
Saat berada ditengah hutan, tiba - tiba kabut menyelimuti sekitar tempat mereka berada, putri alea memegang erat tangan pangeran.
"Yayank mulia kenapa tempat ini tiba - tiba dipenuhi kabut yang menutupi alam sekitar?" tanya putri alea.
"Berhati - hatilah sepertinya kita masuk wilayah para lelembut yang akan membuat kita bingung dan celaka!" jawab pangeran lalu memperingatkan bunga dan laras untuk tetap memperhatikan putri alea mereka.
"Yayank mulia... aku sekarang melihat jelas daerah ini sudah pagi dan begitu indah pemandangannya, wah... menakjubkan ternyata kita berada diatas bukit yang tinggi dan bisa melihat matahari terbit dengan sempurna... yayank mulia... yayank mulia... aku tidak melihat mu, bunga... laras... kalian dimana?!" entah sejak kapan putri alea sudah sendirian berada di bukit ini sendiri.
Seseorang melintas dibelakangnya dan ia buru - menengok, sosok itu begitu familier baginya.
"Kakek... kakek kenapa kakek berada disini... kakek tunggu alea...".
Putri alea mengejar kearah kakek yang tak mendengar panggilannya, ia terus mengejar perasaan rindu ingin berjumpa sang kakek tak bisa ia bendung lagi, tak terasa air matanya mengalir sambil pempercepat larinya.
"Kakek... aaaaah..." ia hampir terjatuh ke jurang yang dalam saat akan melangkah dimana melihat sosok yang seperti kakek menghilang disini.
Putri alea tersadar, sepertinya itu hanya bayangan sosok yang menyerupai kakeknya ia hampir celaka.
Ia jadi teringat pada kakeknya yang begitu menyayangnya sejak ia masih kecil.
"Kakek... apa kakek disana baik - baik saja, kek... alea rindu sama kakek, alea ingin bertemu kakek, alea ingin merawat kakek, kek alea ingin kembali hiks...".
Lama terduduk ditepi jurang, menangisi dirinya yang berpisah dengan kakek yang ia sayangi, ia takut kakek sakit dan tak bisa berjumpa lagi, membuat menangis sedih.
"Putri... disini anda rupanya... kami mencari cari dirimu, ayok kita pergi dari sini" kata bunga mendekatinya.
"Dimana pangeran?!".
"Pangeran juga sedang mencari anda".
"Kalau begitu biarkan ia datang kesini saja".
"Putri... sebaiknya kita pergi dari sini dahulu".
"Mau kemana... katamu pangeran sedang mencariku juga maka biarkan dia menemukan kita disini!".
"Mungkin pangeran sudah kembali ketempat kita terakhir berada".
"Aku letih sekali tak ingin berjalan lagi".
"Kalau begitu biar hamba gendong saja tuan putri".
__ADS_1
"Aku bilang tidak ingin ya tidak ingin!!!...".
"Putri... mengapa anda ingin disini mari pergi" tiba - tiba Laras juga datang dan mengajak pergi.
"Kalian pergilah dahulu..." ujar putri alea sambil mengibas kan tangan dengan memakai jurus tapak inti es yang tidak ia gunakan sepenuhnya, hanya membuat kedua gadis itu terjatuh dengan tubuh membiru karena hampir beku terkena pukulan dingin dari putri alea.
"Putri... mengapa anda memukul kami?" tanya keduanya memelas.
"Karena kedua pengawalku tidak berbau menyan, dasar hantu gentayangan pergilah keneraka!" ujar putri alea memukul dengan tenaga dalam inti es, lalu terdegar suara raungan dan menghilangnya kedua penampakan gadis jadi - jadian itu.
Beberapa saat kemudian pangeran Yun lie datang dengan wajah yang cemas menghampiri putri alea.
"Sayangku... apa kau baik - baik saja,coba kulihat apa ada yang terluka didirimu" ujar pangeran sambil mengitari putri alea.
"Aku baik - baik saja, mengapa baru datang mencariku?!".
"Kupikir selama ini selalu bersamamu, ternyata yang bersamaku itu sundel bolong, aku sudah lengah menjagamu, sayangku aku sangat menguatirkanmu" ujar pangeran seraya ingin memeluk putri alea.
"Hentikan!!!... jangan sekali - kali kau coba menyentuh permaisuriku, menjauhlah darinya atau aku akan menjadikanmu debu dan tersesat selamanya!".
