
Sachi ripuh menaik turunkan tubuhnya di atas jok mobil hingga kendaraan itu bergerak-gerak seperti ada gempa mendadak "Emmh, Om, AC nya nyalain, Sachi kepanasan, cepet Om, ini kurang dingin!' Rengek nya.
"Hastaga! Kamu kenapa begitu Baby?" Nathan terkejut melihat tubuh mungil sintal menggemaskan tanpa pakaian luar naik turun di sebelahnya.
Jho melirik ke arah spion, alangkah mujur nasibnya melihat pemandangan yang sangat menyenangkan hati hingga bibirnya tersenyum menikmati hal ini.
"Jho!" Nathan menepuk pundak pria itu dengan gigi yang menggertak.
Jho kembali meluruskan pandangan ke depan "Aku tidak sengaja melihatnya Bos." Ucapnya berkilah "Mubadzir kan, kapan lagi liat cewek mulus enjot-enjotan begitu?" Batinnya.
Sachi masih merasakan panas bahkan setelah menanggalkan pakaian luarnya "Om, aku buka di sini yah, boleh kan?" Nathan membulatkan matanya saat Sachi menarik tali kecil di pundak miliknya sendiri.
"Sssutts! Jangan Baby, kamu diam lah, kita segera pulang sekarang!" Nathan melepas mantel mahalnya kemudian menutup kan pada tubuh Sachi.
Sachi menggeleng "Nggak mau Om, Sachi panas, jangan di tutup begini. Aaaaahh!"
Lenguhan panjang Sachi berhasil membuat bulu kuduk Nathan dan Jho meremang bersamaan.
Nathan beralih pada Jho "Kamu keluar Jho! Biar aku yang menyetir sendiri!" Perintahnya posesif, Nathan takkan pernah membiarkan Jho menikmati desah manja wanitanya.
"Loh kenapa?" Protes Jho setengahnya menolak.
"Jho! Apa mau aku pecat hah?" Berang Nathan melotot.
"Iya, iya." Jho mendengus kemudian keluar dari mobil itu dengan gerakan perlahan "Pelit bener si Bos, sedekah dikit kek suara desah Nona Sachi ke gue!" Gumamnya pelan.
Nathan memakai masker miliknya kemudian turun dan berjalan memutari mobil, Ia memindahkan tubuh Sachi ke kursi yang bersebelahan dengan jok di bagian kemudi. Nathan memasuki mobil kembali setelah Sachi nyaman dengan sabuk pengamannya.
"Kita pulang! Tenang lah Baby!" Gegas Nathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sesekali melirik Sachi yang sudah hampir tak berpakaian, tali di pundak pun Sachi turunkan, paha mulus sudah terekspos menggoda imannya.
"Om! Sekarang boleh kan di buka? Kan Om Jho sudah tidak ada." Sachi berusaha membuka rok serta kaos top miliknya juga.
"I-iya, t-tapi gimana nanti kalo Om mau hmm? Tahan dulu sayang, jangan di buka di sini, nanti ada polisi razia gimana?" Nathan membetulkan mantel yang Sachi hempas dari tubuh mungil itu.
"Hiks hiks! Ini menyiksaku Om!" Sachi mewek dengan bibir yang menggemaskan, hingga Nathan tak tega membiarkannya. Sudah jelas Sachi dalam pengaruh obat perangsang.
Di bawah pohon rindang tepatnya di jalan yang lumayan sepi Nathan menepikan mobilnya, jalan ini memang jalan yang jarang di lalui orang, jalan ini hanya aktif saat pagi sampai siang hari saja.
__ADS_1
Nathan kemudian mendekati wajah gadis itu "Ssuutt, jangan menangis, Om di sini!" Tuturnya lembut.
Kursi Sachi Nathan turunkan kebelakang agar Sachi lebih nyaman. Kecupan lembut pun Nathan berikan pada bibir merona gadis itu "Aku hanya berusaha membantu perasaan yang menyiksa mu Baby!" Batinnya.
Nathan melepas pagutan nya kemudian memijit lembut paha Sachi berusaha melepaskan siksaan yang Sachi rasakan.
Sepertinya hal ini berhasil karena gerakan Sachi mulai lebih tenang dari sebelumnya "Lagi Om, hu'ummh, begitu, ini lumayan enakan." Katanya manggut-manggut sambil memejamkan matanya dan bersandar pada joknya.
"Ke sini Om!" Junior Nathan sudah mengeras apa lagi setelah melihat jelas belahan indah milik Sachi dan kini tangannya di tuntun untuk meremas buah kenyal itu.
"Yang ini juga mau di pijit!" Pinta Sachi.
"Hah, ...." Nathan menelan saliva, Sachi wanitanya lalu kenapa pria itu justru tidak berani memakannya, bahkan setelah dalam keadaan seperti ini Nathan masih berpikir berulang kali.
