
Hiruk pikuk kehidupan Jakarta telah usai Sachi lewati, kini wanita hamil itu sedang mengayunkan langkah gontai menuju ruang kerja suaminya.
Jajaran para staf menundukkan kepala menyapa dirinya, sepertinya pandangan orang terhadapnya sudah beralih mendukung.
Simpanan Sugar Daddy yang Posesif ini sudah beranjak menjadi Nyonya muda di keluarga Dylan Jackson yang terkenal kaya raya dan dermawan. Perjalanan hidup yang cukup menguras energi dan emosi, tentunya.
"Daddy suami ku kemana?" Di sela langkah, Sachi sempat bertanya pada salah satu karyawan suaminya.
Wanita itu tersenyum "Sedang rapat Nyonya. Apa Nyonya perlu sesuatu?" Tawarnya.
"Tidak perlu, aku tunggu di ruangannya saja." Sachi tersenyum sembari menggeleng kemudian berjalan kembali memasuki sebuah ruangan. Pintu pun terbuka seiring masuknya wanita itu.
Sachi melangkah mendekati meja kerja milik suaminya, dimana tumpukan berkas telah memadati salah satu sisinya. Laptop, ponsel, telepon kabel, sampai foto pernikahan dirinya bersama suaminya pun teronggok di atas meja tersebut.
Sachi ambil bingkai foto itu kemudian memandangi nya, sesekali mengusap gambar wajah suaminya.
"Kenapa hubungan kita masih belum jelas begini? Sebenarnya bagaimana perasaan mu padaku? Terkadang tidak mendukung ku, terkadang melakukan apa pun untuk ku?" Gumamnya lirih.
BRAK!
Terdengar suara pintu yang terbuka sangat keras, serta langkah dari pemilik sepatu heels cantik menuju tubuhnya.
Sachi menoleh, sontak hentakan yang menohok mengenai lehernya, Sachi terkesiap menatap kejut perempuan itu. Rupanya Keenan berdiri tegak di hadapannya menyergap dirinya dengan cekikan mematikan.
"Uhuk-uhuk!" Sachi hanya mampu bertahan untuk bisa bernapas "Le-lepas Keenan, uhuk-uhuk!" Terbatuk-batuk Sachi mencoba terlepas dari jeratan mantan istri suaminya.
Tangannya berusaha melerai namun sayangnya Keenan telah menguasai seluruh pergerakan nya.
"Semua ini gara-gara kamu, kalo bukan karena kamu yang menjadi wanita simpanan suamiku, kami pasti tidak akan pernah bercerai! Kami hidup bahagia bersama Baby Valery!" Teriak Keenan histeris. Bulir bening berjatuhan menyirami pipinya.
Cekikan itu sungguh membuat Sachi tak mampu beringsut barang secuil, Keenan terus mendorong tubuh Sachi hingga terduduk di sisi meja.
"Kamu gila Keenan! Le-lepas!" Tampik Sachi terbata-bata.
Manik mata Sachi mengerling ke arah kiri, dilihatnya Nathan dan Jho berlari membuka pintu dan cekikan menyakitkan itu terlepas sesaat setelah Nathan melerai keduanya.
"Uhuk-uhuk!" Sachi yang hampir kehilangan napas, lemah tak berdaya, segera Nathan menangkap tubuhnya dengan pelukan posesif sementara Jho menjauhkan Keenan dari Nyonya muda nya.
"Biarkan aku membunuhnya, wanita simpanan tidak tahu diri!" Racau wanita itu histeris. Kehilangan cinta suami, kehilangan hak atas bayinya, membuat Keenan kalap.
"Baby, ..." Nathan tepuk pipi isterinya dengan gusar, sungguh tak mampu ia melihat ketidakberdayaan wanita hamil itu "Uhuk-uhuk!" Hanya batuk yang Sachi mampu keluarkan.
Nathan meraup tubuh Sachi kemudian membawanya menaiki anak tangga yang terletak di sudut ruangan tersebut, bangunan formal modern yang sudah seperti apartemen ini memang memiliki berbagai macam fasilitas, salah satunya ranjang, kalau-kalau terpaksa harus menginap.
