
"Ibu!" Sachi terperanjat melihat ibunya terjatuh dari tempat tidur.
"Kemana orang-orang?" Sachi mengangkat tubuh Mariam untuk kemudian dia dudukan di tepian ranjang.
"Ibu kenapa?" Tanya Sachi cemas.
"Ibu sesak napas Nak!" Lirih Mariam.
"Mbak!" Sachi berteriak dan beberapa pelayan Mariam berlari menghampiri "Iya Nona!"
"Bantu aku bawa Ibu keluar! Kita harus ke rumah sakit, kalo harus menunggu dokter masih terlalu lama, aku takut ibu kenapa-kenapa!" Sambung Sachi gusar.
"Baik Nona!"
Sachi dan beberapa pelayan memapah tubuh Mariam keluar dari bangunan megah itu, dan seperti biasa pengawal menghalangi jalannya.
"Minggir! Ibu ku harus ke rumah sakit!" Sachi melototi pria tinggi berpakaian serba hitam itu.
"Tapi apa Tuan muda sudah, ..." Belum lagi selesai ucapan laki-laki itu, Sachi sudah lebih dulu menimpali.
"Apa kau tidak melihat kesulitan ibuku? Apa kau tidak punya peri kemanusiaan? Lihat lah ibuku sedang sekarat!" Berang nya.
Pria itu menunduk melihat kemurkaan sang Nona yang selalu berkata ketus, lagi pun kondisi Mariam memang perlu tindakan "B-baik Nona!"
Satu pengawal memberikan aba-aba pada rekan setimnya untuk membantu sang Nona mengangkat tubuh Mariam memasuki mobil.
Sachi beserta satu pelayan juga ikut masuk dan duduk menghimpit tubuh lunglai Mariam. Seorang sopir segera menyusul dan mengambil alih kemudi.
Mobil pun mulai bergerak, segera berlalu dari halaman rumah rahasia berdinding tinggi itu.
Sepertinya keluhan Mariam semakin bertambah banyak saja. Kemarin belum mengeluhkan tentang sesak napas, lalu hari ini berkeluh seperti ini.
Sachi semakin cemas di buatnya.
Sekitar satu jam setengah mobil Sachi baru sampai di rumah sakit milik almarhum dokter Hardiansyah karena rumah rahasianya lumayan jauh dari perkotaan.
Sachi di bantu para medis untuk membaringkan tubuh Mariam pada brangkar pasien, Sachi mengikuti langkah cepat para medis yang mendorong brangkar tersebut.
Gurat kepanikan terpampang jelas di wajah cantiknya, apa pun siap Sachi lepaskan tapi jika ibunya sepertinya Sachi belum mampu menerima.
Yang lebih membuat Sachi panik lagi adalah, tiba-tiba saja Mariam langsung di masukkan ke dalam ruang ICU.
Apakah Mariam masih harus membutuhkan perawatan intensif seperti itu? Sebelumnya bukanya kondisi Mariam sudah membaik? Ada apa ini? Sachi hampir putus harapan.
"Ya Tuhan sembuh kan Ibu ku!" Tapi masih ada doa yang dia lantunkan.
Sachi duduk di kursi tunggu dengan wajah yang menengadah ke atas "Semoga Ibu baik-baik saja." Gumamnya lagi.
"Ibu mu kenapa?" Pemuda tampan di sebelah memandang wajah frustasi wanita itu.
Saking cemasnya Sachi bahkan tak sadar ada seseorang yang mendampingi duduknya, ia menoleh dan wajah tampan adik iparnya tertampil memberikan senyum manis padanya.
"I-then!" Celetuknya tersentak.
"Apa kau baru menyadari ada aku di sisi mu? Kenapa terkejut seperti itu?" Tanya Ethan.
"Aku pikir kau mbak atau, ... ah sudah lah tidak penting!" Sachi berpikir Ethan salah satu pengawal suruhan Nathan tapi rupanya tidak ada satupun pengawal yang menampakkan batang hidungnya.
