku, hukumlah aku, aku akan menerimanya".
"Kalau begitu baiklah, aku akan menghukummu... pulanglah, jangan mengikutiku atau mengirim orang memata - mataiku, aku masih ingin berjalan - jalan sampai puas" ujar putri alea dengan santainya.
"..."
__ADS_1