Tiba di atas Nathan membaringkan raga mungil isterinya pada permukaan ranjang empuknya "Baby, kau dengar aku?" Cemasnya "Baby, dengar aku sayang?" Tambahnya gusar.
Sachi mengangguk "Hmmm. Sachi baik-baik saja." Lirihnya.
Embusan napas lega terdengar dari Nathan "Syukurlah." Ucapnya lalu mengecup kening wanita itu posesif.
Di bawah sana Keenan masih meracau tak jelas dalam dekapan Jho, Sachi mendengar baik-baik ujaran sarkas wanita itu yang terus menghardik dirinya.
"Baby tunggu di sini!" Titah Nathan setelah melepas sepatu juga menyelimuti isterinya, kemudian kembali menuruni anak tangga menuju mantan isterinya.
Tatapan menceku terarah lurus pada wajah berang Keenan sekarang "Bawa dia ke kantor polisi, serahkan bukti penyerangannya ke pengacara ku. Jangan sampai dia lolos dari hukuman!" Meski tatapan tertuju pada Keenan namun titah nya teruntuk Jho.
Dari atas Sachi mendengarkan semua yang Nathan katakan barusan, dari sini Sachi bisa menelaah secara baik bahwa suaminya sudah tidak lagi membela mantan isterinya.
Jho mengangguk "Segera!"
"Bang!" Keenan berteriak histeris kembali, inikah Nathan yang dahulu menyayangi nya? Inikah Nathan yang dahulu mengejar cinta nya? Atau kah orang lain? Kenapa berbeda sekali?
"Tega kamu melaporkan ku ke polisi hah?"
Nathan melangkah maju, mencengkeram erat lengan Keenan hingga meringis kesakitan wanita itu "Jangan terus memainkan drama mu di sini, aku muak Keenan!" Katanya geram.
"Sebenarnya apa yang kau lihat darinya Bang? Dia hanya wanita miskin yang nantinya akan meninggalkan mu setelah mendapat harta mu, wanita binal yang mungkin akan mencari Sugar Daddy lain setelah kau tidak lagi kaya!" Hasut Keenan.
"Tutup mulut mu!" Bentak Nathan melotot.
Keenan menggeleng "Bagaimana bisa aku menutup mulut ku? Baby Valery butuh aku, butuh kau juga sebagai suami ku, dulu aku selingkuh, tapi lihatlah ternyata kamu juga selingkuh Bang, kita impas sekarang, kembalikan lagi semua seperti dulu, aku tahu binal itu hanya pelarian cinta mu saja!" Ujarnya.
Keenan menepuk dadanya "Aku, aku lah cinta mu, cinta pertama mu!" Katanya.
Nathan melepas smirk iblis "Sudah ku bilang dari kemarin bukan? Kau hanya persinggahan, bukan pelabuhan terakhir ku. Berkacalah Keenan, kau tidak cukup baik untuk berbicara seperti itu padaku, kau tidak cukup pantas untuk bersaing dengan istri cantik ku, enyah dari hadapan ku, dan tunggu tuntutan dariku!" Cetusnya.
"Kau yakin Bang? Apa kau yakin binal mu itu akan membuat mu bahagia? Dia hanya wanita mata duitan, kau harus buka lebar-lebar matamu Abang! Setelah tidak membutuhkan mu lagi, kamu pasti di hempas jauh-jauh olehnya!" Teriak Keenan, pipinya sungguh kuyup oleh derai air mata. Harga diri dia kesampingkan demi bisa memiliki Nathan dan Valery kembali.
"Apa pun yang kau ucapkan padaku, takkan pernah menggoyahkan pendirian ku Keenan! Pergilah sekarang juga sebelum aku mengusir mu dengan cara tidak hormat!" Pekik Nathan menunjuk ke arah pintu keluar.
"Sudah berani kah hah?" Sayangnya sekeras apa pun Keenan berteriak, Jho telah membelenggu tangannya kembali "Lepas Jho, lepaskan aku! Biar aku meyakinkan Bos mu, dia sedang gila di guna-guna binal nya!" Sarkas nya.