"Apa karena Ethan di sini? Mereka jadi tidak bisa mendekati ku?" Batinnya. Pandangannya memutari seluruh lorong dan benar-benar tidak ada satu pun orang yang biasanya mengikuti langkahnya kemana-mana.
"Aku ikut bersedih, apa yang barusan masuk ICU ibu mu?" Tanya Ethan.
Laki-laki itu duduk dengan kedua kaki yang terbuka lebar tapi pandangannya terarah pada wajah sendu wanita itu.
Sachi mengangguk "Iya, dia satu-satunya keluarga ku!" Jawabnya.
Entahlah, Sachi berani menceritakan hal itu pada pemuda ini padahal pemuda itu juga ikut andil dalam kepedihan yang dia rasakan. Lagi pun, apakah Sachi harus kabur? Sementara ibunda masih membutuhkan teman.
"Menangis lah, jika itu bisa membuat mu lebih tenang, karena akan ada semangat baru setelah menitih nya air mata kesedihan mu!" Sambung Ethan lembut.
__ADS_1
Sachi melepas smirk seraya mengalihkan pandangan ke arah depan "Saking terlalu sering nya aku menangis, aku bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata lagi." Jawabnya.
Ethan tersenyum tipis "Kau butuh pundak seseorang untuk bersandar, lalu kemana Daddy mu? Apa dia tidak ikut?" Tanyanya.
"Bukan urusan mu!"
Ethan menepuk sekilas punggung lentik wanita cantik itu "Anggap saja aku teman mu hari ini, kau pasti membutuhkan seseorang bukan?" Ucapnya dan Sachi hanya diam saja.
Tak ada niat dia meladeni Ethan selamanya, tapi mungkin Ethan benar dia membutuhkan seseorang untuk mencurahkan keluh kesahnya.
"Apa kau tahu, aku ini termasuk orang yang ekstrovert, aku gundah saat aku sendiri, aku tidak bisa hidup dengan dunia ku sendiri, aku lebih suka menghabiskan waktu bersama orang lain. Itu kekurangan ku, ku pikir dengan bersama seseorang, setidaknya ada yang mendengar cercaan, makian, umpatan, atau mungkin kata manis, kita ketika mengekspresikan sesuatu." Jelas Ethan.
"Aku tidak bertanya!" Sachi menoleh seolah mencibir padahal dirinya terdiam mendengar baik-baik pembicaraan laki-laki itu.
"Aku suka bercerita! Bahkan sebelum di tanya aku akan tetap bercerita." Sela Ethan tersenyum.
"Bodo!" Sachi membuang muka.
"Apa pun itu, tapi lihat lah, kau sudah lebih tenang sekarang, berarti kehadiran ku berpengaruh baik padamu!" Sambung Ethan.
"Haaayyss!" Lirikan sinis tertuju pada Ethan sekarang.
Satu dokter datang dan sepertinya akan memasuki ruangan ICU "Loh kok kamu di sini?" Tanyanya pada Ethan.
Ethan menggaruk tengkuk "Iya opah, pasien yang di dalam itu ibunya pacar ku." Jawabnya.
"Oya?" Ethan mengangguk sambil tersenyum kikuk pada dokter Galaxy yaitu paman dari Om Gerald nya.
"Gila kali ini orang?"
Setelah menyapa cucu dari adik bungsunya, Galaxy masuk ke ruang ICU, kemudian beberapa menit dia keluar dan memberikan pesan pada Sachi untuk bersabar menunggu kabar selanjutnya.
Di dalam, Mariam sudah mendapat perawatan intensif dengan berbagai macam alat medis yang menempel pada tubuhnya.
Di usia tuanya Mariam mulai rentan terhadap penyakit dalam, apa lagi gagal ginjal akut yang di deritanya membuat dirinya harus melakukan cuci darah dalam waktu yang lama atau mungkin seumur hidup.
Ethan memandang wajah Sachi yang terus jutek padanya "Empat kali kita di pertemukan, apa kau tidak merasa kita berjodoh?" Tanyanya.
