Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Ikhlas


__ADS_3

Dalam kamar pengantin serba putih, kelopak bunga mawar merah berhamburan di atas ranjang. Bangunan mewah yang di kelilingi kaca transparan membuat ruangan tersebut lebih terang.


Panorama pantai yang menentramkan telah memanjakan mata sang mempelai wanita, kebetulan, seluruh kamar di rumah milik Dylan menghadap ke arah lautan luas.


Ombak itu terus saja menyapu setiap titik-titik untaian lukisan yang terukir di pantai. Jika di pikir, masalah hidup seperti riak di tepi pantai, ada kalanya ia akan datang bertubi-tubi lalu pada saatnya ia akan pergi.


Tertatih hidup Sachi di mulai dari semenjak sang ayah pergi meninggalkan dirinya, seandainya saja Ridho masih hidup mungkin Sachi tak perlu bekerja terlalu keras hingga menghalalkan segala cara.


Tidak akan di persanding Edric lantaran menabrak laki-laki malang itu, tidak akan dijadikan simpanan Nathan kendati sebuah tuntutan hidup. Mengingat kembali hal-hal di masa kelam, buliran bening meleleh membasahi pipi.


"Kenapa menangis?" Suara teguran yang terdengar dari sisi kanannya membuat Sachi menoleh.


Menyandang tuxedo mahal Ethan berdiri tepat di depan sosok cantik nya sekarang. Gaun putih yang mengekspos pundak hingga belahan dada, rambut disanggul kecil, riasan flawless, mereka saling berkonfrontasi seperti pasangan pengantin baru.


"Kenapa menangis, hmm?" Ulang Ethan, begitu menusuk tatapan pemuda tampan itu, sepertinya kekecewaan telah melandasi hatinya "Bilang kau tidak bahagia, sekarang juga, aku akan merebut mu dari Abang ku!" Tiraninya.


"Pergi!" Sachi melengos pergi sembari mengusap air mata di pipinya setelah mengusir pemuda itu "Jangan pergi!" Pekik Ethan dan keduanya saling menatap kembali setelah Ethan meraih lengan wanita hamil ini.


"Katakan kenapa kau menangis? Katakan kau tidak bahagia bersama Abang ku, aku akan membawa mu pergi dari sini, kita berdua lari bersama!" Ucapnya.


Sachi mengernyit "Apa sebenarnya maksud mu hah?" Tanyanya ketus.


"Sudah jelas, aku mencintaimu!" Sergah Ethan.


"Gila kamu hah? Aku istri Abang mu, aku kakak ipar mu!" Pekik Sachi yang tak sengaja melotot, bulatan mata sayup itu terlihat sangat cantik di mata Ethan.


"Bagaimana kalo ternyata, cinta memang buta? Aku tidak melihat ada kebahagiaan di mata mu, aku tahu kamu tersiksa batin berhubungan dengan Bang Nathan. Kenapa tidak kamu putus kan saja hubungan kalian hh?" Sanggah Ethan.


Jari telunjuk terarah lurus pada wajah tampan pemuda itu "I-then, jaga bicaramu, aku menangis bukan berarti tidak bahagia, wanita memiliki air mata untuk membuat mereka bangkit kembali, dan air mata ku sedang mengangkat ku dari keterpurukan, jangan sok tahu dengan hidup seseorang, urus saja dirimu sendiri!" Ketusnya.


Tatapan Ethan meredup "Jadi kau bahagia bersama Bang Nathan? Kau mencuri hatiku lalu menikah dengan Bang Nathan begitu hmm? Kenapa aku merasa Tuhan tidak adil padaku? Bukankah Tuhan yang memberikan rasa cinta ini padaku? Lalu kenapa kau harus menjadi milik Abang ku?" Ujarnya protes.


"Aku bahagia atau tidak, tolong hentikan kegilaan mu, aku bukan wanita yang pantas kau dekati, di luar sana, masih banyak wanita yang bisa kau jadikan istri I-then." Tutur Sachi keras.

__ADS_1


Ethan menggeleng "Bagaimana kalo ternyata, aku hanya menginginkan mu? Aku bahkan rela jika harus menjadi kekasih simpanan mu."


"I-then!" Teriakan Sachi bersamaan dengan tamparan keras pada pipi mulus pemuda itu, Sachi menatapnya tajam sekarang, lihatlah, riak di tepi pantai seolah ikut geram pada perlakuan tirani Ethan "Hentikan kegilaan mu, aku kakak ipar mu!" Lanjutnya.


Dalam diam Ethan menatap tajam wajah cantik Sachi, entah lah, kenapa rasanya sulit sekali menerima kenyataan pahit ini, playboy jatuh cinta, mungkin itu judul novel yang cocok untuk nya.


"Pergi kataku!" Usir Sachi sembari mengalihkan pandangan ke arah lautan lepas kembali.


"Baiklah, bahagia mu, bahagia ku, cintai Bang Nathan, sayangi Bang Nathan, jangan lupa, jika kamu bahagia ada doa ku yang selalu menyertai mu!" Langkah kecewa Ethan berlalu dari kamar pengantin itu, dan Sachi masih setia dengan geming hening senyap sepi nya.


