Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Bioskop


__ADS_3

Setelah makan bersama mertuanya, Nathan mengajak isterinya pergi berjalan-jalan ke mall terbesar di kotanya.


Awalnya, Nathan ingin membawa Sachi ke Singapura, di sana asyik untuk berbelanja, lagi pun pastinya tidak ada yang memergokinya.


Sayangnya Sachi menolak, Sachi tak mau lama-lama meninggalkan sang ibunda tercinta. Mau tidak mau Nathan lah yang harus mengikuti kemauan istri tercinta.


"Ayok, Daddy, filmnya bagus loh, judulnya Simpanan Sugar Daddy Posesif." Kata Sachi sembari menarik-narik lengan kiri suaminya untuk turun dari mobil.


Mereka sudah berada di parkiran basemen bangunan mewah tersebut. Nathan dan Jho memakai masker.


Sachi sempat mendengus "Kalian semua pria-pria pengecut!" Umpat nya. Wanita mungil itu keluar dari mobil terlebih dahulu tanpa menunggu Nathan membukakan pintu.


Sachi kesal selalu pergi dengan laki-laki yang memakai masker di wajahnya. Tak jarang dia juga harus berpura-pura menjadi kekasih Jho jika sampai terpergok rekan bisnis Nathan.


Itu pula yang menjadi alasan kenapa Sachi bebas keluar masuk apartemen milik Nathan. Setahu orang-orang, Sachi adalah kekasih Jho, jadi wajar saja jika sering menginap di sana.


Semua itu sudah berlalu, sekarang Nathan sudah memberikan Sachi tempat tinggal lain yang jauh dari kerumunan orang, maka sedikit sekali potensi di curigai nya.


Nathan, Jho, dan Sachi berjalan berdampingan, di iringi beberapa antek-antek kepercayaan sang penguasa.


Mereka harus selalu sigap, jangan sampai ada seseorang yang mencurigakan karena bisa saja ada orang yang diam-diam mengikuti mereka. Paparazi misalnya.


Tujuan utama mereka adalah bioskop yang terletak di lantai tujuh maka mereka pun langsung mengayunkan langkah ke sana.


Di sepanjang perjalanan, Sachi tersenyum girang, akhirnya dia mempunyai kesempatan pergi bersama suaminya.


"Daddy, kita beli popcorn, minuman, sama es krim!" Pinta Sachi setelah tiba di lantai yang mereka tuju.


Nathan mengangguk "Tentu saja, kita masuk, nanti Jho yang membelikan nya untuk mu!" Katanya.


Sachi menggeleng dengan bibir yang mencebik "Daddy yang suami ku, masa Om Jho yang belikan, Daddy dong yang belikan!" Sungut nya.


Nathan mendengus "Di mana-mana istri ke dua lebih banyak mau nya. Sabar Nathan dari pada di tinggal lari." Batinnya.


"Ok, sekarang Baby pilih kursi." Pada akhirnya Nathan berucap demikian.


"Tiket nya?"


"Tidak perlu, masuk saja!" Titah Nathan. Laki-laki itu mengacak-acak kecil pucuk kepala Sachi seperti biasanya.

__ADS_1


Setelah mengangguk Sachi masuk ke dalam ruang teater, di sana langsung di sambut hangat oleh beberapa staf yang berpakaian cantik ala pramugari pesawat dan nakhoda kapal, mungkin itu kostum tematik dari bioskop tersebut.


"Silahkan Nyonya!"


Sachi tersenyum pada orang-orang itu kemudian memilih tempat duduk tepat di tengah-tengah studio.


Sepi, selain Sachi tak ada manusia lain lagi, Sachi sempat berpikir apakah dia salah masuk studio? Atau kah memang belum ada yang masuk?


Sachi tak mau ambil pusing, Sachi duduk dengan tenang, tak lama kemudian Nathan duduk tepat di sebelah kirinya tentunya setelah memberinya es krim coklat kesukaannya.


Popcorn, minuman, juga Nathan bawa dan meletakkannya pada kursi kosong di sebelah kanan Sachi.


"Terimakasih Daddy."


Sambil menunggu film di mulai, Sachi menjilati es krim miliknya dan Nathan hanya fokus menatap wajah cantik isterinya dari samping.


Rindu, masih menyelubungi hatinya, mungkin setelah ini mereka kesulitan mengatur jadwal temu lagi, Nathan tak ingin menyia-nyiakan waktu perjumpaan ini.


Film pun di mulai, dan Sachi masih sempat mengedarkan pandangannya ke segala arah, di mana tempat itu kosong, hanya ada mereka berdua yang menonton film tersebut.


