SICANTIK YANG JELEK

SICANTIK YANG JELEK
Akrab dengan sepi 31


__ADS_3

Alea jadi bimbang bila ia pulang sekarang pasti sudah ditunggu pangeran Yun lie dan ia merasa belum siap jatuh lagi kepelukan pria lain,sedang sekarang ia bersama pria yang juga sah diagamanya sebagai suami.


"Aduh mengapa hidupku yang sudah kurasa damai begini akan jadi tidak tenang lagi sih,apa masih kurang selama 17 tahun lalu aku ditindas dan teraniaya?!" gumam alea getir, dan Adrian mendengar walau hanya gumaman perlahan.


"Sayangku... tenanglah,kau yang memutuskan pilihanmu sendiri,dan aku selalu akan menjagamu dengan segenap jiwa ragaku".


"Benarkah bisa begitu,aku yang memutuskan pilihanku sendiri?!".


"Ya... itu pastinya".


"jangan membuatku tertawa dan terlihat bodoh!".


"Apa maksud sayangku?".


"Bisa menikah dengan dua orang pria,itu bukanlah pilihanku,dan siapa yang memutuskan hal itu?!, masih mau bilang kalau akulah yang memutuskan pilihanku sendiri?!".


"Bisa dibilang begitu sayangku".


"Aku tak tau apa setelah ini pangeran Yun lie akan membawaku pergi,dan selanjutnya tak pernah kembali lagi?".


Adrian tak bisa berkata kata lagi,ia tak ingin membuat alea tambah berpikir yang lebih menyakitkan lagi.


Ia hanya memeluk alea yang semula semangat akan secepatnya bertemu Dewi,kakek,bunga dan para karyawan terbaiknya,tapi sekarang ia merasa belum siap bertemu pangeran Yun lie.


"Sayangku jadi kesana sekarang?".


"Sekarang tidak bisa,karena malam akan terasa panjang disana tak tau apa yang terjadi,sebaiknya pergi besok saja,apa disini akan aman,tidak ada yang akan menerobos?".


"Ya disini cukup aman untuk saat ini".


"Baiklah... aku ingin istirahat saja".


"Kita makan dulu".


"Aku tak lapar" kata alea yang kehilangan selera dan gairah hidupnya.


Adrian hanya bisa menemaninya,alea tidak perduli lagi ia segera naik ketempat tidur tanpa berganti baju tidur,dan merebahkan tubuhnya yang tiba tiba berasa tidak bertenaga,ia memiringkan tubuhnya tanpa menarik selimut dan memejamkan matanya, Adrian lalu menyelimuti tubuh alea dan duduk ditepi pembaringan sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah alea,ia menatap wajah itu dengan lekat "Hm... sangat cantik" gumamnya lalu menciumi pipi alea dan pergi.


Adrian menghubungi orang orangnya yang telah pergi ke beberapa tempat yang mereka pantau.


Dikediaman Devan dalam kota,terlihat seseorang datang menemui penjaga dan segera membawanya masuk kerumah "Tuan Devan ada anggota pengintai yang inggin bertemu".

__ADS_1


"Suruh masuk".


Anggota itu langsung menemui Devan yang sedang berada diruang kerjanya.


"Ada perkembangan apa?!".


"Tuan Devan,Adrian sudah datang kekota ini dan dia membawa gadis itu bersamanya".


"Sekarang dimana mereka?!".


"Sejak datang mereka belum keluar dari rumah itu,tapi 5 orang pengawal Adrian telah keluar".


"Bagus pantau terus keberadaan adrian dan alea,bila ada pergerakan segera kabari aku!".


"Siap dilaksanakan tuan".


"Ada lagi yang ingin kuketahui,apa orang orang bangsawan itu juga disana?!".


"Iya tuan mereka masih ada dibeberapa tempat usaha dan tempat tinggal gadis itu".


"Heh... orang yang mengganggu saja"


"Tuan saya akan pergi sekarang".


Sementara malam semakin merangkak.


Masih dikota ini bagian pinggiran perbatasan yang sepi ada sebuah bangunan yang mirip dengan kastil dan ternyata memang kastil pangeran Yun lie.


Jauh dari permukiman rumah warga lainnya dan pangeran Yun lie berada disini sudah sejak kehilangan jejak alea.


Seperti Devan,dia juga mendapat kabar tentang alea yang sudah datang dan sekarang masih dimansion Adrian.


Pangeran ini terlihat begitu tenang namun raut wajahnya yang tampan terlihat sadis garis garis kewibawaannya begitu sempurna ia masih bisa menerima istrinya bersama pria lain karena ia tau alea sama tak menginginkan Adrian seperti juga tak menginginkan dirinya juga Devan.


"Memang pantas diperjuangkan dan kau jodohku tak akan kemana" katanya dengan garis bibir yang datar.


Sementara ditempat Rendy selalu tak lupa tiap saat memandang foto alea dan bertanya kemana menghilangnya dia,ia selalu datang ketempat Dewi kerja untuk menanyakan kabar alea.


