Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Apartemen¹


__ADS_3

Selagi menunggu hidangan datang, Sachi menggeser posisi duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Nathan tapi pria itu terus menggeser posisi bangkunya mengejar kursi Sachi.


"Om! Bisa tidak sih jauh-jauh?" Protes Sachi.


"Aku sudah memberi mu banyak uang, rugi dong jauh-jauh!" Sambung Nathan enteng.


Tak mau lagi berdebat Sachi berpaling muka dan terdiam menatap lekat lilin aromaterapi yang teronggok di atas mejanya, dia juga mengendus benda mungil itu seakan merasai ketenangan.


"Kamu suka? Apa mau sekalian di peretelin juga lilinnya?" Nathan menyindir.


"Hehe!" Sachi nyengir "Boleh di bawa pulang gak Om? Lilinnya buat ibu ku di rumah!" Pintanya. Mungkin dengan aroma terapi ini ibunya bisa lebih relaks.


"Ambil saja semuanya!" Nathan memutar bola matanya "Begini susahnya berhubungan sama anak kecil, segala lilin ajah di bawa pulang!" Sisi batinnya.


Tak lama kemudian pesanan datang, berbagai macam jenis menu makanan Indonesia tersuguh di meja bulat berdiameter besar ini.


Sachi melotot sambil menelan saliva "Wah, enaknya!" Bahkan lidahnya membasahi bibir saking sudah tak sabar menyantap semua hidangan itu.


Ayam bakar, ikan bakar, iga sapi bakar, sampai kepiting saos asam manis pun ada.


Nathan mesam-mesem mengamati setiap ekspresi wajah lugu Sachi "Sekarang makan lah, yang banyak, lumayan bisa nambahin tinggi badan, biar nggak keliatan kecil terus!" Ucapnya yang lagi-lagi menyindir.


Sachi tak mau melirik Nathan barang secuil, yang penting makan enak malam ini "Aku mau semuanya boleh kan?" Tanyanya.


"Hmm, makan lah!" Nathan mengacak-acak kecil puncak kepala gadis itu. Entah lah Nathan seperti sudah sangat nyaman bersama dengan Sachi, padahal sebelumnya tidak pernah ada yang mampu menggodanya selain kecantikan isterinya saja.


Sachi menyengir kemudian mulai membuka jaket jeans hitamnya agar lengan itu tidak merepotkan proses makan nya.


Nathan selalu di buat mesam-mesem saat menatap setiap gerakan Sachi, melahap semua makanan yang tersuguh di hadapannya. Sachi bertubuh mungil tapi tidak di sangka makannya banyak.


"Pelan-pelan, kita bisa datang ke sini lagi besok-besok, jangan khawatir!" Ucap Nathan.

__ADS_1


Sembari melirik ke arah Nathan, Sachi manggut-manggut "Em em!" Nyengir nya.


Beberapa kali Nathan menyeka ujung bibir Sachi, tiada canggung tiada grogi, Nathan nyaman melakukan itu dan Sachi pun acuh dengan hal tersebut.


Bagi Sachi selama Nathan tidak mengajaknya yang macam-macam, Sachi masih mau menerimanya, toh dia membutuhkan uang banyak untuk keperluan hidup.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nathan menggendong tubuh kecil Sachi keluar dari mobil mewahnya, lalu membawanya memasuki apartemen miliknya, setelah makan banyak gadis itu tertidur dalam mobil.


Tadinya Nathan masih ingin mengajak Sachi berjalan-jalan tapi rupanya dia harus rela pulang sebelum dirinya puas melewati malam bersama gadisnya.


Seperti biasanya Jho sibuk memastikan CCTV di tempat ini tidak berfungsi selama Sang Tuan melalui kamera-kamera itu.


Dalam lift Nathan sempat mendekati wajah Sachi dan mengendus aroma makanan yang barusan Sachi lahap.


"Dasar anak kecil!" Nathan tersenyum sambil menatap lekat wajah lelap Sachi sementara Jho hanya menggeleng memandang sang Tuan.