"Kau yang jangan mendekat, kau pasti hantu hutan yang menyerupai diriku kan?!".
"Aku bilang segera pergi dari sisinya, maka pergilah...".
Sementara ada dua pangeran Yun lie yang bersitegang, putri alea hanya diam memperhatikan keduanya begitu serupa, bahkan aroma tubuh mereka pun sama, kali ini keduanya tak bisa dibedakan antara yang palsu dan yang asli.
Pangeran Yun lie yang baru tiba langsung memberi pukulan tenaga dalam yang mematikan, dan dengan mudah dihindari oleh pangeran Yun lie lainnya.
Keduanya bertempur dengan sengit setiap pukulan mereka sama mereka tak beda dua orang yang sama dengan melawan dirinya sendiri.
Sementara putri alea masih tidak bisa membedakan yang mana yang asli, ia hanya melihat dengan cemas pada kedua orang yang terlihat sama persis ini.
"Berhentilah bertempur!!!..." teriak putri alea dengan tenaga dalam yang tinggi.
Seketika keduanya berhenti dengan terengah - engah karena telah menguras tenaga untuk saling serang, saat ini keduanya saling berhadapan dengan pandangan saling membenci.
"Suamiku... aku akan kembali kedunia modern dan bercerai denganmu, disana ada Adrian yang menungguku, aku akan kembali padanya".
"Kau berani meninggalkanku?!" tanya pangeran Yun lie yang lainnya.
"Kau tak bisa kembali padanya,aku telah membuatnya melupakanmu!" kata pangeran Yun lie yang menemukan mereka berdua.
__ADS_1
"Hehehe...akhirnya aku tahu diantara kalian berdua, mana yang palsu".
"Sayangku... kalau kau sudah tau dia yang palsu maka pergi denganku segera" ajak pangeran Yun lie yang lainnya.
"Baiklah... mari menyusul kakek, aku tadi melihatnya kearah situ" tunjuk putri alea kearah jurang.
Terlihat pangeran Yun lie yang lainnya menyetujui ajakan putri alea, sementara pangeran Yun lie yang satu lagi hanya memperhatikan keduanya dengan pandangan yang penuh senyuman sinis.
"Mari kita pergi" ajak pangeran Yun lie yang lain segera memimpin jalan dan menggandeng tangan putri alea menuju jurang.
"Kau bukan pangeran Yun lie kan?!" tanya putri alea.
"Sayangku mengapa kau berkata begitu pada suamimu?".
"Karena suamiku tau, kakekku tidak berada dinegri bahari ini... enyahlah dari hadapanku!" ujar putri alea sambil memukul dengan telapak inti es, seketika sosok itu menghilang.
"Sayangku... kau ternyata bisa mengetahuinya" ujar pangeran Yun lie segera ingin memeluk putri alea.
"Berhenti disitu...".
"Tapi kenapa?...".
"Siapa yang tahu kau pun sama adalah mahluk yang menyerupai pangeran suami".
"Tapi si adrian yang tak tau diri itu,aku yang membuatnya tak lagi mengingat cinta butanya padamu, dia pantas mendapatkannya, karena sudah berani menikahi permaisuriku, dan kau ingin kembali padanya, aku akan menghabisinya saja sekalian".
"Hehehe... kau memang suamiku yang tak memberi kesempatan pria lain untuk menjadi selir bagiku".
"Apa maksud perkataanmu barusan?!".
"Ufs... aku hanya asal berkata - kata".
"Tak perlu ada selir pria... aku akan membuatmu tak bisa bangun dari tempat tidur setiap hari!".
"..."
Pangeran Yun lie segera memeluk dan menciumi istrinya dengan buas seakan memberi hukuman atas perkataannya yang sangat berani itu.
Putri alea hampir tak bisa menghirup udara sekitarnya hingga terengah - engah seperti habis berlarian.
"Hei... hei... apa yayank mulia ingin aku mati dan bisa menikahi banyak wanita cantik!" omel Putri alea cemberut.
__ADS_1
"Itu hukuman untuk seseorang yang berani berpikir punya selir pria, baru hukuman ciuman, belum hukuman ditempat tidur" bisik pangeran Yun lie menyerigai.
'Dasar tiran..." runtuk putri alea dalam hati saja.