SIMPANAN SUAMIKU

SIMPANAN SUAMIKU
91.


__ADS_3

POV Wilson


Sandra menghindari ku, dia memilih pergi meninggalkan ku. Aku mengejarnya namun aku malah kehilangan jejaknya.


"Dimana dia?"


Segitu bencinya dia padaku sehingga dia pergi menjauh dariku disaat aku ingin berbicara padanya.


Aku pun memutuskan untuk pergi ke rumah sandra agar aku bisa menemui dirinya.


...


Kini aku telah berada di depan rumahnya Sandra.


"Maaf. Anda siapa? Dan mau mencari siapa?" Tanya Seorang satpam.


"Saya Wilson. Saya mau bertemu dengan Sandra. Apa Sandra ada dirumah?"


"Ada. Sebentar biar saya panggilkan." Ujar satpam.


Tak lama kemudian Satpam tersebut keluar bersama Rizki.


Mungkin hari ini bukan hari keberuntunganku.


"Mau apa kau kesini lagi?" Tanya Rizki.


"Aku mau menemui Sandra."


"Dengar, Sandra sudah tak mau menemuimu lagi. Jadi lebih baik kau pergi dari tempat ini!" Ujar Rizki.


"Aku akan pergi setelah aku bertemu dengan Sandrs dan anakku."


"Anakmu? Vania itu anak Sandra, dan kau tak berhak untuk menemuinya lagi." Ujar Rizki.


"Dasar." Gumamku dalam hati.


"Lebih baik kau pergi saja dari sini!" Ucap Rizki.


"Ada apa ini?" Tanya Sandra yang tiba - tiba muncul diantara aku dan Rizki.


"Wilson? Kamu mau ngapain kesini?"


"Aku mau bicara sama kamu."


"Sandra kamu masuk sekarang!" Titah Rizki pada Sandra.


"Sandra ayolah, sebentar saja."


"Maaf aku gak bisa." Ujar Sandra.


"Kenapa sandra? Please kali ini aja, setelah itu aku berjanji tak akan menganggu dirimu lagi."


"Ayo Sandra kita masuk saja." Ujar Rizki pada Sandra.

__ADS_1


Dan disaat itu lagi - lagi aku gagal untuk bisa berbicara dengan Sandra, ini karena Rizki.


"Cepat atau lambat aku harus bisa untuk menemui anakku untuk yang terakhir kali."


Saat aku beranjak pergi aku lewat berselisih dengan seorang pria yang berjalan menuju ke rumah Sandra.


Mungkin dia adalah salah satu pria yang mencintai Sandra.


• • • •


Sandra


Kali ini apa lagi? Kenapa dia menemuiku? Ah aku sungguh bingung melihatnya.


"Sekarang kamu masuk aja ke kamar Vania." Ujar Rizki.


Aku langsung kembali ke kamar Vania.


Tak lama setelah aku dikamar, Jason datang menemuiku hingga aku harus kembali keluar lagi.


Dia sudah menungguku ternyata. Entah kenapa aku merasa tidak enak karena ulah Salena.


Semoga saja Jason tak membahasnya.


"Ada apa Jason?"


"Apa kita bisa berbicara di tempat lain?" tanya Jason.


"Tentu saja bisa. Ayo ikuti aku."


"Kamu mau ngomong apa?"


Jason


"Aku sayang sama kamu San, Maukah kamu menikah denganku?"


"Menikah?"


"Iya. Aku mau kamu menjadi istri aku. Aku begitu mencintaimu Sandra." Ujar Jason.


Saat ini aku merasa bingung sekali, aku ragu untuk menerima Jason. Aku hanya takut untuk memulai sebuah hubungan yang baru lagi.


"Bagaimana, apa kamu mau Sandra?" tanya Jason lagi.


"Gimana ya, aku masih trauma karena pernikahanku dulu."


"Jangan takut. Aku berbeda dari mantan suami kamu. Aku janji gak akan nyakiti kamu Sandra." Ujar Jason menyakinkan diriku.


Walau dia berjanji entah kenapa aku merasa tidak yakin kepada dirinya. Akhirnya aku tak menjawab sekarang, aku memintanya untuk menungguku agar aku bisa berpikir.


Untungnya Jason mau menungguku. Setelah selesai kami kembali lagi masuk ke dalam rumah.


Jason melihat Vania yang sedang bermain bersama Rizki.

__ADS_1


Sepertinya Jason sangat menyanyangi Vania.


Jason adalah pria yang cukup sempurna untuk menjadi suamiku, dia baik dan sepertinya dia sangat menyanyangi anakku. Sepertinya aku harus berpikir dan memastikan Jason adalah pria yang terbaik.


Lalu bagaimana dengan Rangga? Bukannya Rangga juga mencintaiku? Bahkan saat ini Rangga masih setia menungguku. Saat ini aku benar - benar bingung.


Semoga saja nanti pria yang aku pilih adalah seorang pria yang setia pada satu wanita saja.


"Gimana apa kamu menerima Jason?" Bisik Rizki.


"Aku belum memberinya jawaban."


"Lalu kapan kamu akan memberinya jawaban?" Tanya Rizki lagi.


"Mungkin secepatnya, aku berpikir saja dulu."


"Baiklah. Aku harap kamu menerimanya." Ujar Rizki.


"Apa aku harus menerimanya?"


"Tentu. Jason pria yang baik. Dia bisa menjadi sosok ayah untuk Vania." Jawab Rizki.


Sejenak aku menoleh ke arah Jason yang sedang bersama Vania. Ya Jason sangat menikmati waktu bermain bersama anakku.


"Kamu sudah melihatnya. Jason itu pria yang baik. Percayalah padaku, aku sudah lama mengenalnya." Ujar Rizki.


"Lihat saja nanti. Biarkan aku berpikir dulu."


Aku benci situasi ini, aku benci situasi dimana aku harus memilih. Rasanya aku ingin sekali pergi dari tempat ini.


Apa aku harus menikah lagi? Apa tak boleh aku mengurus Vania sendiri saja? Aku benar - benar membenci situasi ini.


"Kamu kok diam saja? Ayo kesini." Ujar Jason.


Dengan cepat aku langsung menghampiri Jason dan menemaninya yang sedang bermain bersama Vania.


"Kenapa aku yang harus kamu pilih?"


"Karena aku mencintaimu." Jawab Jason.


"Diluaran sana banyak wanita yang belum mempunyai anak. Kenapa kamu tak mencari wanita lain?"


"Kalau aku sudah mencintai seseorang maka aku akan berusaha untuk mendapatkannya. Lagian untuk apa aku cari wanita yang ada di luaran sana, cintaku ada di kamu jadi aku akan memilihmu saja." Jelas Jason.


"Tapi aku sudah mempunyai anak."


"Anakmu juga akan menjadi anakku jika kita menikah nanti." Ujar Jason.


"Tapi ka..."


"Aku tau kamu masih trauma. Maka berpikirlah dulu, aku akan sabar menunggumu." Ujar Jason.


Aku menghela napas dan berusaha untuk memastikan bahwa diriku sudah siap untuk menikah lagi.

__ADS_1


Bersambung.


Vote dan Likenya jangan lupa...


__ADS_2