Hanuel pengusaha asal Korea itu masih berharap bertemu alea,begitu juga dr Reno mereka adalah orang orang yang terpesona pada alea seperti lebah yang sudah candu dengan putik sari bunga.


Hanya pangeran Halid yang sepertinya berpikiran positif tidak ikutan mengejar yang tak ingin digapai untuk apa dipaksakan.

__ADS_1


Saat pagi alea terbangun merasa tubuhnya didekap hangat ia tau itu Adrian baru datang dini hari tadi.


Setelah mandi pagi untuk kedua kalinya ia ingin memakai bajunya tapi ia merasa aroma baju itu sudah sangat asem dan merasa pasti akan lengket rasanya dibadan jadi ia keluar kamar mandi dengan handuk melilit ditubuhnya dan celingak celinguk sendiri.


"Kenapa bingung begitu,itu pakaian yang sudah dilaundry lengkap dengan pakaian dalam juga,biar gak gatal gatal pakai yang baru sudah bersih,dan ponsel siap digunakan" kata Adrian sambil masih merem ditempat tidur.


Alea melihat kearahnya yang masih seperti sedang tidur, "Itu orang tidur,ngigau apa?... ah sudahlah coba liat ada apa yang bisa dipakai".


Alea memeriksa tas karton yang ada dimeja dan melihat ada dress dan satu set pakaian dalam alias bra dan CD yang warna pink, wajahnya memerah,tapi ia harus tahan malu karena ia butuh pakaian itu, 'Huh siapa suruh aku gak bawa pakaian,padahal dipulau sangat banyak dan lengkap,pakaian branded kalau sudah tidak kesana lagi untuk siapa nanti' pikir alea dalam hatinya.


Ia segera kekamar mandi untuk berpakaian, setelah keluar "Kenapa pakai baju saja harus dikamar mandi sih" omel Adrian yang sudah bangun dan akan keluar balik kekamarnya sendiri, "Haduh..." jerit kecil alea kaget.


"Hm... sudalah yang penting hari ini kuatkan diri,semangat jalani tantangan hidup,waouw baju ini lumayan bagus,pasti harganya mahal" kata alea melihat dirinya dicermin lalu berdandan minimalis.


Setelah beberapa waktu terdengar pintunya diketuk,alea membuka pintu "Nyonya alea ditunggu tuan Adrian diruang makan".


"Baiklah aku segera kesana',kamu pergilah".


"Baik nyonya alea,saya duluan".


"Hm... sudah nunggu ya... ternyata cepat juga gerakannya"kata alea sambil melihat jam diponsel barunya sudah jam delapan.


"Oh sudah jam delapan pantesan,eh... nyoba ponsel baru,cuma ada satu nomer Adrian suamiku,widih namanya pede banget lagi,kasih nama diponsel cih, eh coba telpon nomer ponselku".


Alea memasukan nomer ponselnya dan menelpon,tersambung "Halo" alea menyapa duluan.


"Selamat pagi cintaku,apa kabarmu,aku merindukanmu,nanti aku datang membawakan ponsel ini padamu,tunggu aku ya cintaku".suara Devan begitu lembut dan mesra membuat alea sadar,kalau dia sudah melakukan kesalahan dengan menelpon hpnya.


"Cintaku... kenapa diam saja,begitu gembiranya mendengar suaraku ya,sabarlah aku akan datang menjagamu tak ada yang boleh mengganggumu lagi,aku akan menyingkirkannya!".


Alea merasa ngeri mendengar kata kata Devan yang seperti mengintimidasinya,ia segera mematikan ponselnya,dan bergegas keluar kamar turun kelantai bawah.


Ponselnya berdering tepat saat ia sampai dimeja makan,Adrian mengernyitkan dahinya ketika mendengar dering ponsel alea,tanpa sengaja terpencet tombol angkat dan speaker on, "Halo cintaku ini nomerku disimpan ya,karena kau harus menghubungiku bila perlu bantuan ku, walau sebentar lagi kita akan bersama untuk selamanya".


Alea segera mematikan ponselnya ia masih belum siap bertemu Devan.


"Sayangku kenapa Devan bisa menelpon mu ponsel itu baru kubeli tadi malam".


Deg... alea merasa gugup ditanya Adrian, ia seolah meminta penjelasan alea "Itu karena aku mencoba menelpon ponselku,tak kusangka aktif dan Devan yang angkat" jelas alea mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Yang terjadi ya sudah harus terjadi,sarapan dulu,tadi malam kamu belum makan kan" kata Adrian dengan datar.

__ADS_1


'Hm... dia mulai datar' bathin alea merasa bersalah,karena sudah menelpon hingga kedatangannya sekarang diketahui Devan dan ini 'masalah'pikir alea polos,ia tak tau kalau Devan sudah tau kemaren sore prihal kepulangannya.


__ADS_2