
"Bantu aku duduk!" Sachi meminta manja yang lebih terkesan memerintah suaminya.
"Iya, Baby." Sabar sekali Nathan membantu isterinya duduk bersandar dengan menumpuk bantal di belakang punggung wanita itu.
Sachi lantas menunjuk ke arah meja, dimana satu nampan berisi makanan telah tersedia "Ambil kan mamam!" Pintanya manja.
Nathan tersenyum lalu menurut, sebelum mengambil nampan itu Nathan sudah lebih dulu menempatkan satu meja kecil yang khusus untuk makan di tempat tidur.
"Sudah kah sayang?" Pelan sekali Nathan bertanya, tujuannya agar sang istri tidak lagi jera padanya, sekarang Nathan hanya membutuhkan satu pasangan yaitu Sachi seorang, setelah kepergian Sachi, dirinya benar-benar yakin bahwa perasaan takut kehilangan ini adalah tanda betapa ia mencintai isteri simpanan nya.
Sachi mengangguk "Sekarang Om pergi ke dapur, terus bikinin Sachi mamam lagi." Titahnya.
Nathan menghela pelan "Apa iya anak gue se_rewel ini? Kenapa lebih mirip Mammi nya, padahal yang usaha keras Daddy nya!" Batinnya.
Sachi mengernyit "Kok ekspresi muka Om, gak enak gitu sih? Om keberatan? Bilang ajah!" Sanggah nya.
Nathan menekan senyum lebar "Enggak sayang, Baby, cinta, Daddy seneng kok. Kamu tunggu di sini. Daddy pasti bisa bikin makanan untuk mu." Ujarnya lembut.
Sachi manggut-manggut "Gih, cepet!" Titahnya.
Nathan mengecup sekali lagi bibir wanita itu sebelum kemudian ia keluar dari kamar presidential suite miliknya. Nathan melangkah cepat menuju dapur perhotelan tersebut.
Sebelumnya, Jho sudah mengkoordinir pihak hotel untuk mengizinkan sang Tuan memasak di dapur para koki handal yang terletak di lantai empat belas. Lift khusus Nathan naikin, demi cepat sampai ke tempat yang di tuju.
Langkah kaki cepat yang mengayun membuat laki-laki penguasa itu terlihat sangat gagah lagi tampan hingga semua mata tertuju dan terkesima pada kharisma nya.
Seluruh jajaran koki handal beserta asisten koki tampak menepi, karena kali ini, dapur luas itu adalah milik sang penguasa Jack group.
Tiba di dapur, Jho memberinya beberapa bahan mentah lengkap dengan tempat dan waktunya.
"Ayok Bos! Aku semangati." Ucap laki-laki bujangan lapuk itu yang lebih terkesan meledek.
"Kenapa kamu? Seneng?" Nathan menaikan ujung bibirnya dan Jho mengangguk antusias "Tentu saja seneng, akhirnya Bos menemukan tambatan hati Bos!" Kilahnya.
"Ayok Om, semangat!" Suara itu terdengar dari ponsel milik Jho. Rupanya Sachi telah melayangkan panggilan video pada Jho dan benar-benar sudah bisa menonton semua kegiatan suaminya saat ini.
Nathan menoleh pada ponsel yang Jho sodorkan padanya "Semangat, hanya untuk mu! Baby!" Katanya tersenyum dan tiba-tiba senyum manis itu berubah getir "Aku pasti sudah gila, masuk dapur hanya untuk membuatkan makan saja, lalu apa pekerjaan koki di hotel ini hah? Kamar kelas presiden yang aku pesan benar-benar tidak menguntungkan! Kenapa tidak sekalian saja Baby menyuruh ku mencuci piring, dan sedot WC!" Gerutu nya dalam hati.
Nathan berdiri di depan meja dapur serba stainless itu, lalu memandangi seluruh bahan juga wadah yang sangat asing baginya.
Selama ini mainannya hanya pulpen, kertas putih, berkas, map, gadget dan lain sebagainya.
Nathan asing jika berurusan dengan suasana dapur, "Huuuff!" Embusan napas pendek terdengar dan sepertinya Sachi menikmati raut wajah tak menyenangkan itu.
Nathan juga memulainya dengan melompat - lompat kecil mirip seperti petinju yang baru saja akan memasuki ring.
"Xixixixix." Sachi terkikik geli melihat tingkah laku suaminya "Kenapa tertawa hmm?" Meskipun geram Nathan mencoba untuk tidak berang.
Beberapa detik kemudian.
Satu koki handal mulai memberikan instruksi pada Nathan, kemudian Nathan memulai kegiatannya dengan mencuci ikan terlebih dahulu.
