
"Sebenernya siapa sih dia? Anak konglomerat mana hah? Beraninya nyari ribut dengan ku!" Setelah Sachi pergi Keenan menjadi lebih berang dari sebelumnya.
Baru kali ini dirinya mendapat perlakuan buruk dari seseorang, biasanya siapapun orangnya pasti akan mengalah padanya.
Shandra mengelus lembut punggung wanita itu "Sudah-sudah, lagian ini juga salah mu, aku kan sudah bilang, gaun ini punya pacar Jho, asisten pribadi suami mu." Ujarnya.
"Apa? Jho?" Keenan tersentak mendengar penuturan sahabatnya "Cuma pacar asisten berani berbuat seperti itu padaku? Duit Jho juga hasil dari kerja sama suami ku!" Berang nya.
Napas berderu hingga naik turun dadanya karena emosi yang meledak-ledak "Dasar cewek tidak tahu di untung!" Umpat nya.
"Mungkin dia cuma pacar asisten, tapi bisa saja kan dia sendiri anak orang kaya, buktinya setiap belanja ke sini selalu pake black card, masa Jho bisa memfasilitasi pacarnya black card sih?" Sambung Shandra.
Keenan berkerut kening "Black card? Atau jangan-jangan, Jho korupsi lagi, dia pake uang suami ku buat membiayai tuh cewek binal? Dasar tidak tahu diri mereka!" Tukasnya sarkas.
"Ssuutt, kamu tidak boleh sembarangan menuduh tanpa bukti, Jho laki-laki baik, tidak mungkin Jho korupsi!" Sanggah Shandra membela, selama ini Jho tidak pernah menunjukkan gelagat tidak baik pada perancang busana sekaligus owner butik itu.
"Kamu sendiri gimana? Masa istri Nathan Ellard Jackson, belanja pake kartu kredit biasa sih? Memang, suami mu tidak memfasilitasi kartu kredit eksklusif no limit hmm?" Sindir Shandra kemudian.
Keenan mendengus "Belum, kan belum jadi kartunya, nanti kalo sudah jadi aku kasih tunjuk ke kamu!" Kilahnya "Iya juga, kenapa bang Nathan nggak memfasilitasi ku black card? Tengsin kan gue!" Sisi Batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam pukul 20:00 Keenan baru sampai di rumah besar milik keluarga suaminya, wajah wanita itu muram durja, merasa di rendah kan sudah pasti, karena baru kali ini ada gadis yang melampaui keberaniannya.
Dari siang sampai sore biasanya Keenan menghabiskan waktu bersama keluarganya sendiri, karena Jelita dan Dylan lebih sibuk di luar rumah.
Setelah kepemimpinan di alihkan ke pada Nathan, Dylan menggeluti dunia seni lukis kembali sambil melanjutkan kepengurusan panti asuhan milik almarhumah ibu tercinta.
Keenan menaiki anak tangga, langkahnya gontai menuju ke kamar miliknya, pintu terbuka seiring dengan masuknya wanita itu.
Di sisi kiri ruangan, Nathan masih berkutat dengan beberapa dokumen di meja kerjanya, Keenan pergi ke kanan untuk bergegas membersihkan diri.
Keenan menanggalkan seluruh pakaiannya kemudian menyiapkan air, susu, juga busa sabun untuk merendam tubuhnya.
Dalam bathtub dirinya duduk merebah, berusaha merelaksasi kan pikiran setelah hari ini bergulat dengan satu gadis cantik, apesnya lagi adalah gadis itu bahkan lebih cantik darinya.
Terlintas dalam benak untuk merayu suaminya demi mendapat fasilitas kartu kredit eksklusif yang seharusnya Nathan berikan padanya.
Jika bukan karena cinta, setidaknya demi kasta sosialnya, lagi pun, Ethan yang dia kejar-kejar terus saja menolak "Aku lelah mengejar cinta Ethan, ketulusan ku tidak bisa dia lihat." Gumamnya lirih.
"Lalu, apa aku harus menuruti perintah Mamah sore tadi?" Tambahnya.
__ADS_1
"Kamu rayu suami mu, kamu bisa pura-pura mencintai nya, setidaknya demi kasta sosial mu, malu kan kamu sekarang sudah hampir dua bulan menjadi istri Nathan kamu belum juga di berikan kartu ekslusif, yang pandai dong merayu suami, Keenan!" Pesan ibundanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tengah malam, Sachi sudah rapi wangi cantik dengan gaun malam berwarna hijau botol dan duduk di sebuah jok mobil yang melaju dengan kecepatan sedang menuju restoran mewah tempat di mana dia akan makan bersama sang pemilik.
Restoran yang berbeda dari biasanya, yaitu restoran yang terletak di tepi pantai, matanya pun sudah mulai di suguhi pemandangan lautan lepas.
Wajahnya merengut, suasana hatinya masih kacau setelah siang tadi tidak sengaja di pertemukan dengan istri Syah sugar Daddy nya.
Tiba di tempat, Sachi turun dari mobil kemudian berjalan gontai memasuki bangunan yang di awasi oleh manager "Silahkan Nona, Tuan muda sudah menunggu." Sambut laki-laki itu padanya.
"Iya, terimakasih." Sachi tersenyum ramah kemudian berjalan lagi menuju meja yang di hadapkan langsung dengan bibir pantai.
Deburan ombak begitu nyaring menenangkan pikiran "Om, kenapa ketemu di sini?" Tanyanya.
