Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Kekasih gelap


__ADS_3

šŸ“„ "Aku minta maaf, sudah mengkhianati mu, aku minta ampun dari mu, tolong jangan terus acuhkan aku."


Di sofa ruang kerjanya Nathan duduk berhadap-hadapan dengan Jho, tangan dan matanya sibuk pada gawai tipis miliknya.


Baru saja Keenan mengirim pesan padanya, Keenan benar-benar meminta ampunan pada laki-laki penguasa itu.


"Lalu, sekarang bagaimana? Bos terjebak di antara dua wanita, satu istri syah, satunya lagi simpanan, Bos mau pilih yang mana hah?" Nada Jho seakan mencibir sang Tuan.


Nathan menoleh "Aku tetap akan menikahi Sachi ku, dia belahan jiwa ku, aku sudah terbiasa dengan nya, aku terbiasa mendapatkan senyum manis nya, aku mulai menyukainya Jho bahkan menyayangi nya, tidak mungkin begitu saja aku melepas nya." Jawabnya.


"Jadi, apa kau mau menceraikan Nyonya Keenan Bos?" Tanya Jho lagi.


"Tentu saja tidak!" Sanggah Nathan cepat.


"Bagaimana kalo Daddy mencecar ku? Apa alasan ku menceraikan nya? Lalu, hal ini juga akan mengancam posisi wanita ku, jika berniat mengawasi ku Daddy juga punya banyak mata-mata, kita bisa selamat dari pengawasan nya, karena dia percaya padaku, aku tidak mau membuat keberadaan Sachi ku terancam. Jadi untuk sementara waktu biar saja Keenan menjadi istri ku, apa lagi sekarang dia hamil keponakan ku, biar bagaimanapun juga aku takkan tega melihat Ethan di usir dari rumah. Daddy penyayang tapi bukan pengampun. Sudah pasti Ethan di buang dari rumah kalo sampai Daddy tahu masalah ini." Terangnya.


Jho mendengus "Aku turut berduka kalo begitu, selamat menikah lagi, dan menimang bayi mungil keponakan mu." Laki-laki itu pergi meninggalkan ruangan sang Tuan. Sungguh, Jho juga ikut pusing dengan kehidupan rumit yang Nathan alami.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya,


Di kamar luas miliknya, tepatnya di atas meja kerja, Nathan tengah berkutat dengan setumpuk berkas yang perlu di tandatangani, dokumen-dokumen yang sudah Jho sortir dan alihkan padanya.


Malam semakin larut, tapi otak laki-laki itu memang tidak ada diamnya, selalu saja ripuh memikirkan cara bagaimana memajukan perusahaan dan bersaing sehat di era globalisasi ini.


Mungkin itu juga yang membuat Nathan selalu menyukai perjumpaan nya bersama Sachi. Segala penatnya musnah seketika, di lebur oleh senyum manis dan canda gurau manja gadis itu.


Di tengah repot nya sang mata, getar dari gawai tipis yang berkedip-kedip terus meminta pengindahan, tanpa menoleh Nathan meraihnya dan bibir pun tersenyum manis ketika Klien yang tertera pada layar ponselnya.


Nathan menggeser tombol hijau lalu menempelkannya ke telinga "Hmm? Kenapa sayang?" Sapa nya pelan sambil melirik ke arah pintu memastikan tidak ada yang mendengar suaranya.


šŸ“ž "Kangen, hari ini, Om datang tidak? Sachi sudah di apartemen."


"Tentu saja datang, Om tidak bisa tidur tanpa memeluk mu." Gombalan maut lelaki itu yang meskipun modus tapi tulus.


šŸ“ž "Datang lah, hari ini Sachi yang masak sendiri loh, jadi kita tidak perlu keluar."


"Heeeemm, ceritanya lagi hemat ni?" Nathan tersenyum-senyum sambil menggigit bibir bawahnya. Sungguh indah rasanya memiliki hubungan dengan gadis cantik itu.


"Bang!" Suara yang tiba-tiba terdengar dari sisi kanan Nathan membuat laki-laki itu lekas menoleh.

