
"Sachi!"
Shandra berlari menuju sosok mempelai wanita yang sedang dalam bahaya menurutnya, terlihat di sekitar Sachi beberapa teman Keenan telah berpura-pura menjadi tamu undangan yang baik dan Sachi menyambut kedatangan mereka secara sopan.
'Byurrr!!'
Niat hati ingin menghentikan aksi jahat teman-temannya tapi justru dirinya tersandung dan menerjang tubuh Sachi hingga terjatuh pada kolam renang yang terletak tepat di sebelah kanan pelaminan.
Bukannya menyelamatkan, dia justru menjadi tersangka atas kecelakaan naas yang menimpa pada sang mempelai wanita.
Gerakan pembelaan tanpa persiapan yang Sachi lakukan tak mampu menghindari nasib malangnya.
"Nona Sachi!" Dari sudut tempat Jho berteriak keras hingga semua orang menoleh padanya.
Tatapan semua orang mengikuti arah pandangan Jho, yaitu kepada wanita yang tampak menggelinjang gelagapan di dalam air meminta pertolongan.
"Baby!" Teriak Nathan beserta beberapa orang lainnya bersamaan memanggil nama Sachi.
Tak ayal, tinggi Sachi hanya 155 cm sementara kedalaman kolam renang panjang milik keluarga Jackson lebih dari 200cm meter. Kendatipun ada yang lebih cetek yaitu di bagian kolam lainnya.
Celakanya lagi, Sachi tak pernah belajar berenang, dari kecil Sachi takut dengan air kolam yang banyak juga dalam.
Semua orang tahu, gerakan tak terkendali yang Sachi lakukan adalah tanda bahwa wanita hamil itu tenggelam.
"Sachi!" Ethan berlari seraya membuka jas hitamnya lalu menyelusup masuk ke dalam jernihnya air kolam berukuran besar tersebut.
Tak perduli dengan trauma yang dialaminya, pemuda itu terus mengayuh tubuhnya hingga mendekati raga mungil kakak iparnya.
Tak tahu lah, ketakutan yang selama ini menemani perjalanan hidupnya seperti hilang setelah Sachi yang membutuhkan pertolongan.
Dalam beningnya tirta yang ber_gelembung, Ethan membuka matanya mengamati setiap pergerakan Sachi yang sudah mulai lemah.
Lambaian gaun putih dengan gerakan lambat yang di sebabkan oleh air kolam mengingatkan dirinya akan sesuatu di masa lalu "Juhie!" Seketika ingatannya beralih ke beberapa tahun yang lalu, saat dirinya hanyut terbawa arus bersama seorang gadis kecil.
Delusi yang bertahun-tahun lamanya mengganggu mental kini kembali hadir mencekik ironinya. Ethan terjaga pada saat itu juga.
"Juhie! Bodoh!" Pekik Ethan hingga gelembung air keluar secara berturut dari mulutnya. Gerakanya mulai tak beraturan, rupanya Ethan pun tak kalah gelagapan dari Sachi.
Sebuah tangan menarik dirinya dan Ethan sempat melihat wajah cantik itu berubah menjadi panik "Juhie!"
Dalam banyaknya air yang menggulung tubuhnya pemuda ini masih terus memanggil nama wanita itu dan menyemburkan gelembung-gelembung dari bibirnya. Sungguh delusi lagi-lagi menguasai dirinya, rupanya trauma itu masih belum hilang jua.
'Hap'
Bergerak bak slow motion, tangan Juhie membungkam mulut Ethan lalu pemuda itu pasrah saat wanita ini membawa tubuh tingginya ke tepi kolam.
"Hahhhh!" Selepas menyembul ke permukaan air Ethan melepas napasnya "Sachi, Sachi!" Racau nya terengah-engah, dalam keadaan seperti ini Ethan masih sempat-sempatnya mengingat wanita tercintanya.
"Bodoh! Kau lupa, kamu ini tidak bisa berenang! Kamu masih trauma kan hah?" Pekikan ketus itu berasal dari wanita penyelamatnya.
Ethan mengatur napas di tepian kolam sembari terbatuk-batuk juga mengembalikan indera pendengaran yang sempat berdenging, lalu kemudian menengok ke arah kanan, dimana Sachi sudah ditolong bahkan diberikan napas buatan oleh kakak kandungnya.
"Sachi!" Deru napas kacaunya membuat dada bidang yang tercetak di balik kemeja putih basah miliknya berkembang kempis.
"Bodoh! Sok-sokan mau menyelamatkan orang tenggelam, tapi kau sendiri tidak bisa berenang!" Umpat Juhie ketus, sesekali meraup wajah basahnya.
__ADS_1
Ethan tak mengindahkan, pemuda itu masih setia menatap hening ke arah Sachi yang sudah di boyong oleh Nathan menuju kamar.
Semua orang terlihat cemas, termasuk juga Dylan Jackson. Cucu yang di kandung Sachi pasti menjadi alasan kepanikan pelukis terkenal itu.