Sachi melirik sinis "Hieleh, kau pikir aku percaya hal seperti itu?" Ucapnya "Aku bukan jodoh siapa pun kau mengerti? Dua kali aku menikah tapi tidak pernah mendapatkan cinta suami ku!" Katanya.
"Oya? Dua kali?" Ethan membulatkan matanya seakan terkejut padahal berpura-pura, ethan tahu Sachi sudah bersuami.
"Hmmm." Jawab Sachi.
"Kenapa tidak mencoba menerima lamaran ku saja? Aku sudah tentu sangat mencintai mu!" Imbuh Ethan menyengir.
Sachi menghela, sendu "Suami ke-dua ku juga pernah mengucapkan itu, tapi akhirnya aku tahu ucapan cinta nya hanya omongan sesaat saja, ada kalanya orang menyukai berada di dekat kita, lalu setelah mendapatkan dia bosan dan berpaling." Jelasnya lirih.
"Lagian, aku hanya wanita biasa, yang tidak pantas di perjuangkan untuk di perkenalkan kepada keluarga kaya mu, aku hanya pantas menjadi simpanan!" Tambahnya.
"Jangan berkata seperti itu!" Sanggah Ethan cepat "Apa kau tahu, aku sudah sering menyentuh wanita seksi, tapi tidak pernah jatuh cinta, dan padamu aku merasakan getaran lain, aku yakin aku mencintai mu."
"Memang iya sih, Daddy ku memang otoriter, menurutku dia terlalu tegas menjadi seorang ayah, aku sering di hukum, tapi langganan juga aku melanggar aturan-aturan nya."
"Kamu harus tahu, hidup ku adalah milik ku sendiri, aku akan hidup dengan kejujuran ku, aku memang begini adanya, Daddy tidak akan bisa menjadi penghalang bagi dunia percintaan ku, begitu juga jika Daddy melarang ku menikahi mu. Aku bahkan rela di usir dari rumah demi menikahi mu."
Ethan berkata lirih saat mengucapkan itu, dia bahkan tak menyadari bahwa dirinya bisa memiliki perasaan tulus kepada wanita yang belum ia kenali.
"So sweet! .... Apa aku harus berkata seperti itu padamu?" Sachi menaikan ujung bibirnya menatap cibir pemuda itu. Tidak sedikitpun Sachi percaya pada bualan laki-laki yang satu jenis dengan suaminya, tampan, kaya, apalagi sama-sama keturunan Dylan Jackson.
"Hehe! ..... Aku serius!" Sambung Ethan menyengir.
"Tunggu, apa kau membuntuti ku?" Setelah mengobrol panjang lebar Sachi baru menyadari hal itu.
"Sudah ku bilang kita berjodoh!" Lagi-lagi Ethan mengeluarkan cengiran nakalnya.
"I-then!" Desak Sachi.
Ethan meluruskan sebelah kakinya lalu merogoh saku celana jeans hitam miliknya, di ambilnya dompet kulit yang dulu pernah Sachi curi darinya dan menunjukkan pada wanita itu.
__ADS_1
"Dompet ini, dompet yang kamu ambil dari ku, kau ingat kan?" Sachi membulatkan matanya.
"Kenapa dompet itu bisa sampai di tangannya lagi?"
"Jangan berdalih lagi, aku sudah menemukan mantan suami mu! Dia yang memberikan informasi kebiasaan mu padaku, dia juga yang memberitahukan nama mu padaku." Ujar Ethan.
"Untuk apa kau tahu nama ku?" Sela Sachi.
"Santet, pelet, jaran goyang!" Ethan menyengir.
"Playboy psyko gila!" Sachi memberikan tanda miring pada keningnya.
"Kamu yang membuat ku gila!"
Percakapan mereka benar-benar tidak seperti korban dan tersangka, justru Ethan yang mendapat ucapan ketus dari wanita cantik itu.
