
Senja akan selalu seperti itu. Datang dengan keindahannya, lalu secepat kilat akan pergi begitu saja, tergantikan dengan kehampaan malam yang sunyi.
Ingat lah. Senja tak pernah salah. Hanya kenangan lah yang kadang membuat pipi kita basah, dan pada senja lah, akhirnya kita mengaku kalah.
Nathan, Jho dan Ethan pada akhirnya pulang dengan raut wajah kecewanya masing-masing.
Nathan dan Jho sudah mencari Edric di seluruh penjuru kota, namun tak jua menemukan batang hidung laki-laki itu.
Ethan pun tak kalah usahanya, seharian ini dia ke sana-kemari ikut mencari sosok cantik pujaan hatinya, ralat, seharusnya Ethan sadar bahwa ia sedang mencari kakak iparnya.
Melihat itu Jelita meraih putra sulung dan bungsunya untuk di duduk kan pada sofa yang terletak di kamar Baby Valery, Jelita sengaja menghibur Nathan dan Ethan dengan wajah mungil Baby Valery sembari mengobati luka goresan kedua pria itu yang masih belum mereda.
Nathan yang paling banyak luka cambukan nya, sedang Ethan hanya satu goresan saja.
"Cerita kan sama Mammi, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Kenapa Mammi merasa jauh dengan putra-putra Mammi? Kenapa kalian menyembunyikan hal sebesar ini dari Mammi? Dari dulu kalian tahu, Daddy kalian selalu bertindak sesuka hatinya, kenapa berani sekali kalian menyembunyikan hal seperti ini darinya?" Sambil mengobati luka Nathan Jelita merutuki putranya.
"Maaf Mi." Sahut Nathan singkat.
Cukup lama mereka terdiam, Jelita berganti mengobati luka Ethan "Kamu juga, kenapa harus punya anak padahal belum menikah? Mammi pusing!" Rutuk nya lagi.
"Maaf Mi." Jawab Ethan "Jadi apa status ku? Bujang beranak satu?" Celetuknya lagi memelas.
Nathan masih sempat melirik dan terkekeh mendengar ucapan adiknya "Makanya sadar diri, berhenti mengejar istri kesayangan ku!" Sambungnya ketus.
Ethan menaikan ujung bibir "Dia tidak bahagia bersama mu, Abang lihat lah, dia kabur dari mu! Berarti masih ada kesempatan untuk aku merebutnya!" Katanya.
PLAK!
"Ahh! Atit Mi!" Menatap Jelita, Ethan mencebik kan bibirnya memelas.
"Kamu urus saja Baby Valery, kerja yang bener, sekarang kamu punya tanggung jawab I-then, jadi jangan main-main lagi. Biar Daddy yang mencari kan jodoh untuk mu! Yang sudah jadi milik Abang mu jangan kamu rebut!"
"No!" Tolak Ethan cepat dan Nathan hanya menunjukkan seringai di ujung bibirnya.
"Lihat lah, bagaimana wanita yang Daddy pilih kan untuk Bang Nathan, Keenan pengkhianat! I-then tetap mau mencari jodoh I-then sendiri!" Lanjut Ethan.
__ADS_1
"Yah, terserah lah, cari saja asal jangan istri ku, Sachi itu haram kamu dekati, mengerti!" Timpal Nathan.
Ethan mengerling protes pada abangnya "Dari pada ribut, lebih baik, kita bersaing sehat saja! Jangan kira karena kau melindungi ku dari kemurkaan Daddy, aku akan luluh dan melepaskan Sachi." Katanya.
"Cih!!" Nathan berdecih. Bersamaan dengan itu keduanya saling membuang muka.
Jelita yang sedari tadi menyimak perdebatan mereka hanya geleng-geleng "Kalian ini!" Gumamnya.
Suara tawa terdengar nyaring, rupanya Gerald berdiri di ambang pintu, sepertinya Gerald baru saja tiba dan tak sengaja mendengar perdebatan mereka "Kalian merebut kan siapa? Nathan, I-then? Cewek yang kalian rebut kan bukanya sudah minggat kayak Sri?" Hanya kata itu saja yang Gerald ucap kan lalu pergi dengan nyanyian iblis nya.
"Sri, kapan koe bhaliii..?"
"Dih! Om stress!" Batin Ethan dan Nathan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari-hari berlalu begitu saja, tanpa ada sesuatu yang spesial, hari kemarin hampa ternyata hari ini pun lebih hampa bagi Nathan dan juga Ethan, sebab sampai detik ini, Sachi masih belum di ketahui keberadaannya.
Diam-diam, Dylan juga ikut mencari namun Sachi masih terlalu handal dalam melakukan persembunyian. Simpanan, apakah takdir wanita itu harus selalu tersimpan bahkan setelah semua orang mengetahui status simpanan nya.
Setelah dua Minggu, keluarga Jackson mendapatkan surat resmi hasil dari tes DNA Valery. Rupanya memang benar adanya bahwa Valery dan Ethan Erland Jackson 99% cocok.