Bertemu dengan kedua putra pewaris tahta kerajaan Jack group, bukan lah cita-citanya, sejatinya, tujuan hidup sederhana Sachi hanyalah untuk ibundanya.


Belasan tahun, Sachi hidup menjadi gadis sederhana. Rupanya, tepat di tahun ke sembilan belas, dia harus berurusan dengan harta, kisah rumit juga air mata kepedihan.


Nathan benar, jika saja mereka berjumpa saat Nathan sudah menjadi seorang duda, mungkin, status simpanan tidak akan pernah di sandang olehnya.


Apalah daya, garis hidup telah menuliskan seperti itu. Meski demikian Sachi pada akhirnya mampu membuat seorang Dylan Jackson merestui hubungannya bersama Nathan.


Suami Syah, telah dia raih. Bayi dalam kandungan juga tengah tumbuh dengan baik. Seharusnya bersyukur, tapi Sachi justru bimbang hati.


"Baby." Suara bisikan merdu mengalun mesra di telinganya, pelukan hangat mendekapnya lembut dari belakang "I love you!" Ucapnya dan sebuah kecupan di pipi menyusul. Sachi tahu, suara dan sentuhan itu berasal dari suaminya.


"Kita sudah di tunggu tamu undangan. Kenapa masih melamun di sini?" Tanya Nathan berbisik, sesekali menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher mulus wanita itu.


"Apa yang Daddy sukai dari ku? Apa yang membuat mu jatuh cinta padaku? Apa yang Daddy harapkan dari wanita biasa seperti ku?" Setelah lama terdiam Sachi bertanya balik pada suaminya.


"Semuanya!" Jawab Nathan cepat.


"Daddy menyukai sikap manja mu, menyukai ketegasan mu, menyukai kecantikan mu, menyukai wangi tubuh mu, kenyal bibir mu, merdu desah mu,.." Sachi memutar tubuhnya mendengar jawaban nakal suaminya.


"Apa itu alasan mu? Lalu kalo nanti ada gadis cantik yang lain lagi, yang lebih segalanya, Daddy akan berpaling dari ku?" Tanyanya menyudutkan.


Nathan menggeleng "Kenapa harus menanyakan itu? Apa tidak cukup bukti cinta yang selama beberapa hari ini ku tunjukkan? Apa Baby lebih menyukai hidup sendiri tanpa ku? Kenapa Daddy merasa, Baby masih belum memaafkan ku?" Sanggahnya.

__ADS_1


Sachi menggeleng "Sulit, karena aku pendendam!" Katanya mengaku.


Nathan menarik tubuh Sachi hingga masuk ke dalam dekapan hangatnya "Sesulit apapun, aku akan selalu menunggu, sampai waktunya Baby mau memaafkan, juga bisa mempercayai ketulusan hati ku." Ujarnya.


"Lihat saja, seberapa besar cinta ku, rasakan saja seberapa dalam sayang ku, pantau saja seberapa kuat kesetiaan ku, Baby tak perlu lagi repot-repot membalas ku, anggap saja, keberadaan mu di sisi ku, adalah timbal balik dari perasaan tulus ku." Ucap Nathan


Air mata yang sedari tadi mengintip kini menitih dari sudut netra Sachi hingga membasahi kemeja putih milik suaminya.


"Aku bukan simpanan kan? Aku istri mu kan? Aku cinta mu kan?" Tanya Sachi terisak. Entah lah, status simpanan yang pernah dia sandang menjadi traumatis terberat dalam hidupnya.


Nathan mengangguk "Baby istri ku, istri satu-satunya milik ku!" Katanya dan senyum tipis menyingsing di bibirnya "Aku milikmu, hanya milikmu." Tambahnya.


Mendengar ungkapan cinta yang terurai dari bibir suaminya, Sachi mempererat pelukan, merembah sudah air mata yang tiada mampu ia hentikan.


Di ambang pintu, sepasang mata cemburu menatap kedua mempelai itu, Ethan berdiri dengan tangan yang menggenggam erat topi hitam milik Sachi.


Genggaman tangan itu adalah tanda, bahwa ia sedang mencoba mengurangi goncangan yang terjadi pada hatinya.


"Ekm ekm!" Dahaman nya.


Sachi dan Nathan menoleh ke arah pintu, lalu kemudian Ethan mengayunkan langkah mendekati keduanya.


"Ini milik mu!" Ethan tersenyum getir seraya menyodorkan topi hitam milik Sachi dan di terima oleh sang mempelai wanita.


"Aku menemukannya, saat pertama kali kita bertemu." Ethan tersenyum getir kembali, mengingat kejadian malam itu, dimana untuk pertama kalinya genderang cinta berbunyi hingga menggetarkan gelora asmaranya "Malam itu, di parkiran klub saat pertama kali kita bertemu, aku menyimpan topi mu selama sepuluh bulan, sekarang, aku kembalikan padamu." Ujarnya.


"Terimakasih." Ucap Sachi lirih.


Ethan mengangguk kemudian melangkah keluar dari ruangan. 'Jika bukan dia yang Sachi harapkan, maka merelakan adalah hal ter_bijak. Sebab, Jodoh takkan mungkin salah hinggap di hati para hamba-hamba-Nya'.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....

__ADS_1


NB_ Quote di bagian paling bawah, aku ambil dari Ustadz Hanan Attaki.


__ADS_2