__ADS_1
Awalnya memang jijik, tapi demi sang istri, apa pun rela Nathan lalui, meskipun harus melawan seluruh dunia sekalipun. Kali ini Nathan benar-benar tak mau Sachi pergi lagi meninggalkan dirinya seperti kemarin-kemarin.
Setelah mencuci ikan, untuk beberapa kali Nathan menciumi tangannya sendiri. Sudah lebih dari sepuluh kali mencuci tangan dengan sabun tetap saja aroma amis itu tidak mau hilang juga.
Di layar ponsel Jho, Sachi menyeringai sambil memakan hidangan koki handal hotel tersebut "Wah wah Om Tuan muda naif itu mulai mengeluh, oh damai nya rasa hatiku, melihat kesengsaraan dirinya ini." Batinnya.
Nathan melirik ke arah layar, dia bahkan sempat-sempatnya mengumpat wanita cantik itu "Kalo ajah bukan istri kesayangan, udah ku mutilasi kau Baby!" Batinnya.
"Eeeei, coba Om kerat dulu ikan nya dengan pisau, jangan malah meliarkan pikiran mu, Om! Jangan berpikir untuk memutilasi orang Om! Itu perbuatan tidak baik!" Sahutan dari Sachi yang membuat Nathan syok setengah mati.
"A-apa? B-bagaimana bisa Baby mendengar ucapan batin ku? Apa sekarang dia merangkak jadi mamak Loren?" Batin Nathan lagi. Sementara tangannya sudah berkutat dengan rempah yang koki itu berikan untuk membalur ikan.
"Cepetan weeee! Mau sampai kapan Om Nathan pijit itu ikan? Di kira ikan nya pegal-pegal kali!" Sachi menyeletuk kembali dan berhasil membuyarkan lamunan Nathan.
"I-iya Baby, ini kan musti sabar biar bumbunya meresap." Nathan kemudian beralih pada sang koki "Iya kan Mister?" Tanyanya, sebab laki-laki berpakaian putih itu bule.
Sang koki mengangguk "Tentu saja!" Katanya ramah tamah.
"Udah mulai bakar ajah itu ikan nya Om, lalu setelah itu, Om bersihkan biji cabe rawit merah nya, tapi ingat, jangan sampai ada satupun biji yang tertinggal." Perintah Sachi kemudian.
Nathan mengernyit "Kenapa harus cabe rawit? Kenapa tidak cabe merah besar saja Yank?" Sahutnya protes.
"Lebih mantap yang rawit rasanya, udah nurut ajah kenapa sih, Om Tuan muda naif!" Sambung Sachi "Enak bener cabe merah besar? Makan tuh biji rawit Om. Itu adalah pembalasan dari sugar Baby yang terabaikan." Sisi batinnya menyeringai bahkan terdengar pula cekikikan yang tertahan di bibir.
"Hmmm, baik lah!"
Setelah membalur ikan, dengan sangat hati-hati Nathan meletakkan ikan itu pada pemanggang sesuai instruksi dari sang koki.
"Om, hati-hati, jangan kucek - kucek mata dulu!" Tutur Sachi.
"Hmm." Rupanya Nathan mulai ripuh dengan pekerjaan amatir nya.
Kemudian, Nathan memotong pelan-pelan sayuran dari yang hijau hingga yang berwarna merah, sesuai kemauan isterinya, saking pelannya irisan Nathan, dia sampai berkeringat bahkan kemeja mahalnya dia tanggalkan dan hanya menyisakan kaos singlet berwarna hitam saja.
"Uuhh, seksi nya!" Celetuk dari satu wanita di sudut tempat yang sedari tadi menatapnya dengan decak kagum.
"Lebih cepat Om, kalo mengiris sayuran nya lama begitu kapan selesainya hah?" Teriak Sachi dari layar ponsel terdengar protes.
"Iya Baby, Daddy percepat!" Seluruh orang yang melihat aksi barbar itu menahan tawa. Di lihat dari permainan pisau Nathan, gelagatnya ingin terlihat seperti koki handal, tapi justru menyebarkan seluruh sayuran ke lantai karena gerakan tidak handalnya.
Jho terkikik "Bos, kemana sayur nya? Kenapa malah kabur semua?" Ejek nya.
Nathan mengerling ke bawah, di mana sayuran yang dia potong berserakan tak keruan "Tutup mulut mu!" Bentaknya pada Jho.
Jho terkesiap sambil menahan tawa "Maaf Bos, tapi sepertinya Nona Sachi sudah kelaparan, setidaknya lalapan matang nya dulu di usahakan supaya matangnya bersamaan dengan ikan bakar nya." Terang nya.
