Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
BC M u l e s


__ADS_3

Pukul dua dini hari Nathan baru tiba di kamar miliknya. Pekerjaan kantor lumayan sibuk di akhir tahun. Sementara Sachi terus menerus meminta perhatian.


Di sela kesibukan Nathan membagi waktu untuk istrinya, mengantar Sachi berbelanja, ke salon, senam kehamilan dan lain sebagainya.


Kamar tidur Baby serba berwarna biru pun telah mereka siapkan di sisi kamar mereka, sudah cukup waktu mendekati hari perkiraan lahir.


Dasi yang mencekik Nathan longgarkan, bibirnya tersenyum tatkala wajah damai istrinya menyambut kedatangannya.


Ia melangkah mendekati ranjang. Sachi tertidur miring di balik selimut tebal, perutnya sudah cukup besar, sungguh begitu pun, setiap harinya wanita itu semakin rewel saja.


Kendati demikian, tak pernah sekalipun Nathan mengeluh. Biar bagaimanapun, Sachi tetap lah Sachi yang begitu menggemaskan di mata Daddy suaminya.


Terlebih, kedekatan Sachi dengan ayah dan ibunya cukup baik bahkan sudah seperti anak gadis Dylan dan Jeje sendiri. Ulah hangat Sachi lekat dalam sanubari setiap orang.


Nathan menarik penuh tekanan dasi merahnya hingga terlepas dari kerah bajunya, ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk membersihkan diri sebelum menyentuh istri kecil.


Hampir satu jam Nathan bersih-bersih, kemudian ia keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaian tidur kimono nya. Surai pekatnya basah, ia keringkan dengan gosokkan handuk kecil berwarna putih.


"Sayang." Nathan tersenyum kaget mendapati Sachi duduk bersandar pada kepala ranjang. Entah dari kapan Sachi terjaga. Mungkin kontraksi kecil mulai terasa lagi seperti malam-malam sebelumnya.


Nathan melemparkan handuk ke sofa, ia lantas duduk di sisi istrinya, mengecup dan mengusap lembut puncak kepala wanita itu.


"Kenapa bangun, mules lagi?"


Sachi menggeleng. "Enggak, Sachi haus, tadi barusan minum, Daddy suami baru pulang?"


"Hmm, ..." Nathan mengangguk kecil sembari mengecup bibir wanita itu dengan waktu yang cukup lama sampai-sampai sang empunya bibir protes. "Ck!"


"Kangen Sayang." Nathan menyengir. Lelaki itu melangkahi tubuh istrinya lalu berbaring di sisinya.


"Huh!" Sejenak Nathan meluruskan punggung, pinggang, dan tubuh yang lainnya agar tidak lagi kaku.


Sachi beralih menatap Nathan, kedua tangannya merangkum perut besarnya sendiri. Pakaian tipis nan menerawang selalu menjadi busana tidur Sachi.


"Kok nggak mules mules sih perutnya? Perasaan udah mendekati hari perkiraan lahir deh." Ujar Sachi.


"Kata dokter gimana?" Elusan lembut dengan sebelah tangan Nathan berikan pada perut hamil istrinya.


"Ya untuk saat ini sih keadaan ari-ari nya masih bagus. Tapi nggak tahu deh kalo udah lewat dari hari perkiraan lahir nya, dokter Gebby bilang bisa saja mengapur terus nggak cukup untuk menutrisi Baby kita."


"Lalu?"


"Terpaksa operasi, tapi jangan sampe deh, Sachi mau normal biar lebih gimana gitu kesannya." Kata Sachi, bibir seksinya selalu mencebik menggemaskan.


"Pokoknya yang terbaik untuk mu Sayang, apa pun itu, semoga dua Baby ku baik-baik saja, Baby yang kecil plus yang besar."

__ADS_1


"Besar apanya?" Sachi meringis, ia sedikit miring posisinya, menghadap Nathan dan meraba bagian bawah lelaki itu menemukan pusaka nan besar yang masih tertidur.


Baju tidur kimono membuat Sachi mudah menggapai benda besar tersebut.


Mungkin kondisi tubuh Nathan sudah terlalu kecapean, sepertinya bagian itu belum ada niat untuk bangun dan bertempur.


"Jangan mancing-mancing deh, nanti kalo di anuin kontraksi lagi terus nangis lagi." Sindir Nathan, ia sendiri bosan bilamana kontraksi terus di jadikan alasan menangis saat dia meminta jatah.


"Kata dokter kan salah satu cara memancing Baby kita supaya cepat keluar pake itu Daddy suami." Sachi cubit sebelah perut kotak- kotak suaminya geram.


"Iya kah?"


Sachi mengangguk. "Hu'uh. Di akhir bulan kehamilan emang gitu, harus banyak di pacu dengan pacuan alami biar bisa cepat mules terus keluar deh Baby nya." Jelasnya.


Tangannya kian menjalar kemana-mana, berusaha memberikan rangsangan pada laki-laki itu.


Nathan tersenyum. "Bener, nanti nggak nangis setelah itu?" Tanyanya.


"Enggak." Geleng Sachi. "Nathan junior nya suruh bangun dulu makanya."


