Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Perjanjian


__ADS_3

Nathan duduk kembali pada joknya, lalu menyelimuti tubuh Sachi dengan mantel mahalnya.


Segera Nathan melanjutkan perjalanan menuju apartemen miliknya, ada ketegangan yang belum terkendali tapi wajah damai Sachi saat memejamkan mata lumayan meredam gairah muda nya.


Sambil menyetir tangan Nathan mengusap lembut wajah gadis itu "Orang bilang jodoh dan belahan jiwa tidak sama. Mungkin Keenan jodoh ku dan kamu lah belahan jiwa ku." Gumamnya sambil tersenyum.


Satu jam sudah Nathan membawa mobil mewahnya, dan parkiran basemen apartemen miliknya sudah dia masuki.


Rupanya Jho sudah menunggu di tempat biasa mereka memarkir mobilnya, Jho memang pulang dengan jalur lain menggunakan ojek online.


"Sudah aman belum?" Nathan membuka pintu dan bertanya pada sang asisten


"Sudah, aman!" Jho memang sudah memastikan CCTV di tempat ini tidak berfungsi.


Nathan turun dari mobil kemudian menuju pintu Sachi untuk kemudian menggendong gadis itu "Apa sudah sampai Om?" Tanya Sachi dengan nada lengar.


"Sudah, tidur lah lagi!"


Entah lah, perlakuan Nathan sama sekali tidak seperti pemilik Sachi tapi sudah seperti budak cinta gadis itu.


Setelah menaiki lift dan lain sebagainya, Nathan sudah bisa meletakkan tubuh lemas gadis itu di atas ranjang berukuran super king miliknya.


Nathan mengambil pakaian ganti untuk dirinya juga untuk wanitanya dan meletakkan pada ranjang yang Sachi tiduri.


Nathan lantas menyingsing lengan bajunya kemudian bergegas memasuki kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang harus di tuntaskan.


Lagi-lagi sabun menjadi saksi bisu terbuangnya bibit calon pewaris tahta, setelah selesai dengan kegiatan itu, Nathan mandi keramas.


Tak ada tiga puluh menit laki-laki itu keluar hanya dengan handuk kecil yang melilit di pinggang nya. Dua waslap basah juga Nathan bawa dari dalam sana untuk membersihkan tubuh mungil gadisnya.


Nathan duduk di sisi ranjang menghadap ke arah Sachi. Sabar sekali, Nathan mengelap seluruh bagian tubuh Sachi dan mengganti pakaiannya dengan busana tidur. Hal yang acap kali dia lakukan, tapi masih sanggup bertahan untuk tidak memakannya.


Sebuah pesan yang sering dia dengar dari bibir sang Ibunda "Seorang pria yang tidak tahu menghargai wanita, adalah pria yang tidak tahu bagaimana menghormati ibunya!"


Nathan akan melakukannya jika hubungan itu atas dasar suka sama suka juga dalam keadaan sadar sama sadar.


Menerkam mangsa saat dalam keadaan tidak berdaya bukanlah laki-laki sejati.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekitar dua jam kemudian, suara langkah kaki Jho menggema dalam sebuah ruangan kelam, di mana di sana sudah ada tawanan yang masih meronta-ronta kecil.


Tak ayal, Edric lah yang terikat pada kursi dengan mulut yang di lakban "Eeemmmm!" Geram nya, kakinya menghentak tapi tiada yang mendengar dan menolongnya.


Peluh dari pelipis bercucuran, ruang tanpa pendingin udara itu memang sangat panas.


Dari atas hingga bawah, Edric mengamati setiap inci pakaian yang Jho kenakan, kemeja slim fit biru pudar berpadu dengan celana bahan yang di belit ikat pinggang kulit berwarna hitam, juga sepatu kilap yang ujungnya sedikit memberi silau saat tak sengaja terkena kilatan cahaya dari sisi kanan.


"Buka mulutnya!" Tepat di depan laki-laki tawanan itu, Jho memerintahkan dua antek-antek yang kini berdiri di sisi kanan dan kiri Edric.


"Baik Tuan!"


"Buuaahhhh!!" Edric melepaskan kesah setelah berhasil bernapas dengan mulutnya "Bajingan! Siapa kamu hah? Beraninya menyekap ku begini!" Berang nya pada Jho sambil melotot, rahangnya sudah mengeras ingin sekali mematahkan tulang laki-laki bermasker itu.


Bibir Jho menyeringai "Tak perlu tahu siapa aku, yang pasti aku punya penawaran menarik untuk mu!" Katanya.


Dingin, Jho termasuk orang yang dingin jika sudah berhadapan dengan musuhnya "Buka kopernya!" Titah nya.


