Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Detik² menuju ending part 8


__ADS_3

Pagi ini. Kata cacian sudah sedari tadi Jho dengar dari bibir Nathan, oleh sebab dirinya membantu Sachi membuat rencana konferensi pers yang bisa saja membahayakan janin dalam kandungan Sachi.


Sachi sendiri masih Nathan kurung di dalam kamarnya, setidaknya Sachi tidak bisa keluar untuk melanjutkan tindakan gegabah itu, konferensi pers yang di rencanakan harus Sachi batalkan.


Nathan turun dari mobil miliknya, Jho berlari mengejar, mengikuti langkah kaki laki-laki penguasa itu dari belakang. Tas laptop, dan satu kamera pocket dia tentang.


Nathan melangkah cepat memasuki lobby sebuah gedung perhotelan, di mana dirinya akan bertemu dengan rekan setimnya.


Rapat koordinasi harus dia hadiri, karena Nathan lah kali ini yang membutuhkan mereka. Nathan masih berharap semua tim tidak meninggalkan perusahaannya.


Nathan dan Jho menaiki lantai dua belas dengan lift yang suasananya sangat sepi, mungkin karena masih terlalu pagi menurut penghuni hotel.


Lain halnya dengan pengusaha sekelas Nathan, pagi siang sore malam, mereka terus memutar otak untuk berpikir bersaing sehat di era globalisasi ini.


Pintu lift terbuka, Nathan dan Jho kembali mengayunkan kakinya menuju sebuah ruangan meeting yang di sewa nya.


Tiba di tempat, semua orang telah duduk pada kursi masing-masing, ruangan yang di sewakan khusus untuk rapat saja ini di lengkapi dengan beberapa kursi putar dan meja rapat panjang, ada papan tulis digital high teknologi juga di sisi dinding nya.


Nathan duduk pada kursi yang menghadapi seluruh orang-orang, di sisi kanan ada Juhie yang memberikan senyuman semangat padanya, sampai detik ini ia masih berharap Juhie terus mendukungnya.


"Baiklah, rapat di mulai!" Ucap Nathan.


Beberapa percakapan mulai terlontar, dari yang isu pelakor hingga menurunnya minat mereka untuk bekerjasama dengan perusahaan kontraktor Jack group. Sedari tadi Nathan sendiri sulit meyakinkan orang-orang itu.


"Jadi apakah Nona Juhie tetap melanjutkan kerjasama ini?" Tanya Heru.


"Pembangunan sudah delapan puluh persen lagi, apa etis kita hentikan, Tuan Tuan? Sementara Indent dan investor saya sudah teramat menyukai projects yang Tuan Nathan bangun! Saya tidak mau tahu, saya tidak mau rugi. Terlepas dari beberapa isu yang disorot media, tolong lebih di pertimbangkan lagi, dampak besar yang akan terjadi beberapa tahun ke depan! Untuk mendapat hasil yang memuaskan, sebuah karya harus di buat dari sepasang tangan saja! Rancu jika kita hentikan dan memulai dengan yang baru, mungkin belum tentu baik hasilnya." Kata manipulatif Juhie mulai mendominasi.


"Tapi, ...." Satu pria seperti sedang ingin menyeletuk kan pendapat.


"Tapi apa?" Sela Juhie menatap ke arah pria itu "Apa karena istri anda tidak menyukai pelakor, itu makanya anda membatalkan kerjasama ini, begitu?" Cibirnya "Come on, rasional Tuan Tuan!" Katanya mengajak.


Klik klik....


Satu pemberitahuan dari berita terkini bersamaan membunyikan seluruh ponsel peserta rapat. Nathan bimbang membaca berita yang tiba-tiba muncul di line utama seluruh media sosial. Niatnya tak ingin memeriksa tapi pikirannya terus tertuju pada isterinya.


"Konferensi pers?" Salah satu peserta rapat menyeletuk, rupanya bukan hanya Nathan yang membaca berita hangat ini.


Mendengar itu, semua dewan direksi rapat koordinasi tersebut membuka masing-masing ponsel miliknya. Betapa kerutan di kening semua orang tertampil.


"Ini bukanya istri ke dua Tuan Nathan? Wah wah, mau apa istri Anda Tuan? Apa mau membenarkan dirinya sendiri? Drama macam apa lagi ini?" Sergah satu orang pria itu mengolok-olok.