__ADS_1


"Keenan! A-ada apa?" Tanya Nathan terbata, belum saatnya hubungan Sachi dan dirinya di ketahui banyak orang, tetap Sachi yang akan menderita jika sampai terbongkar sebelum waktunya.


Keenan menurunkan pandangan "Apa Abang benar-benar tidak mau memaafkan ku? Apa hubungan ini tidak akan memiliki masa depan? Kau tahu aku hamil, kau tidak menalak ku, tapi juga tidak mengampuni aku, apa aku harus mengatakan pada semua orang bahwa Ethan lah yang, ..."


Nathan meletakkan ponselnya dengan gerakan reflek lalu membungkam mulut isterinya sambil melotot "Jangan sampai kamu mengatakan hal itu!" Ancamnya.


Ethan adik kesayangannya, hanya Ethan satu-satunya saudara seayah dan seibu, takkan pernah Nathan tega membuat Ethan dalam masalah.


Nathan bisa memaklumi karena saat itu Ethan dalam keadaan mabuk, tapi tidak dengan Dylan, karena mabuk sudah merupakan pelanggaran bagi pelukis terkenal itu.


Keenan menepis "Lalu apa mau mu? Hampir dua bulan kau mengacuhkan ku, pergi malam pulang pagi, kamu tidak mau mengampuni ku, tapi juga tidak melepaskan ku!" Berang nya, ujuk-ujuk air mata meleleh begitu saja.


Mungkin, air mata buaya yang sedang di alirkan oleh netra sipit milik wanita hamil itu.


"Aku sudah memaafkan mu, tapi, jangan sampai orang-orang tahu hubungan mu dengan adikku." Pekik Nathan yang sengaja ia pelan kan.


"Kalau begitu anggap aku istrimu, berikan aku fasilitas kartu kredit seperti layaknya istri pengusaha lainnya, aku malu di tanya ini itu sama teman-teman ku, kalo kamu memang ingin menyudahi hubungan ini, ceraikan aku, biar aku meminta pertanggungjawaban adik mu!" Sambung Keenan setengahnya mengancam.


"Apa kamu gila?" Sergah Nathan mendelik. Bagaimana dengan reputasi keluarga Dylan Jackson? Sebagai putra mahkota, Nathan sangat memikirkan hal itu.


"Jadi apa mau mu Bang?" Sela Keenan menuntut, tak sadar dirinya lah biang dari permasalahan ini.


"Dalam waktu dekat ini, aku tidak mungkin menceraikan mu, jadi aku tetap akan melanjutkan pernikahan kita, masalah fasilitas, kau akan mendapatkan nya!" Ujar Nathan.


Nathan mengusap wajahnya sendiri tanpa membalas pelukan isterinya "Sudah lah, lebih baik kamu tidur, aku harus pergi setelah ini, ada klien yang harus ku temui." Ucapnya.


Keenan menggeleng "Jangan Bang, aku ingin malam ini kamu menemani ku, mungkin ini bawaan dari calon bayi ku. Kamu mau kan menuruti nya Bang? Biar bagaimanapun juga, anak ini juga bagian dari keluarga ini kan? Anak yang akan membuat Daddy dan Mammi bahagia." Pintanya membujuk.


"Ini langkah awal ku meraih kepercayaan suamiku kembali, aku tidak yakin Ethan akan bertanggung jawab atas kehamilan ku. Hanya dengan cara menghiba pada bang Nathan saja aku masih bisa menikmati hidup indah layaknya ratu." Sisi Batinnya dengan senyum seringai licik.


Nathan terdiam sejenak memikirkan bagaimana caranya mencari alasan untuk bisa lepas dari istri Syah yang tiba-tiba haus belaian.


"Kalo begitu, kamu tidur lah dulu, aku menyusul!" Ujar Nathan pada akhirnya.


