
Pertemuan dua CEO dari perusahaan raksasa negara ini telah berlangsung di ruang VVIP sebuah restoran fine dining.
Lampu kristal yang bergelantungan, lilin aromaterapi di setiap meja-meja, pelayan berpakaian rapi telah siap, kemewahan dunia ini menjadi background percakapan mereka.
Perusahaan properti yang bekerjasama dengan perusahaan kontraktor. Hubungan join venture yang terjalin diantara mereka terbilang cukup lama, dari nama CEO nya masih Anson Dwi Pangga dan Edbert Jackson hingga turun ke cucu para almarhum.
Nathan duduk pada kursi yang berhadap-hadapan dengan kursi Juhie. Malam ini, Sachi tidak mau ikut dengan alasan sedang malas bergerak.
Oke lah, Nathan menerima, lagi pun isterinya memang masih harus banyak beristirahat, mengingat kandungan yang sudah mulai membesar.
Jho juga tak nampak karena ada sesuatu yang harus dia urus di luar katanya, oke lah, Nathan pun juga menerima. Nathan tak kurang karyawan, ia datang bersama sopir dan asisten yang lainnya.
Sementara Juhie hanya datang seorang diri, Juhie bukanlah CEO yang senang membawa pengawal kemana-mana. Juhie lebih suka pergi sendiri, menyetir sendiri, apa pun sendiri, begitulah sifat rendah hati Brandon yang turun pada putrinya.
Keduanya memesan menu setelah bersapa ria hingga kini mereka saling menatap satu sama lain. Berbagai pertanyaan telah Nathan siap kan untuk menggali informasi dari CEO cantik nan muda itu.
"Jadi, apa benar kerjasama kita masih akan berlanjut? Berita yang ku dengar dari Jho itu benar adanya kan?" Tanya Nathan.
Juhie mengangguk elegan "Yah, benar, aku masih mau melanjutkan kerjasama kita!" Katanya.
"Apa alasan mu?" Tanya Nathan lagi mencecar tanpa perlu adanya basa-basi.
"Apa lagi? Aku wanita yang bersifat rasional, aku tidak akan pernah membatalkan sebuah kontrak hanya karena isu pelakor!" Ujarnya.
"Hekmm!" Sunggingan senyum remeh pun wanita itu terbit kan di sudut bibirnya "Aku tidak perduli dengan berita pelakor yang sedang mencuat di media. Hubungan kerjasama perusahaan kita, sudah berlangsung cukup lama, tidak mungkin aku goyah hanya karena isu tidak penting!" Cibirnya.
"Jadi bukan karena I-then? Apa budi ini, tidak akan kau anggap kesepakatan? Semua ini kau lakukan bukan karena kau masih menyukai adik tampan ku kan?" Sela Nathan setengahnya menuduh.
Juhie menggeleng sambil tersenyum simpul "Bukan, aku bukan lah orang yang mencampur adukkan urusan kantor dengan urusan hati. Lagi pula meskipun aku masih menyukai adik mu, tapi aku tidak bercita-cita menjadi isterinya. Apa lagi memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi isterinya. Itu tidak akan pernah terjadi." Ujarnya.
"Aku tahu, tidak akan ada perusahaan kontraktor yang lebih baik dari pada milik mu, aku hanya tidak mau pekerjaan ku kacau karena terlalu gegabah mengambil keputusan." Tambahnya.
Nathan sedikit menurunkan pandangan dengan senyum tipisnya "Kau wanita yang hebat, aku salut padamu. Semoga yang akan menjadi jodohmu benar-benar laki-laki yang baik." Ucap Nathan.
"Terimakasih banyak doanya." Sambung Juhie.
"Permisi, silahkan, dua salmon salad nya!" Satu orang pelayan menyapa dengan membawa pesanan Nathan dan Juhie. Pelayan itu meletakkan satu persatu piring datar berisi salmon salad.
"Terimakasih!" Ucap Juhie pada perempuan berseragam itu lalu beralih pada Nathan "Mari silahkan makan!" Tawarnya dan Nathan mengangguk.
