
"Cepetan!" Ethan menggebrak-gebrak kecil meja kasir milik Shandra.
Sore ini Ethan memilih gaun pesta khusus untuk Sachi. Tentu saja butik Shandra yang dia datangi. Selain produknya bagus Shandra juga masih kerabat meskipun sudah terlampau jauh.
"Iya sabar Then! Lagian mau buat siapa sih gaun cantik ini?" Tanya wanita itu penasaran. Di lihat dari ukurannya seperti tidak asing karena ukuran itu sangat sedikit di produksi oleh butik tersebut.
"Calon istri lah!" Jawab Ethan.
Shandra menyengir "Kamu serius punya calon istri? Kenalin ke sini dong!" Desaknya.
"Nanti kalo dia udah mau nikah sama aku, aku bawa ke sini deh! Sekarang dia masih istri orang!" Tanpa rasa bersalah Ethan menyengir.
"Istri orang?" Shandra mengernyit "Gila apa hah?" Sentak nya melotot.
"Selama rumah tangga belum memiliki sertifikat kebahagiaan, selama itu pula masih ada kesempatan untuk kita maju." Sambung Ethan.
"Heh! Dasar, keturunan perebut bini orang! Jargon nya ngada-ngada sendiri."
"Udah, aku pergi, nanti yang bayar Mammi, bye!" Ethan meraih beberapa paper bag dari Shandra untuk kemudian dia bawa pergi.
Shandra menggeleng "Kasian dia, anak sultan tapi belanja ajah di bayarin Mammi nya." Gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langkah gontai pria tampan yang selalu berpakaian rapi, tengah menuju lorong di mana seorang wanita masih setia duduk di kursi tunggu. Sachi masih bergeming di hadapan pintu bertuliskan ICU.
Ethan berhenti tepat di sisi lutut Sachi.
"Ini gaun, yang ku siapkan untuk mu, pakai lah kalo kamu memang akan datang, aku menunggu mu di depan hotel." Dia menyodorkan empat buah paper bag berisi gaun, sepatu, tas pesta dan aksesoris lainnya.
Sachi mendongak menatap wajah tampan adik iparnya "Aku tidak janji, aku masih bingung dengan kondisi Ibu ku." Jawabnya bimbang.
"Aku paham, tapi ambillah! Datang atau tidak. Aku tetap akan menunggu mu!" Ucap Ethan.
Sachi menerima pemberiannya dan Ethan bergegas pergi dari tempat itu, Ethan tahu, Sachi pasti dilema dengan kondisi ibunya.
Meski demikian Ethan masih berharap Sachi mau menerima ajakannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga jam kemudian,
Di halaman parkiran terbuka sebuah hotel berbintang, Ethan masih setia duduk di atas body kap mesin mobil mewah miliknya.
Hari ini Jelita berbaik hati untuk memberikan fasilitas mobil padanya karena dirinya akan memperkenalkan calon istri.
Sudah dua jam Ethan menunggu di sana, Sachi belum juga terlihat batang hidungnya.
Meski keyakinannya hanya tiga puluh persen saja, Ethan takkan pernah menyerah, begitulah original sifatnya, kekeh dan tak goyah.
Kendatipun harus melanggar aturan hukum sang ayah dia selalu mengutamakan kejujuran dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Jelas berbeda dengan Nathan yang terus mangkir dari kejujuran hanya karena sebuah aturan yang mencelos dari bibir ayahnya.
Gerald menggeleng saat tahu Ethan masih duduk di body kap mesin mobil dari dua jam yang lalu.
"Lu masih di sini hah?" Tanyanya sambil menepuk pelan pundak laki-laki itu.
__ADS_1
Ethan menoleh, di lihatnya Gerald sudah klimis dengan jas pestanya "Gue yakin kali ini dia datang, gue ngga tau apa alasannya, tapi dari tatapan matanya gue tau dia bener-bener mau menerima tawaran gue, Om." Jawabnya setengah pasti.
"Ya udah kalo gitu gue tinggal, jangan sampe masuk angin, kayaknya malam ini mau hujan lagi." Pesan Gerald lalu berpalis meninggalkan tempat itu.
Ethan mengangguk kecil "Hmm." Sahutnya.
