Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Apartemen²


__ADS_3

Sekitar satu jam lamanya, Nathan mendekap erat tubuh mungil wanitanya tapi tidak mampu membuat dirinya memejamkan mata.


Aroma kepiting saos asam manis masih menusuk indera penciumannya "Ck!" Decak nya.


Nathan beranjak duduk lalu menatap sekujur tubuh gadis itu, masih terlihat menyiksa karena celana jeans hitam Sachi lumayan ketat, apa lagi kaos nya sempat terciprat saos asam manis "Aku ganti saja pakaiannya!" Gumamnya.


Nathan keluar dari selimut lalu berjalan menuju lemari kaca yang berjejer di ruangan sebelahnya, dia ambil kemeja putih miliknya karena hanya model itu saja yang ada.


Nathan kembali dan membuka selimut tebal yang masih menggulung tubuh Sachi. Sabar sekali dia membuka satu persatu pakaian gadis itu dan wajahnya ia paling kan setelah merasakan sang junior tiba-tiba saja mengeraskan diri, menuntut sesuatu yang lebih.


"Hassial! Kecil-kecil bikin pengen juga ni anak!" Sejenak Nathan berusaha mengontrol hasratnya agar bisa melanjutkan aktivitasnya.


Dia berpaling lalu mengatur napas dengan sekuat tenaga untuk tidak menyerang gadisnya sebelum kemudian memulai lagi memakai kan kemeja putih miliknya pada tubuh mungil Sachi.


Wanitanya, tapi bukan berarti Nathan ingin memakai istri orang lain, saat ini belum terpikirkan untuk menjadikan Sachi pemuas kebutuhan seksual nya. Adanya Sachi saja sudah cukup menghibur kegundahan hatinya.


Nathan memandang sekujur tubuh Sachi yang terlihat lebih menggoda setelah memakai kemeja putih miliknya.


Paha mulus Sachi sangat dia sukai, sayangnya selama ini keindahan itu tidak sama sekali dia lihat karena pakaian yang Sachi kenakan selalu saja tertutup.


Nathan menutupi tubuh Sachi dengan selimut kemudian keluar dari kamar menghampiri asisten personal yang masih setia duduk di sofa dengan pandangan fokus pada gawai tipis.


"Jho!" Panggil nya seraya mendekat.


"Hmm?" Pemuda itu menoleh padanya.


"Kamu belanja baju-baju lucu, untuk gadis ku!" Nathan menyodorkan satu kartu berwarna hitam pada Jho "Kamu tahu berapa usianya, jadi sesuai kan dengan umurnya, aku tidak mau dia terlihat tua karena salah model!" Pintanya.


"Apa aku harus membelinya di butik Sandra?" Tanya Jho, karena hanya butik tersebut yang bisa dia kunjungi saat malam buta begini, biasanya butik itu di datangi para Daddy yang membawa sugar Baby nya.


"Hmmm!" Angguk Nathan.


"Gimana kalo dia tanya-tanya? Bos kan tahu dia teman istri Bos!" Sela Jho setengahnya protes.


"Bilang saja untuk kekasih mu, bisa kan?" Sambung Nathan.

__ADS_1


"Tapi, aku menyukai Sandra, bagaimana bisa aku mengakui punya pacar padanya?" Protes Jho.


"Derita mu, kenapa bukan kau saja yang menjadi direktur utama? Di sini asisten tidak berhak bahagia!" Cibir Nathan.


"Hastaga! Sadis!"


Nathan melengos pergi menuju kamar kembali, bibirnya tersenyum mendapati ekspresi wajah Jho yang memelas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini, Sachi mengernyit kan dahinya sembari menggeliat, bahkan kedua tangannya merentang, mencoba meregangkan otot-otot kaku nya.


"Hooaamm!"


Masih remang-remang matanya menyisir seluruh sudut tempat "Hah?" Lalu netra itu membuka lebar saat menyadari dirinya berada di tempat yang sama seperti pagi kemarin.


Sungguh matanya semakin membulat saat menangkap satu stel pakaian miliknya teronggok di sebelah tubuhnya.


"OMG!" Kejutnya seraya duduk.


Apakah dia sudah kehilangan keperawanan? Apakah Nathan sudah memakai nya? Apakah, apakah, semua pertanyaan melintas di pikiran gadis itu.