Nathan mengepalkan tangannya "Jaga bicaramu Heru!" Sentak nya. Tak ada sapaan baik jika sudah merendahkan Sachi. Bahkan tangannya menggebrak meja dengan mengusung rahang yang tegas "Kalian tidak mau bekerjasama ya sudah! Tapi bukan berarti kalian boleh mengolok-olok istri ku!" Pekiknya.


"Tunggu, tapi apa yang mau istri mu sampai kan? Kita simak saja!" Tukas Juhie mengusul.


Kemudian mengambil remote control dan menyalakan LCD monitor, yah, acara konferensi pers yang di tayangkan secara langsung di salah satu stasiun televisi.


Nathan mengalihkan pandangan ke mana mana, entahlah, Sachi benar-benar membuatnya gila. Padahal pagi sebelum berangkat ke kantor, Nathan sudah mengurung isterinya "Siapa yang membebaskan Baby?" Gumamnya bertanya-tanya.


Khawatir mulai terbesit bahkan menyeruak masuk ke dalam dada "Lindungi Nona mu!" Teriaknya sambil menekan earphone di telinganya.


Kacau, rapat koordinasi ini justru menjadi ajang nonton bareng konferensi pers istri ke dua Tuan muda dari owner Jack & DJ group.


Terlihat di layar LCD, ratusan orang-orang ribut menyambut kedatangan Sachi.


Beberapa reporter bersiap merekam seluruh kegiatan live tersebut, ada yang menodongkan botol plastik bekas, bahkan ada yang membawa senjata tajam.


Padahal ini hanya berita pelakor saja, tapi netizen Indonesia lumayan peka terhadap status gila ini.


Nathan semakin panik, bahkan berkeringat di dalam ruangan bersuhu dingin. Di layar sana Sachi sedang turun dari mobil, menggendong bayi mungil yang sangat cantik "Valery!" Celetuk Nathan mengernyit.


Apa ini? Kenapa Sachi membawa Valery? Tapi rupanya Nathan menangkap sebuah kenyataan bahwa ternyata Sachi selalu menggunakan ide cemerlang. Terbukti, semua orang tidak berani menyakiti fisiknya karena ada bayi yang Sachi gendong.


Sachi berjalan di dampingi Reno dan beberapa antek-antek Dylan menuju sebuah tempat yang akan ia jadikan tempat terbaik untuk melakukan konferensi persnya.


Nathan menggeleng "Om Reno? Ngapain? Apa Daddy Dylan yang mengizinkan Sachi datang ke sana?" Gumamnya lirih. Sungguh tak karuan rasa hati.

__ADS_1


"Ekm ekm!" Dahaman Sachi saat berdiri di depan podium mimbar di atas panggung teater, puluhan kamera on bersiap merekam penuturan rekognisi wanita cantik itu.


Nathan mengusap gusar separuh wajahnya "Baby!" Gumamnya cemas.


"Selamat pagi menjelang siang semuanya!" Sapa Sachi tersenyum "Nama saya Sachi, saya istri pelakor yang sedang viral di media sosial. Saya istri Syah Tuan muda Nathan Ellard Jackson." Katanya.


"Bangga sekali rupanya istri muda anda Tuan!" Cibir salah satu pria di sebelah kiri Nathan tergelak mencemooh.


Nathan tak mengindahkan laki-laki itu, ia tetap menatap ke arah layar LCD monitor di hadapannya bersama dengan yang lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam ruangan konferensi yang lebih seperti ruang teater, Sachi masih berdiri di hadapan mic sambil menggendong Baby Valery.


"Pelakor tidak tahu malu, buat apa kamu bawa anak bayi itu, pencitraan, kau mau menunjukkan bahwa kau menyayangi anak tiri mu, dasar wanita pelacur!" Sarkas salah satu wanita itu pada Sachi.


Sachi mendengar semua tudingan itu tapi untuk apa menampik. Lebih baik dia berusaha cooling down "Senyum ceria Sachi, Ok, senyum. Anggap saja kita lagi standup komedi ya kan, Baby Valery?" Gumamnya.


"Emmh emmhh!" Valery seolah setuju dengan ucapan wanita itu, gaung suaranya bisa di dengar semua orang termasuk ibu kandungnya.


"Gais, di sini aku mau ngomong, kita bicara santai saja!" Sachi tersenyum lebar, tak perduli bagaimana raut marah semua orang, jangan lupa perempuan satu ini adalah Sachi si pemberani.


