
Melangkah ragu, tapi mau, Jelita mendekati suaminya, terlihat di ujung taman halaman belakang Dylan tengah menggoreskan cat akrilik pada permukaan kanvas miliknya.
Melukis sudah menjadi kebiasaan Dylan, dan hal itu selalu menjadi pelariannya ketika sang hati tengah bercelaru.
"Daddy!" Jelita melingkarkan tangan pada perut sixpack suaminya "Hmmm." Singkat Dylan, dengan sedikit menggeser iris hijau nya kebawah.
"Daddy, apa Daddy serius mau mengasingkan bungsu kita? Daddy setega itu padanya?" Jelita berusaha membujuk suaminya dengan rayuan lembut, mungkin dengan begitu Dylan berubah pikiran.
"Itu bisa membantu anak manja mu lebih cepat dewasa!" Kata Dylan.
Jelita membalikkan tubuh suaminya agar menghadap ke arah nya "Coba pikir lagi deh, Daddy bisa kan kasih hukuman lain. Dia baru dua puluh empat tahun loh, kalo dewasanya kurang, ya di maklumi saja lah, dia belum bisa mandiri." Ucapnya.
"Kamu lupa Baby? Aku mandiri sudah dari umur enam belas tahun! Tidak mudah hidup sebatang kara, tapi juga tidak sulit bagi seorang laki-laki, setelah ini masih ada kehidupan lain, apa lagi dia sudah punya bayi! Seharusnya dia sudah kadaluarsa!"
"Iya tahu, tapi, ..."
"Keputusan ku sudah bulat!" Dylan melepas tangan Jelita lalu pergi, apa pun dan siapa pun, tidak ada yang bisa mencegah keputusan yang sudah di tetapkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah berjam-jam Ethan melakukan perjalanan dengan menggunakan mobil Van, dia duduk termenung di atas jok yang tak sedikitpun mampu membuatnya tenang.
Pemandangan mulai beralih dari yang tadinya gedung tinggi menjulang di perkotaan, kini menjadi sawah-sawah yang sudah di tumbuhi padi-padian.
Tepat di ujung jalan, sang sopir menepikan mobilnya, kemudian Reno turun terlebih dahulu, laki-laki itu mengeluarkan satu koper besar dari dalam bagasi, lalu bersamaan dengan itu Ethan turun.
Perjalanan yang di mulai malam buta, rupanya berakhir di pagi hari yang cerah, udara alam sekitar yang menyegarkan lumayan menentramkan Ethan meskipun tak di pungkiri hatinya masih bercelaru.
Reno mendekati Ethan sembari menarik koper milik putra majikannya "Tuan muda sudah siap kan? Setelah ini, kita berjalan kaki, karena harus melewati jalan setapak, mobil kita tidak bisa masuk Tuan muda." Laki-laki itu menunjukkan arah yang akan mereka lalui.
"What?" Ethan membulatkan matanya "Kau pikir aku ini atlit maraton hah?" Protesnya.
"Ini bagian dari perintah, dan ketentuan dari hukuman mu Tuan muda, jadi tidak boleh di bantah atau pun di protes!" Tegas Reno.
Ethan memutar bola matanya "Terserah!" Ucapnya. Yah, mau bagaimana lagi? memang sudah seperti itu keharusan bagi dirinya bukan? Baiklah, Ethan menerima dengan lapang dada.
Mereka melanjutkan perjalanan. Jalan setapak yang berlumpur mulai membuat Ethan menyerocos. Sepatu mahalnya sudah kotor bahkan celana jeans nya pun ikut terkena cipratan lumpur.
OMG, kejam nya Tuan besar Dylan...
Meski mengumpat, Ethan tetap melanjutkan langkah di iringi oleh beberapa bodyguard utusan ayahnya.
__ADS_1
Sampai tibalah di sebuah bangunan peternakan sapi perah yang bersebelahan dengan satu rumah bergaya klasik yang terlihat sederhana, tidak terlalu besar tidak pula terlalu kecil, namun tempat itu sangat ramai pegawai.
Reno menurut Tuan muda nya mendatangi rumah tersebut, "Permisi, selamat pagi." Sapa nya pada salah seorang pria, sementara Ethan masih merutuk tak jelas hanya karena sepatu yang kotor saja.
"Iya, nyari siapa yah?" Laki-laki yang sepertinya pekerja di rumah itu menatap Reno dan Ethan bergantian.
Gaya tengil Ethan menarik perhatian seluruh pekerja yang sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang menggotong rumput untuk pakan, ada juga yang membersihkan kandang sapi nya.
Pandangan Ethan mengedar, tempat asing itu sangat tidak layak baginya "Tempat apa ini? Tidak ada tempat lain lagi apa?" Gumamnya.
"Tuan muda, mari.!" Reno menepuk pundak sang Tuan lalu Ethan menoleh kejut padanya.
"Kita masuk, Tuan muda akan tinggal di rumah ini selama satu tahun. Setiap satu Minggu sekali saya akan datang ke sini memantau mu Tuan muda. Ada beberapa bodyguard juga yang berjaga di sekitar sini, jadi Tuan muda, tidak akan bisa melarikan diri dari hukuman!" Jelas Reno lagi.
Ethan mengernyit "Bodyguard? Memangnya aku ini, ..."
"Mari Tuan muda, tidak ada waktu untuk berdebat, saya harus segera pulang lagi ke kota." Kata Reno memangkas ucapan Ethan.
