Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Egois


__ADS_3

"Ada apa?"


📞 "Jangan terus marah begitu, nanti cantiknya ilang."


"Buat apa aku marah, Daddy juga tidak pernah memperdulikan kemarahan ku, kau lebih memperdulikan keluarga mu."


📞 "Tapi percayalah, cinta Daddy hanya untuk mu! Malam ini juga Daddy datang sayang!" Ada tawa juga dari seberang sana, mungkin Nathan bahagia karena malam ini mereka akan berjumpa.


📞 BRAK!


Suara yang terdengar sangat keras menggema juga dari speaker ponsel milik Sachi. Ia berkerut kening saat menaikan iris coklat miliknya ke atas sambil mempertahankan posisi gawai itu di telinganya.


📞 "Keenan! Kamu kenapa hah?" Pekikan suara Nathan seperti tersentak dan Sachi mendengarnya dengan sangat jelas.


📞 "Aku kepeleset Bang! Hiks hiks!" Suara Keenan yang menghiba.


📞 "Hati-hati makanya, kamu tahu kamu lagi hamil kan!" Secepat mungkin Nathan menimpali seolah sangat mengkhawatirkannya.


📞 "Maaf aku ceroboh, tapi aku tidak bisa jalan Bang! Tolong angkat aku, biarkan aku duduk di ranjang." Pinta Keenan mungkin dia tidak bisa berdiri karena kaki yang dia bilang terpeleset.


📞 "Emmh." Sachi masih setia mendengar suara Nathan dan Keenan yang di iringi gerusak-gerusuk dari pergerakan mereka.


📞 "Bang, sepertinya perut ku keram, coba Abang elus!" Sachi mengepalkan tangannya mendengar permintaan Keenan.


📞 "Apa dia bergerak? Abang merasa ada tendangan dari dalam sana!" Jawaban dari Nathan yang membuat Sachi naik pitam.


📞 "Iya, baby kita sudah aktif di dalam sana, lucu kan?"


📞 "Dia pasti lincah seperti Daddy nya."


Tis!


Buliran jernih terjatuh meluncur dengan bebas menyelusuri liukan wajah wanita itu, tatkala mendengar suara Nathan dan istri pertama Nathan sedang asyik membicarakan bayi dalam perut.


Sachi mematikan panggilan secara sepihak, sungguh sakit rasanya mendengar perhatian yang Nathan tujukan kepada Keenan.


Tubuhnya terduduk di sisi ranjang saking lemahnya karena hawa panas yang tiba-tiba menyelubungi hatinya.


"Jelas dia memang masih mencintainya, bahkan setelah di khianati, dia masih bersikap baik seperti itu. Aku lah di sini yang hanya menjadi pemuas kebutuhan seksual nya!" Dentuman panas menyeruak dalam dadanya.


"Bodoh! Kenapa aku berharap pada laki-laki pembual sepertinya!" Sachi histeris sampai-sampai melemparkan ponsel miliknya serampangan. Untungnya benda pipih itu terjatuh ke sofa.


"Cukup Sachi, dia tidak mencintai mu, dia hanya memandang mu sebagai pemuas kebutuhan seksual saja! Sampai kapan pun kau hanya akan menjadi simpanan!" Cetus nya penuh amarah "Sekarang bawa lari uang nya! Pergi dari sini!" Teriaknya yang dia tujukan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Tin-Tin Tin-Tin.....


Suara pesan teks yang baru saja masuk membuat Sachi beranjak dari posisinya lalu melangkah maju untuk mengambil ponselnya dari atas permukaan sofa.


📩 "Sayang, malam ini aku tidak bisa datang lagi, Keenan membutuhkan seseorang, kamu bisa mengerti kan?" Isi pesan dari suaminya.


"Fix! Aku harus pergi!" Sachi segera memutuskan itu, dia lelah menunggu kehadiran suaminya, dengan alasan yang sama Minggu kemarin Nathan juga tidak datang.


Terjatuh dari kamar mandi lah, terpeleset lah, sepertinya ini hanya alasan Keenan yang di sukai Nathan untuk tidak menemuinya.


Cukup sudah dirinya di perlakukan bak wanita murahan di rumah besar itu! Segera Sachi melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian yang berjajar di lorong lain kamar itu, orang bilang walk in closed namanya, tapi ada juga yang menyebutnya ruang ganti wardrobe karena lebih mudah penyebutan dan di pahami kebanyakan orang.


Sachi memunguti satu persatu pakaiannya untuk kemudian di masukkan ke dalam koper-koper miliknya. Tak lupa, surat-surat tanah dari Nathan, juga dia masukkan ke dalam sana.


Tapi tunggu, ini sudah malam, bukan kah seharusnya Sachi memiliki tempat tinggal baru terlebih dahulu sebelum keluar dari rumah itu?


Bagaimana dengan kondisi Mariam ibunya? Sachi harus memastikan bahwa Mariam selalu baik-baik saja.


"Aku harus mencari tempat tinggal dulu untuk Ibu." Gumamnya.


Baiklah, malam ini Sachi harus rela menutup mata di atas ranjang berukuran super king itu lagi, setidaknya untuk malam ini saja.