"Diam!" Sergah Nathan dan tangisan Keenan pecah menjadi-jadi "Mulai sekarang, jangan sampai wajah ini bisa masuk ke dalam bangunan ku!" Tambahnya pada Jho.
"Bang, tega kamu hah!" Teriak Keenan serak.
Jho mengangguk "Aku urus wanita ini dulu." Katanya. Keenan tak mampu melawan tenaga Jho yang super kuat.
Nathan mengibas-ngibas kan tangan sembari menatap Jho meringkus mantan isterinya keluar dari ruangan, kemudian membalikkan tubuhnya menaiki anak tangga kembali, menuju ranjang dimana sang istri masih termangu.
Sepertinya Sachi masih syok dengan perlakuan Keenan barusan. Tega sekali Keenan mencoba melenyapkan dirinya, padahal dalam perutnya sedang tumbuh benih ketampanan Nathan.
Nathan duduk di sisi ranjang menghadap ke arah Sachi, di belai nya lembut surai panjang nan lurus milik wanita itu, sendu.
"Maaf, membuat mu masuk ke dalam hidup ku yang hancur berantakan ini." Ujar Nathan lirih.
__ADS_1
Sesal sudah sedari kemarin menghantui dirinya, Nathan tidak percaya diri setelah mendapati perlakuan Sachi yang terkesan bosan padanya.
Sachi menatapnya nanar "Kenapa minta maaf, apa Daddy menyesal menikah dengan ku?" Tanyanya dan Nathan mengangguk dengan perlahan.
"Kenapa? Kenapa menyesal?" Sachi berkerut kening menatap tajam suaminya. Bukankah barusan Nathan membelanya? Lalu apa ini? Nathan menyesal? Tidak habis pikir.
"Aku sadar aku yang memulai kekacauan ini Baby, aku yang membuat mu menghadapi masalah seperti ini, andai saja malam itu kita tidak bertemu, mungkin Baby tidak perlu menjadi simpanan ku, aku tidak akan pernah membuat mu sakit, aku tidak akan pernah membuat mu terbebani, aku tidak akan pernah membuat mu kecewa, aku tidak akan pernah menjatuhkan air mata mu, ini semua salah ku." Ucap Nathan sendu dan pilu.
Sachi terenyuh mendengarnya, kenapa rasanya sakit mendengar kalimat itu, apa pun yang terjadi, bukan kah ini adalah sebuah proses?
"Sekarang aku bukan lagi simpanan mu." Kata Sachi lirih. Keduanya saling menggenggam erat tangan satu sama lain.
"Tapi lihat lah, masa lalu ku masih menyakiti hati mu, bahkan barusan dia mencoba menyakiti fisik mu. Aku menyesal Baby." Ujar Nathan.
Sachi menggeleng "Mungkin memang sudah seharusnya ini yang terjadi, maaf kan aku juga selalu bersikap kekanak-kanakan." Ucapnya.
"Aku selalu menyudutkan mu, selalu tidak mempercayai mu, selalu menilai yang kau lakukan adalah buruk." Kata Sachi mengaku. Bicara baik-baik adalah salah satu usahanya untuk memperbaiki hubungan ini.
Nathan tersenyum "Itu karena suami mu sangat membosankan bukan? Suami mu tidak se_menyenangkan I-then. Suami mu terlalu kaku?" Tanyanya.
Sachi menggeleng sambil berkata lirih.
"Tidak begitu, hanya saja, aku bosan dengan sikap mu yang naif. Lihatlah, Daddy mertua tak pernah mendapat kendala selama menjadi pemimpin dan seorang suami karena sikap tegasnya. Seorang pemimpin yang tidak tegas hanya akan menyakiti anggota nya saja, ambil lah sikap baik yang perlu di ambil dari Daddy mertua, wanita butuh pembelaan dari seorang suami, wanita juga butuh bentuk dukungan Daddy, bukan hanya perlindungan yang terkesan mengekang." Jelasnya.
