
Pangeran merasa sangat tak dibutuhkan, perasaannya begitu campur aduk antara rasa sedih, kesal tapi ia tak ingin membuat perasaan istri pendiamnya itu bertambah sebal kepadanya.
"Baiklah bila memang sayangku masih ingin berjalan jalan, maka aku akan menemani, kita jalan - jalan bersama".
"Kami pergi tanpa yang mulia saja" ujar putri alea dengan suara kecil.
"Bagai mana mungkin aku membiarkan permaisuri ku berjalan tanpaku, sedang aku saat ini mencarinya".
"Aku masih kesal dengan yang mulia!" ujar putri alea cemberut.
"Sayang aku sungguh meminta maaf padamu" kata pangeran sambil memeluk dan berlutut.
"Yang mulia tak patut bersikap seperti ini, jangan merendahkan diri didepanku ini sangat melanggar etiket kebangsawananmu" ujar putri alea sambil menarik tubuh suaminya untuk berdiri, tapi pangeran tak ingin berdiri, malah memeluk erat paha putri alea.
"Aku tak ingin berdiri bila sayangku tak ingin jalan bersama" kata pangeran sambil memeluk kaki putri alea, hingga membuat hatinya luluh.
"Baiklah terserah pada yang mulia saja" ujar putri alea mengalah, ia tak tahan melihat pria yang begitu tinggi martabatnya dan penuh kewibawaan yang begitu dingin tapi memeluk kedua kakinya, takut kualat.
"Panggil aku yang yayank seperti janji kita dulu" ujar pangeran sudah terlihat tegas lagi.
"Yang mulia... jangan mulai lagi!" kata putri alea sambil melotot.
"Pokoknya panggil yayank!..." sahut pangeran Yun lie sambil menyambar tubuh istrinya dan menggendongnya lalu berlari menuju jalan untuk keluar dari tempat itu sambil memanggil bunga dan Laras.
Kalau sudah begini, bagi alea lebih baik diam dan melingkarkan kedua tangannya keleher sang suami yang mendominasi ini.
Setelah dua jam berlari seperti terbang mereka sampai dikaki gunung yang orang bahkan punya ilmu hebat sekalipun masih butuh sehari untuk tembus dari puncak kekaki gunung.
Bisa dibayangkan ilmu yang dimiliki pangeran Yun lie begitu hebat, ia memang pangeran yang memiliki ilmu kanuragan yang begitu hebat dia juga bisa berada didunia fana sesuai yang ia inginkan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita meneruskan perjalanan, agar ketika sampai kekota raja hari tidak terlalu gelap" kata pangeran Yun lie.
"Kita tidak akan pulang dulu kan?!..." tanya alea.
"Iya... sayangku, kita akan jalan - jalan sampai kau puas" ujar pangeran dengan senyum.
Jarang - jarang ada senyum diwajah pangeran Yun lie, pasti itu hanya untuk alea seorang, wajah yang sangat tampan itu selalu terlihat dingin dan datar.
Hari hampir gelap ketika mereka tiba dikota raja segera mencari restoran untuk makan malam, suasana dalam restoran begitu ramai karena ada pertunjukan dari pemain kecapi yang dimainkan seorang wanita cantik.
Suara kecapi yang begitu merdu membuai para penikmatnya disamping pemandangan akan gadis cantik yang terlihat begitu mahir memainkan senar - senar dawainya.
Gadis pemain kecapi itu tak melihat kearah pengunjung, ia fokus pada senar - senar yang ia sentuh, sekilas ia memandang kearah pengunjung, matanya sekilas melihat pada meja yang ditempati kelompok alea.
Ia terlihat kembali melihat kearah meja alea, melihat empat pria tampan dan cantik yang terlihat dingin, tapi ia tertarik.
Pangeran Yun lie, sama sekali tidak tertarik pada musiknya atau pemainnya, didalam pikirannya sudah tak sabar ingin mandi bersama dan tidur dengan istrinya, seandainya alea tidak melototinya saat itu terus menatap wajah alea, didepan umum pasti ia sudah tak mengalihkan penglihatannya itu.