"Kita akan segera menikah Baby, jadi bersabarlah, aku belum tega melakukan ini padamu." Ucap Nathan sambil mengusap lembut pipi gadis itu.
"Hiks hiks. Kiss aku Om!" Pinta Sachi lagi merengek sambil meraih kepala pria itu. Mata Sachi sudah merem karena pengaruh pusing yang dia rasakan.
Nathan menurut, jika hanya kiss saja permintaan Sachi mungkin Nathan masih bisa melakukannya.
Baru saja ingin mencium bibir Sachi sudah mengarah kan kepalanya pada bagian dada gadis itu "Di syinii Om!" Rengek nya.
"Hastaga! Kenapa ke sini lagi?" Batin Nathan.
Meskipun harus melawan hasratnya, Nathan pada akhirnya menurut untuk memberikan ciuman pada bagian yang Sachi tunjukkan padanya.
"Bawahnya pijit lagi, kayak tadi itu enakan Om!" Titah Sachi lagi dan lagi.
"Ini gue yang bayar dia apa dia yang bayar gue?" Batin Nathan lagi. Meskipun merutuk Nathan tetap menuruti semua ucapan gadisnya.
Memijit paha, lalu keatas lagi sesuai instruksi dari sang wanita "Ahhh, seperti di surga Om, segar rasanya badan ini. Lagi, terus ke atas lagi. Nah itu, yang itu lebih di tekan lagi Om!"
"Ni bocah nggak lagi ngerjain gue kan? Kenapa dalam keadaan begini ajah masih menyebalkan!" Batin Nathan.
"Ahh, Emmh, enak om, seger rasanya om, lagi."
Sachi menaikan kakinya ke jok hingga rok span miliknya terangkat dan menampilkan bagian dalamnya "Baby, jangan begini." Lirihnya memelas.
"Om, Om pernah ajak Sachi nonton film itu kan? Ayok Om praktek, gigit di sini!" Sachi menunjukkan bagian paling terlarang miliknya.
__ADS_1
"Baby! Ini sudah keterlaluan, pasti kamu menyesal besok, sudah, kita pulang saja!" Nathan sedikit membentak.
"Hiks hiks!" Isak gadis itu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Aaagh! Kenapa nggak tega gini liatnya!" Pada akhirnya Nathan mengedarkan pandangan ke segala arah, memastikan tidak ada yang mendekati mobil miliknya. Jangan sampai di tengah aktivitas ada seseorang yang memergokinya.
Laki-laki itu pindah posisi, menjadi berjongkok di bawah jok Sachi lalu melakukan perintah gadis itu.
Rok span pendek yang Sachi kenakan memudahkan Nathan menggapai isi dalamnya.
Nathan menggeser penutup dalam tubuh inti gadis itu ke samping, sekuat tenaga laki-laki itu menelan saliva setelah melihat buah rapat yang chubby menggemaskan "Benar kah dia masih perawan? Kenapa, ..."
"Om! Cepetan!" Sachi menyergah kata-kata batin Nathan.
"I-iya, sabar Baby!" Ucap Nathan seraya menenggelamkan wajahnya pada tubuh inti gadis itu.
Sachi melenguh saat terbenamnya sang benda tak bertulang pada buah chubby rapat yang belum terlihat bijinya. Hanya cara itu yang bisa Nathan berikan pada wanita nya.
Membenamkan pusaka nya pun belum tega Nathan lakukan, karena status mereka yang belum Syah.
Namun.
Semakin lama semakin Nathan menikmati permainannya sendiri, tak secuil pun aroma tidak sedap yang keluar dari sana justru sangat wangi menurut Nathan, tak sia-sia dirinya membiayai wanitanya perawatan mahal "Oh Baby, aku candu padamu!"
Dera napas Sachi mulai kacau, desah dan lenguh tiada mampu di kompromi, suara itu terus keluar sambil sesekali menggelinjang hebat.
Nathan menyukai saat Sachi menarik-narik rambut miliknya karena geram dengan permainan yang dia berikan "Ini belum seberapa Baby. Setelah menikah, aku akan buat lebih dari ini." Batinnya. Seringai tertampil di sudut bibirnya.
Cukup lama Nathan membantu wanitanya mengeluarkan segala unek-unek yang menyiksa "Om, kok Sachi kebelet pipis?"
"Keluarin saja semuanya Baby! Jangan di tahan!" Tuturnya.
Sachi mengangguk dan Nathan menyambut lelehan hangat itu dengan tisu kering dari atap mobil, kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Nathan beranjak dari posisinya lalu merangkak di atas tubuh Sachi "Tidur lah." Di elusnya lembut kepala Sachi kemudian memberikan kecupan manis di kening dan bibir gadis itu.
Setelah menggelinjang hebat karena puncak surga dunia yang Sachi dapati, gadis itu lunglai sambil memejamkan mata seolah sudah tak bertenaga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1