Sachi mengedarkan pandangannya dan tidak ada manusia di sekitar sana "Apa dia pergi setelah puas memakai ku?" Gumamnya "Hiks hiks, kenapa aku bodoh sekali!" Keluhnya.


Suara pintu terbuka dan Nathan tersenyum seraya mendekat, pakaian ala eksekutif sudah membuat pria dewasa itu terlihat lebih tampan.


Sachi menarik selimut "Hiks hiks!" Isak nya sambil memeluk betis yang tertekuk.


Nathan mengernyit "Kamu kenapa Baby?" Tanyanya sembari menyentuh pipi Sachi dengan punggung tangan.


Nathan tidak memiliki adik perempuan, maka dengan adanya Sachi dirinya seperti mendapatkan adik cantik yang lucu.


"Kau tega Om!"


Nathan mengernyit lagi "Tega? Tega apanya?" Tanyanya bingung.

__ADS_1


"Berapa jam kau memakai ku? Lalu apakah setelah ini kau menghempas ku? Bagaimana kalo aku hamil? Huhuhu!" Sachi mengucek matanya seperti batita, dan itu terlihat sangat menggemaskan bagi Nathan.


Nathan terkikik "Memakai mu? Kau pikir aku tertarik memakai mu dalam keadaan diam seperti patung? Setidaknya akan ku lakukan saat kau tersadar dan bisa mendesah!" Pria itu membisik di telinga gadis itu.


"Jangan bohong kamu! Pasti Om memberikan ku obat tidur terus aku, hiks hiks, huhuhu!"


"Ssuutt," Nathan meletakkan kepala Sachi pada belahan dadanya, tidak ada penolakan dari Sachi terhadapnya.


"Percaya lah, aku hanya mengganti pakaian mu saja, kamu bilang masih perawan, pasti terasa sakit setelah melakukan nya." Pria itu mesam-mesem mendapati ekspresi lugu Sachi.


"Benar kah?" Polos gadis itu.


Nathan mengangguk "Sekarang mandi lah, kita sarapan sebelum aku mengantar mu! Kamu harus memakai baju yang ku siapkan di sofa." Ajaknya.


Nathan beranjak dari duduknya lalu keluar berjalan dari kamar sementara Sachi bergeming menatap punggung gagah laki-laki itu "Kenapa dia bertingkah seperti ayah ku?" Gumamnya.


Sachi beranjak dari posisinya kemudian berjalan tidak seimbang menuju kamar mandi, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah dan ini sangat menakjubkan baginya.


"Wah, kamar mandi saja, cling begini, lantai nya bisa buat ngaca!" Sachi bercermin pada lantai yang dia injak dan memantulkan bayangan tubuhnya dari bawah.


"Oh ya ampun, jadi dia sudah melihat tubuh ku? Kurang ajar! Aku sumpahi setelah ini matanya bintitan!" Umpat serapah nya.


Setelah itu gegas ia melakukan ritual mandi dengan sabun yang menurutnya sangat wangi "Oh Tuhan, seandainya aku menjadi istri Om Om itu, aku tidak perlu capek-capek bekerja, hihihi!" Tiba-tiba saja pikiran nakal mulai terlintas.


Setelah wangi Sachi kembali ke sofa untuk mengambil satu stel pakaian yang sudah di siapkan Nathan.


"Wah, cantik, ini benar-benar cantik, sudah lama aku menginginkan nya." Gumamnya sambil tersenyum dan memeriksa beberapa paper bag yang berjejer di atas sofa.


Dress berwarna putih yang pendeknya di atas lutut lalu jaket jeans yang menjadi luarannya dan sepatu simpel tapi elegan yang dia pilih untuk di lekatkan pada tubuh indahnya.


Rambutnya sengaja dia gerai karena tali rambut miliknya basah "Sudah, setelah ini aku langsung saja bawa ibu ke rumah sakit." Gumamnya.


Sachi keluar lalu berjalan menuju dapur bersih yang berdampingan dengan meja makan minimalis modern, di sana Jho dan Nathan terperangah menatap hening dirinya.


"Kalian kenapa?" Sachi memandang wajah Jho dan Nathan secara bergantian "Om-Om ini kenapa?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


Nathan menggeleng cepat "Emmh, t-tidak apa-apa, kamu cantik, aku sampai pangling." Ujarnya sembari meraih tangan mulus gadis itu "Duduk Baby. Kita makan roti." Ajaknya.


__ADS_2