
"Om melamar ku? Menikah?" Sachi mengeluarkan kaca-kaca di matanya.
Dulu Edric mengancam saat menikahinya sekarang pria gagah nan tampan ini begitu romantis ketika mengunduhnya menjadi seorang istri.
Nathan mengambil cincin berlian dari kotak kecil bermerek. Bersamaan dengan itu sebelah tangan Nathan meraih jemari mungil milik Sachi lalu menyematkan cincin tepat pada jari manisnya.
Sachi diam seribu bahasa, tapi buliran bening dari sudut netra mulai mengambil alih peran dan menggantikan keheningan katanya.
"Sssutttt, jangan menangis." Ibu jari Nathan menghapus jejak air mata gadis itu "Sudah ku bilang, kau milikku, tidak boleh ada air mata, kecuali tangis bahagia,"
Nathan mengecup singkat jemari yang sudah tersemat tanda kepemilikan nya "Terimakasih sudah mengisi kekosongan hati ku selama ini, meskipun bukan istri pertama ku, ku harap Baby tidak merasa di duakan oleh ku."
Sachi tersentuh mendengar setiap kata yang berderai dari bibir manis laki-laki itu, entah kenapa, selama mengenalnya Nathan tidak seperti laki-laki hidung belang yang haus belaian, justru adanya Sachi begitu mengisi dan mengobati kekosongan hati yang terluka.
"Setelah selesai perceraian mu, kita segera menikah." Ajak Nathan, tatapan mata nya masih lekat menyentuh relung hati Sachi.
"Bukannya tidak boleh menerima lamaran sebelum putusan pengadilan? Om mendahului." Sachi membuka suara getarnya sambil memukul dada bidang pria itu.
Nathan tersenyum "Anggap saja ini latihan, nanti setelah putusan pengadilan aku lamar lagi." Ujarnya.
Sachi tersenyum meskipun masih di penuhi bulir-bulir air mata di wajahnya.
"I love you." Bisikkan Nathan di telinga Sachi yang menggelitik dan membuat meremang.
Nathan menarik jas yang Sachi kenakan keatas, dan satu kali lagi bibir keduanya menyatu.
Desir angin malam di pantai ini menjadi saksi hanyutnya rasa cinta keduanya.
Tunggu cinta? Mungkin kah secepat itu?
Sachi nyaman bersama Nathan dan Nathan tak ingin jauh dari Sachi, lalu apakah namanya jika bukan cinta?
CINTA memang misteri, acap kali kedatangannya tiba-tiba bahkan tak mampu di tebak pada siapa rasa itu akan berlabuh.
Hampir dua bulan ini Nathan menjadi suami Keenan, bukanya semakin mesra malah semakin menjauh hatinya. Justru damainya sanubari ia dapat dari wanitanya.
Lalu apakah cinta bisa di salahkan? Semua orang tahu, laki-laki boleh menikah lebih dari satu kali, jika dengan alasan tertentu.
Menikahi Keenan yang tidak mau di sentuh, untuk apa? Bukannya bisa menghindari zina justru menjerumuskan pada hal yang tidak baik.
Minum-minuman, mencari hiburan, bahkan Keenan enggan untuk meminta maaf setelah menyakiti hatinya.
Mungkin Sachi adalah obat dari segala penyakit yang Nathan rasakan "I love you too, Om." Dalam senggal-senggal napas nya Sachi mengucapkan itu. Hanya karena ciuman di leher saja Sachi begitu menikmati romansa yang Nathan ciptakan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi pukul 06:30, Nathan tiba di rumah setelah semalaman bersama dengan wanitanya, pintu kamar terbuka seiring dengan masuknya laki-laki itu.
Pandangannya mengedar dan tak ada siapapun di atas ranjang super king miliknya, sepertinya Keenan sudah keluar.
Nathan lantas berjalan lagi menuju kamar mandi "Uueegh! uueegh!" Terdengar suara luapan dari balik pintu bilik.
"Keenan!" Tak perlu waktu lama, Nathan masuk ke dalam kamar mandi, bersamaan dengan itu Keenan menjatuhkan tubuhnya hingga terbaring di lantai.
"Keenan!" Nathan meraih tubuh dan menepuk pipi wanita itu, tak ada jawaban, Keenan memejamkan matanya dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
Tubuh ramping Keenan pria itu gendong, kemudian merebahkannya pada ranjang berukuran super king bersprei putih polos.
"Kenapa dia?" Gumamnya.
Nathan pada akhirnya menelepon dokter perempuan untuk bergegas mendatangi rumah besar keluarganya.
