Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Bergeming


__ADS_3

Ethan lemah hingga tak mampu mengondisikan ruang hening nya. Mendengar kebenaran pahit ini, membuatnya tak ingin menerima kenyataan.


Ting!


Pintu lift terbuka, dan Sachi bergegas keluar dari ruangan sempit yang sedari tadi menyesakkan hatinya.


Ethan sempat melihat sekelebat sosok indah pujaan hatinya keluar dari ruangan tersebut, hampir saja pintu lift tertutup dan Ethan baru menyadari bahwa Sachi pergi meninggalkan dirinya.


"Sachi!" Ethan ikut keluar setelah tangannya menahan pintu lift hingga terbuka lebar kembali.


Di edarkan nya pandangan ke segala arah dan Sachi sudah berlari keluar dari gedung.


"Sachi! Tunggu!" Ethan berlari menuju tempat di mana terakhir kali matanya menangkap punggung wanita itu.


Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Dia tahu wanita itu adalah kakak iparnya, tapi hatinya seakan tak ingin menerima kenyataan.


Pertama kalinya dia mencintai seorang wanita, serakahnya adalah dia juga sangat ingin memiliki nya.


Tak perduli siapa pemilik Sachi, selama Nathan belum berani mengakui Sachi di hadapan Dylan ayahnya Sachi masih berhak di perjuangkan.


Ethan menembus tirai hujan yang menyakiti kulitnya karena derasnya hujaman rintikan air itu.


Pandangannya terus mengedar mencari sosok cantik yang dia cintai.


Di sela barisan mobil yang terparkir dia mengayunkan langkah cepatnya, jas hitamnya sudah kuyup oleh derai air hujan.


Sepatu besarnya menerjang genangan air yang masih mengantri masuk ke selokan.


Sesekali tangannya mengusap seluruh wajah agar pandangannya tak lagi terhalang air hujan yang mengguyur tubuhnya.


"Sachi!!" Teriaknya. Meskipun dirinya tak yakin wanita itu akan datang karena panggilan nya tapi dia tetap menyerukan nama itu.


"Sachi!!" Derasnya hujan membungkam teriakannya tapi tetap saja dia tak pernah lelah menyerukan nama itu.


"Aaaagghh!!" Dalam bising hujan Ethan berteriak sembari mendongak, kenapa sakit sekali rasanya, baru saja ada harapan bisa memiliki perampok hatinya bersamaan dengan itu dia harus menerima kenyataan pahit.


Keenan hamil, dia tak mungkin bertanggung jawab karena dia paling tidak suka melawan prinsip, dia hanya akan menikah dengan wanita yang dia cintai saja. Lagi pun, kehamilan itu bukan sepenuhnya kesalahannya, pikir Ethan seperti itu.


Dia kembali melanjutkan langkah, dia sisir sekali lagi lorong barisan mobil yang terparkir. Mungkin saja Sachi masih bersembunyi di antara mobil-mobil itu.


"Sachi!!" Teriaknya.


_


Dari lobby Nathan menyusulnya menerjang tirai hujan yang semakin deras saja, Nathan melangkah cepat hingga setengahnya berlari menuju tubuh tinggi adiknya. Sorot lampu mobil yang tak sengaja lewat lumayan memberinya pandangan.

__ADS_1


Nathan mengernyit. Terakhir kali bukankah Sachi bersama pemuda itu? Lalu kemana sekarang? "I-then!" Di tariknya kerah kemeja dan jas hitam milik adiknya tak lupa pula dia usung tatapan menceku.


"Di mana Sachi ku?" Tanyanya berteriak sangat keras.


"Dia pergi!" Jawab Ethan enteng. Tak benar-benar terdengar suaranya hanya saja Nathan bisa menerka dari kecapan bibir adiknya.


Bugh!


Tonjokan yang sedari tadi ingin Nathan layangkan kini mendarat juga pada wajah tampan adik nya.


"Kau apakan dia hah!" Nathan berteriak sayangnya bahana air hujan masih membungkam teriakannya.


Ethan tersenyum tipis menatap abangnya "Aku jatuh cinta padanya, kenapa kau tidak mengalah lagi saja, dia tidak bahagia bersama mu bukan?" Entah setan apa yang merasukinya, Ethan mampu mengatakan itu pada abangnya.


Bugh!


Ethan terjatuh di atas genangan yang masih di terjuni hujaman air dari langit.


Ethan pasrah jika malam ini Nathan akan membunuhnya. Takkan mampu ia melawan sosok tegas itu, Nathan memang pendiam tapi ilmu beladiri nya mampu melenyapkan lawannya.


"Bangun, bangun kamu!" Nathan menarik Ethan kembali dan satu pukulan menyusul hingga Ethan terpelanting lagi ke salah satu body kap mesin mobil milik orang lain.


"Dia milik ku, dia wanita kesayangan ku, dia sangat berharga bagiku, jangan pernah berpikir untuk memiliki nya, kau paham, I-then!" Teriak Nathan.


Satu lagi jotosan menyusul.


