
Nathan sudah mendatangkan tim medis beserta alat-alat yang di perlukan untuk perawatan Sachi.
Awalnya dokter hanya memberikan Sachi infus tapi setelah mendiagnosis wanita itu. Rupanya gejalanya seperti tanda-tanda kehamilan.
Pada akhirnya, dokter meminta Nathan untuk memberinya izin mendiagnosa Sachi dengan mendatangkan juga beberapa alat medis yang di perlukan seperti Ultrasonografi (USG) yaitu alat bantu diagnostik yang sudah umum digunakan terutama di bidang kebidanan untuk melihat kondisi janin di dalam rahim ibu hamil juga untuk melihat organ-organ lainya di dalam perut.
Tentu saja Nathan mengizinkan, apa pun yang membuat Sachi nyaman dan aman akan dia berikan, sekarang Sachi masih nyaman dengan pejaman matanya, sepertinya dia sangat kelelahan, perlahan tapi pasti bibir pucat Sachi berangsur merona kembali.
"Selamat Tuan muda, Nyonya muda sekarang sedang hamil, di lihat dari ukurannya, umur janin Nyonya muda sudah memasuki Minggu ke tiga belas." Ucap dokter itu seraya membereskan alat-alat kedokteran miliknya.
"Terimakasih banyak Tuhan!" Ucap syukur Nathan seraya memejamkan matanya pelan "Akhirnya, aku menemukan nya di waktu yang tepat." Gumamnya lirih.
Nathan beralih pada dokter "Lalu bagaimana dengan kondisi janinnya Dok? Bukankah tadi dia mengeluarkan darah?" Tanyanya.
"Syukurlah janin Anda baik-baik saja meskipun sempat terjadi benturan. Itu lah makanya, saya sarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang berlebihan, karena ini bisa membahayakan janinnya, di trimester pertama kehamilan memang sangat rentan, maka itu, Tuan harus memastikan keamanan dan kenyamanan Nyonya muda. Untuk membantu janin, saya akan berikan obat penguat kandungan sesuai dosis yang di perlukan." Ujar dokter menerangkan.
Nathan mengangguk "Kalo begitu, silahkan dokter beristirahat kembali, tapi mohon untuk bersiaga penuh, saat saya meminta Anda datang lagi." Sambungnya.
Dokter tersenyum "Baiklah. Saya permisi dulu kalau begitu." Pamitnya. Dokter laki-laki itu pergi keluar menuju kamar hotel sewaan fasilitas dari Nathan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah membersihkan diri, Nathan juga ikut memasuki selimut tebal yang menggulung tubuh isterinya. Nathan berbaring miring di sisi kanan wanita hamil itu sembari menatapnya.
Dia usap pipi mulus Sachi dengan ulasan bibir yang tersenyum tipis "Terus lah di sisi ku, seperti ini." Ucapnya.
Bibir sensual laki-laki ini mendarat pada kening isterinya, kemudian bersamaan dengan itu Nathan merasakan pergerakan wajah Sachi dan tubuh yang menggeliat.
"Baby!" Nathan tatap wajah Sachi yang perlahan membuka netra dan menampilkan sklera kemerahannya.
Sepertinya, Sachi tersentak saat menyadari dirinya berada satu selimut bersama suaminya, di edarkan pandangan ke segala arah, rupanya Nathan telah memberinya fasilitas medis, kabel kecil yang menempel di tangan kirinya membuatnya tak bebas bergerak.
Ingatan Sachi pun kembali saat dirinya terjatuh dan tidak sadarkan diri di lantai tangga darurat ketika berlarian "Oh Tuhan, pasti Om Nathan yang membawa ku ke sini, dia pasti berniat mengurung ku lagi." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Matanya terpejam penuh sesal "Usaha ku menghindari nya jadi sia-sia sekarang, akan lebih sulit bagi ku melarikan diri lagi!"
"Kenapa bangun? Istirahat dulu saja." Ucap Nathan sembari mengusap lembut pipi isterinya dan Sachi begitu menikmati sentuhan itu.
"Kamu kecapean sayang, makanya tadi pingsan, kata dokter, flek yang keluar, itu akibat dari benturan, tapi untungnya tidak sampai melunturkan janin kita, sekarang Baby tidak boleh terlalu banyak bergerak, biarkan Daddy yang melakukan apa pun untuk mu, sebentar lagi kita punya Baby kan hmm?" Tambahnya.
"Maaf kan Daddy, sudah membuat mu patah hati, asal kau tahu Baby, aku sudah mencari mu kemana mana, bahkan hampir frustasi." Timpalnya.
Sachi terdiam menatap dilema kearah suaminya, di satu sisi dia ingin pergi tapi lemah pada sekujur tubuhnya tak mengizinkan dirinya meronta barang secuil, maka untuk kali ini hanya diam saja yang Sachi lakukan.
Nathan memangkas jarak lalu mengecup bibir mungil isterinya, sebelah tangan Nathan merangsek membuka bibir Sachi dengan menekan dagu Sachi menggunakan ibu jari.
Entah kenapa, Sachi hanya diam saja menerima kecupan manis itu, mungkin juga karena dirinya masih mencintai laki-laki ini.
Melihat ketidak penolakan Sachi, Nathan semakin menyatukan bibir mereka, bahkan kali ini, indera perasa Nathan mulai menyisir setiap inci isi dalamnya hingga membuat suara kecapan yang sangat nyaring.