Dylan, Jelita, Gerald dan Ethan juga datang ke kamar Nathan dan Keenan setelah mendengar berita pingsannya sang mantu di rumah besar itu. Mereka melingkari ranjang yang Keenan tiduri.
Meskipun panik dan cemas tapi ada harapan yang bertengger di pikiran Jelita dan Dylan.
"Mungkin, Keenan hamil sayang, bisa jadi kan? Kalian sudah hampir dua bulan menikah loh." Ucap Jelita antusias dan Dylan tersenyum.
"Loh, kalian kok kompak begini?" Dylan menatap kedua putra dan satu adiknya bergantian.
Gerald mendekati telinga Ethan "Anak siapa? Anak Nathan apa Lu hah?" Bisiknya.
"Aw!" Gerald meringis mendapati injakan kaki berat Ethan "Jangan bahas ini di sini!" Bisiknya lagi.
Nathan hening dengan pergulatan batin yang tak kunjung berhenti "Hamil? Jadi, aku harus berpura-pura menjadi ayah dari anak adikku?"
Jelita mengelus lembut punggung putra sulungnya "Nathan, tidak perlu cemas, Mami akan selalu menjaga isteri mu, kamu boleh bersiap-siap ke kantor, hasilnya positif atau negatif, kan Keenan bisa kasih tau kamu langsung nanti." Ujarnya.
"Iya, lagian Mami sama Daddy tidak akan kemana mana hari ini, jadi istri mu aman." Timpal Dylan.
Nathan mengangguk "Baiklah, Nathan titip Keenan." Ucapnya.
Dalam lemahnya, Keenan mendengar kalimat kepedulian Nathan terhadapnya "Aku sudah mengkhianati laki-laki yang sudah sangat tulus mencintai ku, bahkan setelah aku hamil anak pria lain, dia masih perduli dan cemas padaku." Batinnya menyesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nathan tak sempat sarapan pagi, pria itu langsung berangkat ke kantor seperti biasanya.
__ADS_1
Dalam perjalanan Jelita menelepon dan memberitahu bahwa Keenan memang positif hamil.
Meskipun Sachi sudah mengobati lukanya tetap saja masih ada getar kesakitan dalam hati setelah mendengar hal ini.
Menikahi perempuan yang dia cintai, lalu isterinya di hamili adiknya, sungguh bukan hal yang menyenangkan.
Apakah harus berucap syukur? Nathan hening di tengah hiruk-pikuk kemacetan lalu lintas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah besar milik keluarga Dylan, satu dokter wanita baru akan memasuki mobil miliknya.
Dialah Gebby, sepupu Gerald, lebih tepatnya lagi adalah anak dari Om nya Gerald.
Keluarga Papi Gerald memang hampir semuanya dokter, hanya dia saja yang menolak menjadi dokter, bahkan Gerald lebih memilih tinggal bersama dengan Dylan, kakak tirinya.
"Kak, tunggu, tunggu Gerald dulu!" Gerald meraih tangan kakak sepupunya.
"Apa lagi? Kamu tidak mau pulang ke rumah eyang, ya sudah, kita sudah terbiasa tanpa mu!" Berang Gebby judes.
"Bukan, bukan masalah itu, Gerald mau tanya, apa bisa sekarang mengetahui DNA dari bayi Keenan?" Tanya Gerald sambil menggaruk tengkuk.
"Gila apa? Buat apa hah? Jelas Keenan punya suami, untuk apa tes DNA lagi?" Gebby berkata ketus karena begitulah sifat wanita itu.
"Ssuutt!" Gerald membungkam mulut kakak sepupunya dengan tangan besarnya sambil menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka "Jangan keras-keras!" Pekiknya melotot.
"Ini aku kan tanya, bisa tidak? Jangan marah-marah dulu kenapa sih?" Timpalnya dengan suara pelan.
"Bisa!" Ketus Gebby cepat "Tapi beresiko mengalami keguguran, apa lagi baru delapan Minggu." Lanjutnya.
"Delapan Minggu?" Gerald membulatkan mata "Kan pernikahan mereka belum genap dua bulan?" Sanggah nya.
"Karena di hitung dari kapan terakhir menstruasi, makanya belajar kedokteran, biar nggak oon!" Sambung Gebby mencatuk.
Gerald memutar bola mata malas "Bahas itu lagi!" Ujarnya.
"Sudah, aku pergi, masih banyak pekerjaan, emang kamu, kerjaannya cuma bolak-balik nyari Tante girang!"
Gebby masuk ke dalam mobil dan Gerald menaikan ujung bibirnya "Untung ajah masih saudara, kalo nggak, udah gue mutilasi lu!" Gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Like... Komen... Vote... Hadiah.
__ADS_1