Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Duel Kelicikan


__ADS_3

Menyatukan dua insan dengan karakter yang berbeda dalam suatu ikatan pernikahan memanglah tidak mudah.


Pasalnya masing-masing memiliki perbedaan dari segala aspek. Bukan segi fisik, yaitu laki-laki maupun perempuan, melainkan dari segi cara memperlakukan hidupnya sendiri.


Jodoh yang ditemui dan akhirnya melenggang ke arah lebih serius atau pernikahan, tentunya perlu persiapan yang matang.


Tahapan menuju mahligai rumah tangga adalah sebuah proses yang harus benar-benar diperhatikan. Jika tidak dipikirkan dengan matang dan menimbang beragam aspek, pernikahan bisa saja kandas di tengah jalan.


Bermodal kemapanan baik hati maupun materi, dua orang berencana membina rumah tangga. Pernikahan sebagai pengikat janji suci dua orang untuk bersama membangun rumah tangga yang harmonis.


Nathan dan Sachi telah menandatangani buku nikah, akhirnya, setelah sekian banyak aral melintang pernikahan mereka legal di mata negara.


Setelah selesai urusan bersama penghulu, Jelita mengiring menantu spesial nya menuju kamar pengantin.


Sachi juga harus di dandani layaknya ratu sejagad malam ini. Sementara itu, Dylan dan Nathan berjalan dengan langkah gamang menuju sebuah dapur.


"Nyari istri yang usianya masih terlalu muda! Jiwa anak-anak Sachi masih kental! Kau membuat Daddy kerepotan!" Rutuk Dylan pada Nathan di sela-sela ayunan kakinya.


Nathan mengerling "Bukanya Daddy sama Mammi juga usianya berbeda jauh?" Sindir baliknya.


"Kau sudah masuk tiga puluh tahun sekarang, dan Sachi masih sembilan belas tahun! Dulu Daddy menikah di usia tiga puluh tahun tapi Mammi mu sudah janda usia dua puluh satu tahun, kasus kita berbeda." Elak Dylan.


Nathan tertawa renyah "Sama saja, Daddy juga Om-om yang suka daun muda kan!" Cibirnya.


"Tapi Mammi mu tidak licik seperti istri mu, lihat lah, dia bahkan meminta di buatkan onion ring padaku! Ngidam macam apa ini? Hekmm! Kekanak-kanakan!" Cibir Dylan.


Nathan terkekeh "Baru onion ring saja mengeluh, kemarin Nathan masak ikan bakar untuk calon cucu mu!" Katanya tak mau kalah.


Semua orang menunduk tapi menahan tawa melihat kedua laki-laki berwajah bule itu berdebat merutuki nasibnya.


Seperti biasanya, Jho telah bersiap di dapur ala restoran mewah itu dengan bahan-bahan mentah. Bahan pokok kali ini adalah bawang bombai, mentega dan beberapa jenis tepung.


Onion ring sendiri adalah sebuah bentuk atau hidangan sampingan yang umum ditemukan di Amerika Serikat, Kanada, Britania Raya, Irlandia, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan dan beberapa belahan Asia, Eropa dan Amerika Latin.


"Silahkan Tuan." Sambut Jho.


Dylan dan Nathan mendengus, ah, melihat ekspresi memelas kedua pria tampan itu membuat Jho sakit perut menahan tawa iblis nya.


"Ayok Daddy mertua semangat!!" Bagai di sambar petir di siang bolong melompong suara yang terdengar dari ponsel Jho mengagetkan si pemilik jambang itu.


"Astaga! anak mantu! Kau mengagetkan ku!" Pekik Dylan melototi layar ponsel Jho.


Beberapa tawa renyah yang lebih terkesan meledek membuat Dylan semakin geram, di lihatnya Jelita dan Sachi terkikik geli dalam kamar pengantin, Mariam tak nampak, mungkin sedang beristirahat di kamar lainnya.


"Daddy mertua, ayok semangat, ajari Daddy suami ku, cara mengiris bawang yang benar, awas hati-hati tangan kalian. Jangan sampai Daddy mertua tidak bisa melukis lagi, jangan sampai Daddy suami tidak bisa mengetik keyboard lagi!" Olok Sachi.


"Berisik!" Sergah Dylan dan Nathan memutar bola matanya "Kenapa hari gini masih saja ada perang dingin antar mantu dan mertua? Sudah mirip film azab saja." Gerutunya dalam batin.

__ADS_1


"Eeeh, Daddy mertua enggak boleh ketus begitu loh, ini kan permintaan langsung dari cucu Daddy mertua!" Sachi memperlihatkan cebikan bibirnya.


