Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Aku Lelah!


__ADS_3


"Pagi istri ku."


Nathan mengecup bibir isterinya saat netra sebening embun pagi itu mulai terbuka.


Di balik selimut tebal Sachi menggeliat sambil menyapu matanya hingga pandangan nanar berubah terang benderang.


Sachi melirik ke arah jendela besar yang terletak di sisi kanan ranjang miliknya, di mana cahaya sang surya sudah menerjang masuk hingga menyelimuti sebagian kamarnya.


"Emmmh, pagi Hubby." Peluk cium untuk Nathan yang sudah rapi dengan pakaian eksekutif nya.


Sachi menggulingkan tubuh suaminya hingga terbaring di sisinya yang kemudian ia tindih tanpa perduli sudah siang.


"Baby mandi, terus sarapan, suami mu mau langsung berangkat ke kantor, jadi sebelumnya pakai kan dulu dasi ku." Nathan berusaha bangun dari tempatnya tapi tubuh Sachi terus menguasainya.


"Nanti malam datang lagi kan hmm?" Tanya Sachi sambil mengusap-usap bibir suaminya sedang wajahnya tersungkur di ketiak wangi maskulin laki-laki tampan itu.


Nathan mengelus lembut pucuk kepala Sachi "Malam ini nggak bisa sayang, Daddy Dylan hanya memperbolehkan suami mu keluar malam satu kali dalam seminggu." Sambung laki-laki itu lembut.


Sontak Sachi mendongak menatap protes wajah tampan suaminya "Loh, kok dikit banget, cuma satu hari dalam seminggu? Kita lama nggak ketemu loh Yank, baru satu malam nginep paginya udah pulang lagi, terus aku harus menunggu Minggu depan buat ketemu suami ku lagi begitu?" Ungkap nya.


Nathan tersenyum "Sabar sayang, nanti setelah Keenan melahirkan, kita baru bisa sering-sering ketemu, untuk sementara waktu dia membutuhkan seseorang untuk menemani tidurnya, kamu tahu kan ibu hamil memang berbeda, akhir-akhir ini Keenan sering sulit tidur, sebagai sesama wanita, aku harap Baby mau mengerti." Ujarnya lembut namun selembut apa pun itu tetap saja perkataan laki-laki ini menyakitkan.


"Lalu kenapa harus menikahi ku? Kalo sudah cukup dengan satu istri kenapa menikah lagi? Tidak bisa adil membagi waktu kenapa berani memperistri ku?" Sachi duduk seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


Bulir bening pun berjatuhan tanpa bisa dia tahan barang sebentar, berbagi suami memang sangat menyakitkan meski dirinya sendirilah yang memutuskan untuk menjadi istri ke dua suaminya.


Nathan duduk lalu memiringkan kepalanya berusaha melihat wajah cantik isterinya yang sudah kuyup oleh derai air mata "Ssuutt." Nathan menyeka pipi mulus wanita itu.


"Aku tahu ini tidak adil untuk mu, aku tahu ini menyakiti hati mu, tapi percayalah, semua ini akan segera berakhir, berikan aku waktu untuk bisa menyelesaikan masalah ku." Bujuk Nathan.


"Masalah yang mana?" Sachi menatap tajam iris biru milik laki-laki penguasa itu "Masalah yang kamu cari sendiri kan? Kenapa tidak Om ceraikan saja istri sombong Om! Dia juga bukan hamil anak mu!" Berawai nya lalu berpaling kembali.

__ADS_1


Tak bisa di turus kan perdebatan ini, Nathan yakin bukanya membaik justru hanya akan saling menyakiti saja, dari awal Sachi tahu dirinya akan menjadi istri ke dua, jadi apakah pantas menuntut hal seperti ini darinya?


Nathan beranjak dari duduknya kemudian mencondongkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah cantik Sachi "Ini sudah siang, Daddy harus pergi." Pamitnya, Sachi bahkan tak menyadari senyum tipis yang tercipta dari bibir laki-laki itu pagi ini.


Nathan mengusap lembut perut rata isterinya "Semoga dalam perut ini akan ada Baby yang memanggil ku Daddy. Baby yang benar-benar darah daging ku. Baby yang lahir dari rahim wanita kesayangan ku, Baby hasil kerja keras kita semalaman ini." Di kecup nya puncak kepala wanita itu kemudian berjalan perlahan menuju pintu keluar.


"Daddy!"


Mendengar itu Nathan menoleh dan berhenti menatap isterinya beranjak dari tempat tidur, Sachi keluar dari selimut dan menunjukkan tubuh seksinya karena hanya di balut dengan sepasang bikini merah saja.


Nathan tersenyum sambil menatap lekat wajah Sachi yang meskipun marah tetap memasang kan dasi untuknya.