"Tunggu, untuk supaya kalian lebih nyaman mendengar cerita ku, Om Reno akan memutar video sebagai backsound nya!" Ungkap Sachi "Astaga Sachi lihatlah semua orang ingin menjadikan mu perkedel kentang pagi ini, Ngapain masih meneruskan rencana ini!" Batinnya masih sempat bergurau dengan dirinya sendiri.


Reno menggelar satu video dengan menggunakan mesin proyektornya. Rahel, Keenan, Shandra dan yang lainnya, juga datang di ruang teater tersebut.


"Kalian pasti sangat membenci ku! Karena dahulu, aku juga sangat membenci wanita yang menyandang status perebut kebahagiaan orang lain." Kata Sachi.


Di bawah sana, botol plastik bekas telah siap menampar kepalanya. Sedikit saja salah bicara lihatlah botol itu akan melayang.


"Pertama-tama, aku mau menceritakan, bagaimana kejadian saat aku pertama kali bertemu dengan suami ku." Sachi tersenyum lagi sambil menunjuk output yang menampilkan rekaman CCTV di malam saat pertama kalinya berjumpa dengan Nathan.


"Lihatlah, dia mabuk, dia bahkan tidak bisa menyetir, aku yang membawa mobilnya saat itu, aku mengantarnya pulang tapi di jembatan ini dia minta di turunkan!" Sachi tertawa kecil mengingat kembali kejadian yang telah berlalu, Jho memang paling pandai mencari bahan untuk presentasi rupanya.


"Aku mau ke surga! Yah begitulah dulu suamiku, dia terlalu mencintainya, mencintai istrinya, mencintai ibu dari Baby Valery, mencintai Keenan cinta pertamanya." Bibirnya tersenyum tapi air mata cemburu menetes.


"Kalau tahu begitu kenapa kau merebutnya dari Keenan? Dasar pelakor!" Celetuk Rahel sarkas.


"Ibuku membutuhkan uang, lalu Tuan muda Nathan menawarkan upah, jika aku mengisi kekosongan hatinya dan aku menurut, tak ada pikiran buruk saat itu selain hanya merampok uangnya saja." Jelasnya lagi, semua tenang menyimak setiap kata-kata yang berderai dari bibir manis sang pelakor.


"Bodoh, iya, kenapa aku mau? Padahal sudah tau sudah beristri, ... Dahulu aku sempat menyesal, kenapa aku sebodoh itu, kenapa aku mau menjadi istri ke dua? Sakit sekali rasanya berbagi cinta, sangat sakit, benar-benar sakit, aku kedinginan di kamar ku, dan suamiku tidur bersama istri tua nya." Terangnya lagi, memang begitulah kenyataannya.


"Beberapa kali aku mencoba lari tapi tak pernah bisa selamanya jauh, aku selalu terperangkap dalam cintanya! Yah, cinta suami ku, suami naif ku!" Tambahnya.


Sachi mengayunkan tubuhnya agar Baby Valery nyaman dalam dekapannya "Kalian tahu, aku ke sini hanya mendapat dukungan Daddy mertua ku," Sachi tergelak renyah mengingat kala Dylan membukakan pintu untuknya.


"Yah, Daddy Dylan Jackson yang terkenal bengis itu, dia sangat membenci pelakor tapi sekarang menikahkan anaknya dengan pelakor!" Timpalnya terkikik. Bukan Sachi jika tidak mencibir.


"Kalo begitu, enyah saja kamu binal!" Rahel menyeletuk, sementara Shandra dan Keenan tak mau ikut ribut, mereka tahu kali ini Sachi akan mengungkapkan semuanya.


Kedatangan Keenan bukan untuk membela diri, ia ke sini hanya ingin merebut kembali Baby Valery dari tangan Sachi, cukup itu saja.


"Iya, naik dan kita kuliti saja para perebut suami orang!" Sahut wanita lainnya. Ooh sungguh kejadian seru inilah yang di tunggu-tunggu oleh semua reporter.


Demi memenuhi kebutuhan gibah netizen yang budiman, biasanya media sengaja melebih-lebihkan berita.


"Tunggu, jangan kuliti aku dulu, kalian tahu tidak, ada cerita menarik sebelum Daddy mertua ku mengunduh ku sebagai mantu, kami sempat beradu ketegangan, Daddy mertua ku menawarkan beberapa uang juga surat tanah, dia menawarkan padaku untuk menjadi simpanan suamiku lagi." Tuturnya.


