
Hari yang panjang telah usai, semuanya pun kembali ke asalnya masing-masing, Ethan ke tempat karantina hukuman, Gerald kembali ke rumah Daddy Garry nya.
Hanya Dylan, Jelita, Nathan, Sachi, Mariam, dan baby Valery saja yang tinggal di kediaman utama, selebihnya pelayan dan penjaga.
Dylan telah mengurus Rahel, dan teman-teman Keenan yang lainnya, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Bukannya jera, mereka justru membuat huru-hara, kini semakin banyak media gosip yang memuat wajah cantik Sachi sang pelakor, bahkan di berikan gelar simpanan sugar daddy oleh para netizen yang budiman.
"Bodoh! Kenapa bisa sampai kecolongan? Kenapa nama mantuku ada di semua media?" Sentak Dylan menatap nyalang asisten personal yang kini berdiri di sisi sofa miliknya. Angin pantai berhembus kencang menerpa wajah berjambang bule tampan itu.
Reno menunduk "Maaf Tuan, tapi, berita ini berasal dari keluarga Rahel dan yang lainnya, musuh kita bukan hanya Nona Keenan saja tapi keluarga teman-temannya." Jelasnya.
"Beraninya mereka mencari gara-gara dengan ku!" Kepalan tangan Dylan begitu geram mungkin bisa saja meremukkan tulang-tulang seseorang. Sorot mata itu juga berhasil membuat kelopak mekar bunga mawar di hadapannya seketika menguncup kembali.
"Bukan hanya itu saja Tuan, sekarang di kantor, Tuan muda sedang di rundung masalah, harga saham DJ group mengalami penurunan secara drastis. Ini akibat dari rumor yang beredar di masyarakat." Ujar Reno.
Di sudut tempat ada Sachi yang tak sengaja mendengar pembicaraan Dylan dan Reno. Sachi menghela "Jadi ini yang terjadi setelah berita buruk terungkap ke media? Karena aku yang di tarik sebagai mantu, media berpihak pada Keenan. Baiklah, aku harus bertemu dengan Daddy suamiku." Gumamnya.
Sachi berpalis arah. Setelah mengambil beberapa keperluan di lantai atas, Sachi berjalan keluar menuju sebuah mobil, beberapa sopir pribadi sudah berjajar di pos jaga rumah besar itu.
"Pak,..." Sapa Sachi seraya mendekat.
"Iya Neng!" Angguk laki-laki itu.
"Antar aku ke kantor suamiku, jangan ngebut, tapi cari jalan yang paling cepat sampai." Titah Sachi.
"Baik Neng, mari silahkan." Satu orang pria membukakan pintu mobil untuk Sachi, kemudian wanita hamil itu masuk ke kursi penumpang bagian belakang "Semoga saja, Daddy suami ada di kantor." Gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam kemudian, dalam ruangan formal yang di dominasi warna hitam dan putih, jendela kaca transparan mengelilingi bangunan modern tersebut. Ada logo Jack & DJ group di bagian atas gedung megah itu.
Di atas kursi putar miliknya. Nathan memijat pelipis, wajahnya tertunduk dengan mata yang terpejam, beberapa map pembatalan kontrak kerjasama juga berserakan di setiap sudut meja kerjanya.
"Kamu keluar lah, aku ingin sendiri!" Nathan mengibas-ngibas kan tangannya pada Jho.
__ADS_1
Jho mengangguk pelan "Baik lah, tapi kita harus segera membicarakan masalah ini." Ujarnya.
"Hmm!" Jho melangkah pergi setelah mendapat sahutan dari laki-laki penguasa itu.
Kerugian besar, tengah menyambut masa depan kedua perusahaan yang telah maju selama bertahun-tahun yang lalu.
Satu pemimpin ini tengah memikirkan dua perusahaan yang sedang berada di ambang kebangkrutan, rasanya kepalanya ingin dia celup pada air bersuhu minus 66,1 derajat celcius.
