Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Ngeles


__ADS_3

"Hei, Om, Abang, lepas! Jangan kurang ajar kamu!" Pekiknya memukuli punggung Nathan dengan berapi-api.


Nathan memasukkan gadis itu secara paksa ke dalam mobil mewahnya "Hei, Om, Abang, turun kan aku, biarkan aku pergi!" Sachi meronta bahkan ingin membuka pintu mobil namun dengan cepat Nathan menariknya lalu mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya.


"Di sini saja! Kita ke apartemen lagi!" Ucap Nathan.


"Mau apa? Kita sudah tidak punya urusan lagi! Lepas kan aku Abang!" Sachi terus memukuli lengan yang membelenggu dirinya sampai lelah di buat sendiri.


"Jadilah wanita ku, jadilah simpanan ku!" Celetuk Nathan menyengir sambil memandang wajah panik gadis itu.


"Apa? Wanita mu? Simpanan mu? Apa sudah gila kamu hah?" Berang Sachi melotot.


"Aku serius, jadilah simpanan ku, akan ku berikan uang yang banyak setiap kali pertemuan, dari pada kamu mencopet seperti tadi, itu berbahaya, bagaimana kalo tadi para warga menangkap mu hmm?" Sela Nathan menyengir, pria itu benar-benar menikmati setiap ekspresi wajah cantik Sachi.


"Bukan urusan mu!" Lagi-lagi Sachi memukuli lengan Nathan dengan menggebu-gebu.


"Jalan Jho!" Titah Nathan pada sang asisten dan Jho menurut untuk memarkir mobil bergegas keluar dari halaman basemen.


"Turun kan aku! Aku bukan wanita penghibur! Aku wanita terhormat! Aku masih perawan!" Racau Sachi terus meronta sayangnya Jho sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman basemen.


"Ooh, perawan? Apa kamu sedang promosi?" Nathan tergelak, tangannya terus mempertahankan tubuh Sachi agar tak lagi bisa meronta.


Jho tertawa "Bos Bos, rupanya tidak di copet barang bendanya, tapi di copet hatinya!" Gumamnya pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjadi simpanan? Siapa yang mau? Sachi bukan lah tipe wanita yang mengobral tubuhnya untuk laki-laki, bahkan suaminya sendiri pun belum pernah menyentuhnya karena tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Menjadi layu di usia muda sudah pasti bukan mau Edric tapi mau bagaimana lagi jika nasib malang menderanya.


Sachi terus berpaling ke arah jendela mobil, matanya menatap kerlap kerlip cahaya yang menjadi blur karena gerakan cepat kendaraan beroda empat itu, namun batinnya terus mengumpat laki-laki tampan di sebelahnya.


"Jangan melamun." Nathan jahil mengusap lembut pipi gadis itu.


PLAK!


Selalu saja Sachi tepis dan Nathan selalu tersenyum mendapati itu, hadirnya sosok galak Sachi sangat menghibur kesepian hatinya.


"Gimana kalo kita belanja hmm?" Tawar Nathan dengan kepala yang miring berusaha memandang wajah cantik Sachi.

__ADS_1


Sachi menoleh "Om pikir aku sugar baby yang gila belanja begitu?" Ketusnya.


"Lalu, untuk apa kamu mengambil dompet orang lain?" Tanya Nathan.


"Aku cuma mencari sasaran di tempat mabuk, secara tidak langsung aku mengurangi dosa para korban ku, dari pada duit nya di hambur hambur dengan wanita penghibur, lebih baik di sedekah kan untuk ku!" Sela Sachi ngeles.


Nathan terkikik begitu juga dengan Jho yang tertawa renyah mendengar ucapan Sachi.


"Sama saja, apa pun alasannya, kamu tidak berhak mengambil milik orang lain!" Tutur Nathan.


"Aku tidak butuh ceramah mu, sekarang turun kan aku di sini! Aku tidak mau berurusan dengan mu lagi!" Sanggah Sachi ketus.


"Aku mau mengajak mu ke suatu tempat, jadi diam lah! Kamu pasti suka!" Sambung Nathan.


Sachi mengernyit "Siapa Om, berhak mengajak ku hah?" Berang nya.


"Anggap saja aku sugar Daddy mu!" Nathan terkikik geli setelah mengucapkan itu.


"Cih!" Sachi berdecih kesamping "Aku bukan gadis sembarangan, sudah ku bilang aku tidak mau kau jadikan simpanan!" Katanya yang selalu ketus.