Satu pria berbadan besar itu membuka tas koper hitam ala kantor dan menyodorkannya pada Edri.


"Kau boleh memiliki nya, tapi tanda tangani surat ini!" Ucap Jho bernegosiasi.


Mata Edric menatap kertas yang di sodorkan padanya "Apa ini?" Tanyanya menatap Jho.


"Surat cerai, kau harus menceraikan istri mu, dan berjanji tidak akan menggangu kehidupan nya lagi, setelah menandatangani surat itu, urusan mu selesai dengan Nona Sachi! Dia milik Bos kami!"


Edric melepas smirk "Sachi masih punya banyak tanggung jawab padaku, uang satu koper ini tidak cukup untuk membelinya, kau tahu dia spesial!" Tolaknya lantang.


"Berapa yang kau minta?" Tawar Jho.


"Setidaknya satu koper lagi, baru setelah itu akan ku tandatangani perjanjian ini!" Sambung Edric tanpa ba-bi-bu.


Kehilangan Sachi bukan hal yang dia takutkan, uang adalah hal yang sangat dia inginkan, dengan uang dia masih bisa meraih cinta Laila.


"Ok, ambil satu lagi!" Jho memberikan perintah pada bawahannya lagi, segera pria kekar berjambang itu menyodorkan satu koper uang kembali pada Edric.

__ADS_1


"Nah, begini dong!" Edric menyeringai iblis.


"Buka sebelah ikatan tangannya!" Titah Jho lagi, satu pria membebaskan sebelah tangan Edric untuk menandatangani kertas putih itu.


"Ngga di sangka, laku mahal juga tuh bini tidak berguna!" Batinnya sambil bergantian menandatangani kolom materai, surat perjanjian dan surat talak.


Jho merebut beberapa lembar kertas itu "Sidang akan di urus secepatnya, tapi ingat, kau masih kami awasi, jadi jangan coba-coba lari dari perjanjian ini, atau, remuk semua tulang-tulang mu!" Ancamnya.


"Tapi, kenapa kamu tidak memberi tahu siapa dirimu, dan kenapa kau menginginkan istri ku?"


Jho melangkah maju dan mencengkeram kuat mulut laki-laki itu "Nona Sachi sudah bukan istri mu, sebut dia mantan istri mu!" Bentaknya.


Edric bisa merasakan sorot mata Jho yang menusuk jantungnya "I-iya, mantan, A-aku salah bicara tadi, A-aku belum terbiasa menyebutnya mantan! M-maaf." Katanya terbata.


Jho melepasnya dengan geram hingga satu goresan dari kuku tajamnya melukai wajah Edric "Beri dia hukuman, karena sudah berani menjual wanita Bos kita!" Titahnya.


Jho meninggalkan tempat itu dan bersamaan dengan langkahnya yang menjauh, teriakan Edric menggema dalam ruangan kelam mencekam, pukulan sang pria kekar secara bertubi-tubi mengenai laki-laki itu.


Keluar dari ruangan itu, Jho memasuki mobil kembali lalu meletakkan dokumen Edric pada tas koper miliknya, kemudian bergegas menuju apartemen milik sang Tuan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiba di tempat Jho menyodorkan dokumen perjanjian Edric pada Nathan "Dia meminta dua koper!" Lapor nya.


Saat ini Nathan duduk di sofa ruang tamu dan Jho juga ikut duduk pada sofa yang berhadapan dengan sang Tuan.


Nathan melepas smirk "Dua koper? Laki-laki bodoh!" Umpat nya. Baginya dua koper tidak sebanding dengan gadis yang dia miliki saat ini.


"Urus perceraian mereka, tapi sebelumnya kamu pindahkan dulu ibu Sachi ke rumah baru, jangan sampai ada orang yang tahu tempat tinggal barunya." Titah Nathan.


Jho mengangguk "Baiklah. Tapi, apa Bos serius mau menikahi Nona Sachi?" Tanyanya bahkan tubuhnya condong ke depan karena penasaran.


"Tentu saja, semua orang berhak memiliki beberapa istri jika mampu!" Sambung Nathan enteng.


"Tapi bukankah Tuan besar sudah mewanti-wanti, Tuan besar tidak akan mengizinkan putranya menikah lebih dari satu kali. Lalu, apa Nona Sachi akan terus Bos simpan? Aku pikir Bos sudah mulai menyukainya seperti seorang kekasih, bukan simpanan lagi." Sambung Jho.


Nathan mendengus "Aku tidak mengerti, kenapa Daddy melarang putranya menikah lebih dari satu kali. Apa ada aturan semacam itu? Anarkisme!" Berawai nya sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Terimakasih dukungan nya....🙏


__ADS_2