Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Detik² menuju ending part 4


__ADS_3

Masih dalam ruangan yang sama, Ethan dan Juhie duduk bergeming di sofa yang sama. Mereka masih menunggu Gerald menyudahi permainan konyol ini.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, tapi Gerald masih belum jua membuka pintu ruangan tersebut.


Sebenarnya ruangan itu adalah ruangan baju-baju yang jarang terpakai, Jelita memang menyukai koleksi gaun, tas dan barang limited edition lainnya, lalu mengumpulkannya menjadi satu ruangan tersendiri.


Awalnya, Ethan masuk ke dalam sini hanya untuk mengambilkan gaun untuk Juhie saja, tapi apalah daya Gerald menguncinya, maka mau tidak mau, Ethan pun ikut mengganti pakaian di ruangan tersebut.


Sayup-sayup sofa yang dia tunggangi bergerak, Ethan pun menoleh ke arah Juhie, rupanya CEO cantik itu tengah menggesek lengan miliknya seperti sedang mengurangi kedinginan.


Pakaian yang Juhie pilih ialah, celana jeans pendek dan t-shirt berwarna putih, sebab dari sekian banyaknya jenis pakaian hanya itu saja yang menurut Juhie cocok dengan usianya.


Ethan beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju lemari khusus selimut, dia ambil dua selimut lalu memberikan salah satunya pada Juhie.


"Ambillah, sepertinya malam ini kita harus bermalam di sini, mungkin Om Gerald lupa sudah mengunci kita di sini." Kata Ethan seraya duduk.


Juhie menerima tanpa bersuara, sejujurnya Juhie bukanlah wanita yang banyak bicara seperti kebanyakan wanita. Dingin, begitulah originalnya.


Juhie memakai selimut seraya merebahkan punggung pada sandaran sofa di sudut kanan sementara Ethan pada sandaran sofa di sudut kiri. Mereka memakai selimutnya masing-masing. Jika harus bermalam saja, why not? Mereka juga bukan pasangan yang berpotensi melakukan hal tidak-tidak.


Sebagai mantan playboy, Ethan tak pernah bermimpi menyentuh wanita congkak seperti Juhie, meskipun dia menyadari bahwa CEO muda ini sangat cantik.


Jengah dengan lamunannya, Ethan menoleh kembali pada Juhie "Oh Tuhan, gadis membosankan ini!" Umpatnya dan Juhie mendengar "Kenapa kau menolong ku?" Pada akhirnya dia sendiri yang membuka pertanyaan.


"Aku membalas budi, dulu kau juga pernah mau menolong ku, meskipun tidak berhasil karena kau juga ikut tenggelam." Jawab Juhie tanpa menggerakkan sedikitpun kepalanya.


"Bukan karena kau masih menyukaiku kan?" Tanya Ethan.


Juhie menoleh "Kalo kau menganggap nya seperti itu, silahkan saja! Aku tidak perduli." Katanya enteng.


Ethan tersenyum getir "Sudah kuduga, kau masih menyukai ku," Mendengar jawaban Juhie pemuda ini yakin gadis cantik itu memang masih memiliki rasa padanya, rasa yang dahulu pernah Juhie ungkap dan dirinya tolak, semenjak saat itulah keduanya menjadi renggang bahkan lebih sering berkata-kata ketus satu sama lain "Tapi sayang, aku masih tidak menyukai mu." Ucap Ethan.


Ethan menggeser duduknya mendekati Juhie "Tapi menurut ku, siapa pun orangnya, pasti tidak menyukai mu, karena kau terlalu kaku, dulu di sekolah pikiran mu hanya belajar, sekarang kegiatan mu hanya bekerja. Aahh, terlalu monoton! Laki-laki tidak menyukai wanita yang terlalu kaku seperti mu Juhie." Ujarnya.

__ADS_1


Juhie hanya diam saja menyimak setiap kata-kata yang menyudutkan dirinya, sejatinya, Juhie bukanlah wanita yang perduli dengan perasaan orang lain, di sukai atau tidak, dia tetap akan menjadi dirinya sendiri.


"Apa kau tidak punya mulut? Dari tadi aku bicara padamu!" Ethan mencubit pipi mulus gadis itu.


"CK!" Juhie berdecak seraya menepis "Bicara saja, aku mendengar cacian mu!" Katanya dengan nada santai.


"Hayyyss!" Ethan mengalihkan pandangan ke arah lain lalu kemudian kembali menatap Juhie "Bagaimana bisa kamu mendapat suami? Kalo bicara mu saja dingin begini humm?" Tanyanya.


"Urus saja urusan mu sendiri, urus saja hati patah mu, bukankah hidup mu lebih rumit dari pada aku?" Cibir Juhie datar "Kau menghamili kakak ipar pertama mu, lalu sekarang kau menyukai kakak ipar ke dua mu?" Tambahnya sinis.