Ethan menghela "Dulu pas Daddy bikin gue seneng pasti, giliran udah jadi anak, di siksa begini!" Gerutunya.
Reno dan Ethan melepas sepatu kotornya lalu menginjakkan kakinya pada teras rumah berlantai batu granit itu.
Salam sapa perkenalan Ethan lakukan bersama Reno, rupanya sang tuan rumah masih kerabat dengan ibunya Dylan Jackson.
Adalah Joko, pemilik dari peternakan sapi perah yang produknya sudah menjadi idola bagi para pecinta susu segar. Tak lupa, Joko juga memperkenalkan istrinya yang bernama Laras.
Di desanya mereka hidup berkecukupan, mengarungi rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah dan memiliki satu anak perempuan cantik berusia dua puluh dua tahun bernama Gyna dan Gyna sendiri masih kuliah di universitas lokal yang tak jauh dari desa setempat.
"Nak I-then istirahat dulu saja, mari Om antar ke kamar!" Joko menuntun Ethan menuju sebuah pintu sambil menceritakan seputar kebiasaan yang mereka lakukan di desa tersebut. Keduanya pun memasuki kamar yang menurut Ethan sangat kecil bahkan tak lebih luas dari kamar mandi milik Ethan.
"Aku harus tidur di sini Om?" Celetuk Ethan dengan wajah protes.
Joko mengangguk "Iya, sementara di sini, nanti setelah kamar sebelah jadi, nak I-then pindah ke kamar sebelah. Lagi pula ini kamar punya anak cewek Om, dia sekarang lagi magang di perusahaan besar di kota, mungkin beberapa bulan lagi dia pulang!" Jelasnya.
Ethan manggut-manggut "Oh, pantesan, banyak foto BTS!" Gerutunya pelan seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bulan pun kini berganti, karena begitulah alamiah nya semesta ini. Berputar pada porosnya, dan tak sadar kita bergeser tempat karena gaya itu.
Ketok palu sudah berbunyi, dan Nathan sudah resmi bercerai dari istri pertamanya, semua proses di permudah karena tidak adanya banding dan lain sebagainya.
__ADS_1
Awalnya, berita viral tentang pelakor yang di sebarkan media lumayan membuat Nathan sedikit rikuh tapi untungnya di tutup dengan berita skandal Ethan dan Keenan yang pada akhirnya terungkap karena adanya salah satu mata-mata yang tega menjual informasi keluarga Jackson pada media.
"Uuuh ternyata yang sundal itu istri pertama, pantesan ajah laki nya nyari sugar baby, yah begitu kelakuannya!" Ucap salah satu netizen dan masih banyak lagi komentar sarkas yang di tujukan pada Keenan.
Tiga bulan sudah Nathan mencari Istri dari pernikahan ke dua nya, namun belum juga ada pencerahan.
Malam ini, di sebuah gedung perhotelan kota lain, Nathan beserta keluarga menghadiri pesta pernikahan kolega bisnisnya.
Meskipun gelisah, gundah, gulana, tetap saja Nathan wajib melanjutkan hidup sebagai pemimpin konsorsium. Acara pesta dan lain sebagainya, turut dia ikuti dalam kondisi yang seperti apa pun.
Di sudut tempat, Nathan tengah berdiri bersama beberapa koleganya, satu gelas heels berisi wine mereka tenteng di masing-masing tangannya.
Jas eksekutif mahal membalut tubuh bidang para Daddy. Gaun indah menggulung tubuh indah para Lady.
Nathan terus menyunggingkan senyum manis pada semua koleganya, dari yang wanita sampai yang laki-laki, usia muda hingga yang tua.
"Bersulang!"
Mereka menenggak minuman itu secara bersamaan, hal semacam itu sudah seperti tradisi bagi kalangan elit saat berkumpul bersama dalam satu acara. Tawa renyah juga mengiringi setiap pembicaraan santai mereka.
Di sela pembicaraan mereka, Nathan tak sengaja mengendus aroma damai dari tubuh seseorang, aroma yang sangat dia kenal dan sangat lekat dalam sanubarinya melewati indera penciumannya.
Sontak Nathan menoleh pada seorang wanita yang baru saja melewati tubuhnya, Nathan mengernyit memandang raga wanita itu dari belakang, di lihat dari penampilannya sepertinya wanita itu kurir.
Nathan tak melihat wajahnya, tapi rambut lurus yang terurai di punggung wanita itu berhasil menyentak jantung hati nya.
"Baby!" Seketika kata itu yang Nathan celetukan dari bibirnya.
"Ada apa Nathan?" Salah satu koleganya bertanya dan Nathan tak mengindahkan pertanyaan itu, pria ini bergegas mengikuti langkah kaki milik wanita yang dia sebut-sebut Baby nya.
"Apa dia Baby ku?" Nathan bergumam ragu, sebab raga mungil itu sedikit berisi, tapi dari cara jalannya, rambut lurusnya, kaki mungil mulusnya, semuanya mirip dengan Sachi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Setelah ini. Akan ada up beberapa ribu kata lagi, untuk menggantikan episode kemarin yang cuma satu episode. Maaf kan Ayu yang sibuk ini. Tetap dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya 😘
Oya bagi yang belum baca cerita nya Dylan dan Jelita bisa kalian baca juga yah, ini judul dan cover nya.
__ADS_1