"Yah baik lah!" Dylan mengangguk sambil memikirkan cara licik agar Sachi membatalkan kemauannya "Tapi setelah ini, Daddy mertua juga mau mencicipi onion ring buatan mantu baru Daddy mertua, gimana hmm? Apa Sachi mau menuruti nya?" Senyum lebar yang tak ikhlas terbit di bibir Dylan.


"Boleh!" Secepat kilat Sachi menjawab dan Dylan mengernyit "Sekarang Daddy mertua fokus saja dengan tugas Daddy mertua kali ini." Lanjutnya.


Nathan menyenggol siku ayahnya "Astaga, Daddy, jangan coba main-main dengan istri ku, dia pintar sekali membalikkan keadaan!" Bisiknya.


Dylan menaikan ujung bibirnya "Aku lebih pintar, kau tahu itu hah!" Bisik baliknya penuh tekanan.


"Sudah-sudah, jangan berdebat, sekarang iris bawang bombai nya, ingat, Sachi minta lima kilo gram bawang bombai itu di iris semua!" Sachi menyela perdebatan bisik-bisik kedua penguasa itu "Ini belum seberapa Daddy-Daddy, aku sudah kalian buat menangis berhari-hari! Sekarang, potong bawangnya, supaya kalian tahu bagaimana rasanya menangis!" Batinnya menyeringai.


Dylan dan Nathan pada akhirnya menurut untuk memotong bawang-bawang yang sudah di kupas kulitnya. Alaminya, potongan bawang bombai segar melepaskan gas dan membuat mata perih.


Satu, dua, tiga bawang, Dylan dan Nathan masih bisa menahan pedihnya netra akibat dari asam amino yang menciptakan gas syn-propanethial-S-oxide.


Empat, lima, enam bawang, bibir mereka tak tahan ikut merintih karena lelehan bening yang tidak ingin mereka keluarkan di hadapan banyak orang.


"Huuhuu, hiks hiks, ini pasti rasa onion nya asin karena air mata kita ikut jadi bumbunya!" Keluh Dylan sembari mengusap matanya dengan lengan kekarnya.


"Gimana ini, Daddy, baru satu kilo kita sudah berderai air mata begini, hiks hiks! Apa kabar nya kalo lima kilo hmm? Bisa banjir jadi danau Dylan-Nathan lautan ini, seperti kisahnya Toba dan Samosir! Hiks hiks!" Sauk Nathan dengan gesture yang sama seperti ayahnya.


"Ini semua salah mu, kenapa mencari istri yang punya banyak trik licik hah! Aku kira dia mudah di bodohi. Rupanya dia pendendam!" Sambung Dylan protes.


"Cinta tak memandang kasta, watak, dan keturunan, cinta ku tulus padanya, selain Tuhan, Daddy juga tidak akan bisa memisahkan kita."


Astaga, Dylan mendadak mual mendengar kalimat cinta anaknya "Cih!" Di sela lelehan air matanya Dylan berdecih kecil "Bucin!" Cibirnya ketus.


Di tengah-tengah hukuman, mereka berdua berdebat saling melemparkan sindiran sementara Jho dan Sachi masih setia menyimak percakapan remang-remang mereka.


"Huaa, Sachi mantu ku, setelah ini, Daddy mertua harus menemui tamu-tamu penting Daddy mertua, jadi sudahi lah drama ini!" Dylan pada akhirnya terpikirkan ide untuk segera keluar dari permintaan aneh menantunya.


"Aaahh, iya Sachi istri ku, setelah ini Daddy suami ada tamu-tamu kalangan elit, orang-orang dari perkumpulan konsorsium akan hadir pastinya." Timpal Nathan mengimbuhi "Iya kan Daddy mertua?" Nathan mengerling pada ayahnya meminta dukungan.


"Iya, tentu saja, Daddy mertua sudah mengundang banyak tamu penting, ke acara pesta ini, jadi lebih baik sudahi saja sesi ngidam kali ini yah hmm? hiks hiks." Tak tahan pula rupanya Isak tangis laki-laki berjambang ini.


Sachi manggut-manggut "Yah cukup deh, udah lumayan kok itu bawangnya, sekarang lanjut ke sesi penggorengan, kalian tahu kan caranya!" Ucapnya.


"Tapi, karena ini acara pesta, pasti banyak juga kan tamu-tamu yang mau mencoba onion ring buatan kita sayang? Gimana kalo sisanya Sachi mantu saja yang iris bawangnya, nah Daddy mertua sama Daddy suami mu yang menggoreng!" Dylan bernegosiasi sekaligus bersiasat "Sekarang, apakah kamu masih berani menantang ku, anak mantu?" Sisi batinnya.


Tidak mungkin Sachi mau terlihat sembab saat dirinya di rias pengantin. Kesombongan juga sifat angkuh Sachi akan Dylan runtuh kan saat ini juga.


