
Pukul tiga dini hari.
Di tempat luas yang berhiaskan guci mahal, lampu kristal, lukisan abstrak.
Jho melangkah dengan kaki tangan gemetar, memasuki ruangan milik sang Tuan besar. Sesekali berhenti untuk menghela napas panjang lalu membuangnya cepat.
Jho tau kali ini si raja singa tengah murka, bisa saja setelah menghukum kedua putra mahkota, Dylan melampiaskan kebuasan padanya.
Tatapan datar menyambut kedatangan nya sekarang. Tepat di depan meja kerja Dylan Jho berdiri menunduk masih dengan tangan dan kaki yang gemetar "Jho di sini T-tuan!" Katanya.
Entah kemana hilangnya kegagahan yang Jho unjuk pada semua bawahannya, menghadap Dylan semua itu seperti tak terlihat lagi.
Dylan memandang Jho santai, Dylan tau Jho sudah ketakutan, maka kali ini Dylan sedikit memberi ampun pada laki-laki itu, lagi pun Dylan tau tindakan apa pun yang Jho ambil, atas titah putra sulungnya.
"Apa kau yang sudah menghapus semua rekaman CCTV di klab dan hotel Miko?" Tanya Dylan.
Jho mengangguk pelan "I-iya Tuan." Jawabnya.
"Apa setelah ini aku yang Tuan cambuk? Bisa mati ketakutan sebelum di cambuk aku!" Batin Jho nelangsa.
"Pulihkan kembali semua video yang kau hapus, dan tunjukkan semuanya padaku!" Dylan mengibas-ngibas kan tangannya, memerintah tanpa bertanya dahulu, apakah bisa atau tidak karena Dylan hanya ingin mendapatkan satu jawaban yaitu bisa.
Jho mengangguk "B-baik Tuan, tapi saya perlu mengambil beberapa perangkat saya dulu." Ucapnya.
Dylan manggut-manggut "Pergilah!" Titahnya.
"Permisi." Jho keluar dari ruangan setelah mendapat izin dari Dylan.
Tak lama dari itu, Dylan membuka laptop miliknya, dan beberapa video yang Jho kirimkan kepadanya telah masuk.
Dylan memutar video yang tak bisa di temukan oleh orang-orangnya, sebab Jho langsung menghapusnya setelah kejadian tertangkapnya Keenan dan Ethan kala itu.
Tangan Dylan mengepal erat melihat setiap adegan yang tersuguh di layar laptopnya saat ini.
Gambar yang dia lihat adalah, ketika Keenan mendekati putra sulungnya padahal Keenan masih bersama Nathan dan Miko. Gambar beralih saat Keenan memapah tubuh Ethan keluar dari klab dan menaiki lift juga memasuki kamar sewaan milik Ethan.
Semua kejadian di malam yang kelam itu terekam kamera CCTV dan Dylan juga melihat bagaimana raut sendu Nathan ketika meninggalkan kamar Ethan.
Bahkan setelah memergoki isterinya berbuat tidak senonoh, Nathan hanya diam saja.
"Anak itu!" Dylan tau sekarang, rupanya Nathan sengaja menutupi kekhilafan putra bungsunya.
Apa yang sebenarnya ingin Nathan pertahankan? Apakah Keenan yang masih dia cintai? Atau kah Ethan adik kesayangannya?
Selama bertahun-tahun, Dylan memang tak pernah mengawasi putra sulungnya, Dylan sudah sangat percaya pada Nathan. Namun, setelah malam heboh di hotel. Dylan menugaskan antek-anteknya untuk membuntuti kemana perginya mobil Nathan dan berhasil membawa putranya kembali ke rumah sebelum pagi.
__ADS_1
"Anak naif itu benar-benar!" Gumamnya geram.
Dylan menoleh pada satu pria di sebelahnya, dia lah Reno sang asisten personal "Apa Keenan sudah melahirkan?" Tanyanya.
Reno mengangguk "Sudah Tuan. Baru beberapa menit yang lalu, orang-orang kita mengabarkan, bahwa operasi Nyonya muda Keenan sudah selesai, dan bayinya perempuan." Jelasnya.
Dylan terdiam sejenak "Ambil dari sana. Bawa pulang bayi itu." Titahnya kemudian.
Reno mengangguk "Segera Tuan!" Katanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya,
Suara tangis bayi terdengar riuh dari dalam kamar milik seorang wanita, dia lah Susi sang pengasuh yang bertahun-tahun lamanya tinggal di kediaman keluarga Jackson.
Dahulunya wanita paruh baya itu adalah pengasuh Ethan Erland Jackson, di usianya yang ke tujuh belas tahun Susi mengurus bayi Ethan hingga sekarang bayi yang dia asuh sudah berusia dua puluh empat tahun.
Rupanya, setelah sekian lama Susi di berikan kesempatan untuk mengasuh bayi lagi, yaitu putri kecilnya Ethan Erland Jackson yang lahir dari rahim Keenan.
Pukul empat dini hari, antek-antek Dylan membawa pulang bayi cantik itu ke rumah utama. Susi pun menyambutnya dengan antusias.
Untuk sementara waktu bayi mungil itu akan tinggal di kamar Susi, sebelum nantinya Dylan buatkan kamar khusus bayi perempuan.
Jelita yang mendengar tangisan cucunya bergegas menghampiri sumber suara, bukanya senang, rupanya Jelita justru terkesiap melihat Susi menggendong bayi mungil nan cantik itu.
"Mbak!" Jelita memanggil dan Susi menoleh sambil tersenyum, mengurus seorang bayi membuat wanita itu bersemangat meskipun bayi mungilnya belum bersahabat "Iya Nyonya."