Sachi menggeleng "No, aku menolak, aku tidak mau Daddy mertua, kau pikir aku apa? Ya bukan apa-apa, menjadi simpanan itu tidak enak, di duakan, tidak di prioritaskan, di acuhkan," Sachi mengucapkan seraya menghitung sebelah jemarinya "Saran dari pelakor, jangan menjadi pelakor!" Gelak renyah nya.


Di sisi lain ada Dylan yang melepas smirk getir mendengar kalimat Sachi barusan "Anak mantu dajal itu!" Gumamnya.


"Oya, ini adalah surat resmi bahwa Baby Valery memang terbukti, anak I-then dan Keenan," Sachi menunjukkan satu lembar kertas resmi dari rumah sakit pada seluruh kamera.


"Suamiku yang naif itu, benar-benar menyebalkan, dia menutupi skandal ini, karena tidak mau ada yang tersakiti, terutama Baby Valery dan Keenan." Sachi mencibir nasib malangnya.


"Justru aku yang tersakiti di sini, aku yang dia bilang pengobat hatinya, tapi hanya berakhir menjadi simpanan saja, bahkan di cap sebagai pelakor nomor satu di Indonesia! Wah hebat!" Ujarnya terkagum- kagum. Prestasi macam apa ini?

__ADS_1


"Aku tidak pernah mau menghasut, aku tidak ingin membuka aib, aku hanya ingin menuntut jawaban dari Keenan! Kenapa setelah di ceraikan, kamu tidak pernah protes, atau sekedar speak up di media bahwa kamu memang korban? Coba katakan, kenapa kau terus bersembunyi dari kejaran media? Lihatlah aku berani berbicara lantang di atas sini, ayok kamu juga bicaralah, setelah itu aku akan membujuk Daddy mertuaku memberikan Baby Valery padamu!" Tantang Sachi dan semua orang menatap ke arah Keenan sekarang.


Keenan tersudut oleh tatapan seluruh insan di sekelilingnya.


"Kenapa kamu tidak mau menuntut kami? Padahal bisa saja kamu menuntut kami, jika memang kamu tidak merasa bersalah bukan? Kenapa harus membuat gosip tidak-tidak di sosial media? Kalau berani somasi saja aku!" Timpal Sachi menantang. Keberanian Nikita Mirzani saja kalah telak.


"Ayok, jawab Keenan, bagaimana kejadian sebenarnya?" Satu celetukan dari sudut panggung teater terdengar.


Semua orang menoleh, rupanya Ethan telah menaiki anak tangga, naik ke atas panggung teater yang sama dengan kakak iparnya.


Ethan berjalan mendekati bayi mungil miliknya lalu mengambil alih bayi cantik itu dari tangan iparnya "Siapa sebenarnya ayah dari anak kecil ini? Dan bagaimana proses terjadinya?" Tanyanya.


Ethan muak terus mendengarkan desakan masyarakat yang terus menuding Sachi, kendati di tolak Ethan masih sangat menyayangi iparnya.


Lihatlah keringat dingin itu, Keenan semakin tersudut setelah semua orang membela Sachi, Rahel pun menyenggol siku sahabatnya "Ayok bicara, kita tuntut mereka ke pengadilan!" Pekiknya.


Sejatinya, gosip tidak baik itu sendiri bermula dari cuap- cuap Rahel di media sosial hingga tercium oleh media televisi dan lainnya. Duduk masalah sebenarnya tidak Rahel ketahui tapi menjadi orang terdepan mengusut tuntas kasus ini.


"Keenan, ayok, kamu harus berani mengatakan kebenaran, kalo memang kamu tidak bersalah, kenapa harus takut?" Timpal Shandra memancing.


Sekali lagi Keenan mengedarkan pandangannya dan semua tatapan mengarah padanya "Di saat seperti ini, hanya Nathan yang bisa menolong ku, jika saja bukan karena Daddy Dylan yang menyuruhnya menceraikan ku, Nathan takkan pernah membuang ku!" Ujarnya dalam batin.


"Keenan! Jawab!" Sergah Ethan dari atas sana.


Sachi menoleh, meskipun menjengkelkan setidaknya Ethan lebih bijak dari suaminya yang terlalu naif.


"Jadi secara tidak langsung, Nyonya Keenan mengakuinya, mengakui kalau putri anda memang anak hasil menggoda laki-laki mabuk?" Sulut satu wartawan menyodorkan satu kotak perekam suara.