__ADS_1
Keduanya melanjutkan makan malam bersama sambil membicarakan hal penting lainnya. Otak bisnis yang melekat pada mereka sungguh membuat keduanya menjadi lebih nyambung.
Ada tawa kecil yang terselip di antara percakapan mereka, sejenak Nathan melupakan permasalahan perusahaan DJ group yang masih di ambang kebangkrutan. Tak terasa waktu telah bergulir hingga malam semakin larut, Nathan pun menilik ke arah jam yang melingkar di tangannya.
"Wah Juhie, ini sudah malam, aku harus pulang, istri ku pasti sudah menunggu ku, kau pasti akan tahu rasanya menjadi istri yang menunggu suaminya, dia pasti sudah mondar-mandir menunggu ku di depan pintu." Ucap Nathan seraya tergelak.
Juhie mengangguk "Baiklah, salam ku untuk istri dan calon anak mu, terutama Om Dylan dan Tante Jelita." Ujarnya tersenyum.
"Pasti, ku sampaikan, salam juga buat Om E'den." Sambung Nathan.
"Jangan lupa. Besok, kita masih harus menghadiri rapat koordinasi, dan semoga saja semua tim tidak akan meninggalkan mu." Harap Juhie tulus.
"Aamiin, terimakasih sekali lagi dukungan mu!" Ucap Nathan. Mereka mengakhiri perjumpaan dengan berjabat tangan sebelum akhirnya keduanya sama-sama pergi meninggalkan restoran mewah tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua jam kemudian,
Nathan telah membelah jalanan ibukota yang kaya akan kerlap kerlip lampu warna, asap knalpot juga menghiasi macetnya kendaraan, hingga sampailah mobil mewah berwarna putih itu memasuki pekarangan rumah bergaya minimalis modern milik keluarga besarnya.
Nathan turun dari mobil, bersamaan dengan itu Jho baru saja turun dari mobil milik Sachi. Melihat gelagat aneh Jho, Nathan mengernyit "Kamu pakai mobil istri ku? Dari mana saja kamu?" Tanyanya menyelidik.
Jho menggaruk tengkuk dengan raut wajah yang sedikit terkejut "T-tidak, aku baru saja di minta Nona Sachi memeriksa kondisi mobil nya. Begitu Bos!" Kilahnya.
Nathan melanjutkan perjalanan memasuki rumah yang sudah mulai sepi lalu menaiki anak tangga menuju lantai atas. Meski hanya sedikit pikirannya benar-benar tak sanggup tenang. Perbuatan tiba-tiba Sachi yang seenaknya sendiri masih sering membuat laki-laki itu resah.
"Oh Tuhan, apa yang sebenarnya Baby lakukan kali ini? Dari mana saja dia bersama Jho?" Firasatnya mengatakan itu, dan benar saja di lantai atas sana Sachi masih mengenakan gaun putih serta membawa tas seperti baru pulang dari luar.
"Baby!" Panggil nya dan Sachi menoleh dengan wajah gugup bahkan menggaruk hidung bangir nya sekarang "Daddy." Sahutnya.
Nathan mempercepat langkah menaiki anak tangga menghampiri isterinya, dia tarik tangan mulus itu untuk kemudian dia bawa masuk ke dalam kamar.
"Daddy sudah pulang? Kenapa cepat sekali?"
Sachi tahu Nathan mencurigainya, tapi apa pun itu, yang telah dia lakukan di belakang Nathan adalah demi kebaikan bersama, begitu kira-kira pikirannya.
Setelah menutup pintu kamar, Nathan dan Sachi berdiri berhadap-hadapan. Susah payah Sachi menelan saliva saat menatap dada bidang suaminya berfluktuasi seperti sedang menahan sesuatu.
"Dari mana saja Baby? Sore tadi bukanya Baby bilang tidak mau kemana-mana hmm? Dari mana saja kamu sama Jho? Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Tanya Nathan sedikit tak mampu mengontrol emosi nya.
