Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Penawaran


__ADS_3

Terkadang kita butuh pengutaraan metafora untuk membuat segerombolan orang mengerti apa yang sedang kita alami.


Menjadikan Sachi simpanan bukanlah cita-cita selamanya, Nathan juga ingin memperkenalkan istri keduanya setelah urusan di rumah utama selesai.


Itu menurutnya bukan menurut Sachi yang mengalami pedihnya di dua kan.


Serakah itu milik manusia, Sachi yang awalnya hanya ingin uang Nathan kini menjadi kalap dengan semua yang Nathan miliki, entah itu hati tubuh juga apa pun itu.


Meski kesakitan, Sachi sadar dirinya masih membutuhkan Nathan, ibunya masih harus melakukan pengobatan, jika sudah begini apa yang harus Sachi lakukan?


Mengalah? Tentu saja, bukan hanya karena uang saja, Sachi mengalah karena tidak tega melihat sugar Daddy nya kedinginan di balkon kamar.


Sudah lebih dari tiga jam Nathan duduk di sofa balkon, awalnya laki-laki itu terus menggedor pintu kaca miliknya, tapi lama-kelamaan lelah juga mungkin.


Nathan menerima hukuman yang Sachi berikan, dia sadar dirinya pantas mendapatkan itu. Nathan duduk pada sofa di temani rintikan air hujan.


Siapa yang mau di perlakukan sebagai wanita pemuas kebutuhan seksual? Meskipun tak di pungkiri niat awalnya Nathan menjadikan Sachi simpanan untuk hal gila tersebut.


Yah, setidaknya itu sebelum cinta hadir dan memberikan garis suci dalam hubungan rumit mereka.


Sachi beranjak dari selimut tebal miliknya, dia berjalan perlahan menuju pintu balkon, di gesernya handel tanam itu hingga terbuka dan sumilir angin pagi buta menerjang tubuhnya.


Hujan jatuh seharian. Di tangan sepi, malam hanya semacam kecemasan yang berjalan dari rindu ke rindu.


Hening adalah satu-satunya tempat ternyaman, di mana segala yang insan manusia pendam bebas berteriak. Ada kalanya keheningan memiliki suara yang paling keras.


Sachi melangkah keluar, mendekati sosok tampan yang masih duduk bersidekap sambil menengadahkan kepalanya bertumpu pada kepala sofa.


Mata Nathan terpejam mungkin karena mengantuk dan dia tertidur, Sachi duduk tepat di sisi laki-laki itu, di pandangi wajah tampan suaminya yang entah sejak kapan dia pucat.


Sachi berkerut kening "Daddy!" Wanita itu menempelkan punggung tangan pada leher pipi juga kening Nathan yang panas padahal cuacanya sangat dingin.


"Kenapa panas? Apa Daddy sakit?" Awalnya Sachi ingin marah tapi melihatnya seperti ini, rasa iba kemudian mencokol di dadanya.

__ADS_1


Nathan mengernyit lalu membuka mata dan menatap lengar wajah cantik isterinya, istri kesayangan yang dua Minggu ini dia rindukan.


Aroma damai Sachi, mengobati kerinduan yang dia bawa kemana-mana "Maafkan aku!" Ucapnya tulus.


"Kau tidak pantas di maaf kan, enak saja! Hanya karena sakit, Daddy pikir aku akan memaafkan mu apa?" Berang Sachi, entah kenapa kata maaf justru terdengar menjengkelkan baginya.


"Kalo begitu masuk lah, hukum Daddy lagi." Sambung Nathan lirih, suaranya terdengar gemetar, kesimpulannya adalah Nathan membeku setelah tiga jam diterpa angin malam.


"Daddy dingin, sekarang Daddy juga masuk lah!" Titah Sachi "Atau kau bisa mati beku di sini dan menghantui ku!" Ketusnya lagi.


Senyum tipis Nathan tercipta begitu impresif "Aku merindukan mu, Baby." Katanya pelan.


BRUK!


Sachi mengernyit ketika kepala berat milik laki-laki itu terjatuh di bahunya bagaikan buah kelapa yang tak sengaja mengenainya, sakit.


"Heh! Daddy! Jangan mati di sini!" Pekik nya gusar. Bahkan tubuhnya terhuyung ke belakang saking beratnya kepala Nathan yang tak memberi keringanan barang secuil.


"Belum mati, hanya butuh energi." Sahut lirih Nathan sembari melingkarkan tangannya ke pinggang ramping isterinya "Ada yang bilang bahu orang terkasih seperti charger baterai, bisa menambah energi." Lanjutnya.


