Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Makan malam


__ADS_3

"Aneh, ini aneh, kenapa tidak ada satu pun kamera CCTV yang menangkap cewek cantik gue, Om! Gue yakin dia keluar dari gedung ini! Tapi kenapa tidak ada jejak rekaman nya di sini!"


Di atas kursi putar miliknya Ethan mengutak-atik laptop, dia ripuh memeriksa kamera CCTV yang dipasang pada setiap sudut gedung milik sang ayah, Ethan penasaran sebenarnya siapa yang Sachi temui di kantor ini.


Rupanya tidak ada video yang bisa menjawab pertanyaannya, bahkan secara teliti sekali dia memeriksa setiap detik dan menit nya, masih tidak ada juga.


"Mungkin lu berhalusinasi kali Then!" Sahut Gerald yang berdiri di sisi kursi sambil menatap layar laptop milik Ethan.


Ethan membuka dua kancing bajunya kemudian memperlihatkan bekas gigitan yang Sachi berikan padanya "Lihat lah, dia meninggalkan jejak ini, dia menggigit ku Om Gimana mungkin gue halusinasi!" Adu nya.


"Ya Tuhan! Jadi ini bekas gigitan cewek pencopet itu hah?" Gerald terkejut melihat cap gigi Sachi yang masih nampak dalam di pangkal lengan Ethan "Apa masih sakit?"


"Rasanya sakit karena di lengan, coba kalo di bibir? Pasti seru, Om!" Ethan menutup mulutnya membayangkan kecupan manis dari bibir gadis galak itu.


"Dasar ngeres lu!" Gerald duduk di sofa ruangan itu sambil menyilang kakinya, kedua pria tampan ini memang sudah masuk kantor pusat Jack group, tapi tidak jelas juga kerjanya.


Mereka belum tertarik untuk menggeluti dunia perkantoran, Ethan Erland Jackson lebih menyukai seni lukis seperti ayahnya, dan Gerald Van Houten lebih senang bernyanyi.


Keduanya terpaksa masuk kantor karena tantangan yang Dylan berikan, sepanjang jam kerja mereka hanya bergumam, menggerutu, juga enak-enakan di sofa ruangan saja.


Nathan tidak pernah mempermasalahkan itu karena menurutnya apa pun halnya bila di paksakan takkan pernah berujung baik.


Nathan masih sabar menunggu sampai Ethan dan Gerald benar-benar mau bekerja sama dengan dirinya menjadi bagian dari tim Jack group.


"Gimana kalo kita cari sekali lagi, lewat GPS? Dompet gue masih ada sama dia pasti Om!" Ethan menyusul Gerald duduk di sofa.


Pemandangan perkotaan dan gedung tinggi menjulang tersuguh di balik kaca transparan yang mengelilingi seluruh sisi bangunan mewah itu.


"Terserah! Gue mah ikut ajah!" Sambung Gerald yang pada akhirnya berucap demikian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dasar Playboy gila!" Dalam perjalanan ke rumah sakit, Sachi terus mengumpat Ethan Erland Jackson.


Dia menjadi simpanan abangnya dan bersamaan dengan itu dia juga menjadi buronan adiknya, lengkap sudah ketidak baikan gadis ini.


Terlintas dipikiran, dirinya menyesali sudah berurusan dengan putra-putra tampan Dylan Jackson, tapi mau bagaimana lagi? Nasib sudah menggariskan begitu.


Dalam kurun waktu dua hari, dia menghadapi berbagai macam kejutan yang tidak pernah sekalipun terbayangkan sebelumnya.


"Terimakasih pak!" Sachi turun dari taksi setelah memberikan uang cash pada sang sopir.


Dia berlari menuju loket pembayaran untuk menyelesaikan administrasi kemudian menemui ibunya di kamar pasien, senyum manis pun di kembangkan begitu saja.


"Ibu." Panggil nya seraya mendekat "Ibu nggak usah bangun." Cegahnya saat Mariam mencoba beranjak dari baringnya.

__ADS_1


"Ibu di sini dulu yah, Sachi mau pergi sebentar, Sachi ada kerjaan. Ibu tenang saja, semua biaya rumah sakit sudah Sachi lunasi, cepat lah sembuh buk." Ucap Sachi dan Mariam mengangguk tanpa bersuara karena lemah.


Tiada curiga karena Sachi termasuk gadis yang gigih mencari rezeki meskipun entah halal entah haram.


Setelah mengecup kening ibunya, Sachi lantas keluar dari kamar pasien sederhana itu.


Sachi berjalan sedikit cepat menuju halaman parkir karena dia baru saja memesan taksi online "Mbak Sachi yah?" Sesampainya satu orang sopir bertanya padanya.


"Iya, kita ke mall yah pak!" Kata Sachi kemudian memasuki mobil tersebut setelah sang sopir mempersilahkan dirinya masuk. Sachi berniat membeli ponsel keluaran terbaru seperti yang Nathan perintahkan padanya.


SIMPANAN, sungguh kata yang tak pantas di dengar, sungguh posisi yang tak terhormat, sungguh kondisi yang tak pernah dia inginkan.


Kebutuhan hidup semakin membuat Sachi menepis jauh-jauh kehormatannya, dia berniat menjalani kisah hidup rumit ini demi sang ibu tercinta.


Perkara bagaimana kedepannya belum sedikitpun Sachi pikirkan, biarlah waktu yang akan menunjukkan jalan harus apa dirinya setelah ini.


Setelah membeli ponsel baru, Sachi menghubungi nomor Nathan, lalu berkeliling mall untuk menuruti semua keinginan lelaki itu.