__ADS_1
Sudah di wanti-wanti untuk tidak melakukan apa-apa tanpa seizinnya, tapi apa ini? Sachi terciduk telah pergi bersama Jho tanpa sepengetahuan suaminya.
Sachi menelan saliva kembali "A-aku, dari, ..." Gugup wanita itu hingga belum sempat selesai Nathan sudah lebih dulu menimpali.
"Dari mana? Rencana apa lagi hh?" Cecar nya.
"Bukan apa-apa, itu masih rahasia, lihat saja besok pagi, sebagai suami, tugas Daddy harus melindungi istri mu dari amukan massa, itu saja!" Kata Sachi pada akhirnya.
Nathan berkerut kening "Memang apa yang kamu lakukan?" Di cekal nya kedua lengan wanita itu penuh tekanan. Kekhawatiran lah yang menguasai laki-laki ini sekarang.
"Konferensi pers!" Jawab Sachi lantang.
"Konferensi pers? Apa Baby bercanda?" Sergah Nathan mendelik.
"Iya, aku mau menjelaskan kejadian sebenarnya ke semua media, aku yakin mereka mau percaya padaku, rencana ini sudah ku pikir matang-matang, Daddy cukup kirim saja orang-orang Daddy untuk melindungi istri mu, sudah, selesai!" Cetus Sachi enteng.
"Gimana kalo bayi kita kenapa-kenapa? Di luar sana massa sedang marah padamu. Siapa yang akan membela mu sayang. Sudahi ini semua, tolong jangan teruskan! Batalkan!" Tampik Nathan keras.
"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan Daddy menundanya? Apa selamanya status ku sebagai pelakor? Bagaimana bisa aku mendapat pembelaan, suamiku saja meragukan ku, tak mau membela ku!" Berang Sachi.
"Bukan meragukan mu Baby! Aku hanya khawatir, ..."
Sachi mengangguk "Yah, semua itu memang benar adanya, aku memang menikahi suami orang, tapi aku juga perlu membela diri ku sendiri!" Ucapnya dan Nathan tak mampu berkata-kata lagi.
"Aku di cap ini itu sementara Keenan yang berkhianat mendapat dukungan dari semua orang! Cih! Tidak sudi!" Caci maki Sachi.
Nathan mengalihkan pandangan "Astaga, bagaimana cara memberitahu mu Baby? Ini berbahaya, mereka pasti datang dan menyoraki mu, bukannya selesai, kamu yang akan di, ..."
"Sachi kan bilang, Sachi butuh dukungan, juga perlindungan, tapi bukan perlindungan yang seperti melindungi seorang pengecut, aku bukan pengecut seperti mu Daddy! Aku mampu speak up di depan orang-orang juga media, kita sudah memulai maka akhiri lah drama ini!" Sanggah Sachi memotong ungkapan protes suaminya.
"Aku tidak mengizinkan!" Sergah Nathan mendominasi.
Sachi menatapnya nanar, sungguh tak pernah berubah sifat dominasi pria itu "Ini lah kamu!" Ia menunjuk sekujur tubuh Nathan dari atas hingga bawah "Kamu yang naif yang sangat aku benci! Sampai kapan pun sifat naif mu tidak akan pernah berubah!" Teriaknya histeris. Perempuan itu melangkah pergi menuju kamar mandi lalu menutup pintu bilik dengan sangat keras.
"Astaga!" Nathan memejamkan mata berusaha menekan emosi yang selalu membuncah saat sang isteri bertindak sesuka hati "Bagaimana cara ku menjelaskan nya?" Tanyanya bergumam.
Dua pribadi yang berbeda, yaitu pribadi yang terbentuk dari perbedaan faktor usia, lingkungan, keturunan, juga yang lainnnya. Pada dasarnya begitulah penyatuan dua insan yang masih menuruti ego masing-masing. Pikirannya tak pernah bisa setapak dalam satu jalan yang sama.
Apa pun itu, cinta lah yang menyatukan kedua insan rupawan ini. Maka biarlah cinta yang meluruskan kesalahpahaman, menghancurkan tembok pemisah di antara mereka.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.....