Nathan tersenyum "Ada yang mau Om bicarakan." Jawabnya.
Nathan menyambutnya dengan cipika cipiki sebelum kemudian menyuruh Sachi duduk pada kursi yang dia sodorkan.
Keduanya duduk kemudian Nathan mendekati wajah gadis itu dan menghirup aroma wangi dari sana "Wanginya lain dari kemarin hmm?" Tanyanya.
Bahkan sedetail itu yang Nathan tangkap dari wanitanya, wangi ujung rambut Sachi hingga ujung kaki Sachi, sudah Nathan telisik.
Nathan mengacak-acak kecil puncak kepala gadis itu "Kenapa cemberut?" Tanyanya lagi.
"Om tidak ngeh yah? Sachi tidak memakai gaun baru yang ku pesan di butik Kak Shandra." Jawab gadis itu jutek.
"Oya, tapi ini juga cantik, memang ini dari mana gaunnya?" Nathan menatap setiap inci gaun yang melekat pada tubuh gadisnya.
"Sachi beli di butik lain, Sachi sebel, gaun cantik yang ku pesan, di rebut istri Om yang sombong itu!" Sambung Sachi.
"Oya? Keenan maksud mu?" Nathan sedikit terkejut mendengar hal itu.
Sachi berpaling muka "Dia sombong, bahkan mau menarik rambut ku, aku tidak menyukainya." Jawabnya judes.
Nathan menyukai setiap ekspresi wajah Sachi dari yang marah hingga yang girang, di matanya Sachi seperti anak kecil, dirinya selalu di buat ingin terus memanjakan gadis itu.
"Mana ada orang yang menyukai saingannya? Wajarlah kamu tidak menyukainya. Itu tandanya kamu cemburu Baby?" Ujarnya sambil menggenggam sebelah tangan Sachi.
Sachi menoleh dan menatap Nathan dalam-dalam "Apa iya aku cemburu? Kenapa rasanya aneh begini? Kenapa aku harus merasakan cemburu? Aku ini hanya wanitanya, seharusnya tidak boleh mencintai nya, atau aku akan terus merasa sakit setelah Om Nathan berbaikan dengan isterinya." Batinnya.
__ADS_1
"Kamu cemburu Baby?" Nathan menekan kepala gadis itu dan mengecup lembut kening nya "Tidak ada yang salah, cemburu itu wajar, tapi ingat, kamu berhubungan dengan laki-laki yang sudah memiliki istri. Ini salah satu yang harus Baby kuasai. Menguasai diri sendiri." Tuturnya setelah melihat ekspresi merengut gadisnya.
Sorot mata Sachi meredup "Apa Om Nathan sedang mengingat kan ku, di mana posisi ku yang sebenarnya?" Batinnya.
"Sekarang kita makan, ini semua, makanan kesukaan mu, makan lah." Titah Nathan lembut.
Sachi mengangguk, segera ia berkutat dengan hidangan yang restoran romantis bertema pantai itu sajikan khusus untuk dirinya bersama sang pemilik.
Nathan dan Sachi hanya mempunyai sedikit waktu untuk temu kangen, dan mereka memanfaatkan perjumpaan itu dengan baik.
Mengobrol, bercanda gurau, kadang juga berjalan-jalan ke taman. Mereka memang selalu bertemu tengah malam karena jarang sekali menemui kendala saat berkencan dalam keadaan gelap seperti ini.
Di jam begini, pekerja kantoran baru saja akan memasuki alam mimpi, maka sedikit sekali orang yang berkeliaran di jalanan.
Nathan dan Sachi sengaja tidak makan malam di rumah karena akan melalui malam bersama sambil mengemil.
Selesai, Nathan mengelap ujung bibirnya lalu mengusap lembut pipi Sachi "Kenapa tidak di habiskan? Bukannya Baby suka ini?" Tanyanya heran.
"Sachi diet Om, hehe," Nyengir gadis itu.
Nathan mengernyit "Diet? Buat apa? Om suka tubuh berisi mu, lalu apa alasan nya?" Tanya nya lagi.
"Aku mau juga punya tubuh ramping seperti istri mu, dia sangat seksi kan?" Jawab polos gadis itu.
Nathan tersenyum "Kamu lebih seksi, jadi jangan pernah berpikir untuk diet, makan sesuai porsi biasanya, di iringi gym dan olahraga, tubuh mu sudah indah, Om menyukainya." Pujinya.
"Benarkah?" Nathan mengangguk sambil tersenyum.
Setelah menyelesaikan ritual makan bersama gadisnya, Nathan berdiri kemudian menarik tangan gadis itu untuk ikut berdiri berhadap-hadapan dengan dirinya.
Jas hitam miliknya Nathan lepas lalu memakaikannya pada tubuh Sachi "Sepertinya Om salah tempat, harusnya suasana pantai begini sore hari bukan, maaf hanya bisa memberikan mu waktu tengah malam begini." Ujarnya.
Sachi menggeleng "Tidak apa, Sachi menyukai aroma laut malam hari." Ucapnya tersenyum sangat manis.
Nathan sampai tak kuasa untuk tidak mengecup nya, bibir mungil itu Nathan pagut beberapa kali dengan mata yang terpejam.
Indah yang keduanya rasakan, debar jantung mulai mengambil peran, berdetak kencang begitu menggetarkan jiwa.
Nathan melepas penyatuan bibir mereka lalu menatap lekat wanitanya "Will you marry me, Baby?" Tanyanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung,....