Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Uang


__ADS_3

Sachi menggeleng "Aku tidak suka sarapan roti, aku lebih suka sarapan bubur." Tolaknya.


"Jadi?"


"Ya udah, aku tidak usah sarapan saja, aku langsung pulang boleh kan Om?" Pinta Sachi.


Nathan menyilang kedua tangannya membentuk huruf X "No! Tugas mu belum selesai, kamu masih harus menemani ku sarapan!" Titahnya.


Sachi menaikan ujung bibirnya "Lalu, pekerjaan istri Om ngapain?" Tanyanya.


"Kamu yang menggantikan nya, kamu kan juga milikku, jadi, ...."


Sachi menggeleng "Aku istri orang, bukan milik mu!" Sergahnya menyela ucapan Nathan dengan nada ketus.


Nathan menyodorkan uang sebesar satu juta rupiah di atas meja makan "Bener tidak mau?"


Sachi melotot sambil tersenyum "Ini untuk ku lagi Om?" Tanyanya sambil meraih.


PLAK!


Nathan tepis tangan Sachi "Temani aku plus suapi aku makan, ikat kan dasi, sama kiss sebelum ke kantor!" Titahnya.


"Haaaassstagaaa!" Pekik Sachi "Kenapa banyak banget maunya, Om?" Tanyanya protes.


"Jadi?"


"Tidak mau lah! Aku menolak!" Sachi berpaling muka sambil bersedekap.


"Kalo begitu pulang lah, aku tidak akan pernah memberi mu uang lagi!" Usir Nathan sembari mengibas-ngibas kan tangannya, mencoba mengancam.


Sachi merengut, untuk menemani dan menyuapi makan juga mengikatkan dasi mungkin Sachi masih mau, tapi kiss sebelum ke kantor, ini sangat keterlaluan, mereka bukan pasangan suami istri.


"Semoga kita tidak bertemu lagi!" Sachi melengos pergi menuju pintu utama "Bye!" Katanya sambil melambaikan tangan tanpa mau menoleh. Setelah kemarin melihat Nathan memasukkan sandi pintu, Sachi sudah bisa mengingatnya.


Bagi Sachi uang semalam saja masih cukup untuk hidup selama beberapa bulan ke depan, jadi tidak perlu repot-repot menuruti kemauan Nathan saja.


"Baby!" Panggil Nathan, dia memijit pelipisnya setelah melihat Sachi benar-benar keluar dari apartemen miliknya "Astaga, dia benar-benar keterlaluan!" Gumamnya.


Jho terkikik sembari menutup mulutnya "Lihat lah Bos, aku bilang apa, dia bukan gadis yang mau di sentuh! Kalo cuma untuk bersenang-senang. Lebih baik Bos cari wanita lain yang lebih berpengalaman menjadi simpanan!" Sarannya.


"Ck!" Nathan masih memijit pelipisnya "Pastikan dia kekurangan uang! Supaya dia mau kembali padaku!" Semakin mendapat penolakan semakin tinggi pula rasa penasarannya.

__ADS_1


Jho manggut-manggut "Ok!" Jawabnya dengan senyum mencemooh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menaiki angkot dan berjalan kaki sedikit di gang sempit, pada akhirnya tiba juga Sachi di rumah kontrakan kecilnya.


Di dalam sudah ada Edric yang bersedekap menatap tajam ke arah nya "Wah, sudah berani beli baju baru, rupanya!" Sindirnya sembari menelisik sekujur tubuh gadis itu yang terlihat berbeda setelah mengenakan gaun.


Sachi menurunkan pandangan, ia juga menatap ke arah sekujur tubuhnya "Aku mendapatkan ini dari seseorang, dia memberi ku ini, bukan beli!" Katanya.


Mendengar itu Edric mendekat lalu meremas rambut di bagian tengkuk isterinya dengan sangat geram "Apa kau menjadi wanita penghibur?" Tukasnya keras.


Sachi meringis mendapati jambak kan yang sangat pedas di kepalanya "Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya menemani orang makan malam, tidak lebih!" Ujarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak perduli dengan alasan Sachi, Edric lebih tertarik untuk memeriksa tas selempang milik isterinya yang juga baru.


Di renggut nya tas coklat itu dan membuka resleting sebelum kemudian mengeluarkan seluruh isi tas ke lantai.


Edric melotot saat melihat uang merah berserakan dimana-mana "Uang, sebanyak ini, uang?" Edric menyeringai sambil memunguti satu persatu helaian merah itu.