Keenan memang sudah menyerahkan keperawanannya pada putra bungsu Dylan Jackson yang telah lama di cintai.
Sayangnya seberapa pun Keenan memaksa, Ethan tetap saja menolak nya, kini Keenan menyesali perbuatan yang sangat bodoh menurutnya.
Sesal memang selalu datang di akhir, karena penyesalan bukan lah pendaftaran CPNS.
Di ruang tengah yang sangat luas itu, Dylan memandang putra bungsunya dengan tatapan tajam yang menusuk.
Gerald, Nathan dan Jelita juga ada di dalam sana. Mereka semua berdiri melingkar dengan tegangnya.
"Kau lihat I-then? Valery benar-benar anak mu! Sekarang apa yang mau kau lakukan hah!" Sungut Dylan sembari menunjukkan satu lembar kertas berisi keterangan DNA Valery.
"Mau apa lagi? Tentu saja mengakuinya, merawatnya, menyayanginya, apa bisa Baby Valery di sulap jadi zigot lagi?" Sanggah Ethan enteng.
__ADS_1
Di tengah ketegangan, Gerald, Nathan dan Jelita terkekeh mendengar jawaban enteng Ethan.
Dylan mengeraskan rahang "Tuhan, kenapa anak ini tidak pernah menunjukkan rasa bersalahnya?" Batinnya "Tentu saja, bodoh! Ethan ini mirip dengan mu wahai Dylan yang bukan jodoh Mylea!" Monolognya masih dalam batin.
"Kau pikir semudah itu Daddy memaafkan mu I-then? Kau tahu Daddy tidak pernah main-main dengan hukuman yang sering Daddy katakan padamu bukan?" Bentak Dylan melotot.
Ethan mengangguk pelan "Sudah sering di hukum, I-then sudah biasa!" Katanya. "Paling di cabut fasilitasnya, itu mah sudah biasa!" Batinnya.
Dylan semakin di buat geram oleh setiap celetukan putra bungsunya "Angkat kaki!" Bentaknya nyaring.
Ethan mengangkat satu kaki "Kenapa suka sekali menyuruh I-then angkat kaki? Sekarang Daddy lebih mirip instruktur senam dari pada pelukis!" Gerutunya.
"Bodoh!" Sentak Dylan sangat keras hingga suaranya menggema dalam ruangan itu "Sudah Daddy bilang, arti dari angkat kaki itu pergi dari sini I-then! Kau di usir! Sekarang bawa koper mu, lalu hidup mandiri tanpa sepeserpun uang dari ku! Sebelum kau mampu sukses tanpa bantuan ku, jangan harap aku mengakui mu!" Lanjutnya berteriak.
Jelita, Gerald, Ethan dan Nathan membulatkan matanya "Daddy!" Sahut mereka bersamaan.
"Reno!" Dylan memanggil keras asisten personal nya tanpa melepas pandangan dari putra bungsunya "Iya Tuan!" Jawab laki-laki itu menunduk segan.
"Buang bungsu dari sini! Biar kan dia mandiri, dan jangan ada yang berani membantunya, atau hukuman ini berlaku untuk siapa saja yang membantunya!" Dylan melirik ke arah Gerald.
"Bang Dylan serius? I-then masih harus mengurus Valery, bagaimana kalo Valery kurang kasih sayang, Keenan tidak ada, hanya ada I-then ayahnya, lalu, ..." Belum lagi selesai pembelaan Gerald Dylan sudah lebih dulu menimpali.
"Tidak ada yang boleh beralibi! Valery masih bisa hidup tanpa ayah yang tidak becus sepertinya! Masih ada aku yang mengurus Valery!" Tegasnya.
Gerald, Nathan dan Jelita terbungkam.
Ethan menggeleng "Bagaimana bisa Daddy menghukum putra bungsu yang imut ini dengan cara kejam seperti itu hah?" Protesnya.
"Kau berusaha menghiba padaku, I-then? Cih!" Dylan berdecih ke samping lalu menoleh pada Reno "Sekarang seret dan buang I-then ke desa pelosok! Dalam kurun waktu satu tahun biarkan dia hidup mandiri. Jangan coba-coba ada yang memberinya bantuan atau aku akan menambah masa hukumannya!" Laki-laki bule tampan itu melangkah pergi meninggalkan seluruh keluarganya dalam keadaan bergeming.
Dylan takkan pernah membiarkan kesalahan yang dilakukan putranya lepas dari hukuman.
"Desa pelosok? Satu tahun? Tanpa fasilitas? Tanpa sepeserpun uang? Yang benar saja?" Ethan menyeletuk lirih, dirinya masih tak percaya bahwa ternyata ayahnya tega menghukumnya dengan cara kejam seperti itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung.... Insya Allah up lagi, tetap dukung author Pasha Ayu dengan Like vote komen dan hadiah nya 🤗😘