
Pagi hari.
Hardi masih terlelap dari tidurnya sementara Kezia sedang membongkar isi lemari untuk mencari paspornya Sandra.
Mulai dari lemari pakaian hingga lemari berukuran sedang yang menjadi tempat penyimpanan dokumen telah ia periksa, namun ia tak kunjung menemukan paspor milik Sandra.
"Kamu cari apa?" Tanya Hardi yang baru saja bangun.
"Paspor." Jawab Kezia.
"Untuk apa dia mencari paspornya?" Pikir Hardi.
Hardi membiarkan Kezia yang masih sibuk mencari paspor.
"Apa paspor nya Sandra ada di suaminya itu? Akan kutanyakan nanti." Gumam Kezia.
• • • •
Di kamar hotel.
Saat ini Wilson sedang menikmati sarapan pagi bersama istrinya. Hanya ada keheningan di meja makan mereka, dan ini bukan hal yang baru bagi Merissa.
Melihat suaminya yang melamun, Merissa merasa sedikit curiga. "Pasti Wilson memikirkan selingkuhan." Gumam Merissa dalam hati.
Memang benar saat ini Wilson sedang memikirkan Kezia yang kini tak tahu entah ada dimana.
"Aku harus segera menemukan alamat rumah Suami Sandra." Gumam Wilson.
"Kenapa kamu lama sekali makannya? Cepatlah aku mau pergi lagi."
"Mau pergi kemana kamu?" tanya Merissa.
"Bukan urusanmu."
Tentu saja Wilson tak memberitahu Merissa kalau dia ingin mencari alamat rumah Sandra.
Sementara Merissa berniat untuk mengikuti suaminya itu.
Setelah selesai sarapan, Wilson langsung pergi tanpa pamit kepada Merissa.
Sementara Merissa mengikuti Wilson dari jauh agar suaminya itu tak mengetahui keberadaannya.
Wilson hanya mendatangi tempat yang pernah ia datangi dengan Kezia.
"Rasanya aku ingin sekali bertemu dengannya."
"Ngapain Wilson kesini? Apa disini dia mau bertemu dengan selingkuhannya." Merissa memantau Wilson dari kejauhan.
• • • •
Di rumah sakit.
__ADS_1
Seorang suster masuk dengan raut wajah yang panik.
"Dok ada pasien yang sedang kumat, saat ini pasien itu sedang mengacak - ngacak ruangan tempat ia di rawat."
Hardi langsung bergegas pergi bersama suster yang tadi. Saat Hardi masuk seisi ruang rawat itu sudah seperti kapal pecah. Bantal berserakan, ranjang rumah sakit tergeser kesana sini dan banyak alat medis yang berserak di lantai.
Dengan hati - hati Hardi mencoba mendekati pasien yang sedang kumat itu.
"Hati - hati dokter." Ucap salah satu suster.
Pasien itu hampir saja melukai tangan Hardi dengan menggunakan pisau, namun untungnya Hardi cepat menghindar.
Dengan bantuan para para suster kini pasien tersebut telah disuntik obat penenang hingga kondisi pasien kembali normal.
Setelah mengurus pasien tersebut kini Hardi kembali lagi ke ruangannya.
• • • •
Di Rumah Hardi.
Kezia masih terus berusaha untuk mencari paspornya di tempat lain.
"Mau kemana kamu?" Tanya Ibu.
"Apa Ibu tau dimana pasporku?" Tanya Kezia.
"Aku tidak tahu." Jawab Ibu datar.
Kezia merasakan bahwa Ibu nya Hardi ini sangat membenci dirinya, hal itu dapat dilihat dari tatapan Ibu kepada dirinya.
Kezia hampir putus asa hingga dia memutuskan untuk menemui Wilson di hotel.
Dirinya langsung keluar namun Rizki dan Juna malah menghalangi Kezia untuk keluar.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rizki.
"Makin hari makin cantik aja." Gumam Juna.
Kezia yang melihat tatapan Juna itu membuatnya merasa risih.
"Aku mau keluar sebentar."
"Biarkan aku keluar, nanti aku pasti akan kembali lagi."
"Mau kemana?" Tanya Juna.
"Mau beli baju untuk Vania." Jawab Kezia berbohong.
Rizki dan Juna sama sekali tak percaya hingga mereka membawa Kezia masuk secara paksa.
"Kakak akan kami kunci dari luar." Ujar Juna.
__ADS_1
"Jangan di kunci." Ucap Rizki.
"Tapi nanti kalau Kak Sandra kabur gimana? Ada baiknya kita kunci saja." Saran Juna.
Kezia benar di kunci dari keluar hingga dia sama sekali tak bisa keluar dari rumah ini.
"Ahh sial." Gerutu Kezia.
Kezia memikirkan cara lain agar dia bisa keluar dari rumah ini, dan cara satu - satunya adalah dengan keluar melalui jendela.
Kamar itu terletak di lantai dua hingga menyulitkan Kezia untuk keluar.
"Apa aku harus melompat?"
Tiba - tiba Kezia teringat bahwa kamar Vania itu terhubung dengan kamarnya, jadi dia memutuskan untuk keluar melalui pintu kamar Vania.
Setelah kondisi di rasa aman, Kezia langsung menjalankan aksinya dan dia berhasil.
Awalnya Kezia ingin ke hotel, namun saat ditengah perjalanan ia melihat Wilson yang tengah duduk.
"Pak berhenti dan mundurlah sedikit."
"Baik." Supir taksi itu menuruti permintaan Kezia.
"Itu benar Wilson."
Kezia memanggil Wilson dari dalam taksi dan seketika Wilson mencari asal suara yang memanggilnya.
"Itu Kezia." Wilson langsung berjalan ke arah Kezia.
Sementara Merissa sama sekali tak melihat jelas wajah wanita yang memanggil suaminya itu.
"Pasti itu selingkuhannya." Ucap Merissa.
Kini Wilson dan Kezia pergi dari tempat itu.
Mereka saling berpelukan seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak berjumpa.
Wilson merasa senang begitu pula dengan Kezia.
"Bagaimana apa kamu sudah ketemu paspor nya?"
"Belum." Jawab Kezia.
"Lalu bagaimana ini? Apa Wilson akan segera kembali ke indonesia? Aku ingin kembali bersamamu."
"Aku bisa menunda kepulanganku selama seminggu lagi, aku harap kamu akan segera menemukan paspormu itu." Ujar Wilson.
"Aku akan berusaha."
Kini mereka menuju ke salah satu destinasi hiburan yang ada di Jepang.
__ADS_1
Bersambung...
*Jangan lupa Like, Vote dan Rat**e*...