Melihat gelagat aneh Keenan, semua orang berbalik menyudutkan wanita itu, "Jadi apakah benar, video anda saat membawa adik ipar Anda ke kamar hotel, yang tersebar di media sosial beberapa bulan lalu itu bukan editan Nyonya?" Tanya wartawan lainnya.


"Iya Nyonya, kalo pun benar kenapa Anda sampai berani melakukan itu? Bukankah Anda menikahi kakaknya, lalu kenapa mengincar adiknya?"


"Kenapa Nyonya tidak berani membuka suara, sementara Nona Sachi dengan percaya diri sekali berdiri di atas sana? Apakah ini berarti Anda mengakuinya!"


"Anda yang berselingkuh lalu Anda yang berteriak sebagai korban?"


Berbagai macam jenis pertanyaan terlontar dengan tempo cepat merundung perempuan cantik itu


"Cukup! Aku dan Bang Nathan masih saling mencintai, kalian lihat saja nanti, dia masih mencintai ku!" Keenan membalikkan badannya menerobos masuk ke sela-sela tubuh orang-orang. Keenan berlari, berusaha menghindar dari para wartawan yang pertanyaannya begitu bising memekakkan telinganya.


"Hanya dia, cuma dia, Nathan, kumohon bantu aku keluar dari masalah ini, aku tahu kamu masih menyayangi ku!" Batin Keenan seraya berlari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di atas panggung teater Sachi melanjutkan penjelasannya, dia memutar video keceriaan anak-anak panti asuhan, senyum manis para jompo yang mengharukan, semangat para pemuda gelandangan yang mendapat dukungan dari rumah singgah, ketiga keharmonisan itu terdapat di beberapa yayasan milik almarhumah ibu kandung Dylan.


"Lihat lah, anak-anak ini, tanpa kalian ketahui ini anak-anak yang kalian bantu setiap harinya, dengan membeli produk DJ group, berarti kalian ikut berkontribusi terhadap kebahagiaan mereka. Indah bukan? Ternyata kalian berbagi tanpa kalian sadari." Jelas Sachi menunjuk output monitor.


Suasana dalam ruangan itu mulai tenang, tidak bising lagi seperti sebelumnya, di bawah sana Shandra juga tersenyum menyaksikan awal dari kemenangan Sachi setelah menodong Keenan dengan pertanyaan menyudutkan.


"Aku memang menjadi istri ke dua, tapi aku memiliki alasan untuk itu, banyak sekali alasan yang mendasarinya. Yah, saat itu aku membutuhkan uang untuk pengobatan ibu, yah, aku mengaku aku tergoda suami orang, yah, aku mencintai suami orang! Tapi apakah salah jika aku mencinta? Aku saja tidak menyalah kan Keenan yang mencintai adik iparnya, karena ternyata aku mengakui bahwa cinta membutakan segalanya, lihatlah aku contohnya, sudah di sakiti, di abaikan, di acuhkan, aku masih saja bertahan di sisi suamiku yang naif!" Sachi pada akhirnya mengungkapkan kekecewaannya.


"Jika saja aku bisa, seandainya saja aku mampu, aku ingin pergi yang jauh! Tapi apalah daya, aku belum berani melakukannya." Timpalnya dengan nada lirih penuh kecewa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dalam ruang meeting Nathan berkerut kening menatap tajam wajah sendu isterinya dari LCD monitor.


Di lihat dari sudut manapun, sepertinya Sachi masih marah padanya, siapa yang tidak marah, pendapat Sachi tak pernah selaras dengan pemikirannya.


Tampaknya kali ini Sachi kembali kecewa padanya, setelah dengan sengaja dia mengurung Sachi dalam kamar.


Nathan menggeleng lalu beranjak dari duduknya, ia meraih ponsel miliknya kemudian pergi berlalu dari ruangan tersebut.


"Nathan, kami tahu ini sudah berakhir, kami masih akan tetap bekerjasama dengan perusahaan mu!" Satu pria yang awalnya mencemooh merengek menyesal setelah Sachi menceritakan betapa mulianya orang-orang yang ikut bekerjasama dengan perusahaan Jack group, sebagian besar dana untung di alokasikan untuk yayasan sosial rupanya.


Nathan tak mengindahkan ucapan Heru, ia tetap berlalu begitu saja. Juhie yang melihat itu menepuk pundak Heru pelan "Sudah Tuan Heru, saya yakin Tuan Nathan bisa mengerti. Saat ini mungkin dia sedang emosi saja." Katanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Wah dua bab ku jadikan satu loh... Bersambung.......


__ADS_2