
Setelah makan malam, Nathan duduk di sofa balkon sambil memeriksa tagihan kartu kredit eksklusif yang dia berikan pada wanitanya.
Tak ada lagi aktivitas pembayaran yang tidak dia ketahui selain biaya rumah sakit saja.
Dari belanja sepatu, baju, juga makan di restoran semuanya dia sudah tahu karena dia yang menyuruh.
"Tagihan rumah sakit? Apa ibunya yang sakit yang masuk rumah sakit? Kebetulan banget, dirawat di rumah sakit punya keluarga Opah!" Gumamnya.
Nathan lantas meraih ponsel satelit yang tergeletak di sebelah kanan pahanya kemudian menghubungi sang asisten personal.
Cukup lama tak mendapat jawaban hingga Nathan sedikit geram dibuatnya. Syukurlah di panggilan ke dua, suara Jho terdengar meskipun sangat lirih.
📞"Hmmm? Ada apa lagi Bos?"
"Kemana saja kamu? Aku menyuruh mu mencari tahu seluk beluk gadis ku bukan!" Pekik Nathan yang sengaja tertahan karena sedikit memelankan suaranya.
📞"Sudah, tentu saja sudah, makanya sekarang aku lelah, aku juga manusia, butuh istirahat Bos!"
"Kamu boleh istirahat setelah memberitahukan informasi padaku!" Sambung nya.
📞 "Iya, iya. Dia sudah menikah, suaminya tidak pernah perduli Nona Sachi pulang atau tidak pulang, asal bawa uang urusan kelar, begitu yang aku dengar dari tetangga nya."
Nathan terdiam sejenak "Lalu, kenapa dia melakukan pembayaran rumah sakit?" Tanyanya setelah itu.
📞 "Hmm, Nona Sachi sekarang di rumah sakit, ibunya di rawat di sana. Keluarga Nona Sachi cuma suami dan ibunya saja, tidak ada yang lain, ayahnya sudah meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan mobil."
"Baiklah, kau boleh istirahat!" Titah Nathan.
📞 "Terimakasih Bos." Nathan mematikan panggilan telepon setelah suara Jho terdengar lega.
Nathan menengadahkan wajahnya memandang cahaya tamaram dari rembulan malam yang memanjakan netra indahnya "Apa dia merengek padaku karena ini? Berapa kali dia menolak menjadi simpanan ku, lalu tiba-tiba saja dia mau." Gumamnya penuh tanda tanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ada saat-saat dalam hidup ketika bersenang-senang bersama orang yang di cintai, waktu akan terasa begitu cepat berlalu.
Sebaliknya, saat menunggu sesuatu yang istimewa atau dalam kondisi sulit, waktu terasa lambat.
Seperti Nathan yang tak menyadari dirinya sudah berhubungan dengan Sachi selama dua Minggu. Setiap hari Nathan menyempatkan waktu untuk bertemu dengan gadisnya, tak ada yang mereka lakukan selain bersentuhan tubuh luar saja.
Nathan belum berani menyentuh Sachi lebih dari peluk cium di pipi, meskipun tak di pungkiri acap kali sang junior juga ikut terbangun saat merasakan kekenyalan kulit ranum gadis itu.
Pagi ini seperti biasanya, sebelum berangkat ke kantor Nathan mengantar Sachi pulang. Sachi harus bersedia menginap di apartemen jika Nathan menyuruhnya.
__ADS_1
Dandanan Sachi sudah berubah, dari yang tomboi menjadi gadis menggemaskan setelah Nathan mengatur semua yang boleh dan tidak di pakai oleh nya.
"Terimakasih, bye bye!" Sachi baru akan turun dari mobil mewah Nathan, namun, laki-laki itu sudah lebih dulu menariknya.
"Kiss me please!" Nathan menyodorkan pipinya tepat di depan bibir gadis cantik itu.
Sachi mendengus tapi tetap menurut untuk memberikan sebuah kecupan singkat pada pipi berjambang tipis milik Nathan.
"Terimakasih, hati-hati."
Setelah melihat senyuman manis dari pria dewasa itu, Sachi keluar dari mobil kemudian berjalan memasuki gang sempit, menuju kontrakan di mana ibu dan suaminya tinggal.
Sekarang Sachi lebih memilih pulang ke kediaman ibunya terlebih dahulu sebelum pulang ke kontrakan suaminya, dia harus memberikan uang pada Mariam sebelum uangnya di rampas Edric semua.
Selain kartu kredit, Nathan juga memberinya uang cash untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa di bayar dengan kartu.
Nathan tahu suami Sachi harus mendapatkan uang agar tidak mempermasalahkan kemana Sachi pergi dan tidur.
"Ibu gimana mbak?" Tiba di kontrakan Mariam, Sachi bertanya pada tetangga yang dia percaya untuk menjaga ibunya, wanita berusia tiga puluh tahun itu juga mendapatkan gajih perhari dari Sachi.
Sepertinya Mariam memang membutuhkan seseorang, dan Sachi memilih Ismi untuk merawat sang ibunda.
"Baik, syukur, ibumu sudah mulai membaik. Semoga saja kondisinya terus berangsur membaik seperti ini Sachi." Jawab Ismi.