Petir sudah menggelegar hingga kilatan cahaya terang menyingkap tabir kelam malam ini. Jika di pikir lagi, bukan kah terkadang cahaya bersikap egois, dia selalu ingin menerangi bumi padahal tahu bahwa hukumnya malam itu gelap.
Sama seperti laki-laki tampan ini, kendati tahu wanita cantik yang dia tunggu-tunggu adalah milik orang lain, tapi bersikeras untuk terus menyematkan sebuah penantian.
"Apa dia tidak bisa datang karena kondisi ibunya yang belum membaik?" Gumamnya.
Di akhir harapannya Ethan memandang lenggang ke arah depan.
Di ujung barisan mobil yang terparkir rapi, seorang wanita cantik mengayunkan kakinya mendekati sosok tingginya yang perlahan berdiri menyambut kedatangan wanita itu.
Bibir Ethan tersenyum, sorot matanya menyisir sekujur tubuh indah yang di balut dengan gaun pesta pendek elegan.
Kerah sabrina yang terbuka membuat seluruh pundak mulus wanita itu terekspos dengan cantiknya.
Ada kalung yang melingkari leher putih mulusnya, satu gelang rantai kecil juga melingkar di tangannya.
Sepatu heels berwarna silver, gaun indah berwarna putih dan tas clutch yang senada dengan warna sepatunya.
"Maaf, apa aku sudah telat?" Sachi bertanya tapi rupanya Ethan masih terkesima dengan kecantikan hakiki milik wanita itu.
"I-then, acaranya masih kah?" Tanya Sachi kembali.
"Eh Iyah, masih. Kita langsung masuk yah!" Ethan mengulum bibir senyumnya sambil menggaruk tengkuk.
Sachi mengangguk kemudian menerima gandengan tangan pemuda tampan itu.
Bibir Ethan terus tersenyum sambil sesekali melirik ke arah Sachi yang terlihat sangat cantik.
Lain halnya dengan Sachi yang jantungnya sudah berdetak kencang seolah onggokan benda lunak itu ingin melompat dari balik dadanya.
Tempat ber_AC tapi Sachi justru berkeringat "Apa yang sedang ku lakukan ini? Kenapa aku harus mencari masalah? Sudah tahu aku hanya simpanan tapi mengharap lebih dari pemilik ku!" Batinnya.
"Setidaknya aku ingin melihat wajahnya sebelum aku pergi jauh dari hidup bahagianya. Yah, mungkin itu alasan ku." Sachi terus menyimak pergulatan batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ballroom hotel,
Nathan dan keluarganya masih sibuk menemui tamu-tamu penting yang datang dari mana-mana, ada yang dari kota lain, bahkan negara lain.
Fungsi ballroom hotel berbeda dengan fungsi ballroom pada umumnya, kegunaan ruang luas itu menjadi salah satu ruangan yang biasa digunakan untuk keperluan acara-acara pesta besar dari pihak penyewa tempat.
Dylan sengaja membuat acara di hotel, supaya tamu-tamu yang datang dari luar negeri bisa langsung menginap tanpa perlu melakukan perjalanan malam yang melelahkan.
Acara berkelas seperti itu biasanya sampai larut malam, maka akan lebih nyaman jika para tamunya sekalian menginap menikmati fasilitas VVIP yang Dylan berikan secara cuma-cuma.
Dylan, Nathan, Jelita dan Keenan berdiri berdampingan.
Semua mata tamu undangan kini sudah tertuju pada sepasang makhluk rupawan yang baru saja memasuki ballroom.
"Daddy, liat, bungsu kita bawa calon istrinya!" Jelita berdecak sumringah sambil menarik lengan jas hitam suaminya.
__ADS_1
Dylan, Nathan dan Keenan menoleh secara bersamaan.
"Baby!" Alangkah terperangah laki-laki penguasa itu kala melihat sosok cantik yang tidak seharusnya ada di antara mereka kini justru bergandengan tangan dengan adik kesayangannya.
"Kemana Jho dan yang lainnya? Kenapa bisa membiarkan istri kesayangan ku di sini?"
Dentuman yang kian memanas membuncah dalam dadanya, oh, dunia seakan gelap gulita hingga dirinya lupa bagaimana cara membedakan mana yang saudara dan mana yang lawan.