"Sekarang masuk!"


Tertatih dan meringis Sachi membantu Nathan berdiri dengan baik juga memapah tubuh berat laki-laki itu masuk ke dalam kamar "Dengan kekuatan bulan, aku akan membantu mu, Om!" Sachi menceracau sambil mengerahkan seluruh tenaga supernya.


Senyum tipis lagi-lagi tercipta begitu saja dari bibir manis sang suami, ini lah ulah Sachi yang dia rindukan, tak perduli seberat apa masalahnya Nathan selalu di buat tersenyum ketika bersama dengan wanita cantik ini.


"Dosa mu terlalu banyak padaku Daddy! Jadi tambah berat pula tubuh mu!" Kata Sachi, dia sampai meringis-ringis bahkan keringat mulai mengembun menghiasi dahinya saking beratnya tubuh laki-laki itu.


Brugh!


Terbaring nya Nathan bersamaan dengan dirinya yang juga ikut terjatuh dalam pelukan laki-laki itu "Haaayyss!"


Sachi sudah akan kabur tapi Nathan meraihnya dari belakang sembari menutup kan selimut pada tubuh keduanya "Cukup seperti ini, tolong jangan pergi lagi." Pintanya.

__ADS_1


Sachi mematung dalam dekapan hangat suaminya, rupanya damai itu mampu mengobati kesakitan yang dia rasakan berhari-hari lamanya.


"Maaf kan aku sayang, maaf." Ucap Nathan mengulang, mungkin sekarang Sachi sudah tidak lagi marah padanya.


Sachi berdecak "Sudah ku bilang kamu tidak pantas di maaf kan, Daddy!" Ketusnya cepat.


"Baiklah, Daddy tidak akan minta maaf lagi." Sambung Nathan sembari mempererat pelukannya "Lalu, Daddy harus apa?" Tanyanya.


Sachi mendengus "Aku istri syah bukan wanita mu, jadi perlakuan aku layaknya seorang istri, adil lah membagi waktu, setidaknya jangan sampai dua Minggu terabaikan, itu terlalu menyakitkan, kau mengerti hah!" Berang nya, jika ada kesempatan mengutarakan kenapa harus diam? Begitulah sifat Sachi.


"Aku tidak berjanji." Jawaban dari Nathan yang menyulut emosi Sachi kembali, namun diam lah yang Sachi pilih kali ini.


Nathan mengecup rambut lurus Sachi sambil memejamkan mata "Di meja rias, ada beberapa sertifikat tanah juga rumah hunian di daerah puncak, uang cash juga untuk pengobatan ibu. Baby boleh membawanya lari kalo Baby sudah merasa lelah menjadi istri ku." Katanya lirih.


Sachi terkesiap mendengar itu.


Apa Nathan sedang menyuruhnya berhenti berharap? Ada apa ini? Bukannya memperbaiki sikap untuk mempertahankan hubungan, Nathan justru memberikan penawaran seperti ini.


Tetesan air mata sudah menyelusup masuk ke dalam serat bantal yang Sachi kenakan, entah kenapa rasanya sakit sekali mendengar kalimat penawaran suaminya.


Lalu apakah harus pergi? Sementara dirinya masih ingin bersama Nathan. Meskipun Nathan bukan cinta pertamanya tapi Sachi sudah berhasil terjatuh dalam jerat cinta laki-laki penguasa itu.


"Aku tahu kamu tulus padaku, aku yakin kamu setia, aku percaya kamu tetap akan tinggal di sini menunggu ku, seperti biasanya." Batin Nathan pilu.


Tujuh puluh persen keyakinan yang Nathan miliki tentang kesetiaan Sachi, berarti masih ada tiga puluh persen lagi bimbang hatinya yang membuat laki-laki itu takut kehilangan wanita cantik kesayangannya.


"Bagus lah kalo begitu, mungkin besok aku lari dari sini! Daddy pikir Daddy siapa hah? Kenapa menunggu nanti, dua Minggu saja aku sudah sangat lelah, aku tidak akan menunggu nanti lagi." Suara Sachi bergetar karena sesak yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam dadanya.


Tak lama.


Keduanya saling memejamkan mata berusaha menjemput impian yang mungkin satu tujuan namun berbeda jalan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung.... Novel ini akan saya rampungkan dalam waktu sesingkat-singkatnya, makanya dukung selalu dengan komentar vote hadiah, bagi yang tidak komentar, setidaknya ringankan tangan kalian untuk Like karena satu Like anda berarti bagi saya.


__ADS_2