Gadis pemain kecapi itu terus melirik kearah mereka, alea jadi memperhatikan gerakan gadis itu dan sedikit penasaran, apa yang ada dibenak gadis itu melihatnya atau suaminya.
Disisi lain ada beberapa wanita yang juga tak kalah cantiknya, sedang berada didalam restoran ini, mereka terlihat sejak melihat rombongan alea masuk sudah terpesona pada mereka, terutama pada alea dan pangeran, aleandro terlihat seperti pemuda cantik yang berseri memancar aura memikat luar biasa.
Sedang pangeran Yun lie, terlihat begitu tampan perkasa dengan aura kuat yang membuat para wanita jatuh hati saat pandangan pertama, walau wajah itu begitu dingin dengan mata elang yang tajam.
Ada wanita penghibur kelas atas yang berjalan mendekati meja mereka, bunga segera berdiri dari duduknya dan merentangkan sebelah tangannya, diikuti Laras, sementara aleandro hanya acuh tak acuh.
""Tuan - tuan yang perkasa, apa membutuhkan perlayanan ku untuk dihibur atau didampingi minum - minum?" tanya wanita penghibur itu dengan suara manja menggoda.
"Tidak perlu, kami tidak pergi mencari penghiburan tapi hanya ingin mampir mengenyangkan perut!" kata bunga tegas.
__ADS_1
"Tuan bisa mencobanya dulu, tuan - tuan terlihat begitu letih" ujar wanita itu tak menyerah.
Gadis pemain kecapi itu terlihat begitu antusias dengan sikap dingin dari pangeran dan aleandro ia pikir wanita penghibur itu memang tak layak seujung rambut pun untuk menggoda mereka.
Kemudian gadis kecapi itu Menganti irama musiknya yang melankolis itu menjadi musik yang ritme nya menjadi lebih menggebu seperti memainkan suasana hati yang panas memancar keinginan untuk bergoyang dengan lamunan seronok.
Pangeran Yun lie merasa tak sabar dengan sikap istrinya yang terkesan masih ingin tinggal bersenang senang disini.
"Sayangku... mari kita pergi sekarang" ujarnya diantara musik yang rancak ini.
"Baiklah mari pergi" jawab alea dengan cepat.
Bunga bergerak cepat membayar tagihan semua makanan, gadis penghibur merasa kecewa tidak digubris pergi dengan lesu.
"Tuan aleandro beruntung kami bertemu dengan anda disini, mari aku teraktir minum untuk merayakan keberhasilan anda mendapatkan ketujuh senjata pusaka yang teramat langka dari gunung awan" ujar tiba - tiba seorang dari serombongan orang yang baru memasuki pintu restoran.
Tampak pria yang terlihat gagah ini berbicara, ia bersikap sopan dan terlihat tak berbahaya, tapi dari bahasa tubuhnya ia sangat punya tujuan.
"Maafkan kami tuan, sekarang aku sangat merasa letih dan setelah makan, begitu mengantuk dan ingin segera istirahat, jadi kami ucapkan terimakasih atas perhatian anda, saat ini kami pamit dulu" ujar aleandro dengan sopan.
"Baiklah tuan aleandro, tapi apa aku boleh bertemu dengan anda dilain waktu, mungkin besok kita bisa makan bersama?" ujar pria ini lagi.
"Mungkin lain waktu kalau ada kesempatan, karena waktu kami terbatas juga untuk suatu perjalan lagi" jawab aleandro.
"Bisa beri tahu tempat tinggal anda dimana, kami akan berkunjung, semoga anda bisa menerima niat baik kami" ujarnya lagi.
Aleandro melihat sekitarnya dan berkata " Maaf aku tidak bisa memberitahukan dimana tempat tinggal ku karena sesuatu hal yang tak bisa ku ungkapkan, mohon pengertian anda, selamat tinggal".
Aleandro segera pergi diikuti pangeran dan kedua pengawalnya dan semua pandangan terfokus pada mereka, si gadis pemain kecapi terlihat muram dengan kepergian mereka.
__ADS_1