Sachi mengerling sinis ke arah suaminya curiga "Daddy, kok cuma kita berdua? Kamu pasti booking semua tempat ini yah hah?" Berang nya.


Nathan terkikik "Film nya romantis, mungkin kita bisa main di sini sambil nonton, kalo ada yang lain, kita ngga bisa ehm ehm sayang." Laki-laki itu mendekati bibir isterinya.


"Ih! Messum!" Satu popcorn Sachi sumpal ke mulut suaminya dan Nathan hanya tergelak.


Mereka pun kembali mengikuti alur film yang bergenre romantis, komedi, film yang membuat keduanya tertawa juga deg-degan di atas kursi bioskop itu. Sesekali ciuman panas juga mereka praktekkan tak kalah mesra dengan adegan filmnya.


"Aku lelah! Aku tidak mau terus Daddy jadikan simpanan! Aku menyerah! Kejar saja cinta istri pertama mu, cerai kan aku!"


Nathan menelan saliva melihat adegan berang tokoh utamanya, di mana sang simpanan meminta cerai dari suaminya.


Kenapa kisah mereka hampir sama? Bahkan dalam bayangan Nathan, wajah tokoh utama perempuan itu seperti Sachi dan tokoh laki-laki nya mirip dengan dirinya.


"Cerai kan aku, atau cerai kan istri sombong mu! Pilih aku atau dia! Aku lelah terus berbagi hati, Daddy!" Teriakan protagonis wanita yang dia anggap seperti Sachi.


Jantung Nathan berdebar kencang, hingga keringat dingin mengembun menghiasi dahinya, bagaimana jika suatu saat nanti Sachi juga melakukan hal itu? Film romantis, tapi Nathan justru ketakutan seperti menonton film horor.


Ketegangan Nathan berangsur hilang setelah adegan berpindah ke scene lainnya. Laki-laki itu melirik ke arah Sachi yang entah sejak kapan dia tertidur pulas.

__ADS_1


Nathan tersenyum "Aku tegang, kenapa kamu malah tidur!" Di kecup nya bibir mungil itu hingga si pemilik menggeliat terbangun.


"Emmhh? Apa film nya sudah selesai?" Sachi melihat tulisan yang berjalan dari atas ke bawah layar, khas seperti film yang baru saja tamat.


"Sudah, sekarang kita keluar." Ajak Nathan.


Sachi menggeleng "Balik lagi, Sachi belum liat semuanya, Daddy, ayok suruh tukang bioskop nya muter lagi film nya!" Pintanya memelas.


Nathan memutar bola matanya "Hastaga, anak kecil ini, di pikir bioskop punya bapak nya kali." Batinnya.


"Ayok Daddy, lagi!" Rengek Sachi membujuk.


"Ngapain? Mendingan setelah ini kita belanja ajah sayang, atau ke salon deh, keriting rambut kamu kayaknya bagus." Usul Nathan.


"Ngga mau!" Tolak Sachi berpaling, tak lama dari itu Sachi menatap ke arah Nathan kembali setelah mendapat ide baru "Kita ke area permainan ajah, kita main boneka capit, gimana?" Usulnya menyengir.


"Ya Tuhan, aku lupa istri ku seharusnya masih kuliah, jiwa anak-anak nya masih belum ilang."


"Cepetan!" Lamunan Nathan buyar setelah mendengar kata sergah yang menyeletuk dari bibir isterinya.


"Iya, iya." Nurut nya memelas. Keduanya berjalan beriringan keluar dari ruang teater.


Sekarang semakin sulit untuk Nathan menghindari kerumunan orang, di hari Minggu para rekan dan kolega Nathan sudah pasti banyak yang datang membawa anak-anak nya ke tempat bermain.


Bagaimana kalau sampai ada salah satu kolega yang memergokinya? Nathan hanya berharap hal itu tidak akan pernah terjadi. Atau selesai sudah kisah cinta mereka.


Belum lagi dering dari ponsel di saku celana Nathan yang masih kerap berbunyi juga terus membuatnya tidak bisa merasa tenang.


šŸ“„ "Jangan kemana-mana Bos! Ada Nyonya muda bersama Nyonya besar di lantai lima. Mereka baru saja berbelanja pakaian baby." Informasi dari Jho.


Bukannya lantai lima juga lantai yang ingin Sachi tuju?


Nathan meraih tangan Sachi hingga kini keduanya saling bertatap muka "Baby, kita ke tempat lain saja yah." Bujuk nya.


"Daddy pulang saja, kalo memang tidak mau ikut!" Sachi tetap melanjutkan langkah menuju lantai yang dia maksud.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung..... Terimakasih dukungan like komen Vote dan hadiah nya šŸ˜˜ā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2