Sudah dari siang tadi Nathan sibuk sendiri mengurus acaranya, hingga tak sedikitpun kabar yang dia buka dari ponselnya.
"I-then!" Gertakan giginya mengeraskan rahang. Tangannya mengawat seperti sedang bersiap melontarkan bogem mentah pada adik yang selama ini dia bela mati-matian.
"Itu bukannya pacarnya Jho?" Keenan menyeletuk pelan dan Nathan masih sempat mendengar suara isteri pertamanya.
"Mammi, Daddy, kenal kan ini pacar I-then! Sachi namanya." Senyum manis tersungging di bibir sensual pemuda tampan itu.
Tepat di hadapan Nathan dan keluarganya, dengan bangga Ethan memperkenalkan Sachi.
Siapa Ethan? Dia tak memandang pemuda itu sebagai adiknya. Nathan benar-benar di buat hilang kesadaran dan peri kemanusiaan, entah kemana larinya kebaikan itu, mungkin sudah di makan kucing.
Jika saja tidak ada para tamu undangan dan ayah ibunya, mungkin Ethan sudah babak belur oleh pelampiasan amarahnya.
Sachi tersenyum pada mertuanya "Selamat malam Tante, Om, Sachi." Ciuman tangan khidmat Sachi berikan dan itu membuat pilu hatinya.
Untuk yang pertama kalinya dia mengenal mertuanya, bukan karena suaminya melainkan justru karena adik iparnya.
Random, kisah macam apa ini? Kenapa rasanya Sachi ingin sekali berteriak, dan mengungkapkan siapa dirinya di depan ayah dan ibu mertuanya.
"Calon mantu kita cantik kan Daddy!" Jelita terkagum-kagum pada paras yang tiada celah itu.
Dylan tersenyum "Tentu saja, putra ku sangat tampan, pasti calon istrinya juga sangat cantik!" Sahutnya sembari menepuk-nepuk punggung putra bungsunya.
"Siapa dulu, I-then!" Sambung Ethan menyengir hingga terlihat pula gingsul di giginya.
Sepasang suami istri paruh baya itupun ikut tersenyum bahagia, setelah sekian bulan menanti, pada akhirnya Ethan si bungsu mau serius berhubungan dengan satu wanita.
Ada getar kesakitan yang Keenan rasakan tatkala melihat betapa bahagianya Ethan memperkenalkan wanita pada keluarganya.
"Aku salah sudah mencintai mu, kau bahkan tak mau perduli dengan bayi yang sedang aku kandung! Aku membenci mu dan calon isteri mu!" Batin Keenan.
"Sachi bukan calon mantu Anda Tante, Om!" Sanggahan Sachi yang membuat semua orang terkesiap, terutama Nathan.
"Apa Baby ke sini mau memberi tahu Mammi, Daddy yang sebenarnya?" Batinnya, buliran keringat mengembun seketika itu juga, belum saatnya hubungan mereka di ketahui banyak orang.
Ethan menoleh pada Sachi "Sayang, apa kau menolak ku lagi?" Tanyanya protes.
Sachi menggeleng "Sachi bukan calon mantu, tapi sudah menjadi menantu Syah Daddy dan Mammi!" Sachi tersenyum seolah perkataannya hanyalah gurauan.
Ethan, Jelita dan Dylan tertawa renyah "Kamu bisa saja Sachi." Katanya.
Mendengar tawa gembira itu, Nathan mengalihkan pandangan, satu gelas air dari tangan sang pelayan menjadi pelarian rengat hatinya.
Nathan teguk minuman putih dingin itu dengan gerakan sangat cepat seperti sedang menenggak segelas wine. Nathan berharap panas hatinya mampu meredam setelah minuman itu melewati rongga dadanya.
"Apa Baby sedang mencoba mempermainkan ku?" Batinnya dan sepertinya Sachi mampu membaca kegusaran suaminya.
"Tidak usah takut Om, aku tidak akan mengakui bahwa aku sudah menjadi istri mu, kedatangan ku ke sini cuma ingin melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya." Batin Sachi yang berkata sangat pilu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya 🤗😘