Nathan menoleh "Setelah melihat kegigihan gadis ini. Apa kau masih merasa takut? Apa kau tidak malu? Lihat lah, gadis kecil ini bahkan tidak takut di kejar-kejar korbannya, terlepas itu perbuatan salah atau benar, tapi belajarlah dari keberanian nya, dia berani mengambil resiko bahkan mungkin sampai hal terburuk sekalipun!" Sambungnya.


Jho mengangguk karena setuju dengan pendapat Nathan "Lalu bagaimana kalo ternyata Bos mencintai nya? Dia gadis yang menyenangkan, tidak sulit untuk menyukainya, tapi dia juga sudah bersuami. Bagaimana jika sampai kau tak bisa melepaskan gadis ini? Lalu orang-orang tahu Bos memiliki hubungan dengan istri orang?" Ujarnya.


"Aku punya kamu bukan? Pastikan bahwa tidak ada yang tahu hubungan ku dengan gadis ini!" Sela Nathan.


Pria itu sudah sangat yakin ingin menyimpan gadis ini menjadi wanitanya. Yang tidak dia dapat dari isterinya, semoga saja bisa dia dapatkan dari gadisnya, menceraikan Keenan tidak mungkin, tapi meniduri Keenan setelah mengetahui kebenaran juga lebih tidak mungkin lagi.


Biarlah setiap malam dia menikmati dekapan hangat gadis itu lalu paginya mendapat semangat baru.


"Sebenarnya. Apa alasan Bos, memilih dia? Bukan kah banyak wanita seksi yang lebih pintar menyenangkan mu? Aku tidak yakin dia mau di sentuh!" Jho berbisik di telinga sang Tuan.


Nathan menyeringai "Aku hanya butuh teman, dia menarik untuk menjadi teman hidup gelap ku!" Lirihnya.

__ADS_1


Lift terbuka dan keduanya berjalan beruntun keluar dari ruangan kecil itu kemudian berlanjut ke unit apartemen elit Nathan.


Jho membuka pintu lalu mempersilahkan sang Tuan masuk terlebih dahulu "Silahkan Bos!" Ucapnya.


Jho duduk di sofa setelah menutup pintu apartemen, dan Nathan bablas memasuki kamar utama setelah sabar membuka pintu dengan ujung sepatunya.


Di letakkan nya gadis itu ke atas ranjang berukuran super king lalu melepas satu persatu sepatunya.


Di tariknya selimut menutupi tubuh Sachi sebelum kemudian dirinya masuk ke dalam kamar mandi.


Kebiasaan Nathan membersihkan diri sebelum memasuki alam mimpi, bibirnya terus tersenyum mengingat kembali semua perlakuan lucu gadisnya.


"Sebenarnya siapa dia? Kenapa aku lupa terus menanyakan siapa namanya!" Gumamnya.


Setelah mengganti pakaian tidur, Nathan kembali ke ranjang kemudian memasuki selimut hitam tebal yang sama dengan Sachi.


Pelan-pelan sekali. Dia berbaring miring ke kiri dan untuk beberapa saat dia menatap wajah cantik gadis itu dalam-dalam "Kenapa kamu hadir di saat aku membutuhkan seseorang? Apa kita berjodoh?" Gumamnya sambil tersenyum.


Tangannya mulai berani bermain-main di bibir lembut gadis itu "Dengar, kita berjodoh atau tidak, kau tetap lah di sisi ku! Menjadi wanita ku!" Lanjutnya.


PLAK!


"Ahh!" Nathan mengelus pipi kanannya yang tidak sengaja Sachi tampar saat membetulkan posisi "Sialan!" Umpat nya.


Di cekalnya tangan lembut itu lalu melingkarkan pada perutnya sembari merebahkan diri, kepala Sachi dia uyel ke dada bidangnya.


"Selamat malam, gadis ku!" Kecupan ringan Nathan labuh kan pada kening gadis itu.


Damai yang Nathan rasakan saat ini. Segala penolakan isterinya tak lagi dia ingat-ingat, mungkin benar kata orang, laki-laki bisa dengan cepat berpaling, apa lagi jika laki-laki itu mempunyai kekuasaan juga kekayaan.


Cinta Nathan belum sepenuhnya lenyap dari hati, tapi keberadaan Sachi lumayan mengobati kegundahan yang di penuh ironi.

__ADS_1


__ADS_2