
Sachi keluar dari lift dan berjalan menuju lokasi permainan mesin yang di gandrungi anak-anak dari yang TK sampai yang kuliahan.
Tempat ramai ini lumayan membuat Sachi lebih bahagia dari sebelumnya. Sesungguhnya Sachi masih kekanak-kanakan, mungkin karena pasangannya ke Daddy an.
Figur ayah yang telah lama meninggalkan dirinya kini Sachi dapatkan dari suaminya.
"Daddy, aku mau boneka dari mesin capit itu, lucu-lucu!" Ajak Sachi sambil menarik tangan suaminya mendekati seonggok mesin yang di penuhi boneka berwarna warni.
Nathan mendengus "Sayang, cinta, Baby, kalo kamu mau Daddy bisa beliin pabriknya sekarang, ngapain buang waktu buat main permainan kayak gini hmm? Kamu akan mendapatkan sebanyak apa pun yang kau mau, sekarang lebih baik kita pulang, hmm!" Bujuknya memelas.
Sachi menatap kecewa "Daddy, aku tahu kamu bisa memberikan apa saja untuk ku, tapi aku mau boneka dari mesin capit ini, buktikan cinta Daddy sungguh-sungguh dan akan memperjuangkan ku seperti Daddy mengambil boneka dari mesin capit ini! Berapa pun beratnya Daddy pasti bisa!" Ujarnya lalu mencebik.
Nathan menghela "Oh Tuhan, bukan tidak mau menuruti, tapi Mammi ada di sini, dia pasti syok melihat ku bersama wanita lain." Batinnya.
"Sayang, ..."
Nathan tak tega melihat wajah cantik isterinya menjadi sendu "Baik lah." Nurutnya.
Nathan menyuruh Jho mendapatkan kartu ******* dari kasir kemudian mencoba melakukan apa yang Sachi titah kan.
Mungkin mustahil bisa mengambil boneka dari dalam mesin itu karena penjepit yang terlalu lembek, tapi Nathan akan mencobanya, semua ini demi sang nyai.
Nathan harus rela membungkuk karena mesin itu terlalu pendek untuk dirinya yang bertubuh tinggi, sementara Sachi berdiri di sebelahnya memberikan semangat.
Tatapan keduanya menuju ke arah yang sama yaitu penjepit boneka. Tangan Nathan mulai ripuh dengan handel dan tombol mesin itu.
"Ambil bonekanya Daddy!" Seruan semangat dari Sachi lumayan membuat Nathan lebih percaya diri dan ingin terus mencobanya.
Sudah lebih dari sepuluh kali mencoba, Nathan tak pernah berhasil tapi senyum manis terus mengembang begitu impresif.
"Baby, ternyata ini tidak semudah mengurus perusahaan besar ku." Celoteh nya. Menyenangkan, ini benar-benar menyenangkan bagi Nathan.
Dirinya sampai melupakan segalanya, persetan dengan orang-orang yang mungkin akan memergokinya. Nathan hanyut dalam permainan mengasyikkan itu, hadirnya Sachi benar-benar seperti embun yang menyegarkan meskipun hanya sesaat.
"Ayok Daddy, dikit lagi." Sachi berdecak girang saat Nathan hampir saja mengambil satu boneka dari dalam sana.
Nathan menyodorkan pipinya tepat di depan bibir Sachi "Kiss dulu, Baby!" Pintanya.
Cup!
Amunisi baru untuk Nathan sebelum mencobanya kembali, bibir keduanya tersenyum saat saling menatap, alangkah bahagia hidup Nathan jika hanya Sachi saja yang menjadi istrinya.
Tak perlu khawatir ini itu saat tertawa dan tersenyum di hadapan banyak orang, dia juga bisa memamerkan kecantikan Sachi kepada semua koleganya.
Sesekali Nathan mengecup bibir isterinya sebelum kemudian memulai kembali perjuangannya.
__ADS_1
PLAK!
Nathan menoleh, rupanya Jho yang berdiri di sampingnya "Ada Nyonya di sana!" Bisiknya di telinga.
Di tunjukkan nya dua orang wanita cantik, yaitu istri dan ibunda laki-laki penguasa itu "Mammi."
Rupanya Jelita berada di sekitaran tempat itu, terlihat Jelita mengedarkan pandangan seperti sedang mencari seseorang.
"Kenapa Mammi ke sini?" Tanya Nathan.
"Di sini juga ada Tuan muda, Nyonya besar pasti mencari Tuan muda Bos!" Yang di maksud Jho adalah Ethan dan Gerald.
Nathan beralih pada Sachi yang masih mengutak-atik handel mesin capit "Sayang, Daddy ke toilet sebentar, kamu di sini dulu." Bisiknya di susul dengan kecupan manis di bibir wanita itu.
Sachi mengangguk namun tak terlalu fokus dengan kepergian Nathan, fokusnya sekarang adalah menggotong boneka berwarna putih itu menuju ke lubang.
Nathan pergi ke kanan sementara Jho pergi ke kiri karena Jho juga harus menghindari Nyonya besarnya.
Di sekitaran tubuh Sachi hanya ada beberapa antek-antek Intel kepercayaan Nathan saja yang menjaga dari kejauhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, dua orang pemuda berwajah tampan tengah asyik berduel balap di arena bermain yang masih satu lingkup dengan Sachi.
Dialah Ethan dan Gerald, mereka memang masih seperti anak-anak, selalu meluangkan waktu untuk bersenang-senang.