Nathan menyuruhnya makan siang, membeli beberapa baju dan sepatu yang sesuai dengan selera Nathan, setelah itu Sachi kembali ke rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak terasa senja pun mulai mengalah pada malam, semburat jingga mulai padam di gantikan dengan warna kelam yang sedikit di taburi gemerlap bintang.


Sejenak kita beralih, kepada bangunan mewah yang di kelilingi oleh kaca transparan.


Seluruh keluarga juga ikut serta.


Dylan ayahnya, Jelita ibunya, Ethan adiknya, Gerald Om mudanya, juga Keenan isterinya.


Nathan masih satu kamar dengan isterinya tapi sudah tidak pernah saling menegur, Nathan berusaha membuat Keenan betah, maka caranya dengan tidak menggangu wanita itu.


Bercerai bukan lah cita-citanya, jika itu harus terjadi pun, mungkin nanti setelah satu atau dua tahun lagi.


Setidaknya tidak membuat reputasi keluarganya tercoreng karena pernikahan yang gagal sebelum satu bulan bahkan sebelum sepuluh hari.


📨 "Pulang lah ke apartemen, Baby." Tulisnya dan terkirim.


Nathan meletakkan ponselnya kemudian menikmati ritual makan malam nya, di suapan ke tiga ponselnya berdering singkat kembali.


Secepat kilat Nathan meraih gawai tipis miliknya dan membaca pesan dari seseorang yang seharian ini menghubunginya.


📩 "Aku nggak bisa Om, aku harus menemani ibu ku, dia sakit, jadi maaf, aku tidak bisa menemani mu ngobrol malam ini." Balas kontak bertuliskan Klien. Nathan memang menamai nomor Sachi dengan nama Klien.


Nathan mendengus saat membaca balasan dari Sachi hingga membuat Jelita penasaran dengan ekspresi wajah kecewanya.

__ADS_1


"Ada apa Nath? Siapa?" Tanya Jelita sembari menepuk lengan putranya.


Nathan menoleh sedikit berjingkrak "Eh! Ini, klien Mam!" Jawabnya berkilah.


"Kalo bisa di meja makan matikan dulu HP mu, kamu sudah seharian kerja, masa di meja makan masih ngurusin Klien!" Tutur Dylan menatap putra sulungnya.


Nathan beralih pada Dylan "Iya Dadd." Jawabnya menurut kemudian meletakkan ponselnya di sebelah piring miliknya.


Nathan kembali meneruskan ritual makan malam bersama seperti biasanya. Meskipun ada tembok masalah yang menghalangi hubungan Nathan dan Ethan, tapi putra-putra Dylan Jackson berusaha menutupinya serapat mungkin.


Jangan sampai Dylan tahu Ethan meniduri istri Abangnya, dan Keenan tak pernah menerima Nathan sebagai seorang suami. Itu dua hal yang tidak boleh Dylan dan Jelita ketahui.


"Jadi kapan dong kalian bulan madu Nathan, Keenan? Biar cepet di kasih keturunan, biar tambah rame rumah ini." Setelah selesai makan Jelita bertanya pada Nathan.


"Uhuk-uhuk!" Ethan tersedak mendengar pertanyaan sang ibunda pada abangnya.


Gerald mengambil segelas air kemudian memberikannya pada Ethan "Minum-minum!" Katanya.


"Emmh!" Ethan mengangguk seraya meneguk sambil melirik ke arah abangnya. Kikuk dan merasa bersalah masih mengiringi hari-harinya.


"Hati-hati." Dylan dan Jelita berucap bersamaan.


Di kursinya Keenan menatap wajah Ethan, tangannya gatal ingin memberikan elus lembut pada punggung pemuda tampan itu tapi apalah daya tangan tak sampai.


Nathan juga sedikit melirik ke arah adiknya, bahkan sampai detik ini pun laki-laki itu masih perduli pada pemuda perampas keperawanan isterinya.


Nathan lalu beralih pada Jelita "Kayaknya belum sempet Mam, Nathan masih banyak pekerjaan, lagian, tidak perlu bulan madu lah, udah nggak jaman bulan madu bulan maduan!" Jawabnya.


Keenan hanya diam saja seolah malas membahas hal yang sama sekali tidak dia harapkan dari suaminya.


"Kita dulu juga tidak sempat bulan madu, tapi jadi juga kamu." Dylan terkikik setelah mengucapkan itu.


Mendengar itu Ethan membulatkan matanya "Ya Tuhan! Gimana kalo ternyata Keenan hamil anakku?" Batinnya "Gimana sama Mami, Daddy, bang Nathan? Mereka pasti kecewa!" Tambahnya masih dalam hati.


Bukan mau Ethan seperti itu, toh sejatinya Ethan tidak pernah memiliki perasaan pada Keenan.


"Mami Daddy tenang saja, anak juga termasuk rezeki, kalo memang sudah di berikan kepercayaan, pasti akan datang kok." Lanjut Nathan berusaha menenangkan ibunya.


"Tapi, kalo bisa, berusaha biar tiap malam kamu tidak keluar rumah dong Nath, gimana mau jadi coba kalo Keenan nya kamu biarkan tidur sendiri terus? Sedangkan siang nya kamu juga kerja kan?" Protes Jelita.


"Iya, Nathan usahain." Pria itu tersenyum.


Sebenarnya, malam ini pun Nathan ingin sekali keluar dan menemui wanitanya, tapi Sachi menolak bertemu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...Bersambung...... Mohon like nya 😘...


__ADS_2