
Merasa paling benar, itu sifat manusia, merasa tertindas dan menjadi korban saat tersakiti juga bagian dari alaminya manusia.
Pada awalnya, Sachi menerima lamaran pria beristri karena kesulitan hidup yang dialaminya, Nathan pun mulanya hanya ingin mencari penawar dari hati yang tersakiti karena pengkhianatan.
Hubungan rumit ini sudah di mulai sedari awal pertemuan mereka. Lalu salahkah jika ternyata keduanya saling mencintai satu sama lain sekarang? Cinta tak pernah memberi aba-aba kapan datang dan perginya.
Dari awal hubungan Sachi bersama Edric bukan karena rasa cinta melainkan rasa tanggung jawab setelah Sachi membuat cidera laki-laki itu.
Seperti itu lah sebabnya, tak ada hal yang membuat Nathan cemburu pada mantan suami istri kesayangannya. Nathan tahu selain ibunda, Sachi hanya menyayangi dirinya.
Lain halnya dengan Nathan yang sudah dari sebelum menikah memang mencintai Keenan seorang, Keenan ialah cinta pertamanya, dan Keenan adalah gadis pertama yang mampu menggetarkan hati kosong nya.
Sulit sekali bagi Nathan melupakan cinta pertama, meskipun sudah tersakiti bahkan setelah bertemu dengan Sachi.
Melupakan seseorang bukan perkara yang gampang, tentunya hal itu tak semudah cemelos kata-kata yang keluar dari ketikan jari netizen Twitter.
Yah memang sih, tak bisa di pungkiri perlahan cinta Nathan beralih pada istri ke dua nya dan naasnya adalah Nathan baru menyadari hal itu setelah jera nya Sachi di mulai.
Tiga bulan Nathan hidup tanpa Sachi, dunianya berubah menjadi hampa seketika.
Sachi sendiri mengakui bahwa dirinya seperti embun pagi yang hanya singgah di pagi hari lalu siangnya menguap tak berjejak meninggalkan daun tempatnya bersinggah.
Dalam singkat itu, Nathan justru candu akan keberadaan sang embun yang selalu menyegarkan paginya meskipun hanya sesaat saja mereka berjumpa.
Sejatinya, Sachi lah penawar keluh kesah Nathan, dan Nathan adalah cintanya Sachi, hanya saja, kesakitan yang Nathan berikan di masa lalu masih menjadi dendam hati Sachi.
"Apa Baby bahagia sekarang hmm? Apa ini yang kau inginkan hmm?" Nathan mencondongkan tubuhnya berusaha menatap wajah ayu nan sendu wanita yang masih duduk di sisi ranjang itu.
"Apa kata-kata ini yang ingin kau dengar dari ku? Kata-kata ku yang ingin membebaskan mu, benar kah begitu, Baby?" Tambahnya pilu.
Sachi mendongak menatap tajam suaminya "Terserah, aku sudah lelah!" Ucapnya.
"Aku juga lelah meyakinkan mu, sementara kau terus mendikte ku, tapi satu hal yang tidak pernah aku lelah, yaitu mencintai mu, Baby." Ungkap Nathan lirih.
"Mungkin cinta ini terlambat datang, karena baru beberapa bulan saja kita bertemu, tapi aku sangat mensyukuri nikmat Tuhan, saat ia mempertemukan kita meskipun di waktu yang salah, aku yakin kita saling mencintai, hanya saja waktunya yang tidak tepat, seandainya kita di pertemukan setelah aku menjadi duda mungkin Baby takkan pernah merasakan sakitnya di dua kan." Timpalnya.
"Aku yang bodoh karena terlalu ingin menjadi pahlawan semua orang sampai-sampai mengorbankan wanita yang seharusnya aku perjuangkan. Aku memang pantas di tinggalkan oleh mu bukan? Tapi, apa setelah terbebas dariku, Baby akan menerima cinta laki-laki lain?" Tanyanya dan Sachi masih tak mau menyahut karena dirinya sudah merasa lelah.
"Jujur. Aku kewalahan meyakinkan dirimu, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mu." Lirihnya lagi.
Mendengar itu Sachi beranjak dari duduknya lalu dengan geram ia memukuli dada bidang suaminya "Pergi saja kalau tidak tahu harus bagaimana, pergi saja sekarang juga, ini rumah ku, kamu tidak berhak datang lagi ke sini, kamu aku usir sekarang! Pergi kataku!" Berang nya.
Cup!
Bibir berang Sachi terbungkam oleh pagutan laki-laki yang kini memejamkan matanya menikmati tempelan benda kenyal itu.
Pukulan Sachi beralih pada pundak suaminya, namun, tak seberapa kuat karena tangan mungilnya tak berpengaruh apa-apa pada sosok yang mendorong tubuhnya hingga terduduk di sisi ranjang.