Pagi tadi Gerald merengek pada sepupu dokternya dan berhasil mendapat sejumlah uang untuk bermain-main di hari liburnya.
"Om, lu tunggu di sini!" Ethan pamit dan Gerald mengangguk "Jangan lama-lama, gue laper!" Katanya, pandangannya masih fokus pada layar monitor di hadapannya.
Ethan beralih fokus pada sosok cantik yang akhir-akhir ini sangat akrab dengan pikirannya "Jodoh gue!" Gumamnya pelan, suaranya bahkan tak terdengar karena riuhnya tempat bermain itu.
Ethan turun dari motor digital nya kemudian berjalan menuju wanita cantik yang sudah sangat lama dia nantikan perjumpaannya.
Sachi, tentu saja gadis yang dia maksud adalah Sachi, Ethan berdiri tegak di sisi kanan wanita itu "Ekm ekm!" Dahaman nya.
"Uuuh susah nya!" Keluh Sachi.
Ethan membungkuk kan tubuh tingginya kemudian menilik wajah Sachi yang mulai frustasi karena sulitnya permainan capit boneka itu.
"Apa hubungan kita akan seperti boneka ini? Sulit sekali di raih." Sachi terlihat mendengus lemah.
Barusan Sachi mendengar suara Ethan yang hampir tak ada bedanya dengan suara Nathan, dan begitulah yang dia katakan pada pemuda di sebelahnya setelah itu.
Ethan menatap lekat wajah sendu Sachi yang selalu terlihat cantik "Biar aku yang mencobanya, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, semua pasti bisa!" Katanya.
__ADS_1
Sachi menunduk "Daddy juga pasti tidak akan bisa, kau lebih pandai bermain di kantor ketimbang di sini kan." Ujarnya lirih.
KlaKk!!
Dalam sekejap, mata Sachi membulat sempurna saat melihat boneka yang dia incar keluar dari lubang di bawah mesin.
"Huaaaa, Daddy bisa akhirnya! Daddy hebat!" Sachi melompat-lompat kegirangan dan itu terlihat sangat cantik di mata Ethan.
"Ya Tuhan, cantiknya!" Batin Ethan.
Sachi mengambil bonekanya lalu merentangkan kedua tangan seperti ingin memeluk pemuda di sampingnya. Gerakan girang Sachi stuck di tempat saat menyadari pria tampan yang bersamanya bukanlah suaminya.
"I-then?" Sachi menelan saliva setelah menyeletuk kan nama adik iparnya.
Ethan membuang sekilas pandangan ke arah lain "Wo ho, rupanya Nona sudah mengenal ku, ini benar-benar tidak adil!" Kelakarnya, senyum manis pemuda itu tercipta begitu saja.
Kakak beradik tampan itu memang tidak mirip, satunya bule yang satunya lagi lokal, tapi suaranya sangat mirip, Sachi sampai tak mampu membedakannya.
Dalam panik yang mencoba dia tekan, Sachi mengedarkan pandangannya ke segala arah "Kemana Daddy? Kenapa aku bersama orang lain?" Gumamnya.
Wajah Ethan mendekat hingga suara gumaman wanita cantik itu mampu dia dengar "Apa Nona bersama Daddy mu? Memang nya di mana dia?" Tanyanya, tatapannya masih begitu lekat, menelisik setiap lekuk wajah Sachi.
Sachi mengernyit "Bukan urusan mu!" Pekiknya jutek. Mengingat perbuatan Ethan yang di tutupi Nathan membuat Sachi membenci laki-laki ini.
Wanita itu melengos pergi tanpa permisi dan Ethan takkan pernah membiarkan itu terjadi "Hei, setelah membawa boneka dari ku, Nona pergi begitu saja hmm?" Tanyanya.
Di halanginya jalan Sachi hingga kening Sachi terbentur dada betonnya "Tiga kali kita tidak sengaja di pertemukan, itu berarti kita berjodoh Nona!" Senyumnya.
Di empat sisi tempat itu, masing-masing pasang mata menyaksikan adegan mereka.
Jho dengan tepukan tangan di jidatnya, Gerald dengan gelengan kepalanya, Nathan dengan kepalan tangan dan rahang tegasnya, dan Jelita sang ibunda dengan senyum manisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di belahan dunia lainnya, yang sudah sedikit jauh dari bangunan megah itu, seorang laki-laki berjambang tengah asyik menggoreskan cat akrilik pada permukaan kanvas nya.
Ruangan yang di penuhi lukisan itu adalah milik dari nama kondang DJ. Desir angin dari pantai menemani imajinasi nya.
Sekilas mata memandang lukisan itu abstrak tapi rupanya ada bentuk ombak juga panorama alam di sekitarnya jika di saksikan secara seksama, dan itulah nilai tinggi dari seni Dylan Jackson yang terkenal ini.
Gawai tipis miliknya berdering dan Dylan tak membutuhkan waktu lama untuk meraihnya.
📩 "Sekarang, Daddy harus siap-siap mengembalikan fasilitas bungsu, dia sudah punya pacar, cantik lagi ceweknya."
Dylan tersenyum manis membaca pesan teks dari isteri tercintanya "Bocah tengil itu!" Gumamnya. Meskipun tidak menampakkan rasa cintanya, sejatinya Dylan sangat menyayangi putra bungsunya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Yang punya vote ku tunggu karena hari ini hari Senin.... hihihi 🤭