Setelah beberapa percakapan, juga memberikan beberapa lembar uang pada Ismi dan Mariam, Sachi keluar dari kontrakan tersebut kemudian menuju kontrakan Edric.
Bukan karena cinta, tapi karena rasa bersalah yang membuat Sachi masih terus tidak kapok mendatangi kediaman Edric.
Janji Sachi tujuh bulan yang lalu, akan bertanggung jawab atas kesalahannya meskipun cara Edric terkadang tidak memanusiakan dirinya.
Lima tahun yang lalu Sachi pernah mengalami kekecewaan yang serupa dengan Edric, saat sang ayah di tabrak lari oleh seseorang, membuat Sachi ingin sekali membalas dendam kepada siapa saja yang telah melakukan hal tidak manusiawi itu pada ayahnya.
Hal itulah yang membuat Sachi juga tidak ingin lari dari tanggung jawabnya. Sebelum Edric bisa sembuh dari penyakitnya Sachi akan terus menjadi istrinya.
"Heh!" Sesampainya di rumah, Edric menyambutnya dengan tatapan tajam seperti yang sudah-sudah.
"Ada apa?"
"Bawa duit lagi gak?" Edric meraih tas selempang Sachi lalu memeriksanya sendiri "Bagus!" Celetuknya setelah mengambil beberapa lembar uang merah dari dalam sana.
"Pastikan uang-uang itu kamu pakai untuk pengobatan mu kan Edric?" Tanya Sachi memastikan.
"Ya jelas lah, aku juga mau cepat sembuh, biar bisa secepatnya menceraikan mu dan menikahi Laila!" Sungut Edric.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, semoga cepat berhasil, aku lelah hidup seperti ini terus!" Batin Sachi sembari memunguti pakaian milik Edric yang tercecer di mana-mana.
Edric duduk di kursi usang sambil menatap tubuh molek Sachi dari atas hingga bawah "Nggak salah, kalo ada yang jadiin dia temen tidur, bodinya ajah montok begini. Pantesan tuh orang kaya naksir bini gue!" Batinnya.
"Oya! Usahakan, malam ini jangan pergi ke mana-mana, aku mau mengenal kan mu dengan seseorang!" Kata Edric kemudian.
Sachi menoleh "Siapa? Aku tidak bisa, aku masih punya kontrak kerja sama seseorang! Jadi nggak bisa!" Tolaknya.
Mendengar itu Edric beranjak dari duduknya kemudian melangkah mendekat dan menarik rambut isterinya "Kamu membantah ku?" Berang nya dengan tatapan tajam.
Sachi meringis sambil memegangi rambut miliknya, berusaha mengurangi rasa pedas yang Edric berikan "Bukan membantah, tapi."
"Pokoknya, kamu harus menurut! Aku suami mu! Aku berhak mengatur dengan siapa kau akan pergi malam ini!" Putus Edric memotong ucapan Sachi.
Sachi mengernyit mendengar perkataan tidak mengenakan Edric "Apa maksudmu pergi malam ini, Edric, apa kau berusaha menjual ku?" Tanyanya.
Edric menyeringai "Tidak menjual mu sayang, aku cuma mau mengenalkan mu saja, ternyata ada yang mengagumi mu selama ini. Jadi temui lah dia." Ujarnya.
"Aku tidak mau, aku bukan wanita penghibur, aku, ..."
"Cuih!" Edric membuang ludah ke samping lalu semakin menarik rambut lurus isterinya hingga Sachi semakin meringis menahan rasa sakit.
"Apa kau bilang tadi, kau bukan wanita penghibur? Lalu apa yang kau lakukan selama ini hah? Pakaian bagus, perawatan mahal, duit yang kau berikan untuk ku dan ibu merepotkan mu, kau dapat dari mana selain tidur dengan laki-laki hidung belang?" Tukasnya sarkas.
"Aku hanya menemani nya ngobrol, makan malam, sarapan, mengikatkan dasi, tidak lebih dari itu!" Sanggah Sachi.
"Bulsyiittt!" Bentak Edric keras "Malam ini juga. Kau harus bertemu dengan kenalan ku, atau aku tidak akan memberikan mu izin keluar rumah lagi! Biar saja ibumu mati karena tidak ada yang merawatnya!" Lanjutnya.
"Tapi, ..."
Edric menghempas tubuh kecil Sachi kemudian melangkah panjang keluar dari ruangan sempit itu. Baru saja Sachi ingin ikut keluar Edric sudah lebih dulu menutup dan mengunci pintunya.
"Edric! Keluarkan aku dari sini! Aku tidak mau di jual! Aku bukan wanita penghibur!" Sachi menceracau sembari memukuli permukaan pintu berwarna biru itu.
"Edric! Ku mohon!"
Tak ada jawaban lagi dari Edric karena sepertinya laki-laki itu sudah pergi, setelah mengiwir lembaran uang merah dari isteri cantiknya.
"Edric jangan jual aku!" Teriakan Sachi berubah menjadi isak tangis memilukan.
Menjadi simpanan Nathan tidak membuatnya kehilangan keperawanan, lalu apa kabarnya jika laki-laki lain yang menjadikannya wanita malam?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩBersambungΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Boleh semangati author dengan Like dan komentar nya.....