Sebelah tangan Nathan meremas tengkuk Sachi lalu sebelahnya lagi melepaskan cepolan rambut wanita itu.
Tanpa melepas penyatuan bibir mereka, perlahan dan hati-hati sekali Nathan membaringkan tubuh Sachi yang sudah mulai pasrah dan menikmati permainan bibirnya.
__ADS_1
Rindu dan dendam masih membaluti keduanya, rindu sebabnya cinta, dan dendam karena kekecewaan masing-masing.
Seberapa pun dendam yang menguasai hati keduanya, tetap saja rindu memenangkan pertarungan ini.
Buktinya apa? Sekarang tubuh keduanya saling membutuhkan satu sama lain, Sachi terdiam menerima setiap sentuhan lembut suaminya.
Nathan pun tak mampu jika harus benar-benar melepaskan wanita cantik yang kini menjadi tambatan perahu hatinya, perahu hati yang sempat berlabuh pada persinggahan hati sebelum dia menentukan di manakah pelabuhan terakhirnya.
Kecupan mulai liar, indera perasa semakin membelit, miring kiri lalu miring ke kanan, untuk mendapatkan seluruh akses kenikmatan hakiki yang telah lama tak mereka dapatkan.
Nathan masih tak menghentikan pergulatan bibirnya, namun kini tangannya ikut ripuh melepas ikat pinggang miliknya agar tak menyakiti ibu hamil itu.
Kali ini Nathan tak menindih tubuh isterinya karena takut menyakiti buah cintanya yang masih bertumbuh dalam perut wanita itu. Nathan merangkak di atas tubuh Sachi seraya menapaki sarwa bagian atas tubuh Sachi.
"Aku mencintai mu, Baby." Deru napas itu membuat Sachi meremang, oh suara berat candu ini masih tak mampu dia tepis.
Gaun hitam yang terbuka atasnya itu, membuat Nathan lebih mudah menggapai isi dalamnya.
Di remasnya gundukan padat itu lalu bibirnya pun ikut menyusul ke sana, di kunyah nya ujung berwarna merah muda milik Sachi hingga menimbulkan suara desah yang tak mampu wanita itu tahan.
"Ough, ssshh."
Menyadari ada yang mengeras, Nathan memberhentikan aksi panasnya, lalu menatap dalam diam wajah cantik isterinya.
Di seka nya seluruh jejak basah yang dia berikan pada liukan risa wanita itu dengan ulasan senyum tipis "Maaf, aku kelepasan." Ucapnya.
Sachi bergeming, entah lah, mungkin karena rasa cinta yang barusan memberantas ego penolakannya. Sachi menerima bahkan menikmati setiap kecup manis suaminya.
Ia dudukan Sachi di atas 'toilet duduk' yang tertutup, lalu melucuti pakaian Sachi hingga tanggal seluruhnya. Lengan bajunya ia singsing agar tak menghalangi aktivitas nya.
Sebisa mungkin Nathan menepis rasa ingin bercintanya, meskipun tubuh sintal itu melambaikan tangan seolah berpesan untuk mencicipi. Malam ini Nathan tak ingin menyakiti baby dalam perut isterinya.
Nathan lantas menarik shower berselang dari atas bathtub lalu menyirami kaki mungil Sachi dan mencucinya dengan sabun.
Selesai sudah bagian bawah, Nathan membuat Sachi berdiri dan membersihkan bagian tubuh lainnya. Handuk kecil ia lilitkan hingga sedikit menutupi kemolekan tubuh wanita cantik itu.
"Baby cuci muka dulu gih." Nathan menekan pengunci keran dan Sachi menurut untuk menundukkan wajahnya pada 'bowl wastafel' tersebut.
Rambut yang terurai sedikit menyulitkan aktivitas cuci muka Sachi, lalu dengan sigap Nathan membantu memegangi rambut yang berhamburan kebawah.
Sachi sempat mendongak ke arah cermin, menatap pantulan wajah suaminya dari sana, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
Setelah menghapus seluruh sisa makeup. Nathan mengambil handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya, dan Sachi hanya diam saja menerima perlakuan manis suaminya.
Nathan juga membalikkan tubuh Sachi lalu membantu menyisir rambut lurus nan panjang milik wanita hamil itu. Masih tak ada kata-kata, karena keduanya belum memiliki bahan untuk di perbincangkan.
Nathan memboyong raga mungil itu lagi ke atas ranjang berukuran super king bersprei putih polos itu sebelum kemudian ia mengambil pakaian tidur Sachi dan membantu memakaikan dengan sabarnya.
Sachi perlahan berbaring nyaman lalu Nathan menyelimuti tubuhnya "Sekarang Baby istirahat lah, jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu." Ucapnya yang di susul dengan kecupan lembut pada kening wanita itu.
Sachi membelakangi suaminya lalu mencoba menutup netra yang mulai lelah setelah berjam-jam menahan jatuhnya sang hujan.