Sachi ikut berjongkok untuk mengambil uang-uang miliknya, tapi dengan cepat Edric menarik rambutnya kembali "Kau tidak boleh mengambil nya, kamu bisa kan menemani orang mu itu makan malam lagi? Cari duit yang banyak, bila perlu jual keperawanan mu!" Usulnya dengan seringai di ujung bibirnya.


PLAK!


Sachi memegangi pipi sambil beranjak dari jongkok nya kemudian berlari keluar dari kontrakannya.


Itu yang biasanya Sachi lakukan saat suaminya menyakiti fisiknya, jika Edric sudah mulai bermain tangan, Sachi lebih memilih pergi, meskipun pada akhirnya kembali lagi.


Sachi berlari menuju kontrakan milik ibunya yang tidak jauh dari kontrakannya, rupanya wanita tua itu tengah terbatuk-batuk di sisi ranjang sederhana berukuran kecil, bahkan kusam dan usang seluruh perabotan nya.


Kontrakan yang bertahun-tahun lamanya Mariam tinggali bersama dengan almarhum suaminya juga satu putri cantiknya.


"Ibu!" Sachi berteriak sambil berlari menangkap tubuh ibundanya yang hampir saja terjatuh ke lantai.


"Sachi, nak!" Wanita itu tersenyum menatap lekat wajah cantik putrinya "Jangan khawatir, ibu tidak apa-apa." Katanya lalu meluah mual.


Sachi menggeleng "Tidak apa-apa bagaimana? Pasti sakit, iyakan? Ibu lemas lagi, iyakan?" Cecar nya.


"Ibu rela kalo ibu tidak tertolong, ibu justru ingin sekali pergi dengan tenang, dari pada membebani hidup mu terus."

__ADS_1


Sachi menggeleng sambil menyeka kasar air mata di pipi mulusnya "Aku cuma punya ibu, di dunia ini, aku cuma butuh ibu!" Katanya.


"Kita ke rumah sakit yah, ini jadwal ibu cuci darah kan? Sekalian kita rawat inap juga di sana!" Usul Sachi.


"Tidak usah, ibu baik-baik saja!" Tolak halus Mariam dengan nada lemah.


"Ibu tidak perlu khawatir, kita bisa berobat, Sachi punya uang banyak kok, percayalah, Sachi banyak uang!" Bujuk Sachi.


"Sachi," Mariam menggeleng.


"Ku mohon Bu," Rengek Sachi memelas.


Melihat hal itu Mariam mengangguk "Iya, baiklah." Katanya.


Setelah melewati gang sempit. Keduanya berjalan beriringan menuju jalan raya. Sachi masih terus memapah tubuh ibunya meskipun terkadang terhuyung karena berat.


Angkot berwarna merah mereka tunggangi dan rumah sakit terdekat yang mereka tuju.


Di dalam angkot ibu Sachi terus mual dan hendak muntah hingga para penumpang lainnya terus menyingkir jijik melihatnya.


Sachi terus memeluk erat tubuh ibunya dengan rasa yang khawatir.


Di dunia ini hanya Mariam lah keluarga satu-satunya yang tersisa. Apa pun, akan Sachi lakukan untuk wanita kesayangannya.


Tiba di rumah sakit Sachi mendaftar kemudian langsung mendapat penanganan cepat, syukurlah rumah sakit yang dia datangi rumah sakit milik almarhum Hardiansyah yang tidak terlalu rumit persyaratannya.


Meskipun demikian tetap saja Sachi masih harus membayar administrasi setelah ibundanya mendapatkan kamar.


Kamarnya biasa, bukan VVIP tapi bagi Sachi sangat mahal karena rumah sakit ini termasuk rumah sakit elit.


"Silahkan selesaikan biaya administrasi nya, baru setelah itu ibu anda akan mendapat perawatan intensif dari kami." Wanita itu menyodorkan satu lembar kertas pada Sachi.


Sachi mengangguk seraya menerima "Iya terimakasih." Jawabnya.


Sachi mendengus setelah melihat tagihan rumah sakit sebesar dua juta rupiah, dari mana Sachi mendapatkan uang itu? Edric sudah pasti tidak akan memberinya uang, belum lagi setelah cuci darah dia harus melunasi biaya rawat inap nya.


"Mungkin sekitar lima juta, aku membutuhkan uang cepat untuk perawatan ibu!" Gumamnya.


Tak ada yang terpikir di kepalanya selain memintanya pada Nathan Ellard Jackson, direktur utama perusahaan Jack group yang banyak uang dan sudah dia kenal baik selama dua hari ini.


"Apa aku harus ke sana?" Sachi memelas saat bergumam lirih.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2