Keenan tersenyum "Baiklah, aku tunggu. Janji jangan pergi malam ini." Bujuknya sekali lagi dan Nathan mengangguk meskipun dengan wajah datar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di apartemen, Sachi yang kini duduk di kursi meja makan mulai menampilkan wajah bingung, tidak biasanya Nathan memutuskan panggilan.


"Kenapa tiba-tiba mati setelah ada suara Keenan? Apa Om takut sama istrinya?" Sachi mendengus "Ah sudah lah, lebih baik aku mulai saja masak, jadi pas Om datang, meja makan sudah siap." Gumamnya tersenyum.

__ADS_1


Sachi memasuki dapur tanpa membawa ponselnya, lengan baju mulai ia singsing juga tak lupa memakai celemek.


Bahan mentah dari dalam lemari pendingin, Sachi sulap menjadi makanan lezat, sudah dua hari ini dia mencoba resep makanan khas orang kaya yang namanya saja tidak bisa Sachi sebutkan dan baru malam ini Sachi berani praktek untuk calon suami.


Tiga puluh menit kemudian,


Memasak membuat Sachi merasa kumel, Ia pun memutuskan untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.


Piyama tidur pendek yang Sachi kenakan berwarna merah muda, rambutnya dia kuncir dan membiarkan poni lurusnya menutupi kening.


Parfum velvet dia semprot kan pada sekujur tubuhnya, wajahnya sedikit licin karena baru saja dirinya mengoles serum.


Lipstik pink nude Sachi ulas tipis pada bibir mungilnya "Wah, nggak salah kalo Om Nathan menyukai ku, ternyata aku secantik Angelina Jolie!" Gadis itu terkikik geli setelah mengucapkan itu di hadapan cermin besar meja riasnya.


Sachi kembali ke dapur, lalu memboyong semua hidangan yang dia masak ke meja makan. Dua piring terbalik dia tata di setiap sisi meja.


Sachi duduk pada salah satu kursi, kemudian menoleh ke arah jam dinding di sisi ruangan "Kenapa belum juga datang? Apa macet? Tapi tidak mungkin malam begini macet kan?" Gumamnya.


Sachi meraih ponsel yang masih tergeletak di atas meja makan, rupanya ada beberapa pesan teks dan beberapa panggilan tak terjawab dari sang kekasih. Sachi tersenyum saat membuka satu pesan.


šŸ“„ "Maaf sayang, maaf, malam ini Om tidak jadi datang, kamu makan malam sendiri, setelah itu langsung tidur, jangan begadang."


Sontak senyum manis Sachi memudar kala membaca surat digital itu "Apa benar hubungan Om dan istrinya mulai membaik? Dan aku harus siap di abaikan setelah ini?" Gumamnya lirih.


"Aku hanya wanita simpanan, harusnya aku berkaca, tidak mungkin bisa satu level dengan istri syah Om Nathan." Tambahnya sendu bahkan menurunkan pandangan ke pahanya.


Suara langkah kaki Jho terdengar mendekat, pria yang baru saja tiba itu tersenyum sumringah saat melihat banyak makanan enak di atas meja makan "Wah, enak nih kayaknya!" Celetuknya sambil menelan saliva.


Sachi menoleh "Om makan saja, Sachi mau langsung ke kamar, Om Nathan tidak datang hari ini." Ujarnya memelas.


"Loh, kenapa? Nona Sachi belum makan kan? Kenapa tidak makan saja dulu bersama ku?" Tanya Jho bingung.


"Sachi kenyang Om. Jadi Om makan sendiri saja." Jho melongo menatap punggung gadis itu.


Sachi berjalan perlahan menuju kamar miliknya dan mengunci pintu bilik. Malam ini dia harus rela menutup harinya tanpa kecupan dari sang kekasih.


šŸ“„ "Selamat tidur kekasih gelap ku!" Satu lagi pesan teks dari sang Tuan penguasa yang tak dia balas.


Sachi menenggelamkan tubuhnya pada selimut tebal berwarna hitam itu lalu memejamkan mata. Tak semudah kata-kata tapi gadis itu terus mencoba hingga akhirnya sang mimpi pun menjemputnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2