"Hati-hati." Ucap Sachi lalu Nathan memberikan kecupan lembut pada kening dan seluruh wajah wanita itu.


"Aku berangkat." Nathan mengakhiri perjumpaan mereka dengan kecupan di bibir istri simpanannya sebelum kemudian ia kembali melanjutkan langkah keluar dari kamar.


Sachi hanya diam menatap nanar berlalunya punggung bidang suaminya "Aku yang bodoh, kenapa harus jatuh cinta pada mu, dari awal aku tahu, aku hanya akan menjadi simpanan mu saja, kenapa juga aku harus benar-benar menaruh hati padamu?" Gumamnya lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sachi menghela sebal "Dia pikir aku sugar Baby yang gila belanja! Dia pikir aku senang dengan ini semua, untuk apa belanja, untuk apa pakaian baru, perawatan mahal, tapi bertemu cuma seminggu sekali." Gerutunya.


Ada getaran panas yang barusan membuncah dalam dadanya. Sachi tak mau membalasnya lagi, biar saja Nathan kelimpungan mencari kabarnya, apakah sanggup laki-laki itu tidak mendapat sedikitpun warta darinya.


Sachi mematikan ponselnya "Aku akan aktif kan satu Minggu lagi." Gumamnya lalu meletakkan gawai tipis itu ke dalam laci nakas.


Nasib yang malang!


Sachi bisa terlepas dari suami parasit nya dan sekarang terjerat cinta laki-laki beristri, menjadi pelakor tidak berhak bahagia, dia bahkan terus menerus mengutuk dirinya sendiri.


Mungkin memang sudah takdirnya seperti itu, sudah lah Sachi berusaha menerima nya, yang terpenting adalah dia bisa membiayai pengobatan sang ibunda tercinta.


Sekarang Sachi sudah bisa memiliki dokter dan tim medis khusus yang berbolak-balik ke rumahnya untuk merawat Mariam secara langsung.

__ADS_1


Beberapa pelayan, pengawal, dan sopir juga Sachi miliki, terlepas dari cinta rumit yang ia geluti, hidupnya sudah sangat nyaman sekarang.


"Buk, Sachi mau pergi jalan-jalan sekalian mau nebus obat buat Ibu, Ibu nggak papa kan Sachi tinggal?" Sachi berpamitan pada ibundanya yang kini terbaring lemah pada ranjang kamarnya di temani beberapa pelayan.


Mariam mengangguk "Pergilah, hati-hati, semoga kebaikan selalu menyertai mu." Doa yang selalu wanita tua itu lantunkan teruntuk putri tercinta.


Sachi tersenyum "Aamiin, terimakasih Ibu." Ucapnya, lalu beranjak dan pergi keluar dari kamar ibunya setelah satu kecupan di kening Marian wanita itu berikan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kursi putar kebesarannya, Nathan ripuh bahkan keningnya mengerut saat mendengar suara orang lain yang merespon panggilan teleponnya.


"Maaf, nomor yang anda tuju sedang berada di luar servis area, cobalah beberapa saat lagi."


Nathan berdecak "Kenapa di matikan? Apa dia lupa mengisi daya baterai?" Gumamnya bertanya-tanya.


Nathan baru menyadari bahwa dirinya belum mendapat kabar Sachi dari setelah berangkat ke kantor meninggalkan wanita itu dalam keadaan marah.


"Apa dia masih marah padaku?"


Dari sofa ruangan tersebut, Jho memandang remeh Tuan mudanya "Mana ada wanita yang tidak marah, bahkan di tinggal begitu saja setelah semalaman menemani mu tidur, dulu janji mu ini itu, sekarang hanya memberinya satu hati dalam seminggu?" Ujarnya memojokkan.


Nathan mendengus sebal "Kenapa sulit sekali membuat kalian mengerti? Secepatnya dia akan menjadi satu-satunya wanita yang ku miliki, semuanya butuh proses." Sanggah nya lagi.


"Bukan masalah itu Bos! Masalah nya adalah, bagaimana cara mu menyelesaikan masalah itu sendiri? Apa hanya dengan menutupi perbuatan adik kesayangan Bos, masalah di hidup Bos selesai?" Sambung Jho menyudutkan.


Harusnya kebahagiaan, ketenangan, keselarasan, kedamaian, keseimbangan, milik sendiri adalah prioritas!!


Akan tetapi, Nathan justru melibas semua masalah untuk dia tanggung sendiri, alasannya adalah tidak ingin sampai Dylan menghukum adik satu-satunya, yaitu Ethan.


Jargon klasik yang terlalu menyebalkan bagi Jho dari Nathan adalah "Bahwa akan indah pada waktunya!"


Jho keluar dari ruangan "Aku lelah!" Katanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung....


__ADS_2