"Kenapa Baby Valery di sini? Apa Keenan juga sudah pulang?" Tanya Jelita.
Susi menggeleng "Tidak Nyonya, Tuan besar bilang Nyonya Keenan sudah tidak akan pulang ke rumah ini lagi, dan Saya yang harus mengurus Baby Valery mulai dari sekarang." Jelasnya.
"Apa?" Jelita dibuat terperangah oleh penuturan pengasuh putranya "Apa maksudnya ini?" Tanyanya lagi.
"Saya tidak tahu Nyonya." Jawab Susi.
Gegas Jelita membalikkan badannya untuk kemudian meninggalkan Susi dan cucunya, Jelita kembali memasuki kamar miliknya.
Di dalam masih ada laki-laki berjambang yang meskipun sudah tua masih terlihat sangat tampan.
Dari semenjak melihat Dylan menghukum putranya, mereka tidak saling bersahutan.
Jelita masih kesal oleh kelakuan suaminya, di tambah lagi tindakan tidak berperikemanusiaan yang Dylan lakukan saat ini.
"Daddy!" Laki-laki itu menoleh sembari menorehkan senyum tipis padanya "Hmm? Pagi Baby." Sebutan sayang yang tak pernah lekang oleh waktu, Dylan serukan.
__ADS_1
Jelita berdiri tepat di depan suaminya dengan usungan rahang yang tegas "Maksud Daddy apa Keenan tidak pulang lagi ke sini? Maksudnya apa kamu bawa pulang Baby Valery ke sini tanpa ibunya?" Berang nya.
"Sudah jelas sayang." Dylan menaikan satu ujung alisnya "Mulai sekarang, Keenan tidak akan kembali ke rumah ini lagi, siang ini juga Daddy akan mengurus perceraian Nathan dan Keenan." Jawabnya.
Jelita terkesiap "Apa kamu sudah gila Dylan?" Sarkas nya.
Dylan mengernyit "Apanya?"
"Apanya katamu?" Sela Jelita mengernyit "Baby Valery masih membutuhkan asi, aku tidak mengerti dengan masalah Nathan, Ethan dan Keenan, tapi setidaknya kamu urus perceraian itu setelah Keenan memberi Baby Valery asi, apa tidak bisa kamu memiliki peri kemanusiaan sedikit? Kenapa sikap arogan mu tidak pernah hilang?" Berang nya.
"Ini lah Dylan mu, dari awal kau tau seperti ini lah aku, tidak ada seseorang yang akan lepas dari hukuman jika sudah berani bermain-main dengan ku!" Lirih Dylan yang penuh bobot tekanan.
"Kau tahu seperti apa suami mu Baby. Pengkhianatan tidak akan pernah di terima di rumah ini!" Dekrit nya.
"Daddy!" Dari ambang pintu suara memekik tertuju pada laki-laki bule bermata hijau itu. Dylan menoleh dan Nathan berdiri menatapnya protes.
Nathan baru saja tiba setelah semalaman mencari-cari Sachi yang belum juga bisa dia temukan keberadaannya.
"Apa lagi? Setelah menjadi laki-laki lemah apa kau masih sanggup memanggil ku Daddy?" Bentaknya melotot.
Nathan melepas smirk "Ini lah kenapa aku hanya bisa diam saja, ini yang ku takutkan, Daddy selalu bertindak dengan keinginan Daddy sendiri. Sekejam itu Baby Valery Daddy pisahkan dari ibunya? Dia masih sangat kecil!" Katanya memekik.
Selama ini Nathan memang sengaja menyembunyikan pengkhianatan Keenan, setidaknya sampai Baby Valery mendapatkan asi eksklusif dari ibunya minimal enam bulan sebelum kemudian Nathan akan menceraikan Keenan dan mengambil alih hak asuh bayi perempuan itu.
Putri pertama dari keturunan Dylan Jackson seharusnya memiliki nama belakang Jackson dan tinggal sebagai bagian dari keluarga Jackson.
Nathan tahu jika sampai Dylan mengetahuinya lebih awal, inilah hal kejam yang akan terjadi.
Yaitu.
Memisahkan bayi dari ibunya, bukankah sangat tidak berperikemanusiaan? Setidaknya itu menurut Nathan.
"Ini keputusan ku! Tidak ada yang bisa mengganggu gugat nya lagi! Segera tanda tangani surat cerai mu, di rumah ini tidak ada tempat bagi pengkhianat!" Ucap Dylan tegas. Laki-laki itu mengayunkan kakinya keluar dari kamar miliknya.
Setelah semalaman mengkaji apa yang Dylan telaah dari kasus kedua putranya, Dylan paham bahwa Keenan lah yang berkhianat.
Dylan memang tidak mendengar secara langsung penjelasan dari putranya. Sebab menurutnya, percuma saja Dylan bertanya pada Nathan, dia tahu sifat Nathan sama seperti isterinya yang tidak tegaan dan diam menerima perlakuan tidak adil. Maka Dylan sendiri lah yang harus bertindak kali ini.
Di luar sana sudah ada Reno yang menyambut kedatangannya "Selamat pagi Tuan." Matanya terlihat mengantuk karena semalaman Reno tidak tidur, tapi begitulah syaratnya bekerja dengan Dylan Jackson, harus bersiaga tempur kapan pun waktunya.
"Kita ke rumah sakit, jangan lupa bawa berkas perceraian Nathan dan Keenan!" Titah Dylan pada Reno.
"Semua sudah di urus Tuan!" Semudah itu bagi Dylan menyelesaikan perkara tanpa harus memikirkan ini itu seperti putra sulungnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung... Siang Up lagi insya Allah.. Akhir-akhir ini banyak kesibukan makanya up nya pelit.. maaf yah reader.. Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya 😘