"Aw, emmh." Ada suara desah di sela-sela kegiatan romansa sepasang suami istri itu.
Tangan nakal Nathan mulai berani menjelajahi seluruh liukan risa isterinya, dari leher lalu ke dada dan beralih ke perut tentunya setelah meremas lembut gundukan padat di atasnya terlebih dahulu.
Nathan berhenti lalu menatap wajah ayu perempuan itu sembari mengusap perut Sachi yang sudah sedikit berisi "Jangan pergi lagi yah, please! Daddy mohon, jangan tinggalkan Daddy lagi. Besok, Daddy suruh Mammi dan Daddy mertua mu ke sini, dia pasti senang dengan berita kehamilan mu sayang." Katanya berbisik mesra lalu Sachi masih hanya setia dengan geming hening senyap sepi nya saja.
Nathan mengusap pipi Sachi kembali.
"Oya, kabar ibu gimana? Kamu tidak kekurangan uang kan? Kenapa kamu bisa sampai ke gedung ini? Apa Baby bekerja lagi?" Tanyanya yang tak mendapat sedikitpun jawaban.
"Maaf, sudah menyia-nyiakan mu, maaf kan aku sayang, dalam keadaan hamil kamu harus merawat ibu, maaf." Ucap Nathan lirih.
"Tidak semudah itu aku memaafkan mu Tuan muda, enak saja! Kau pikir aku wanita tertindas apa?" Batin Sachi.
"Oya. Baby mau apa hmm? Makan buah? Ikan bakar? Atau apa? Biar Daddy siap kan sekarang juga." Tawar Nathan kemudian.
Hotel bintang lima ini sudah pasti akan memberikan servis yang baik dalam urusan perut. Nathan yakin Sachi mau menerima tawarannya.
__ADS_1
Mata Sachi menyipit penuh siasat "Iya juga. Aku butuh tenaga buat bisa lari dari sini bukan? Baiklah, aku harus banyak makan sekarang! Lagi pula Baby ku juga pasti kelaparan di dalam perut. Sekalian saja aku kerjain om-om ini!" Batinnya.
Nathan memangkas jarak "Kamu mau apa?" Nada laki-laki itu lembut juga penuh intonasi kemesraan "Bilang saja sayang." Katanya
"Ikan bakar tapi tidak terlalu gosong, lalapan yang di matangkan dulu dengan cara di rebus, juga sambal yang tidak membuat ku kepedasan!" Pinta Sachi.
Nathan tersenyum akhirnya setelah sekian menit, Sachi mau menjawab pertanyaan nya "Baiklah, eh tapi," Nathan mengernyit protes "Kenapa pake sambal kalo tidak mau pedas? Lagi pula, sambal tidak baik untuk baby kita sayang!" Jawabnya.
"Makanya, Om pisahin dulu biji cabenya, baru setelah itu di goreng lalu di tumbuk sampai halus! Kalo cuma kulitnya yang di tumbuk, sambal itu tidak akan pedas!" Sambung Sachi.
Nathan menyimak setiap kata-kata yang berderai dari bibir manis isterinya, di lihat dari sisi manapun, sepertinya Sachi menyuruh dirinya terjun langsung dalam hal itu.
"Jadi maksudnya, Baby menyuruh Daddy yang membuatnya begitu?" Kejutnya dan Sachi mengangguk mengiyakan.
"Tidak mau ya sudah, aku tidak akan makan!" Sachi mengalihkan pandangan dengan ekspresi ngambek.
"Apa ini permintaan Baby kita? Apa tidak bisa biar koki saja yang membuat nya sayang?" Ucap Nathan memelas "Lagi pula bukanya nanti justru kelamaan bikinnya, kan suami mu ini belum tau cara memasak yang benar." Alasannya.
"Untuk sementara aku mau makan masakan koki dulu, nah setelah Om selesai masak, baru deh, aku makan masakan Om. Akhir-akhir ini makan ku makin banyak, karena ada Baby kecil di perut ku, Om." Kilah Sachi.
"Baik lah." Ucap Nathan mengangguk "Aku suruh saja Jho yang bikin, Baby juga tidak akan tau siapa yang bikin kan?" Dalam batinnya Nathan tergelak seolah sudah merasa menang.
"Kalo begitu, Baby tunggu di sini, Daddy harus memenuhi kemauan pertama Baby kita dari Daddy nya." Nathan mengecup singkat ubun-ubun wanita itu lalu meraih ponsel miliknya dari sisi kanan kepala Sachi.
Lantas kemudian, Sachi merebut paksa gawai pipih itu dari tangan suaminya.
"Jangan lupa lakukan itu sambil video call, aku mau lihat secara langsung cara masak Om. Hp ku sudah ku jual, jadi Om harus pakai HP Om Jho untuk menerima panggilan video dari ku." Katanya memerintah.
Nathan melotot "W-what?" Protesnya.
"Kenapa? Keberatan?" Sachi menaikan ujung alisnya.
Tuhan, aku lupa kalo istri ku se_licik itu..."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... pengennya langsung banyak, tapi menulis butuh ketenangan, sedang aku masih banyak kerjaan, jadi maaf, nyicil dulu ya. Setelah ini, Up lagi insya Allah.