
Rizki langsung memegang rambut Kezia dan hal itu membuat Kezia langsung menutupi lehernya dengan tangan.
Rizki menahan rasa keingintahuan dirinya mengenai siapa yang melakukan hal itu pada adiknya.
"Kamu Sandra atau Salena?" Tanya Rizki sambil memperhatikan wajah Kezia.
"Sandra." Jawab Kezia berbohong.
"Mmhh Sandra ya?"
"Iya." Jawab Kezia lagi.
"Kalau gitu coba kamu berikan Asi untuk Vania." Ucap Rizki.
"Itu tidak mungkin, kau ada di depanku dan aku malu." Ujar Kezia berdalih.
"Kenapa harus malu? Kau biasanya juga memberi Asi di depan diriku. Lagian aku ini Abangmu." Ucap Rizki yang mulai merasa yakin bahwa wanita yang didepannya ini bukan Sandra.
"Bisa - bisanya Sandra menyusui anaknya di depan Abangnya sendiri. Mana Abangnya masih muda. Apa dia tidak malu?" Pikir Kezia.
"Cepat lakukan hal yang aku bilang tadi jika kamu benar Sandra." Ujar Rizki.
"Baiklah Kezia, kamu harus tenang dan lakukan ini, lagian inikan tubuhnya Sandra jadi aku tak perlu malu." Gumam Kezia.
Kezia pun membuka kancing bajunya dan membiarkan Vania meminum susu melalui payudaranya.
"Aa dia malah membukanya benaran, padahal tadi aku membohongin dirinya." Gumam Rizki sembari menatap ke arah lain agar tak melihat tubuh adiknya itu.
__ADS_1
"Aku keluar dulu." Ucap Rizki tanpa melihat kearah Kezia.
Kezia merasa lega karena Rizki telah pergi meninggalkan dirinya, tak lama setelah itu Hardi datang dan dengan cepat Kezia langsung menutupi Payudaranya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Hardi namun pandangannya fokus ke leher Kezia.
"Dia memarahiku karena aku kabur." Jawab Kezia berbohong.
"Tadi saat aku memeluknya di hotel, lehernya masih bersih. Namun sekarang lehernya terdapat bekas merah sepertinya tadi dia di cium oleh seseorang." Gumam Hardi.
Namun Hardi enggan membahas hal ini, dia mengabaikannya bukan berarti dia tak peduli dengan istrinya hanya saja dia sedang menunggu waktu yang tepat.
• • • •
Di kamar Hotel Wilson dan Merissa.
Merissa melihatnya dengan serius dan berpikir kenapa suaminya tampak kesal.
"Kenapa dia? Apa dia bertengkar dengan selingkuhannya? Atau dia tak mendapatkan service dari selingkuhannya tadi malam?" Itulah yang terus - terus dipikirkan oleh Merissa.
"Bersiaplah, aku akan membawamu jalan - jalan." Ucap Wilson.
Merissa sama sekali tak mau bersiap - siap karena ia masih marah pada suaminya itu.
"Apa kamu tak mendengarnya?" Tanya Wilson.
"Diamlah, aku sedang tak ingin keluar hari ini." Ujar Merissa.
__ADS_1
"Baguslah, berarti seharian ini aku bisa tidur."Ucap Wilson.
"Terserah."
Wilson tak benar - benar tidur karena mana mungkin dia bisa tidur ketika mendengar suara tangisan anaknya itu.
Namun Wilson tak marah karena Wilson memang sosok ayah terbaik untuk anak - anaknya.
"Berselingkuh dengan mantan istriku, ini sama sekali tak pernah aku bayangkan sebelumnya." Gumam Wilson.
"Aku mau kita pulang besok." Ucap Merissa sambil memberi Asi pada Zayn.
"Kamu aja yang pulang sama Zayn." Ujar Wilson.
"Lalu kau mau tinggal disini dengan selingkuhanmu?" Tanya Merissa.
"Tentu saja." Jawab Wilson.
"Wilson aku mohon jangan selingkuh, kamu harus ingat Zayn anakmu." Ujar Merissa memohon.
"Aku selalu ingat anak - anakku sayang."
"Lalu kenapa kau masih terus berselingkuh? Apa tak cukup dengan hadirnya aku dan Zayn di kehidupan kamu?"
Wilson tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Merissa.
Kini Merissa merasa sangat kesal bercampur cemburu yang menguasai hati dan pikirannya.
__ADS_1
Bersambung...