Nathan terdiam sejenak menatap nanar wajah isterinya "Maaf kan aku." Ucapnya. Hanya itu saja yang mampu Nathan katakan.
"Di maafkan." Sachi sedikit memegangi perut saat mencoba duduk berhadap-hadapan dengan suaminya.
Melihat itu Nathan mengusap perut isterinya yang mulai menyembul "Baby perlu ke rumah sakit, katakan apa yang sakit? Atau aku panggil saja Gebby ke sini hmm?" Tanyanya perduli.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa." Jawab lirih Sachi menggeleng "Sebenarnya Sachi ke sini mau minta maaf, karena sudah mengabaikan perjuangan mu kemarin sore." Lanjut nya.
"Hmm?" Nathan mengernyit heran, tak cukup tahu maksud dari kata-kata isterinya.
Sachi tersenyum tipis "Iya, boneka babi merah muda itu, Sachi tahu, Daddy dapetin itu dari mesin capit, tapi kenapa Daddy buang, Daddy marah padaku kah?" Tanyanya menunduk.
"Tahu dari mana?"
"Shandra!" Sachi mendongak menatap wajah tampan suaminya, merasakan sapuan jemari tangan laki-laki itu di pipinya.
Nathan menggeser duduk agar tubuh keduanya bisa saling bersentuhan "Baby tersentuh dengan usaha ku?" Tanyanya tersenyum "Seperti boneka itu. Akhirnya meskipun sulit, melewati berbagai macam rintangan, Daddy mampu mempersunting mu, hanya dirimu, cuma kamu." Ujarnya berbisik di telinga.
"Bodoh, tapi itu terlalu mahal, kenapa hanya boneka kecil tidak bermerek saja Daddy sampai membuang-buang uang sebanyak itu? Kau tahu hah? Anak-anak di panti asuhan pasti senang di berikan oleh-oleh dengan uang mu! Tapi Daddy membuangnya begitu saja, itu namanya pemborosan!" Cetus Sachi ketus.
Nathan menggeleng "Hanya empat juta saja." Entengnya.
"Bagimu sedikit, tapi bagi Sachi itu banyak sekali, mencopet tiga dompet saja tidak sampai satu juta semalam." Tampik Sachi dengan bibir yang mengerucut.
Nathan terkekeh "Sekarang jangan lakukan lagi, minta saja apa pun dariku, semua yang ku miliki adalah milikmu." Ujarnya.
"Sungguh? Apa Daddy tidak takut Sachi campakkan setelah Daddy tidak lagi menarik? Dengar saja kata Keenan barusan, dia bilang Sachi hanya wanita mata duitan."
Sachi mencebik "Aku gemukan karena ulah mu!" Ketusnya berpaling.
"Ulah yang bagaimana?"
Mendengar ucapan Nathan Sachi menoleh, lantas mengamati setiap inci ekspresi wajah menggoda suaminya "Ulah nakal mu! Daddy menghamili ku!" Bisiknya dan Nathan tergelak.
Bibir merona itu, Sachi merindukan nya, ia pun memangkas jarak dengan perlahan menyatukan bibir mereka hingga terjadi gerilya ringan di sana. Nathan hanya terdiam mengikuti alur permainan bibir isterinya yang semakin hari semakin liar saja.
Peraba Sachi menyisir seluruh lekuk tubuh suaminya dari atas hingga kebagian intinya "Jangan macam-macam, ini kantor Baby." Nathan melepas secara paksa bibirnya seraya mencekal tangan nakal Sachi.
Namum, sayangnya Sachi meraih kembali tengkuknya secara impulsif "Tutup kacanya, supaya yang lain tidak melihat kita, jarang-jarang kita melakukan ini kan?" Bisiknya merengek.
"Oh Tuhan. Barusan dia hampir tidak bisa bernapas karena Keenan, sekarang dia membuat ku sesak, agresif, liar!" Gerutu Nathan dalam batin.
Kepala Nathan menggeliat saat Sachi menjilat basah cuping telinganya, mengigit kecil benda kenyal itu begitu impresif. Sungguh kejantanan Nathan tergugah, apa lagi selama menjadi suami istri mereka jarang sekali menemukan momen romantis seperti ini.