Nathan tarik kembali lengan adiknya yang tak sedikitpun melawan, sebelum seorang pria datang dan mencegah pukulan terakhirnya.


"Bos! Jangan seperti ini Bos!" Nathan menoleh dan pukulan beralih pada wajah Jho.


Jari telunjuk Nathan terarah lurus pada wajah Jho sekarang "Ini juga salah mu! Kenapa kau membiarkan Sachi ku ke sini?" Teriaknya. Rupanya dinginnya air hujan tak mampu meredam amarah sang pemimpin yang satu ini.


"Aku sudah sering menghubungi mu, tapi hari ini kau tak bisa di hubungi Bos!" Tampik Jho.


"Percuma marah-marah begini!" Tambahnya berteriak "Lebih baik kita ke rumah sakit sebelum Tuan besar menemukan Nona Sachi lebih dulu dari kita! Di dalam anak buah Tuan besar sudah mengetahui semuanya. Mereka pasti mengincar Nona Sachi sekarang!" Lanjut Jho.


Degub...


Kenapa tidak terpikirkan oleh Nathan? "Hassial!" Umpat nya, Nathan berjalan cepat menuju sebuah mobil lalu Jho dan Ethan mengikuti langkahnya.


Jho mengambil alih kemudi, Nathan masuk ke jok bagian belakang dan Ethan masuk ke jok penumpang di bagian depan.


"Kita harus menyembunyikan Sachi sebelum orang-orang Daddy menemukannya!" Celetuk Ethan cemas.


Nathan mengusap wajah "Kenapa tidak terpikirkan dari tadi?" Batinnya.

__ADS_1


Jho menyalakan mesin dan segera melajukan mobilnya. Gurat kecemasan tertampil di masing-masing wajah tampan ketiganya.


"Ini semua salah mu! Seharusnya kau tidak membawa Sachi ku ke sini I-then!" Pekik Nathan.


"Apa Abang memberi tahu ku? Kau bahkan sangat pengecut, Abang cuma bisa menyembunyikan keberadaan istri ke dua mu saja! Sekarang masih bisa Abang menyalahkan ku hah?" Tampik Ethan tak mau kalah.


Emosi masih menyulut keduanya bahkan setelah menyematkan panik pada wanita cantik yang sama.


"Sudah-sudah, bisa diam tidak kalian hah!" Saking geramnya Jho sampai lupa posisi dia yang hanya asisten saja "Kenapa berantem seperti anak kecil? Sekarang lebih baik Bos cek ke orang-orang yang sekarang masih berjaga di sekitar rumah sakit, aman tidak di sana?" Lanjutnya.


"Bodoh, kenapa baru bilang!" Nathan menoyor kepala asistennya "Hassial!"


Dia raih ponsel anti air dari dalam saku celananya lalu sedikit mengelap gawai tipis itu dengan tisu, di layangkan nya panggilan pada salah satu anak buahnya dan langsung tersambung.


📞 "Iya Tuan."


"Nona kalian sudah sampai di rumah sakit kah? Kalo sudah kau suruh dia menunggu ku!" Titah Nathan.


Jho dan Ethan melirik ke arah spion menyimak percakapan laki-laki tampan itu.


📞 "Maaf Tuan, itu yang dari tadi saya informasikan, bukanya saya sudah memberi tahu anda? Sudah dari jam lima sore Ibu Nona Sachi di pindahkan. Saya masih sering mengecek daftar pasien dan belum ada nama Ibu Mariam dan Nona Sachi lagi, kemungkinan mereka sudah tidak di rumah sakit Hardiansyah lagi."


"Apa?" Nathan tersentak mendengar penuturan kata anak buahnya "Jangan bilang Baby benar-benar pergi meninggalkan ku?" Batinnya.


Ethan menoleh ke belakang "Ada apa Bang? Sachi kemana? Kenapa Abang diam saja?" Teriaknya.


Nathan kembali melayangkan panggilan pada anak buah lainnya, dia menelepon ke rumah kediaman rahasia Sachi. Tak lama kemudian panggilannya terjawab.


📞 "Iya Tuan."


"Nona mu ada?" Nathan bertanya lirih karena tidak yakin jawaban dari seberang sana akan sesuai dengan keinginan dirinya.


📞 "Nona Sachi tidak kembali setelah membawa Nyonya Mariam ke rumah sakit, Tuan!"


"Apa?" Pandangan Nathan mengabur seketika itu juga, lalu di mana Sachi sekarang? Tubuhnya bergegar.


Jho melirik sekilas ke arah spion "Jadi kita harus kemana Bos?" Tanyanya bingung, setelah menyimak raut wajah Nathan yang setengahnya frustasi Jho sedikit mengurangi laju mobilnya.


"Bang! Kita harus kemana?" Timpal Ethan.


Nathan masih bergeming di tempatnya, ponsel yang dia genggam sudah tak mampu dia pertahankan. Kenapa rasanya lemah sekali menerima berita ini? Kehilangan Sachi, bukanlah cita-cita nya.


Hari ini dia terlalu sibuk sampai tak sedikitpun memikirkan kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi pada istri ke dua nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung, ....


__ADS_2