Kita semua tahu. Berita-berita tertentu dapat memicu kepanikan di salah satu bursa atau saham. Kepanikan ini akan menuntut investor untuk melepas sahamnya. Kembali pada hukum permintaan dan penawaran. Kondisi ini akan menyebabkan tekanan jual, sehingga harga saham akan turun.
Dalam fenomena panic selling, para investor ingin segera melepas sahamnya tanpa peduli harganya, karena takut harganya akan semakin jatuh. Tindakan ini lebih dipicu oleh emosi dan ketakutan bukan berdasar analisis yang rasional.
Beberapa oknum juga mencari keuntungan dari rumor tersebut, ada manipulasi pasar yang di lakukan oleh investor-investor berpengalaman dan bermodal besar dengan memanfaatkan media massa untuk memanipulasi kondisi tertentu demi tujuan mereka, baik menurunkan maupun meningkatkan harga saham.
"Daddy, ..." Suara yang terdengar sangat syahdu membuat Nathan mendongak.
Nathan terkesiap melihat sosok cantik isterinya berdiri di ambang pintu "Sayang, kamu di sini hmm?" Tanyanya seraya berdiri menyambut.
Sachi tersenyum lantas mendekat. Tepat di hadapan nya. Sachi mendorong tubuh Nathan untuk duduk kembali lalu ia duduk miring tepat di pangkuan suaminya, tangannya mengalungi tengkuk, sungguh bibir senyum Sachi mampu menjernihkan pikiran keruh laki-laki penguasa itu.
"Daddy gak apa-apa kan? Daddy sudah makan siang belum?" Tanyanya.
"Pasti karena masalah di perusahaan kan? Daddy begini karena Sachi kan? Rumor ini karena Sachi yang memulai nya." Ujar Sachi pilu. Menyesal pula setelah tahu dampak besar yang terjadi pada perusahaan suaminya.
Nathan mengusap pipi isterinya sementara sebelah tangan nya lagi merangkul pinggang meliuk wanita itu "Bukan karena mu, ini semua sudah biasa terjadi, naik turun saham sudah biasa, kita akan mengalami ini tanpa atau dengan rumor yang beredar sekarang." Jelasnya menerangkan.
"Gimana kalo perusahaan Daddy bangkrut? Kalian pasti membenci ku kan? Semua ini karena ku!" Kata Sachi sendu.
"Ssuutt, jangan berlebihan, naik turunnya saham karena rumor biasanya tidak akan bertahan lama. Fundamental perusahaan yang tercermin di laporan keuangan yang akan mengambil kendali terhadap tren harga sahamnya, tenang saja." Ujar Nathan.
"Lalu, bagaimana dengan pembatalan kontrak kerjasama? Itu juga akan mempengaruhi perusahaan Jack group kan?" Sachi memang bukan lulusan sekolah tinggi, tapi cukup tahu tentang bagaimana imbas yang terjadi jika secara mendadak sebuah kontrak kerjasama di putus sepihak karena alasan tertentu.
"Ssuutt, Baby lagi hamil, buat apa ikut memikirkan tentang ini?" Satu jari telunjuk menempel pada bibir merona Sachi.
"Bertahun tahun lamanya perusahaan ini berkembang, tidak mungkin bangkrut begitu saja, tenang saja sayang, kamu tidak perlu ikut campur urusan kantor, Baby urus saja calon Dede yang ada di dalam perut ini." Nathan usap perut Sachi yang mulai menyembul.
__ADS_1
"Percayalah, suamimu bisa mengatasi masalah ini, Baby jangan khawatir." Ujarnya kembali sembari tersenyum, berusaha meyakinkan isterinya bahwa tidak akan terjadi kekacauan seperti yang ada dalam bayangan Sachi.
Tok tok tok!!
Terdengar suara ketukan pintu, Nathan memiringkan kepalanya berusaha melihat sosok tinggi gagah sang asisten personal yang berdiri di balik pintu kaca.
Hanya sedikit mengangguk, Jho pun pada akhirnya masuk dengan bibir yang tersenyum. Anak waras ini benar-benar, dalam keadaan genting seperti ini saja, masih sanggup mengembangkan cengiran kudanya.