PLAK PLAK PLAK!
Tiga kali tepuk tangan membuat seluruh kaca transparan yang mengelilingi ruangan itu menjadi putih. Yah, gorden digital nya telah dalam mode tertutup saat ini.
Nathan membuka jas hitamnya lalu melonggarkan dasinya, ia rangkum pipi Sachi dan mendaratkan kecupan dengan mata yang terpejam.
Sachi kini yang terdiam menikmati permainan bibir suaminya.
Satu lutut Nathan melangkah dan mengapit tubuh mungil isterinya, Sachi terbaring tanpa perintah. Kondisi nya memang mendukung untuk itu.
Tak berapa lama kemudian.
Nathan menarik kerah serut pada dress putih pendek milik isterinya, dalam sekejap saja buah kembar terbebas dari pasungan. Sambil tersenyum Nathan menyesap ujungnya perlahan sedang sebelah tangannya meremas bagian yang lainnya.
Sachi terkikik kegelian, belum-belum Nathan sudah mengarah ke bagian tersebut "Daddy, no jangan curang. Kiss dulu harusnya!" Ucapnya protes.
Di beberapa permainan sebelumnya, Nathan melakukan pemanasan yang cukup lama, lalu sekarang terkesan terburu-buru sekali.
"Daddy hentikan dulu, geli."
Nathan tak mengindahkan ucapan isterinya, ia terus menggerilya pada bagian terfavorit nya, yaitu buah kembar nan padat ini.
Lenguhan Sachi mulai tak tertahankan, sepertinya Sachi melupakan bahwa beberapa saat yang lalu dirinya hampir di buat tak bisa bernapas.
Napasnya sekarang seakan berontak, beradu, bergemuruh, "Ahh aw Daddy." Lolos pula desah itu dari bibirnya yang tertahan. Nathan sangat menyukai desah merdu Sachi, bahkan untuk sesekali ia sengaja mengigit bulatan kecil berwarna merah muda itu agar Sachi kembali mengerang.
Nathan berdiri bertumpu pada lutut yang masih mengapit tubuh mungil isterinya "Kita main pelan-pelan boleh kan?" Tanyanya seraya melepaskan satu persatu kancing kemeja slim fit miliknya.
Sachi masih harus menelan saliva padahal sudah sering kali melihat dada bidang pria itu.
__ADS_1
Ikat pinggang kulitnya juga Nathan hempas, celana nya pun ia turunkan separuh sekedar untuk membebaskan sang junior "Boleh kah Baby?" Tanya nya lagi bersuara serak.
Sachi tersipu di tanya seperti itu "Lakukan saja, memangnya kita baru pertama melakukan nya apa?" Ucapnya malu-malu.
Nathan menurunkan tubuhnya agar menyatu dengan raga mungil isterinya "Aku mencintai mu, sayang." Bisikan yang acap kali melelehkan gunung es selalu Nathan berikan di sela aktivitas romansa nya. Dia gigit kecil ujung atas telinga Sachi membuat wanita itu semakin meremang.
"Ingat, ada Baby kecil."
"Hmm." Setelah mengatur posisi terbaik, Nathan mendayung perlahan sampan miliknya hingga ketengah dan tersesat di lorong hangat nan sempit isterinya "Baby bilang kalo sakit, jangan sampai keegoisan ku merusak Baby dalam perut mu." Bisiknya.
Sachi mengangguk "Pelan-pelan." Pintanya dan sebuah kecupan membungkam teriakannya.
Hanya satu gaya, tapi sudah cukup lama, tak bosan-bosannya sang junior keluar masuk pada liang sempit itu. Bahkan candu. Nathan selalu mengerang nikmat saat memulai sebuah hentakan. Sachi pun ikut melenguh tak keruan.
Salah satu kelebihan Sachi memang pandai menyenangkan dalam segala hal, canda tawa, juga urusan ranjang.
