
Crack!!
Sachi membuka lebar bibirnya saat menatap ke arah dada miliknya, dimana gaun indahnya basah terkena siraman jus cranberry.
Bahkan sepatutnya juga ikut terkena cipratan minuman berwarna merah itu.
"Maaf, sengaja!" Sachi melirik ke arah Keenan yang membisikkan kata-kata itu padanya.
Keenan menyeringai "Gaun mu bagus tapi lebih bagus kalo sedikit ada warnanya!" Ucapnya.
Ingin sekali mengacak-acak rambut wanita hamil itu tapi Sachi masih punya kesadaran dan peri kemanusiaan.
Dua sapu tangan merapat di hadapannya secara bersamaan, Sachi menatap kedua pria pemberi helaian merah itu padanya.
Ethan dan Nathan berwajah peduli padanya dan itu sempat membuat dirinya bingung harus menerima yang mana.
Satu suaminya, tapi tidak mungkin menerima karena hadirnya di sana adalah sebagai kekasih pura-pura nya Ethan.
Keenan mengepalkan tangan menatap jengkel kedua pria yang memperdulikan saingannya, jelas Keenan tersaingi dari segi pesona, usia dan yang lainnya.
"Terimakasih," Dua duanya Sachi terima lalu berpamitan "Maaf, tapi aku harus ke toilet." Ujarnya.
"Biar aku antar!" Kata Ethan.
Sachi menggeleng "Tidak usah! Aku bisa sendiri!" Ia menolak tawaran laki-laki itu dengan senyum tipisnya.
Gegas Sachi berjalan menuju sudut tempat, sejatinya Sachi sendiri belum tahu di mana toiletnya, ya sudahlah, Sachi masih bisa bertanya pada pelayan atau pengunjung lainnya.
Sachi menyelusup di antara para tamu undangan hingga sosoknya berlalu dari ballroom.
Tiba di sebuah lorong.
Langkah kaki besar dalam tempo cepat terdengar mendekat dan tangan besar seseorang meraih pergelangan tangan mulusnya.
Sachi tersentak.
Di toleh nya laki-laki itu, rupanya Nathan yang menarik dirinya secara paksa "Om! Apa-apaan ini?" Tampik nya.
Nathan terlihat menekan earphone di telinganya "Pastikan tidak ada yang melihat ku bersama istriku!" Titahnya mendominasi.
"Beres Bos!" Sahutan yang Nathan dengar dari earphone miliknya.
Sachi kewalahan menolak ajakan suaminya hingga terseret dan membuatnya kesulitan melangkah "Lepas Om!" Pekiknya.
Nathan tak perduli, dia terus menariknya hingga memasuki lift, tak ada pertanyaan Sachi yang Nathan jawab.
Nathan hanya diam meluruskan pandangan sambil mempertahankan posisi tangan dan tubuh istri ke dua nya agar aman di sisinya.
Sachi mengernyit saat lantai bawah yang Nathan tuju "Apa kau mau mengusir ku dari sini? Tidak perlu kau usir Om, aku bisa pulang sendiri!" Teriaknya histeris yang hanya sia-sia.
Tiba di lantai yang dia tuju, Nathan kembali menarik paksa pergelangan tangan Sachi dan sepertinya Sachi mulai kesakitan atas perlakuan tersebut.
"Lepas!"
__ADS_1
Tubuh Sachi yang membatu membuat langkah Nathan terhenti, Nathan tak kalah ide, dia meringkus raga mungil isterinya lalu melanjutkan melangkah menuju sebuah kamar presidential suite.
Dua penjaga telah bersiaga membukakan pintu untuknya, Nathan masuk membawa tubuh sang istri dan menghempas raga mungil itu pada ranjang berukuran super king miliknya.
Ranjang yang dia sewa untuk bermalam dengan isteri pertamanya, kini terpaksa dia berikan pada istri ke dua nya.
"Om!" Sachi secara cepat berdiri kembali dan setangkup bibir mendarat sempurna membungkam mulutnya yang berteriak.
"Emmmm!" Di pukul nya dada bidang laki-laki itu dengan tinju kecil yang tak seberapa mempan.
Rindu yang di balut murka menguasai hati Nathan sekarang, Sachi hanyalah miliknya, takkan pernah dia berikan pada orang lain.