Ada beberapa wanita yang pergi menepi dari acara pesta dengan wajah kepanikan.
"Uhuk-uhuk!" Suara batuk Juhie menyadarkan Ethan bahwa masih ada wanita cantik lainnya yang berada di sisinya "Apa kau dengar aku I-then?" Teriak Juhie.
Ethan menaikan ujung bibirnya "Tentu saja dengar, suara mu saja cempreng begitu!" Olok nya.
Juhie mengernyit "Dasar tidak tahu diri, barusan aku menyelamatkan nyawa mu!" Sergah nya.
Ethan tersenyum cibir "Kita impas, dulu aku yang menyelamatkan mu bukan?" Sindirnya.
"Tapi tidak berhasil, lihatlah, bahkan sekarang kau masih trauma masuk ke dalam kolam." Sela Juhie mencaci.
Cukup lama keduanya berdebat sebelum Jelita dan Gerald menghampiri mereka dengan wajah paniknya "I-then, Juhie, mendingan kalian ganti baju deh." Tuturnya cemas. Dalam hati, Jelita berterima kasih pada putri milik mantan suaminya.
Ethan memang tidak bisa berenang setelah kejadian kelam di masa lalu membuat pemuda itu trauma. Setiap melihat banyaknya air yang mengelilingi tubuhnya dalam satu wadah yang besar seperti kolam renang, Ethan berdelusi.
"Kalian aku antar ke kamar ganti!" Gerald menimpali ucapan Jelita "Ayok!" Ajak Gerald pada keponakannya.
Ethan berdiri lalu mengasong tangannya pada Juhie "Cepet!" Ajaknya ketus.
Juhie berdiri dan gaun wrap dress pendek basahnya menonjolkan siluet tubuh moleknya, dia bahkan mengedarkan pandangan ke sekeliling, di mana mata para lelaki menatapnya ingin.
Ethan meraih jas miliknya yang dia buang sebelum masuk ke dalam air kolam, kemudian melingkarkan nya pada tubuh seksi Juhie.
Ethan menggandeng tangan Juhie kemudian membawanya masuk ke dalam rumah besar milik ayahnya di iringi Gerald.
Di tempatnya, Dylan dan Joko menatap nanar berlalunya punggung Ethan, Gerald dan Juhie. Lagi-lagi kekacauan terjadi pada pesta yang Dylan gelar.
Dylan menggeleng "Perasaan manusia bisa berubah, perlahan rasa suka I-then akan pergi setelah lama tidak mendapat balasan. Ini hanya masalah waktu saja." Ucapnya, tidak yakin.
Setelah melihat perlakuan posesif Juhie pada putranya, Dylan justru takut Ethan dan Juhie berjodoh. Menikah kan Ethan bersama putri dari mantan suami istri tercintanya adalah hal yang paling tidak ingin Dylan lakukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Jho menarik paksa Shandra ke sebuah tempat yang sepi hingga menyudutkan tubuh perancang busana itu ke dinding. Di belahan pekarangan rumah tepi pantai itu, ada satu paviliun yang hanya di huni oleh Jho, yaitu tempat tinggal fasilitas dari Dylan.
Shandra mengernyit menerka-nerka arti dari tatapan mata Jho yang sulit sekali dia baca "Ka Jho, aku harus memeriksa keadaan Sachi, aku takut terjadi sesuatu sama kandungan nya." Ujarnya pamit seraya bergerak.
Jho menekan tubuh Shandra hingga tak mampu lagi beringsut dari posisinya "Setelah mencelakakan Nona Sachi, lalu sekarang kau berlaku seperti orang yang mengkhawatirkan nya hmm?" Tudingnya geram.
Shandra menautkan alisnya "Kamu ini bicara apa sih?" Tanyanya.
"Aku pikir kamu berbeda dari teman-teman sosialita mu, aku kira kamu wanita cantik yang memiliki pribadi baik. Tapi rupanya, kamu sama saja dengan teman-teman sombong mu, kamu dendam dan berusaha mencelakakan Nona Sachi!" Tuduh Jho menusuk.
Shandra mengerutkan kening "Mencelakakan? Aku tadi justru mau menyelamatkan nya, tapi kaki Rahel menyandung ku, Sachi terjatuh karena dorongan tidak sengaja ku!" Jelasnya dengan nada yang berangsur naik.
Jho percaya hanya dengan satu kali penjelasan saja, sekarang tatapannya menjadi lembut, dia menyesal telah menuduh wanita kesayangannya. Jho tahu sekali sifat berbeda perempuan cantik itu. Shandra ialah wanita anggun dengan kepribadian yang baik, setidaknya itu menurut Jho.
"Jadi kau mau menghukum ku karena aku mencelakakan Nona mu, Ka Jho?" Tanya Shandra menyudutkan.
Jho menggeleng "Aku hanya kecewa." Ucapnya lirih.