__ADS_1
Nathan tersenyum mengusap rambut isterinya lalu pergi memasuki kamar mandi untuk kemudian membersihkan diri.
Ada sesuatu yang harus dia tuntaskan secara mandiri pula, sebab tidak mungkin mengajak Sachi bekerja sama malam ini sementara baru kemarin Sachi hampir keguguran.
Selang beberapa waktu, Nathan kembali mendatangi ranjang miliknya lengkap dengan pakaian tidur, tentunya setelah mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur di atas nakas.
Ia lantas ikut menyusul isterinya memasuki selimut tebal. Di peluknya tubuh Sachi dari belakang hingga menyatu lah kedua tubuh mereka, di cium nya rambut wangi Sachi sambil memejamkan mata menikmati rasa damai dari jiwanya.
"Apa saat Keenan hamil, kau juga memperlakukan nya seperti ini?"
"Hmm?" Nathan mengernyit bahkan membuka matanya saat mendengar suara lirih isterinya "Kenapa Baby belum tidur? Ini sudah malam." Katanya lembut.
"Jawab saja pertanyaan ku, apa kau juga memperlakukan Keenan seperti ini?" Ketus Sachi mengulang pertanyaan.
Nathan menggeleng "Tidak." Jawabnya.
"Bohong!" Sergah Sachi.
"Kenapa harus bertanya? Anggap saja semua pikiran buruk mu benar, dan tidak perlu menanyakan apapun lagi, aku tidak pantas di percaya bukan?" Sambung Nathan lalu mempererat pelukannya "Sekarang tidur lah." Titahnya.
"Bagaimana aku bisa percaya? Dulu kamu saja mengelus perut Keenan dengan mesranya!"
"Waktu itu dia masih istri ku, kenapa selalu mengingat masa lalu?" Sela Nathan.
Dalam remang-remang mereka berdebat kembali "Anggap saja dulu aku masih mencintai Keenan, dan anggap saja dulu aku menyakiti mu, lalu, apakah aku tidak pantas di maafkan? Apakah rasa tulus ku sekarang tidak layak kau terima? Apakah tidak ada kesempatan ke dua untuk ku? Seandainya bisa aku memilih, aku akan memilih bertemu dengan mu lebih dulu dan menjadikan mu wanita pertama dan terakhir dalam hidupku. Sayangnya Tuhan berkata lain, Tuhan menguji ku dengan cara ini." Lanjutnya lagi.
Sachi terdiam sejenak menelaah ungkapan suaminya "Yah, benar aku istri ke dua mu, aku yang bodoh menerima lamaran mu!" Batinnya.
"Kenapa kamu tidak pergi, ini rumah ku!" Usir Sachi tapi meski demikian dia tak menepis dekapan hangat suaminya.
"Aku ingin pergi, tapi, ada Baby lain yang menginginkan ku berada di sini, ada juga hati yang tak ingin aku pergi, ada keserakahan yang menuntut kita selalu bersatu, ada tubuh yang menikmati kebersamaan ini. Biarlah aku memulung keuntungan dari semua yang terjadi malam ini." Ujar Nathan.
Sachi memutar tubuh dengan gerakan bergeser, hingga kini keduanya saling menatap satu sama lain, cahaya tamaram dari lampu tidur lumayan membantu menerangi wajah mereka.
"Kau lupa, kamu sudah di jodohkan lagi, aku tidak mau menjadi simpanan mu, sudah cukup aku sakit karena menjadi simpanan mu, sekarang bebaskan ak, ..."
Cup!
Satu kecupan singkat menghentikan ocehan wanita itu "Aku tidak akan pernah menikah lagi, hukuman apa pun yang akan aku terima nantinya, biarlah menjadi urusan ku, sekarang tidur lah, jika bukan demi aku, setidaknya demi calon Baby yang ada di perut mu." Ucap Nathan.
Sachi membisu lalu memutar tubuhnya, membelakangi suaminya kembali.
"Jangan lupa berdoa sebelum tidur, jemput mimpi indah mu." Nathan tersenyum seraya mempererat pelukannya sekali lagi "Aku rela meskipun harus mendapatkan siksaan dalam mimpi mu, masuk ke dalam sana saja aku sudah cukup senang." Katanya berbisik.
Selimut tebal, lampu tidur, bahkan seluruh benda mahal di sekeliling mereka, seolah menjadi saksi, betapa tak inginnya Sachi dan Nathan kehilangan satu sama lain.
Entah bagaimana esok nanti, masih terlalu buram untuk mereka pandang. Tanpa di sadari, sejatinya dengan bicara hati ke hati seperti pertengkaran yang mereka lakukan malam ini, adalah usaha untuk memperbaiki kualitas rumah tangga menuju sakinah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya 🤗 Maafkan novel koh yang sering membuat para emak reader kesayangan koh esmoni jiwa 🙏
__ADS_1