Ethan mencebik dengan tatapan yang melekat pada wajah cantik gadis itu "Jadi di sela kesibukan mu, kau masih sempat mengikuti berita ku?" Cibirnya.


"Terserah katamu, aku mengantuk!" Juhie berucap seraya memejamkan matanya, lelah juga lama-lama mendengar ocehan pemuda itu. Biarlah semua gawai di sekeliling menjadi saksi betapa dirinya menyukai insiden terkuncinya mereka meskipun tidak menunjukkannya.


Tak mendapat teman bicara, Ethan pada akhirnya ikut menyusul gadis di sebelahnya memasuki alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di mansion milik Dylan, yaitu bangunan yang masih ramai orang, pesta telah usai, maka Dylan memerintahkan orang-orangnya untuk meruap dekorasinya.


Dylan berdiri mencekal tangan ke belakang sembari mengintruksikan kepada seluruh orang-orangnya untuk segera melucuti kain-kain organza yang masih berserakan di setiap sudut rumahnya.


Mengingat kekacauan semalam, sepertinya pesta ini akan dia lanjut setelah kandungan Sachi nujuh bulanan saja.


Syukurlah, malam tadi Gebby mengatakan padanya bahwa kandungan Sachi tidak apa-apa, di sela geram nya, Dylan bahagia mendengar berita tersebut.


Beberapa CCTV telah Dylan urus untuk di jadikan bukti, terkait kasus percobaan kriminalitas yang terjadi pada menantunya.


Dylan bukanlah seseorang yang akan membiarkan tersangka lolos dari hukuman.


"Sore ini juga, kamu suruh pengacara datang menemui ku!" Titah Dylan pada Reno.


Di sisinya Reno mengangguk "Segera Tuan." Jawabnya.

__ADS_1


"Dylan!" Teriakan yang memekakkan telinga menggaung dalam ruangan luas bergaya kontemporer tersebut.


Laki-laki paruh baya itu mengusung rahang tegasnya "Dylan!" Langkah kakinya menuju kepada sang pemilik rumah.


Dylan menoleh pada laki-laki yang dari dulu tak pernah dia sukai keberadaannya "Ada apa Brandon, teriak- teriak di rumah ku? Kau pikir aku tuli?" Pekiknya bengis.


Brandon tetap melangkah maju "Kemana putramu membawa putriku?" Tanyanya tak kalah bengis, kedua lelaki tampan itu saling berkonfrontasi dengan tatapan menceku.


Dylan melepas smirk "Kenapa bertanya padaku? Pikir mu putraku tidak punya pekerjaan, membawa putrimu, begitu?" Pangkas nya.


"Juhie tidak ada di rumah, Juhie tidak pulang ke rumah, dari semenjak Juhie menolong I-then, mereka pergi, dan tidak kembali sampai sekarang! Sudah jelas putera mu membawa putriku Dylan!" Teriak Brandon melotot.


"Hahaha." Dylan tergelak iblis "Percaya diri sekali kau Brandon?" Cibirnya.


Satu cengkraman tangan meraih kerah baju milik Dylan "Jangan banyak bicara, sekarang geledah seluruh rumah ini, aku yakin putra mu menyanderanya!" Pekiknya.


"Cih!" Dylan membuang muka sesaat tanda ia mengolok-olok laki-laki itu.


"Tidak usah berdecih Dylan, lakukan saja apa kataku atau aku geledah rumah ini bersama polisi." Ancam Brandon.


"Kau tahu bukan? Ini rumah Dylan Jackson!" Tampik Dylan keras. Seluruh orang menundukkan wajahnya seolah takut akan menjadi pelampiasan murka lelaki itu.


"Dan aku Brandon Dwi Pangga, kau tahu aku juga punya kekuatan yang sama seperti mu, Dylan!" Sambung Brandon tak kalah mengancam. Jika sudah berhubungan dengan Juhie, laki-laki ini tidak pernah bisa santai.


Memandang remeh Brandon, Dylan menggertak kan giginya "Baiklah, tapi kalo sampai tidak ada putri mu di rumah ini, aku akan menuntut mu Brandon Dwi Pangga!" Katanya lantang.


Brandon mengangguk "Yah, lalu apa yang akan kau lakukan, jika putri ku benar-benar ada di rumah ini? Bukankah kita sama-sama pebisnis? Kita terbiasa melakukan kesepakatan bukan?" Tawarnya tersenyum iblis.


"Terserah apa mau mu, aku siap menerima, karena aku yakin, putra ku tidak akan melakukan hal gila seperti itu." Ujarnya penuh keyakinan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.... Nyicil yak... Aduh... sebenarnya musim pertama novel ini udah detik-detik menuju ending tapi kok aku malah sakit begini yah... Minta doanya yah KK...☹️

__ADS_1


__ADS_2