
Sandra masih terus berpikir apakah ini sudah saatnya untuk dia menikah lagi.
Tak berapa lama Rangga pun datang ke rumah sandra.
Rangga melihat Sandra sedang bersama Jason di kamar Vania.
"Siapa pria itu? Ada apa ini, kenapa Sandra bersama pria itu?" Gumam Rangga dalam hati.
"Rangga ayo masuk." Ucap Sandr**a.
Rangga langsung masuk dan berkenalan dengan Jason, karena Rangga belum mengenal Jason.
"Sandra kita bisa bicara di luar? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu." Ujar Rangga.
"Jason aku keluar dulu."
Jason hanya tersenyum melihat Rangga mengandeng tangan Sandra.
Rangga membawa Sandra ke ruang tamu dan seketika langsung memeluk Sandra dengan erat.
"Ada apa Rangga? Kenapa kamu tiba - tiba memelukku?" Claudya heran melihat sikap Rangga.
"Aku minta maaf ya Sandra. Waktu semasa kita pacaran aku malah pergi meninggalkan kamu. Maafin aku San, aku menyesal." Ucap Rangga.
"Aku udah maafkan kamu kok." Ujar Sandra.
"Kita pacaran lagi ya San, aku ingin memilikimu lagi. Aku janji padamu aku akan selalu setia padamu." Ucap Rangga.
"Pacaran lagi. Itu gak mungkin." Ujar Sandra.
Rangga langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Sandra.
"Kenapa gak bisa? Dengar dari dulu itu kita belum putus bahkan sampai saat ini." Jelas Rangga.
"Hubungan kita sudah berakhir ketika kau meninggalkan diriku." Ujar Sandra.
Sejenak Rangga sempat berpikir bahwa apa yang di katakan oleh Sandra itu ada benarnya.
"Aku udah gak mau pacaran lagi Rangga." Ucap Sandra.
"Kalau begitu kita menikah saja. Aku siap menikahi kamu." Ujar Rangga.
__ADS_1
"Pria itu, kenapa dia memaksa Sandra?" Gumam Jason dari dalam hati disaat dia melihat Rangga dan Sandra.
"San, aku tau kalau pria itu juga sudah mengajakmu untuk menikah. Tapi apa kamu yakin bahwa dia bisa menerima kamu dengan sepenuh hatinya? Kamu sadar kan kalau pria itu belum tau tentang kondisi kamu. " Ujar Rangga.
"Kondisi apa? Apa Sandra sakit?" Gumam Jason dalam hati.
"Rangga berkata benar, Jason kan gak tau kalau aku psikopat. Kalau dia tahu mungkin dia tidak akan mengajakku menikah." Gumam Sandra.
"Dengar Sandra, aku tau segalanya tentang kamu, aku ngerti dan sangat paham dengan kondisi kamu. Jadi aku mohon kamu pikirkan lagi siapa yang terbaik diantara aku dan pria itu." Ujar Rangga.
"Aku mohon udah Rangga. Aku gak bisa milih." Ucap Sandra.
Rangga terdiam sejenak melihat Sandra yang kini sama sekali tak bisa memilih.
"Rangga, maaf ya kamu jangan terlalu memaksa Sandra. Dia bisa tertekan nanti." Ucap Rizki.
"Apa yang terjadi pada Sandra? Kenapa sedari tadi Rangga selalu membahas mengenai kondisi Sandra?" Tanya Jason sambil jalan menuruni tangga untuk menghampiri Sandra, Rangga dan Rizki.
"Apa kamu mau tahu mengenai kondisiku saat ini?" Tanya Sandra pada Jason.
"Iya, ada apa Sandra? Kamu sakit?" Jason mulai khawatir.
"Iya aku sakit, penyakit ini sangat berbahaya dan bisa sangat mematikan seseorang jika penyakit ini kambuh." Ujar Sandra.
Jason sama sekali tak mengerti dengan ucapan yang di lontarkan oleh Sandra.
"Kamu yang sakit, kenapa seseorang yang akan mati jika penyakitmu itu kambuh? Aku sama sekali tidak mengetahuinya." Ujar Jason.
"Sebenarnya aku itu seorang psi..." Bicara Sandra di potong oleh Rizki.
"Cukup Sandra, sekarang kamu masuk kembali ke kamar." Ujar Rizki.
"Aku tidak mau."
"Rangga tolong bawa Sandra ke kamar." Ucap Rizki pada Rangga.
Rangga membawa Sandra secara paksa karena Sandra menolak ketika mau diajak masuk.
"Jangan kasar gitu." Ucap Jason yang melihat Rangga memaksa Sandra.
Rangga mengabaikan ucapan Jason dan ia tetap terus membawa Sandra masuk ke kamar.
__ADS_1
"Udah lepasin aku Rangga."
"Aku akan lepasin kalau kamu gak mencoba untuk keluar lagi." Ujar Rangga.
"Iya. Aku janji gak akan keluar lagi."
"Sebaiknya aku kunci saja dia dari luar." Gumam Rangga dalam hati.
Rangga keluar dari kamar Vania dan langsung mengunci pintu kamar itu dari luar. Setelah itu Rangga langsung menghampiri Rizki dan Jason.
Sementara Sandra merasa sangat Frustasi karena semua kejadian ini.
"Aku harus pergi dari dunia ini."
Sandra langsung membuka Jendela kamar Vania dan mencoba untuk loncat dari jendela itu ke bawah.
Kini Sandra sudah berada di jendela dan siap - siap untuk segara menjatuhkan dirinya ke bawah.
Saat dirinya mau melompat, Vania menangis secara tiba tiba dan hal itu membuat Sandra langsung menoleh ke arah tempat tidur Vania.
"Kenapa aku melakukan ini? Kalau aku mati siapa yang mau menjaga Vania." Gumam Sandra.
Sandra langsung mengurungkan niatnya untuk melompat dan segera menghampiri Vania yang menangis.
"Maafkan mama ya nak." Ucap Sandra saat menggendong Vania.
"Aku gak boleh mengakhiri hidupku hanya karena hal ini. Aku harus tetap hidup." Gumam Sandra.
Tak berapa lama setelah itu pintu kamar kembali di buka oleh Rizki.
Rizki memeluk Sandra yang saat ini sedang tertekan.
"Rahasiakan kondisimu itu, jangan sampai ada orang lain yang tau. Cukup Rangga dan Wilson saja yang tahu. Dengar, Vania akan bertumbuh besar nantinya, apa kau ingin Vania tahu bahwa dirimu seorang psikopat?"
"Aku tak ingin Vania tau." Ucap Sandra.
"Maka dari itu rahasiakan ini semua. Aku akan cari cara untuk menyembuhkan mu."
"Aku mau pergi saja dari sini. Aku sudah tak mau tinggal disini." Ujar Sandra.
"Terserah, yang penting sekarang kamu tenangkan dirimu dulu. Nanti aku akan membantumu untuk pergi dari tempat ini."
__ADS_1
Bersambung
Jangan Lupa Like, Vote dan Rate...