
Empat tiang, empat rantai, empat borgol tengah membelenggu empat pergelangan tangan milik dua orang pria. Tubuh atasnya polos, hanya celana panjang saja yang mereka kenakan.
Tak ayal, mereka yang berdiri dengan tangan yang terikat besi itu adalah ke dua putra Dylan Jackson yang terkenal dingin.
Ruangan yang hanya di masuki beberapa pendar cahaya dari lampu-lampu ruangan di sekitarnya, menjadikan seluruh tempat luas ini sedikit lebih menyeramkan.
Jika di perjelas penggambaran nya. Lebih seperti ruangan yang di buat untuk eksekusi hukuman mati.
Ekor mata Ethan dan Nathan mengerling ke arah pintu. Derap langkah pelan namun mencekam telah terdengar memasuki ruangan.
Pantulan kilat dari sepatu derby milik laki-laki yang berjalan itu sedikit menyilaukan netra ke dua pria tampan ini.
Laki-laki berjambang yang berbadan kekar itu mencekal tangannya ke belakang sembari terus mengayunkan kakinya mendekat. Dylan berdiri tepat di depan tubuh kedua putranya sekarang.
"Daddy, apa seperti ini cara Daddy memperlakukan putra mu? Daddy pikir kami ini penjahat?" Ethan menyambut kedatangan ayahandanya dengan kalimat protes. Sesekali meronta kecil berusaha melepaskan diri dari jeratan rantai besar yang membelenggunya.
Tanpa merespon putra bungsunya. Sepasang netra yang ber_iris hijau itu terarah pada putra sulungnya "Sudah puas kah kau mencoreng nama baik keluarga ku?" Nada yang berangsur-angsur naik menggaung dalam ruangan.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, ini terjadi di luar keinginan ku, aku mencintai nya." Nathan dengan cepat menjawab.
Ethan melirik ke arah abangnya "Apa kau sudah gila hah? Kenapa mengakuinya?" Bisiknya. Dalam jarak yang sangat dekat itu, Dylan sudah tentu mendengarnya.
"I-then, kamu akan mendapatkan giliran nanti, jadi diam lah dulu!" Pelan sekali Dylan memberi tahu putra bungsunya namun kerlingan mata yang tajam tak selaras dengan nada lirihnya.
Ethan terbungkam.
Dylan beralih pada Nathan "Jangan coba-coba mengatasnamakan cinta Nathan." Lirihnya "Ini tidak pantas!" Tambahnya.
Dylan berjalan mondar-mandir di depan pasungan putranya dengan langkah perlahan. Sementara ke dua putranya hanya menatap gerak tubuh laki-laki itu.
"Susah payah istri mu mempertaruhkan nyawa demi melahirkan putra mu, lalu kau mengatakan bahwa kau mencintai wanita lain begitu?" Dylan lantas mendekati wajah putra sulungnya.
"Kau mencoba mencari kepuasan batin dari wanita sundal setelah istri mu menyusui putra mu?" Bentaknya.
"Apa tidak cukup ayah ku saja yang melakukan itu pada ibuku, lalu kau menimpali hal bejat itu, Nathan!!" Teriaknya. Gaung suara yang menggema terdengar beberapa kali membuat ruangan itu semakin mencekam.
Ethan dan Nathan terkesiap, rupanya kejadian pada kakeknya yang telah lama pergi masih meninggalkan kesan tak baik pada mental ayahnya.
Sebelah tangan Dylan mengasong pada satu antek-antek nya dan satu laki-laki berpostur tinggi besar itu memberikan satu buah pecut yang masih terikat.
Dylan ayunkan satu kali cambuk itu hingga menjuntai menyentuh dasar lantai "Kau tahu Daddy tidak main-main dengan hukuman yang sering Daddy katakan pada mu bukan!" Katanya pada Nathan.
"Aku mencintai Sachi, apa itu sebuah kejahatan?" Tanya balik Nathan.
Drassshhh!!
Eskalasi suara teriakan Nathan menggema dalam ruangan tersebut, ketika cambuk itu menghujam punggung polosnya tanpa ampun.
__ADS_1
"Daddy!" Ethan berteriak, sungguh tak tega rasanya melihat hal sadis ini terjadi pada abangnya di depan kepala matanya.
"Diam!" Dylan mendelik pada putra bungsunya "Kau juga akan mendapat giliran I-then!"
Drassshhh!!
Ethan yang berteriak keras sambil mendongakkan wajahnya saat cambuk itu beralih pada punggung polosnya.
"Kalian tahu Daddy tidak pernah main-main dengan ucapan ku!" Pekik Dylan.
Amarah menguasai laki-laki bule berjambang itu "Sudah ku bilang, jangan berurusan dengan wanita sundal! Daddy tidak mengizinkan itu terjadi pada kalian, jauhi wanita seperti itu." Teriaknya.
Drassshhh!
Kali ini cambukan itu beralih pada Nathan kembali, "Aku mencintai Sachi, sangat mencintai nya!" Bangga sekali laki-laki tampan itu mengutarakan perasaannya.
Meski cambuk terus mengenai tubuhnya, tak pernah lelah Nathan mengucapkan cintanya kepada istri ke dua nya yang entah berada di mana.
"Cukup Daddy, ini bukan salah Bang Nathan! Hentikan!" Pekik Ethan. Sesekali dia memejamkan matanya kuat demi menghindari pemandangan menyakitkan itu.
Dulu, semasa kedua putranya masih kecil, Dylan hanya menghukum dengan gitik mungil yang di sabet kan pada telapak tangan saja.
Rupanya setelah dewasa Dylan berani menghukum ke dua putranya dengan cambuk yang terbuat dari rotan.