Siapa lagi yang mampu melarang? Mereka adalah sepasang suami istri yang syah di mata agama dan negara, sekian lama mereka menanti saat indah seperti ini, lalu bolehkah sejenak menepis hasrat membara nya? Tidak, bahkan cicak pun ikut terkekeh tak setuju.
Suasana kantor lumayan menantang, mungkin ini menjadi pengalaman pertama mereka melakukan penyatuan raga dalam ruangan formal. Kebanyakan orang mungkin melakukan pergulatan ranjang di kantor bersama simpanan ataupun sekertaris yang tidak halal baginya.
Itulah menariknya, saat ini Sachi bukan lah simpanan lagi, melainkan wanita cantik itu sudah menjadi Nyonya muda Nathan Ellard Jackson. CEO dari dua perusahaan terkemuka.
Kriiiiiing....
Telepon kabel berdering, satu kali, dua kali, tiga kali, Nathan masih bisa bersabar dan mengacuhkan. Namun, nyatanya dering itu terus memekakkan telinga hingga membuyarkan konsentrasi romansa cinta mereka "Aaaagghh, sial! Pasti Jho!" Sachi terkikik geli melihat ekspresi jengkel suaminya.
Secara cepat Nathan meraih gagang telepon yang teronggok di atas nakas lalu menempelkan benda putih bersungut itu pada telinga "Hmmm?" Sahutnya sedikit memperlambat tempo permainannya. Sementara Sachi menarik tengkuk Nathan lalu bersatulah kedua tubuh mereka.
📞 "Bos, Zain perlu rekaman CCTV di ruangan mu, dia perlu memasukkan bukti-bukti kongkrit, atas tindakan kekerasan dan percobaan kriminalitas terhadap Nona Sachi." Jelas Jho.
"Hmm, tunggu lima belas menit lagi, aku sendiri yang akan mengirim rekamannya." Ujar Nathan dengan senggal-senggal napas nya.
Sachi menggeleng protes seraya meremas rambut pekat suaminya "Dua puluh lima menit lagi Daddy!" Desah nya.
"Ssuutt, Jho bisa mendengar suara mu sayang, kasihan dia jomblo." Nathan tergelak renyah menertawakan bujang akut itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Jho baru saja mempercayakan Keenan bersama pengacaranya, saat ini Jho masih dalam perjalanan bersama Shandra menuju kantor polisi.
Di jok penumpang bagian depan Shandra terdiam menatap heran wajah tampan sang sopir dari samping "Ka Jho kenapa?" Tanyanya.
"Ahh?" Jho justru berdesah saat melirik pujaan hatinya "I-iya kenapa?" Tanya balik Jho gugup, tiba-tiba saja keringat mengembun menghiasi dahi, saliva juga meluncur begitu saja ke tenggorokan setelah mendengar suara aneh dari seberang telepon.
Jho pun mematikan panggilan secara sepihak seraya mendengus lemah. Nathan dan Sachi benar-benar tidak tahu tempat dan waktu, di saat genting seperti ini masih sempat-sempatnya membuat Jho iri.
Shandra mengernyit "Aku bertanya Ka Jho kenapa? Kok melamun? Gimana sama bukti CCTV nya? Bang Nathan bicara apa?" Cecar nya.
Jho menggaruk tengkuk sambil terus fokus dengan jalanan ibukota yang sesekali terjeda karena macet "Bos bilang lima belas menit lagi, eh tidak, Nona Sachi bilang dua puluh lima menit lagi." Katanya terbata.
"Jadi berapa lama lagi yang benar?" Tanya Shandra bingung.
"Entah lah, kita tunggu saja." Jho melirik sekilas ke arah Shandra yang masih menunjukkan wajah bingung.
Desah Sachi dan deru napas Nathan terngiang di telinganya, Jho laki-laki normal, tentu saja tergoda dengan hal semacam itu.
Tepat di depan lampu merah Jho memberhentikan mobilnya, namun meliarkan pikirannya. Jho menoleh pada Shandra lalu nyelonong begitu saja mengecup singkat bibir merona desainer muda itu. Mungkin dengan begitu bisa membebaskan hasrat tertahannya.