Untung saja, sampai detik ini Sachi masih memikirkan kondisi ibunya yang memang membutuhkan perawatan dan tempat khusus.


Selimut menjadi saksi betapa malang nasib tubuh molek Sachi yang selalu di gulung oleh kain tebal itu.


Malam semakin larut, air mata yang terus mengalir menemani ritual penjemputan mimpinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang harinya,


"Maaf Nona, Tuan muda tidak mengizinkan mu ke manapun! Ini sudah menjadi amanah beliau untuk melarang mu pergi." Satu pria berpakaian serba hitam menghalangi jalan wanita itu.


Baru saja Sachi akan keluar dari rumah, rupanya Nathan sudah mewanti-wanti para pengawalnya.


"Apa alasannya?" Berang Sachi, entah kenapa tiba-tiba saja ada rasa panas dalam hatinya. Tatapan tajam telah terusung pada laki-laki itu.


"Tuan muda, melarang mu pergi sendiri, jika memang Nona mau pergi, harus sepengetahuan Tuan muda." Tambah laki-laki itu menjelaskan.


Sachi menghela, dia kemudian meraih ponsel dari dalam tas selempang miliknya, sebelum mengutak-atik gawai tersebut untuk segera melayangkan panggilan telepon pada suaminya.


Terdengar bunyi Tuuuuttt beberapa kali dari gawai tipis tersebut, namun tak jua ada jawaban.

__ADS_1


Sachi pada akhirnya kembali ke kamar.


Pengawal Nathan tidak mengizinkan dirinya keluar dari rumah sebelum mendapatkan lampu hijau dari sang Tuan sementara Nathan sendiri justru tidak mengangkat telepon darinya.


Ini benar-benar membuat Sachi merasa lebih tertekan batin lagi, Nathan benar-benar tidak konsisten dengan ucapannya.


Kemarin Nathan sendiri yang menawarkan untuk pergi, lalu sekarang apa? Mau pergi berjalan-jalan saja tidak di perbolehkan! Yah, kali ini Sachi memang berniat berjalan-jalan untuk mencari tempat tinggal baru sebelum pindah.


Belum lagi Sachi juga harus menebus obat untuk ibunya bukan? Tapi apakah melakukan semua kegiatan itu harus selalu menunggu izin dari Nathan terlebih dahulu? Bagaimana jika terjadi apa-apa pada ibunya? Apakah pengawal itu juga tidak akan mengizinkannya keluar? Keterlaluan!


Sachi duduk di sisi ranjang miliknya dengan raut murka penuh amarah. Ratusan panggilan Sachi layangkan dan tak pernah ada jawaban


"Apa dia berniat menjadikan ku tawanan?" Katanya pelan.


Sachi menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang super king bersprei putih polos itu, pandangan matanya kosong seolah tak ada satu pun harapan yang tertampil di wajah cantik nya. Mungkin asa itu sendiri sudah terputus dalam angan-angan nya.


"Dari awal aku sudah cukup merasa lelah, tapi entah kenapa aku juga terus bertahan di sini? Apa karena perasaan ku tulus padanya? Dia yang tidak pernah mencintai ku?" Gumamnya.


Dering ponsel miliknya tiba-tiba saja berbunyi, rupanya Nathan baru menghubungi balik setelah berjam-jam Sachi menangis.


Segera Sachi menggeser tombol hijau kemudian menempelkan benda itu ke telinga.


📞 "Maaf sayang, Daddy sibuk, kamu ada apa hmm?" Suara Nathan terdengar lembut seperti biasanya.


"Aku harus pergi, aku mau keluar menebus obat Ibu, kenapa kamu tidak mengizinkan nya?" Tak ada sebutan sayang untuk Nathan yang selalu membuatnya marah.


📞 "Maaf sayang tapi mulai sekarang, obat Ibu akan kamu dapatkan dari rumah saja, Baby tidak perlu lagi keluar rumah, Daddy yang urus semuanya."


"Apa sebenarnya mau mu? Sudah dua Minggu kamu tidak datang menemui ku dengan alasan ini dan itu, sekarang kamu mencoba menawan ku begitu?" Berang Sachi.


Amarah meledak sebegitu hebatnya ketika Sachi semakin menyadari betapa egoisnya laki-laki itu.


📞 "Bukan begitu sayang, Daddy hanya sedang memberikan kemudahan untuk mu, aku datang malam ini untuk mu. Sabar lah, Daddy juga sangat merindukan mu!"


"Bulsyiittt!!" Tuuuuttt


Sachi memutuskan panggilan secara sepihak, sekalian ponselnya juga dia non aktifkan. Sachi memejamkan mata saat rasa nyeri di hatinya kembali meruah.


"Apa aku harus menjadi wanitanya seumur hidup? Dia pikir aku ini apa? Seenaknya menawan ku seperti ini!"


Sesal selalu datang di akhir, penawaran Nathan untuk menjadi simpanan, kenapa pula dia ambil? Bukan kah ini salah satu resikonya menjadi wanita pria beristri?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2