"Boleh. Baiklah, sebelum MUA nya datang, Sachi bantu kalian mengiris bawang." Jawab Sachi lantang "Lalu setelah itu kalian yang menggorengnya sampai selesai lima kilo gram!" Sambungnya.


Dylan mengernyit "Kapan kesombongan istri mu runtuh hah? Kenapa wanita kecil itu tidak pernah takut dengan tantangan ku?" Bisiknya di telinga Nathan.


Nathan tertawa renyah di sela isak tangis dan deras air matanya "Istri ku memang berbeda, di dunia ini cuma dia saja yang punya sifat seperti itu! Dia termasuk barang antik dan langka!" Ujarnya kagum.

__ADS_1


"Kenapa tidak kau museum kan saja di sebelah mumi Firaun?" Sambung Dylan.


Nathan menaikan ujung bibirnya, meski di hukum, Nathan tetap saja membela istri kesayangannya.


Tak lama kemudian,


Beberapa koki handal mengintruksikan kepada kedua pria tampan itu menggoreng lingkaran bawang yang sudah di baluri adonan tepung basah juga tepung roti.


Tepung sudah berhamburan bahkan belepotan di wajah keduanya. Sungguh tertatih Dylan dan Nathan memasukkan bawang-bawang itu ke dalam wajan berisi minyak panas.


Terkadang berlari menjauh terkadang bersembunyi di bawah meja dapur. Oh Tuhan, keduanya benar-benar takut terkena cipratan minyak panas itu.


"Baru minyak saja mereka ketakutan, lalu apa kabarnya para pelayan yang mereka suruh- suruh tanpa mau tahu kesulitannya selama ini?" Melihat penderitaan kedua penguasa arogan itu, Sachi dan semua orang tersenyum iblis bersamaan.


Sachi yang baru saja tiba di dapur, ia duduk di atas permukaan kursi yang terletak tepat dihadapan kedua pria penguasa itu "Mana bawang nya, biar Sachi yang bantu iris kan! Tapi kalian berjanji kan? Mau menggoreng semua bawang irisan ini sampai selesai?" Tanyanya lantang.


Dylan menyeringai "Tidak mungkin kamu kuat anak mantu, palingan baru dua bawang sudah mewek lu!" Batinnya.


Yah, setidaknya Nathan dan Dylan takkan menggoreng lima kilo onion ring jika Sachi yang mengiris bawangnya.


Dylan menyodorkan satu baskom bawang bombai pada menantunya "Iris lah!" Titahnya.


Sachi menoleh pada Jho "Om, kacamata renang yang Sachi minta mana?" Tanyanya.


Nathan tergelak "Kacamata renang? Baby mau mengiris bawang apa mau renang estafet?" Sindirnya.


Sachi tak mengindahkan ucapan laki-laki itu, Sachi tetap memakai kacamata renangnya dengan percaya diri "Terus mesin chopper serba gunanya mana?" Tanyanya lagi pada Jho.


"Ini Nona." Jho memboyong satu buah mesin chopper serba guna tepat di hadapan Sachi.


Dylan dan Nathan terkesiap, "Mesin?" Keduanya sempat saling menatap sebelum kemudian memandang heran kegiatan Sachi yang tengah asyik membabat habis empat kilo gram bulatan bawang bombai menjadi irisan dalam waktu sesingkat-singkatnya.


Dylan mendelik "Astaga, curang sekali kamu anak mantu!" Pekiknya seolah tak terima, baru saja batinnya tertawa iblis membayangkan pembalasan siasat Sachi lalu sekarang dirinya yang di buat menangis kembali.


Nathan menatap tajam asisten personal nya "Jho, kenapa kamu tidak memberi tahu ku, ada mesin yang bisa memotong bawang semudah itu hah?" Pekiknya.


Jho terkikik "Bos kan tidak bertanya, jadi, bukan salah ku!" Kilahnya.


"Kau!!" Nathan melototi pria itu.


"Selama ada Nona Sachi di rumah ini, asisten berhak bahagia Bos!" Kata Jho dan Nathan menggertak kan giginya "Dua manusia licik ini!" Gumamnya.


"Sudah-sudah, sekarang Daddy mertua dan Daddy suami, lanjutkan menggoreng semua irisan bawang ini, tugas Sachi sudah selesai, sekarang Sachi harus berdandan cantik dulu. Bye Daddy mertua, Bye Daddy suami, good luck!" Tanpa rasa bersalah Sachi melenggang pergi meninggalkan kedua penguasa itu.


"Licik!" Umpat Dylan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung.... Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya 🤗😘 See you next episode 🤗


"


__ADS_2