"Ada apa lagi?" Tanya Nathan ketus. Laki-laki ini bahkan lupa bahwa masih ada isterinya yang mengamati kegusaran raut wajahnya. Sachi merebahkan kepalanya pada pundak suaminya.
"Kabar gembira Bos! Beberapa perusahaan tidak jadi membatalkan kerjasama nya karena satu perusahaan masih mempertahankan joint venture dengan perusahaan kita!" Kata Jho antusias. Sungguh kabar gembira kah? Atau hanya prank saja?
Nathan berkerut kening "Bisa semudah itu? Siapa yang membuat mereka bertahan?" Tanyanya penasaran.
"Nona Juhie, dia menolak mengalihkan kerjasama dengan perusahaan lain, maka dari itu, semuanya pun ikut-ikutan tidak jadi membatalkan nya. Mereka semua masih tidak berani membatalkan kerjasama dengan perusahaan properti Dwi Pangga. Sementara Nona Juhie hanya mau bekerjasama jika perusahaan kontraktor kita yang akan terus menyelesaikan pembangunan. Sudah jelas, kali ini kita berhutang budi padanya Bos!" Terang Jho bersemangat.
"Oya?" Nathan tercengang mendengar informasi yang berderai dari bibir asisten personal nya, sungguh setengahnya tidak percaya "Kalo begitu, atur pertemuan dengan Juhie, aku harus menemuinya secara langsung." Ujarnya kemudian.
Nathan masih harus memastikan kebenaran berita tersebut. Selama ini, meskipun mereka bekerjasama akan tetapi para founder dari perusahaan mereka tidak sejalan.
Permasalahan pribadi Dylan dan Brandon masih cukup terbilang serius lalu apakah mungkin Juhie tetap mempertahankan hubungan kerjasama nya bahkan mampu mempengaruhi yang lainnya ikut bertahan? Ada apa ini? Nathan sangat penasaran.
"Baik lah, aku urus dulu jadwal pertemuan kalian. Permisi, Bos, Nona." Pamit Jho menunduk, lalu pergi keluar dari ruangan tersebut setelah mendapat izin.
Di samping keterkejutan Nathan, Sachi ikut bahagia mendengar secercah titik terang masalah ini "Lalu bagaimana dengan rumor itu? Saham DJ group yang turun? Apa masih bisa naik lagi?" Tanya nya.
Nathan menatap isterinya "Jalan satu-satunya adalah, menenangkan masyarakat, bahwa rumor yang beredar sekarang tidak benar adanya, pada dasarnya mereka mogok untuk membeli produk DJ group, karena rumor yang beredar." Jawabnya.
Sachi tahu, dirinya yang tengah di gosip kan sebagai pelakor lah alasan masyarakat tidak mau menerima produk-produk keluaran DJ group. Mereka mengklaim bahwa jika membeli produk DJ group, sama saja dengan mendukung wanita perebut suami orang.
"Harusnya bisa dong, gampang, kita bisa mengklarifikasi bahwa kita tidak sepenuhnya bersalah, Sachi kan bilang, seharusnya Baby Valery kita kembalikan saja, biar reda semua berita tidak benar ini!" Sela Sachi mengusul.
"Tidak semudah itu, saat ini, semua orang sudah termakan berita hoax yang beredar. Tentu saja tidak akan mudah. Semua butuh proses, dan tolong jangan melakukan apa pun tanpa sepengetahuan Daddy, paham!" Nathan tau sekali pikiran liar dan licik isterinya, bisa saja Sachi bertindak gegabah, bukanya mereda justru akan semakin memperkeruh suasana.
Sachi terdiam tapi jiwa bebasnya tak membiarkan dirinya untuk mengangguk, atau sekedar menuruti perintah laki-laki itu "Aku mau semua masalah ini cepat selesai, Daddy!" Batinnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya... Terimakasih yang masih setia memberikan jempolnya, semoga di berikan kelancaran rezeki, bagi yang hanya baca terus langsung cabut, semoga tergugah hatinya untuk menekan tombol ini 👍 kali ini 😘