Shandra terbelalak "Ka Jho, ..." Kecupan Jho berikutnya membungkam protes nya dan Shandra semakin membelalak. Di dukung oleh dorongan ingin bercinta Jho meraih gundukan padat milik Shandra.
Shandra dengan cepat menampik karena sejatinya wanita itu bukanlah wanita murahan "Ka Jho! Apa-apaan sih?" Ketusnya seraya mendorong kuat laki-laki itu hingga terpentok jendela mobil.
"Akk, ahh." Keluh Jho meringis sembari mengelus kepala bagian belakangnya.
"Ini tempat umum, gimana kalo ternyata Daddy Shandra ada di sini hah? Bisa di marah kita berdua!" Pekik Shandra.
Jho menyengir "Maaf, yang tadi kelepasan." Katanya "Sial, gara-gara ulah si Bos sama Nona Sachi, otak suci ku tercemar, gimana kalo aku memakan Shandra di sini?" Batinnya.
"Jalan lagi cepetan!" Shandra mengalihkan pandangan ke arah jendela.
"Baiklah. Tapi maaf, Ka Jho benar-benar minta maaf, barusan ada sesuatu yang membuat ku seperti itu." Ucap Jho beralibi.
Shandra menoleh "Lain kali jangan dilakukan lagi." Titahnya.
Kkiiiikkk.....
Jho memberhentikan mobilnya lagi namun kali ini secara tiba-tiba, untungnya tidak ada mobil dibelakang yang jaraknya terlalu dekat dengan mobilnya "Kenapa?" Tanyanya menoleh pada Shandra "Kenapa tidak boleh dilakukan lagi? Apa itu berarti Shandra menolak ku?" Lanjutnya mencecar.
Sekilas Shandra menoleh ke belakang dengan gusar "Hati-hati, jangan rem mendadak begitu, bahaya!" Pekiknya.
"Jawab saja, apa Shandra menolak ku huh?" Sela Jho cepat, tatapannya begitu lekat, penasaran.
Setelah menatap Jho dalam diam, Shandra menunduk sendu "Hubungan kita hanya akan berakhir sebagai teman saja Ka Jho! Daddy ku bukan lah seorang ayah yang pikirannya terbuka seperti Om Dylan. Jika memaksakan hubungan ini, mungkin hanya akan menyakiti hati kita masing-masing." Ucapnya lirih.
Jho tahu sekali arah perkataan dari perempuan cantik itu, sudah jelas perbedaan kasta mereka lah yang membuat Shandra menolaknya.
Tanpa bertanya apa pun lagi, Jho meluruskan pandangan kembali, menyalakan mesin mobil kemudian melajukan kendaraannya. Tak ada percakapan lagi setelah itu. Suasana mobil menjadi hening kendati mereka enggan memulai obrolan satu sama lain.
Tiba di kantor polisi, Jho turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, dia meraih ponsel dari dalam saku celana bahannya, rupanya Nathan sudah mengirimkan beberapa file video juga audio padanya.
File yang akan dia jadikan bukti terkait kasus percobaan kriminalitas terhadap Sachi di kali kedua ini, sebelumnya kasus Rahel masih belum selesai, kini somasi kedua teruntuk Keenan, yaitu mantan istri pertama Nathan Ellard Jackson sang Sugar Daddy Posesif.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
..._____[Ending musim pertama]_____...
...Musim pertama hanya mengupas tentang perjalanan Sachi sebagai seorang simpanan saja dan sekarang sudah beranjak menjadi Nyonya muda....
__ADS_1
...Terimakasih, banyak atas dukungan nya selama ini, buat reader setia yang selalu gercep, terimakasih, silahkan katakan pendapat kalian di kolom komentar tentang novel ini sekedar untuk kenang-kenangan, atau bisa banget kasih saran, sebaiknya berlanjut musim ke dua atau tidak. Karena sebenarnya cerita ini masih sangat panjang, hanya saja waktu update ku terkendala sekarang. Makanya aku yang penting bisa tamatin musim pertama nya dulu deh yah....