"Sejak kapan kamu berhubungan dengan perempuan sundal itu?" Tanya Dylan lagi menyudutkan putra sulungnya.
Drassshhh!!
Pedih yang Nathan rasakan semakin parah, karena luka dari cambukan sebelumnya sudah cukup meradang.
"Cukup Daddy!" Ethan menoleh pada Nathan "Katakan yang sebenarnya Abang, apa Abang pernah meniduri Keenan? Jangan terus menutupi kebenaran!" Teriaknya.
Rasanya Ethan ingin sekali terbebas dari pasungan nya lalu memukul wajah abangnya, kenapa sampai detik ini Nathan masih saja menutupi kebenaran.
"Omong kosong macam apa ini!" Dylan berteriak menimpali.
Ethan menatap ayahnya "Yah Daddy, I-then pernah meniduri Keenan, satu Minggu setelah pernikahan Bang Nathan kami melakukan hubungan terlarang, dan mungkin itu alasan Bang Nathan berpaling dari mantu kesayangan mu!" Ungkapnya tanpa ragu.
Selama ini Ethan diam karena Ethan tak pernah tahu bahwa ternyata Keenan mengandung anaknya. Jika harus di akui tentu saja Ethan akan mengakuinya, meskipun dirinya tak pernah punya niat untuk bertanggung jawab karena tidak pernah mencintai Keenan.
"Jangan ngada-ngada kamu!" Sambar Nathan menampik. Dia saja kesakitan menerima pecut dari ayahnya lalu bagaimana dengan punggung Ethan? Nathan takkan pernah tega membiarkan itu terjadi.
"Kau yang pengecut, katakan saja semuanya, aku tidak butuh perlindungan mu, aku bukan anak kecil lagi, kau tau!" Sambung Ethan ketus juga keras.
"Diam kalian!" Pekik Dylan geram "Omong kosong! Apa yang kalian ributkan!" Tambahnya membentak.
Ungkapan putra bungsunya benar-benar membuat Dylan penasaran, akan tetapi putra sulungnya sendiri masih tidak mau mengakuinya.
__ADS_1
Ethan kembali menatap ayahnya "Daddy, Bang Nathan tidak bersalah, tapi Keenan yang mengkhianati nya, Keenan yang merayu ku, Keenan yang menyerahkan diri pada ku." Beber nya dan Dylan mengernyit.
"Di kamar hotel yang ku sewa, Keenan mendatangi ku malam itu, aku mabuk dan tak sengaja meniduri nya!" Tambah Ethan.
Mengorbankan Nathan demi kepentingannya bukan termasuk dari prinsip yang dia anut.
Dylan mendelik "Kau sadar apa yang kau ucapkan I-then!" Teriaknya.
"Tidak, tentu saja tidak!" Sergah Nathan mengelak "Daddy tahu I-then suka sekali bercanda, dia tidak sungguh-sungguh!" Laki-laki itu tergelak kecil.
"Bodoh! Sudah ku bilang aku tidak butuh perlindungan mu Nathan! Sekarang katakan yang sebenarnya!" Sela Ethan melotot.
Drassshhh!
Dylan mulai gencar menghujam kan cambuknya pada tubuh putra sulungnya, sebelum Nathan mengakui segalanya, pecut itu akan terus mengenai tubuh putranya.
"Katakan kau tidak pernah meniduri Keenan! Katakan kau menikahi Sachi karena pengkhianatan yang Keenan lakukan, bodoh!" Teriak Ethan.
Ethan beralih pada Dylan "Daddy! Hentikan!"
Pemuda tampan itu meracau, dia sedang berusaha membuat ayahnya berhenti melayangkan cambuk pada tubuh abangnya.
"Hentikan!" Suara seorang wanita yang di iringi tangisan terdengar. Dari arah pintu Jelita berlari lalu mendorong dada bidang suaminya agar menjauhi putranya.
Seorang ibu takkan pernah tega melihat putra yang dia lahir kan tersakiti, semut saja tak pernah dia izinkan menggigit kulit putranya apa lagi sebuah pecutan cambuk.
"Nathan!" Jelita meraih wajah putra sulungnya dengan bibir yang bergetar mengurai tangis.
Ethan memejamkan mata, rupanya tangis pilu sang Ibunda lebih tak ingin dia lihat.
Tatapan Jelita menelisik ke setiap lekukan tubuh putranya, di mana sudah banyak luka goresan yang terlihat menyakitkan.
Nathan masih meringis menahan rasa sakit.
Jelita beralih memandang suaminya, tatapan tajam terarah pada Dylan sekarang "Pikir mu, kau siapa hah? Beraninya menghukum putra ku seperti ini?" Teriaknya histeris. "Aku yang melahirkan mereka! Hanya aku yang berhak memberi mereka hukuman, bukan kamu!" Timpalnya membentak.
Dylan tak mengindahkan kalimat racau isterinya, laki-laki itu lebih memilih pergi meninggalkan Jelita beserta anak-anaknya dalam keadaan pilu.
Dari atas meja di sudut ruangan, Jelita meraih kunci borgol yang sedang membelenggu tangan putra-putranya lalu bergegas membebaskan kedua pria itu.
Jelita peluk kedua putranya dengan tangisan posesif "Selesai kan masalah kalian, tolong jangan buat Mammi melihat hal seperti ini lagi." Ucapnya memohon.
Ethan peluk tubuh mungil sang ibunda sementara Nathan pergi keluar dari ruangan, meninggalkan ibu dan adiknya.
Mencari Sachi, yang akan Nathan lakukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung..... Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya.....