"Tuh dengerin instruksi dari Om Jho, Daddy Tuan muda naif! Ayok semangat, baby nya Sachi sudah lapar lagi." Timpal Sachi menggebu.
Nathan menyengir menatap layar ponsel milik Jho "Iya sayang, sabar yah!" Ucapnya dengan intonasi geram yang dia tahan "Apa sebelum reinkarnasi, asisten dan istri ku ini dulunya Kaka beradik? Kenapa level menyebalkan mereka setara!" Sisi batinnya.
"Go go go om!" Ucap Sachi menyemangati sambil mengayunkan kedua kepalan tangannya ke depan dada.
__ADS_1
"Go go go Bos!" Imbuh Jho dengan ekspresi dan gestur tubuh yang sama seperti Sachi.
Nathan memutar bola matanya "Sialan mereka!" Umpatnya.
Meski demikian, Nathan tetap menuruti satu persatu setiap keinginan wanita hamil itu, dari yang A sampai yang Z.
Akhirnya setelah sekian purnama, Nathan berhasil menyelesaikan tugas pertama dari sang Baby yang masih dalam kandungan isterinya.
Koki berwajah bule itu membantu Nathan memaketkan dinner plat agar lebih cantik khas seperti ala-ala makanan hotel asli.
Sementara Nathan terduduk lelah sambil mengatur napas pada kursi yang terletak di sudut tempat.
"Silahkan minum nya Bos!" Jho memberi segelas air putih dingin padanya.
Nathan meraih dan menenggaknya secara cepat "Bantu aku membawa makanan Nona mu ke kamar!" Titahnya di iringi ngos-ngosan napas.
Jho manggut-manggut "Ok!" Sigap nya.
Nathan mengusap keringat hasil dari hawa panas kompor yang beberapa saat lalu memanggang ikan milik isterinya.
Tanpa memakai kemejanya lagi, Nathan beranjak dari duduknya lalu melangkah panjang kembali menuju kamar presidential suitenya di iringi beberapa orang-orang setianya.
Seluruh staf di dapur menundukkan kepalanya segan saat tubuh tinggi laki-laki setengah bule itu melewati mereka.
Beberapa karyawan wanita masih setia dengan rasa terkesimanya "Wah, mau dong jadi istri ke tiga Tuan Nathan, perhatian banget, penyabar, ganteng, kaya raya, ih baper!" Celetuk salah seorang wanita.
"Iya, mau banget." Sahut wanita di sebelahnya sambil menatap berlalunya punggung bidang pria tampan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menuruni lantai dengan lift, Nathan dan Jho pada akhirnya sampai di kamar yang Sachi tempati.
Dilihatnya wanita hamil itu sudah nyaman di atas pembaringan sementaranya, rupanya setelah mengerjai suaminya sambil menyantap hidangan lezat dari koki handal, Sachi justru terkapar tak berdaya. Bukan terkapar sih, lebih tepatnya adalah tertidur.
"Baby?" Nathan duduk di tepi ranjang isterinya namun sayangnya Sachi benar-benar sudah terlelap dalam alam mimpinya "Hastaga. Dia bahkan tidur setelah membuat ku memasak untuk nya!" Gumamnya pelan.
"Nah, gitu Om, bijinya di buang, di tumbuk, hihi, aku suka mengerjai mu Tuan muda naif!" Igauan Sachi yang membuat Nathan tersenyum meskipun geram.
"Kau lihat Jho, bahkan dalam mimpi pun, dia menyiksa suaminya! Wanita menyebalkan ini sangat menakutkan rupanya!" Ucapnya.
Jho menggeleng perlahan "Pertahankan dan perjuangkan dia di sisi mu Bos, jangan sampai Tuan Dylan menolaknya dan kau justru menuruti kemauan Tuan besar, ingat lah masa sulit mu saat Nona Sachi berada jauh dari mu." Tutur nya bijak.
Nathan menoleh cibir pada Jho "Kau sendiri kapan memperjuangkan Shandra hah? Laga mu sudah seperti punya pasangan saja!" Sindirnya.
Jho menggaruk tengkuk "Dia terlalu tidak peka dengan perasaan ku. Berjuang seperti apa pun dia tetap tidak akan pernah paham." Curahan hatinya.
Nathan menggeleng "Cupu!" Ejek nya.
Nathan beralih pada Sachi dan memangkas jarak dari kening milik wanita itu hingga menempel sudah bibir lembutnya "Aku rela di usir dari rumah demi terus bersama wanita menyebalkan ini." Gumamnya lirih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung..... Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya.... 😘