"Ah. Pelan-pelan Sayang." Nathan mengernyit protes saat remasan mencekam Sachi berikan pada tongkat panjang yang belum mengeras.


Sachi kesal, sedari tadi sentuhannya tak juga membuat junior Nathan bangkit. "Bangunnya lama tapi nanti tidurnya juga lama." Ucapnya merengut.


Nathan terkikik geli. "Itu hebat berarti, tahan godaan, tapi tahan lama dong." Sombongnya.


"Ah. Sayang, jangan sembarangan, kalo itu lepas nanti siapa yang bikin kamu enak?"


"Abis gemes, nggak mau bangun-bangun dari tadi."


"Nggak akan bangun kalo dengan cara begitu Yank," Nathan memiringkan tubuhnya, meraih pipi mulus Sachi untuk di berikan ciuman di bibirnya begitu panas hingga Sachi terbaring dengan sendirinya.


Sedikit Nathan mengungkung tanpa menindih perut Sachi ketika sang bibir beradu erotis. Raba tangan kian nakal mengarah pada dua bulatan kenyal Sachi yang semakin hari kian membesar saja.


"Ahh." Itu sangat pas dengan ukuran tangan besar Nathan yang begitu di remas menghasilkan suara desah merdu.


"Mau berapa lama?" Nathan berbisik dan Sachi merasakan tusukan benda tumpul itu mengenai pahanya.


Desah Sachi lah yang ampuh untuk membuat sang junior terbangun dari hibernasi.


"Yang lama." Sachi menyengir saat mengutarakan itu.


"Bener?" Sachi mengangguk, entahlah, Sachi sedang ingin bercinta malam ini.


Tak ada pemanasan yang cukup karena sudah terlalu lelah, sekarang Nathan mau langsung ke permainan intinya saja.


Cepat-cepat Nathan buka pakaian miliknya juga milik istrinya, kemudian memposisikan tubuhnya untuk menghunus pedang panjang nan tumpul pada sarang mulus tanpa sehelai bulu halus pun.

__ADS_1


Kenyal, elastis, menggemaskan dan sempit terutama. "Euugh, Sayang sakit?" Sachi menggeleng menikmati peraduan kulit-kulit sensitif itu.


Nathan junior telah amblas, tenggelam begitu dalam dan di remas. Berkedut milik Sachi, hal itu lah yang membuat Daddy suaminya betah berlama-lama melakukan penyatuan.


Nathan mulai bergerak, menaik turunkan pinggulnya ke atas dan bawah. Hanya gaya andalan yang bisa mereka coba di saat hamil besar begini.


Tempo cepat Nathan berikan, bergegas merajam kenikmatan yang luar biasa ini.


"Seksi."


"Daddy, Daddy, Daddy." Desah Sachi tergema begitu erotis. Tengkuk Nathan Sachi tarik agar bersatu bibir sensual mereka begitu lama.


"Mau pelan apa cepat?" Setelah terlepas bibirnya, Nathan bertanya dengan suara parau.


"Sedang saja."


"Segini cukup?" Nathan mengatur tempo permainan sesuai instruksi istrinya. "Hu'uh."


"Enak nggak hmm?" Sachi kembali mengangguk mengiyakan, rasanya masih sama kenikmatan yang Nathan berikan setiap pergumulannya.


Jujur Nathan lebih menyukai penyatuan saat Sachi dalam keadaan hamil. Ada rasa yang menantang dirinya. Apa lagi kondisi tubuh Sachi yang serba besar terlihat lebih seksi dari biasanya.


Cukup lama keduanya bermain dengan cara mereka sendiri sebelum akhirnya Sachi tertidur pulas setelah di hujam keperkasaan suaminya selama hampir satu jam.


...----------------...


Embun mengudara dan bersamaan dengan itu Sachi terjaga dari alam mimpinya, mata masih mengantuk tapi ada rasa yang begitu asing ketika sang netra terbuka. Yaitu rasa yang melilit pusat penghidupannya.


"Daddy." Sebelah tangan Sachi meremas ujung sprei miliknya sementara sebelahnya lagi meremas lengan suaminya.


Keringat keluar berbulir-bulir meski AC memanjakan kamarnya. "Euugh." Tenaga rasanya habis untuk meraung. "Daddyhh."


"Hmm?" Nathan mengernyit terkejut, ia mengedip berkali-kali berusaha melebarkan mata yang teramat lengket agar terbuka sempurna.


"Baby mules kah?" Dia bangkit mengusap perut besar istrinya.


Sachi mengangguk cepat. "Kayaknya iya deh, Daddyhh." Ia meringis begitu kesakitan.


"Baby sabar, Gebby segera ke sini." Dari atas nakas Nathan meraih ponsel miliknya. Ia melayangkan panggilan telepon pada salah satu pelayannya.


"Emmh, Daddy, hiks." Keluhan Sachi membuat Nathan mondar-mandir tak tenang. Terlebih, air mata Sachi sangat tidak ingin ia lihat.


Tuuuut..... Sambungan terhubung.


📞 "Pagi Tuan muda..."


"Panggil semua orang, Sachi sudah kontraksi serius!" Teriaknya.

__ADS_1


📞 "Baik Tuan, segera!"


__ADS_2