"Jadi kau tahu aku sudah menikah lalu pura-pura tidak tahu?" Berang Sachi.
"Aku hanya ingin menggali informasi tentang mu saja. Dia bilang, kamu sering bolak-balik ke rumah sakit punya opah ku ini, jadi setiap hari aku sempatkan waktu menunggu mu di sini." Timpal Ethan enteng.
"Apa kamu nggak punya pekerjaan huh?"
"Tentu saja punya! Tapi aku bisa datang ke sana kemari sesuka hati ku, kau harus tahu Nona, Abang ku terlalu baik padaku."
Mendengar kata abang ku Sachi menjadi teringat pada suaminya "Tapi tidak selamanya yang terlihat baik juga baik." Katanya lirih.
"Hei, apa ini? Apa ini curhat colongan lagi?" Ethan mendekati wajah wanita itu dengan senyum manisnya.
"Pergilah! Aku muak melihat mu!" Usir Sachi.
"Gara-gara kamu Abang mu patah hati, lalu menjadikan ku pelarian cintanya. Aku yang sekarang di rugikan karena mencintai laki-laki itu." Batinnya, meski demikian Sachi sadar awalnya Sachi juga hanya mengharap uang Nathan saja.
Ethan menggeleng "Aku tidak mau pergi, sebelum kau mau menerima cinta ku!" Tolaknya bersikekeh.
"Apa keluarga mu ini keturunan psikopat gila?"
"Terserah apa pun pandangan mu. Tapi aku serius, nanti malam di hotel bintang lima, akan ada acara syukuran nujuh bulan kaka ipar ku!" Jelas Ethan menyergah kata-kata Sachi.
"Lalu, aku harus membawa kekasih untuk di perkenalkan ke Daddy ku. Kalau tidak, Daddy akan menendang ku dari istananya!" Lanjutnya.
Sachi berkerut kening "Acara nujuh bulanan?" Tanyanya, Sachi baru mengetahui berita itu.
"Iya, seharusnya sih sudah dari Minggu-minggu yang lalu, tapi keluarga super sibuk ku baru ada waktu untuk menggelar acara syukuran nya." Terang Ethan lagi.
Sachi bergeming "Jadi janji Om Nathan juga tidak akan di penuhi malam ini? Dia terus berbohong akan datang tapi semudah itu membatalkan. Jelas aku hanya di permainkan saja?" Batinnya.
Ethan menjentikkan jarinya "Hei, kenapa melamun?" Tanyanya.
Sachi beranjak dari ruang lamunan "Apa aku boleh ikut menghadiri acara syukuran nya?" Tanyanya tiba-tiba.
Ethan tersenyum "Tentu saja, aku mengajak mu barusan kan?" Jawabnya "Lagi pula kau berhutang pada ku, aku bisa saja menjebloskan mu ke penjara bukan? Aku sudah mengantongi saksi juga barang bukti! Pergilah setidaknya satu kali saja bersama ku!" Bujuk nya.
Setelah itu akan ku buat kamu mencintai ku.
"Tapi, aku mau ikut bukan karena aku, ...."
"Aku tahu!" Ethan menyela ucapan Sachi sambil mengangguk "Yah, aku tahu kamu belum menyukai ku, tapi setidaknya berpura-pura lah dulu menjadi kekasih ku di depan Mammi Daddy ku. Gimana?" Tawar nya.
"Lalu bagaimana dengan Ibu ku?"
"Kau boleh ikut, setelah memastikan Ibu mu aman, aku tidak akan memaksa mu kalo memang Ibu mu sedang dalam kondisi tidak baik."
Sachi mengangguk "Baik lah, aku setuju!" Ucapnya "Aku mau tahu bagaimana wajah Om Nathan melihat aku berdiri di tengah-tengah keluarganya? Setelah itu baru aku akan pergi, meninggalkan kota ini. Kayaknya antek-antek Om Nathan tidak berani mengikuti ku setelah ada I-then." Sisi batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya.....
__ADS_1