"Apa alasan mu menolak? Kenapa kemarin kamu mau tidur bersama ku?" Sela Nathan.


"Kalo begitu, aku kasih uang muka! Gimana? Nanti setelah selesai aku kasih bonus lagi!"


"Pembohong!" Sergah Sachi.


"Aku serius," Nathan meraih amplop coklat berisi gepokan merah dari dalam storage mobil nya lalu memberikannya pada Sachi "Sisanya setelah kau mau menemani ku kemanapun aku mau!" Lanjutnya.


Sachi terperangah saat membuka amplop coklat yang Nathan sodorkan padanya, di mana uang merah berbaris rapi dengan seri yang masih sesuai urutan "Aaaa. Banyak banget Om!" Celetuknya girang.


Nathan tersenyum "Kamu bisa membeli tas branded dengan uang ini!" Katanya tangannya menyangga pipi sambil menatap wajah cantik alami gadis itu.


Sachi menaikan ujung bibir "Om pikir aku gadis bodoh yang rela membuang banyak uang hanya untuk tas saja!" Ketusnya.


"Lalu? Mau kamu apakan uang sebanyak ini?" Tanya Nathan.


"Ada deh! Orang tua di larang kepo!" Sachi membuang muka kembali ke arah jendela, tapi setelah itu bibirnya tersenyum karena sedikit lebih lega setelah berhasil memegang banyak uang di tangannya.

__ADS_1


"Besok, ibu bisa cuci darah lagi!" Batinnya.


Nathan mengacak-acak kecil puncak kepala gadis itu, entah lah, meskipun Sachi mata duitan tapi Sachi sama sekali tidak terlihat murahan di matanya.


Setelah satu jam, mobil mewah itu menepi di sebuah bangunan megah, tempat di mana biasanya orang-orang kalangan elit memanjakan perut mereka.


"Kita turun, kita makan malam di sini!" Ajak Nathan.


Sachi mengedarkan pandangannya ke sekeliling "Gimana kalo di sini ada orang yang mengenal mu, terus, ..."


"Tenang saja, restoran ini sudah ku pesan, dan hanya akan ada kita berdua saja." Sela Nathan.


"Kita mau makan malam? Apa sarapan? Bukannya ini sudah jam satu pagi?" Kata Sachi.


Nathan terkikik "Terserah lah apa namanya, yang penting kita berdua makan bersama! Kamu pasti lapar kan, setelah main kejar kejaran sama korban mu?" Ujarnya.


Sachi memegangi perut kosongnya sambil manggut-manggut "Iya." Jawabnya.


Nathan meraih tangan Sachi lalu keduanya keluar dari mobil mewah itu, di jok mobil Jho memastikan bahwa CCTV di tempat tersebut tidak berfungsi selama Nathan dan Sachi berada di dalam sana.


Setibanya di dalam manager restoran tersebut menyambut kedatangan mereka secara langsung "Wah wah, siapa dedek cantik ini, Tuan?" Tanyanya, dialah Ramon pria berusia dua puluh delapan tahun.


Matanya menyisir seluruh tubuh gadis itu, jika di lihat lagi, apakah mungkin Nathan membawa gadis yang pakaiannya biasa saja? Bahkan hanya pakaian sederhana. Pakaian serba hitam yang lebih mirip pencopet di tanah Abang.


Nathan merangkul gadis itu dengan bibir yang tersenyum "Dia keponakan ku!" Jawabnya.


"Hadeeehhh, Om, pinter banget ngeles, bajai bang Juri ajah kalah sama elu Om!" Batin Sachi sedang bibirnya berpura-pura tersenyum.


"Mari silahkan, pesan apa pun yang Tuan dan Nona mau, saya berani jamin, menu yang terdaftar tidak sold out!" Kata Ramon.


Dalam ruangan VVIP, Nathan menarik satu kursi lalu menawarkan pada Sachi "Di sini Baby!" Ucapnya.


Sachi memutar bola matanya malas "Baby, bapak mu!" Batinnya.


Lalu Nathan duduk di kursi sebelahnya "Kamu pesan lah!" Titahnya pada gadis itu.


Sachi melirik "Om saja yang pesan, aku mana tahu menu di sini!" Katanya.

__ADS_1


Alis Nathan naik sebelah "Ya ya yah!" Lalu beralih pada Ramon "Bawa semua menu hidangan Indonesians food ke sini!" Titahnya.


Ramon mengangguk "Baik Tuan, segera!" Ucapnya.


__ADS_2