Dulu dirinya merelakan istri pertamanya tapi entah kenapa rasanya sulit sekali menerima Sachi berdekatan dengan pria selain dirinya.
"Aahh!" Nathan meremas gemas bagian dada isterinya hingga berdesah "Cukup, hentikan, Om!" Tolak Sachi histeris.
Nathan tak mengindahkan penolakan itu, Nathan justru semakin gencar memainkan benda kenyal tak bertulang miliknya di area leher sang isteri.
Sebelah tangannya merangsek masuk ke dalam CD tali kecil milik Sachi, gaun pendek yang sedikit tersingkap ke atas benar-benar melancarkan aksinya.
"Ough! Om! Cukup! Hentikan kataku!" Tubuh Sachi bergetar hebat merasai paksaan suaminya.
"Kamu tahu, kamu hanya milikku Baby! Ini hukuman karena sudah berani mengkhianati suami mu!" Sepenggal kalimat yang membuat Sachi bergidik ngeri.
Nathan hempas tubuh Sachi kembali hingga terlentang di atas ranjang empuknya, dia mengutak-atik kepala gesper mahalnya, menurunkan resleting juga membebaskan sang junior.
Hanya sedikit saja menyentuh wanita cantik itu, Nathan tak pernah mampu menekan hasratnya.
Nathan melepas jas hitamnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
Sachi yang baru saja akan beranjak dari posisinya sudah terhalang oleh tindihan tubuh bidangnya.
"Jangan! Jangan lakukan Om!" Tolak Sachi memekik juga meronta.
Apalah daya? Kedua tangan Sachi justru terbelenggu ke atas oleh tangan kiri Nathan sementara sebelah tangan Nathan lagi menggeser tali kecil yang menghalangi tubuh inti wanita itu.
Di masukan nya pusaka milik Nathan ke dalam selongsong mulus Sachi dengan gerakan pemaksaan.
Sachi membulatkan matanya, sungguh tak menyangka Nathan tega melakukan hal seperti ini padanya "Sakit! Tolong hentikan!" Pekiknya.
Tentu saja sakit, jika dilakukan dengan cara memaksa, tak ada kontribusi diantara keduanya untuk saling merasakan kenikmatan.
Nathan benar-benar gelap mata karena kecemburuannya, baginya silahkan Keenan di hamili Ethan tapi Sachi takkan pernah dia biarkan tersentuh oleh siapapun orangnya.
"Agh!" Nathan memejamkan matanya merasakan remasan yang mematuk hangat miliknya "Asal kau tahu Baby, sengaja malam ini aku siapkan kejutan untuk mu, tapi kamu mengecewakan ku!" Dia menghentak dengan kasar tubuh wanita itu.
"Sakit Om! Hiks hiks!" Keluh Sachi menghiba. Bukan buliran lagi, tapi lelehan air yang berderai dari netra sebening embun pagi milik Sachi.
"Hatiku lebih sakit, Baby!" Sambung Nathan.
"Hiks hiks!" Sachi hanya bisa menerima perlakuan suaminya, setidaknya sampai selesai sang junior memuntahkan lahar hangat pada tubuh intinya.
Setelah itu, Nathan mencabut miliknya kemudian membetulkan kembali resleting dan ikat pinggangnya.
__ADS_1
Sachi meringkuk sambil terisak, kondisinya sangat memprihatikan, Nathan mengelap milik Sachi dengan tisu basah yang teronggok di atas nakas.
Ia membersihkan seluruh cairan yang masih menempel di tubuh inti Sachi lalu membetulkan kembali penutup dalam wanita itu.
Lihat lah, sekarang Nathan baru menyadari betapa kalap dirinya menghukum isteri kesayangannya.
Nathan berbaring di sisi Sachi lalu mengelus lembut pipi mulus wanita itu "Aku cemburu!" Katanya lirih. Iris birunya seolah berpendar karena kaca-kaca yang tiba-tiba meluap.
Tak ada sahutan dari Sachi selain isak tangis yang tiada jeda.
"Jangan pernah berpikir untuk mempermainkan ku, kamu tahu kau hanya milikku, Baby!" Lirih Nathan yang penuh penekanan di setiap katanya. Dominasi sang penguasa terus memberi perintah itu.