__ADS_1
Shandra sempat melihat gelagat aneh dari laki-laki tampan itu "Kalo begitu maaf, Shandra harus pergi, aku mau memastikan Sachi baik-baik saja." Pamitnya.
Tubuh Jho tak mengizinkan "Jangan pergi!" Katanya setengahnya berbisik di telinga gadis itu.
Shandra menelan saliva menatap wajah Jho yang entah sejak kapan mampu membuatnya gugup "A-ada a-apa lagi Ka Jho?" Tanyanya terbata.
"Kenapa kamu tidak pernah menanyakan tentang bagaimana perasaan ku? Kenapa kamu tidak pernah peka dengan perasaan ku? Kenapa kamu selalu bertanya ada apa lagi, padaku? Apa perlakuan manis ku selama ini tidak terlihat di mata hati mu?" Ujar Jho pelan.
Degub....
Sebenarnya ada apa di dalam jantung Shandra? Kenapa tiba-tiba berdetak kencang, juga memanas? Apakah barusan kata-kata Jho menggetarkan hati kosong nya?
"A-apa maksudmu Ka Jho?" Sambung Shandra terbata.
"Aku menyukai mu, aku mencintai mu, aku menyayangi mu, aku candu melihat senyum manis di wajah cantik mu." Ungkap Jho yang pada akhirnya terlontar pula dari bibirnya.
"A-apa? T-tapi, ..."
Bibir Jho berani membungkam ucapan terbata yang terlontar dari mulut gadisnya, entah setan apa yang merasuki? Shandra ikut membalasnya setelah pagutan ke tiga Jho.
Sebelumnya memang sudah ada rasa ketertarikan Jho, tapi kasta mereka yang berbeda membuat Shandra tak ingin meladeni perasaannya sendiri.
Keduanya hanyut dalam buaian asmara, belitan indera perasa begitu melengahkan, bahkan saat ini juga tubuh mereka meremang menuntut sesuatu yang lain.
Di sentuh oleh pria setampan Jho, siapa yang menolak, Shandra pasrah mengikuti alur romansa erotis laki-laki itu. Apa lagi, hatinya kian meleleh setelah ungkapan cinta Jho.
Lenguhan keduanya terdengar sesekali di sela aktivitas penyatuan bibir dan rabaan nakal tangan keduanya. Jho bahkan semakin menekan tubuh Shandra hingga melekat pada permukaan dinding.
Lelah berdiri, sebelah tangan Jho menaik tengkuk Shandra lalu sebelahnya lagi meraih pinggang ramping Shandra. Perlahan langkah keduanya menuju sebuah sofa tanpa melepas pagutan nya.
Brugh....
Jho menindih raga mulus berkaki jenjang itu, entah mendapat keberanian dari mana, malam ini Jho sangat agresif sekali.
"Ka Jho, tunggu!" Shandra pada akhirnya protes saat Jho hampir meraba sesuatu yang paling terlarang miliknya.
Jho terjaga "Astaga! M-maaf." Katanya.
Laki-laki itu duduk lalu membantu Shandra untuk duduk di sisinya sedang tatapan mereka saling bertemu "Maaf, Ka Jho kelepasan, Ka Jho tidak bermaksud begini." Ucapnya lagi.
Shandra menggeleng "Tidak apa." Wanita itu berucap seraya membetulkan posisi gaunnya yang sedikit acak-acakan.
Cukup lama keduanya terdiam.
Jho menggaruk tengkuk "Kenapa kamu mau ku cium? Apa, itu berarti, Shandra mau menerima cinta Ka Jho?" Tanyanya.
Shandra terbungkam "Menerima? Apa Mammi Daddy merestui? Ka Jho tampan, baik, cerdas, tapi, dia bukan CEO atau pewaris tunggal, pasti Mammi Daddy ngga setuju." Batinnya.
"Jadi gimana?" Jho mendekati wajah cantik wanita itu kembali "Astaga, jantung ku!" Batin Shandra mengeluh.
"Ka Jho, Shandra harus membesuk Sachi dulu, bye!" Perempuan itu berlari dengan pipi yang kian memerah karena tersipu "Oh Tuhan, kenapa aku membalas ciuman nya?" Gumamnya.
Dalam perjalanan menuju kamar pengantin Nathan dan Sachi, kembali Shandra teringat pada kondisi Sachi saat ini, tenggelam dalam keadaan hamil, apakah tidak berpengaruh pada janinnya? Pikirannya mulai bercelaru lagi, apa lagi semua orang melihat dirinya lah yang menjadi tersangka atas kasus terceburnya Sachi.
"Ya Tuhan, semoga Sachi tidak apa-apa, dan semoga Bang Nathan percaya padaku, seperti Ka Jho yang mempercayai ku." Gumamnya lagi dalam harap.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung...... Dukung author dengan Like dan komentar Vote juga hadiahnya...... Sumbangan vote kalian bermanfaat bagi kelangsungan hidup novel ini 😚