Sachi menatapnya tajam "Ceraikan aku!" Pintanya tanpa ragu.
"Tidak akan pernah!" Sergah Nathan keras.
Sachi beranjak dari tempatnya lalu melangkah menuju pintu keluar, sayangnya Nathan menghalangi jalannya.
"Jho yang akan mengantarmu, sementara diam lah di sini!" Titah nya.
Sachi mendongak menatap wajah tampan laki-laki itu karena tinggi mereka yang jauh berbeda "Pikir mu, kau siapa? Setelah memperlakukan ku seperti wanita murahan, kau pikir aku masih akan bertahan dengan mu? Cih!" Decih nya.
"Kau tahu aku tidak memandang mu murahan, kau istri ku, kita sudah menikah, tentu saja aku berhak mendapatkan nya!" Sanggah Nathan.
Sachi melepas smirk "Aku istri yang kau datangi jika ingin saja, sedang Keenan, istri yang kau sayangi, kau cintai dengan tulus, bahkan tanpa mendapatkan pelayanan batin darinya! Begitu lah sejatinya cinta mu, Tuan muda Nathan!" Berawai nya.
Nathan menggeleng "No! Cinta ku hanya padamu Baby!" Tampik nya pasti.
"Bulsyiittt!" Sergah Sachi memekik "Buktinya setelah apa yang Keenan lakukan padamu, kau lebih mempertahan kan nya, bangga sekali kau tersenyum mengakui anak yang bukan hasil kerja mu! Sekarang aku menuntut cerai dari mu Tuan! Biar aku saja yang menyerah!" Katanya lantang.
Rahang Nathan mengeras "Ingat, aku bisa saja mencabut semua fasilitas yang ku berikan padamu Baby! Kau masih membutuhkan ku!" Katanya.
Sachi tak perduli dengan ancaman itu, dia melangkah kembali ke arah pintu dan Nathan meraih lengannya lagi "Jangan macam-macam Baby! Kamu tahu aku mencintai mu lebih dari apa pun! Kenapa tidak mau bersabar menunggu sampai aku bisa menceraikan Keenan?" Pekiknya.
"Takkan pernah terjadi karena kau mencintai nya juga!" Sanggah Sachi, wanita itu berteriak histeris dengan tatapan menceku "Malu lah dengan kata-kata cinta yang terus kamu seru kan Tuan muda Nathan!" Lanjutnya.
Sachi merentangkan kedua tangannya "Aku menyerah menjadi wanita mu! Ambil saja semuanya, ambil semua fasilitas VVIP yang kau berikan padaku dan Ibu ku!" Tambahnya tanpa ragu.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri!" Jari telunjuk Sachi terarah lurus pada wajah tampan suaminya "Kau ingat Tuan muda Nathan! Aku bukan wanita lemah! Selama ini aku bertahan menunggu mu karena rasa cinta yang entah darimana datangnya ini!" Dia tepuk dada nya beberapa kali tanda kekecewaannya.
Tak ada jedanya air mata yang mengalir bebas, hingga sebagian make up di wajahnya sudah terhapus dan menyingkap kecantikan alaminya.
"Bersabarlah, aku pasti menjadikan mu satu-satunya istri ku, aku benar-benar sangat mencintai mu, Baby!" Nathan merengkuh tubuh Sachi begitu posesif.
"Lepas!" Setelah berhasil terlepas Sachi melayangkan tamparan keras pada pipi sebelah kiri suaminya.
Nathan berpaling, bukan karena rasa sakit tapi karena tersulut nya amarah wanita itu yang tak mampu dia redam. Mana bukti cinta yang terus dia proklamirkan?
"Aku harus pergi menemui Ibu ku, sekarang lepaskan aku! Atau aku benar-benar akan menuntut mu Nathan!" Teriaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Tekan tombol Love untuk terus mengikuti alur novel ini. maaf nggak bisa balas satu persatu komentar, Bukan sombong tapi kalo ada waktu aku gunakan untuk menulis biar lancar jaya up nya Karena kan Ayu punya banyak urusan juga hehe🤗 hari ini triple up deh, minimal dobel deh 🤭
__ADS_1